Balas Dendam Sang Pelakor

Balas Dendam Sang Pelakor
Bab 37


__ADS_3

Bab 37


"Dad, aku tidak bekerja ya hari ini!" kata Amira saat dia terhubung dengan Alex melalui sambungan telepon.


Saat ini Amira sedang berada di satu tempat yang cukup jauh dari keramaian karena dia membutuhkan sedikit waktu untuk menenangkan dirinya setelah apa yang terjadi beberapa saat yang lalu. Bagaimanapun juga bukan sesuatu yang mudah setelah dia mengetahui mengenai sebuah kenyataan yang tidak pernah dia bayangkan sebelumnya. Bukan hanya karena sebuah kenyataan yang tidak dia ketahui sebelumnya saja yang membuat dia sedikit tertekan dengan apa yang terjadi beberapa waktu yang lalu, tetapi juga karena dia tidak pernah membayangkan kalau dirinya akan bisa berbicara panjang lebar dengan Pak Ferry.


"Kenapa, Bab? Apakah sesuatu terjadi kepadamu sehingga membuatmu tidak masuk ke kantor hari ini?" tanya Alex yang sedikit penasaran dengan apa yang terjadi kepada Amira dan dia juga sedikit merasa was-was mengingat gadis itu sebelumnya tidak pernah absen untuk masuk ke kantor meski dia sudah menjalani begitu banyak aktivitas di sekolah.


"Tidak ada apa-apa, semuanya baik-baik saja, tetapi aku sedang membutuhkan sedikit waktu untuk berlibur setelah apa yang terjadi di sekolah sehingga membuatku harus mendapatkan hukuman berupa skor selama seminggu!"


"Aku sudah mengatakannya kepadamu kalau kamu tidak perlu memikirkan mengenai hal tersebut karena aku pasti akan menghapuskan catatan itu sehingga kamu tidak akan pernah kehilangan kesempatan untuk bisa masuk ke salah satu perguruan tinggi negeri yang kamu idam-idamkan!"


"Bukan masalah mengenai skor tersebut yang menjadi pemikiranku, tetapi aku memikirkan apa yang salah denganku sehingga membuat orang-orang menganggap kalau aku adalah anak haram hanya karena Ibu tidak pernah mencantumkan nama ayah pada data diriku."

__ADS_1


Amira jelas berbohong mengenai hal tersebut karena selama ini dia tidak pernah memikirkan mengenai hal itu dan selalu menganggap bahwa hal tersebut adalah sesuatu yang biasa saja. Bahkan Amira tidak pernah terganggu sama sekali dengan apa pun yang dikatakan oleh orang lain mengenai dirinya karena menurutnya orang-orang itu hanya bisa menilai dari luarnya saja tanpa mengetahui apa yang dialami oleh orang itu sesungguhnya.


"Ibumu pasti memiliki alasan yang sangat kuat sehingga melakukan hal tersebut dan aku sangat yakin kalau ibumu tidak mungkin berbohong mengenai identitasmu itu, hanya saja dia tidak ingin membuka sebuah luka lama pada dirinya sehingga membuat dia dengan terpaksa tidak mencantumkan nama ayahmu pada data dirimu!" kata Alex yang berusaha untuk membuat Amira bisa menerima kenyataan yang sedang dihadapinya saat ini meski sesungguhnya dia sendiri merasa kaget dengan apa yang dilakukan oleh ibu dari kekasih gelapnya itu.


Amira menarik nafas dalam dan kemudian menghembuskannya secara perlahan hanya untuk membuat dirinya sedikit lebih tenang daripada sebelumnya. Jelas dia mengetahui kalau ibunya pasti akan jauh lebih memilih untuk tidak mencantumkan nama ayahnya daripada hal tersebut hanya akan membuat dia terluka semakin dalam dan membuat dirinya tidak bisa move on dari semua rasa sakit yang dirasakannya dahulu. Mungkin jika Amira berada pada posisi ibunya maka dia pun akan melakukan hal yang sama dengan apa yang dilakukan oleh ibunya selama ini.


"Kamu tidak akan pernah memahami apa yang aku rasakan atas apa yang dikatakan oleh orang-orang mengenai keadaanku yang memang tidak menguntungkan ini, Dad. Sejak dahulu mereka selalu membullyku hanya karena Ibu tidak pernah mencantumkan nama ayah pada data diriku," kata Amira yang saat ini benar-benar mengingat apa yang sudah terjadi di masa lalu dan secara otomatis hal tersebut membuat terasa bencinya kepada Pak Ferry semakin menjadi.


