
Bab 7
"Anak-anak, mohon perhatiannya agar kalian segera tertib karena acara yang dinanti-nanti akan segera dimulai!" kata seorang guru yang bertindak sebagai pembawa acara pada kegiatan kali ini dan hal tersebut membuat Sonia buktikan kata-katanya yang baru saja akan dikatakan kepada Amira.
"Kita berdiri di sini saja daripada kita harus berurusan dengan salah seorang siswa yang memang tidak suka kepada kita!" kata Amira yang menyembunyikan tujuan yang sesungguhnya karena dia memang tidak ingin membuat Sonia yang mengetahui mengenai perjalanan hidupnya.
Amira menyadari kalau mereka memang berteman dengan sangat baik dan bahkan hanya Sonia lah yang tidak pernah mengatakan sesuatu yang tidak tidak mengenai dirinya. Namun untuk kali ini dia benar-benar tidak bisa mengatakan mengenai rahasia besar yang ada di dalam keluarganya karena bagaimanapun juga yang permasalahan tersebut adalah masalah keluarga dan tidak semestinya orang lain mengetahui mengenai hal tersebut. Bukan karena Amira ingin menyembunyikan kebenaran tersebut dari Sonia, tetapi bagaimanapun juga dia membutuhkan bukti-bukti yang lainnya untuk membuktikan jika apa yang dikatakan oleh ibunya adalah sebuah kebenaran dan dia juga harus menuntut balas atas apa yang terjadi kepada ibunya dan juga kepada dirinya Karena apa yang dilakukan oleh ayah kandungnya, Ferry Bramastyo.
Sonia yang mendengar apa yang dikatakan oleh Amira hanya bisa mengikuti tanpa protes sama sekali. Dia sendiri jelas menyadari mengenai apa yang dialami oleh sahabatnya tersebut selama bersekolah di sana dan salah satunya adalah ketika sang sahabat harus mendapatkan hinaan dari begitu banyak orang hanya karena kondisinya yang tidak pernah mengetahui siapa ayah kandungnya karena ayahnya yang sudah meninggal sejak Amira berada di dalam kandungan. Padahal menurut Sonia hal tersebut tidak seharusnya dijadikan sebagai olok-olok dengan mereka karena bagaimanapun juga yang namanya umur tidak ada yang tahu.
__ADS_1
"Terima kasih kepada semua siswa yang sudah hadir di lapangan dan saya