"Katakan kamu di mana saat ini dan aku akan segera menemuimu untuk menenangkanmu serta kita bisa berbicara panjang lebar sehingga kamu tidak akan merasa terpuruk lagi hanya karena apa yang dikatakan oleh orang lain mengenai dirimu!" kata Alex yang benar-benar mengkhawatirkan keadaan Amira saat ini dan bagaimanapun juga dia merasa memiliki kewajiban untuk bisa menenangkan kekasih gelapnya tersebut serta memberikan support atas apa yang terjadi kepada gadiis itu.


"Kamu tidak perlu ke kantor dan aku akan mencari cara bagaimana caranya agar kamu bisa kembali ke sekolah serta kamu juga tidak perlu memikirkan apa yang akan dikatakan oleh kawan-kawanmu mengenai skor yang kamu dapatkan!"


"Sungguh, Dad, Aku tidak memikirkan mengenai skor tersebut karena menurutku hal tersebut adalah sebuah konsekuensi dari apa yang sudah aku lakukan!"

__ADS_1


"Tetap saja bagaimanapun yang salah dalam hal ini adalah Sisil karena dia sudah mencari gara-gara terlebih dahulu dan bagaimanapun juga bullying tidak pernah dibenarkan di mana pun juga!"


"Aku baik-baik saja dan kamu tidak perlu mengkhawatirkan Keadaanku saat ini, Dad. Aku hanya ingin memberikan kabar mengenai hal tersebut dan sekarang aku akan menutup telepon ini!"


Setelah mengatakan hal tersebut Amira benar-benar menutup sambungan telepon dengan Alex dan dia menatap hamparan kebun teh yang ada di hadapannya saat ini. Dia memang pergi terlalu jauh dari villa milik ayahnya karena di tempatnya saat ini memang sedikit kesulitan untuk mendapatkan kendaraan umum sehingga membuat dia memutuskan untuk pergi ke salah satu restoran yang ada di dekat villa itu. Setidaknya di restoran tersebut Amira masih bisa melihat hamparan kebun teh dan menenangkan diri sejenak dari apa pun yang sedang dihadapinya saat ini.


"Aku tidak pernah ingin bertemu lagi denganmu dan bahkan aku juga tidak ingin ada pembicaraan seperti tadi lagi karena bagaimanapun juga hal tersebut hanya membuat hatiku semakin terluka dalam dan membuatku semakin membencimu atas apa yang kamu lakukan kepadaku selama ini!" Amira bermonolog sambil menatap hamparan kebun teh dan pikirannya melayang pada kejadian di villa milik ayah kandungnya itu


Andai Amira bisa mengulang waktu maka dia akan benar-benar berusaha untuk tidak ikut dengan Pak Ferry dan berusaha untuk tidak peduli sama sekali dengan apa pun yang dikatakan oleh lelaki yang satu itu ketika memintanya untuk ikut dengan dirinya. Mungkin bagi Amira akan jauh lebih baik kalau dia mendapatkan makhluk dari orang-orang yang lewat di sekitarnya daripada dia harus ikut dengan laki-laki yang sudah melukai hati dan juga perasaannya.


Amira memejamkan matanya selama beberapa saat dan berusaha untuk menghapus semua kenangan yang telah terjadi ketika dia berbicara dengan Pak Ferry. Bagaimanapun juga hal tersebut adalah sesuatu yang paling menakutkan dan juga sesuatu yang paling membuatnya terluka dengan begitu dalam. Rasa sakit yang belum sembuh karena sebuah kenyataan yang baru diketahuinya harus kembali ditambah dengan rasa sakit yang baru sehingga membuat rasa sakit dan juga rasa benci di dalam hatinya semakin menjadi.


"Amira, kamu sedang apa di sini? Bukannya kamu sedang bersekolah? Lalu kenapa kamu bisa berada di sini? Apa yang sebenarnya telah terjadi kepada atau Apakah ada sesuatu yang sedang kamu sembunyikan dari Ibu?" tanya Bu Diah yang tanpa sengaja melihat keberadaan putri semata wayangnya pada restoran tempatnya melakukan meeting dengan salah satu klien.

__ADS_1


"Ibu? Kenapa Ibu ada di sini?" tanya Amira yang benar-benar kaget dengan kedatangan ibunya.


__ADS_2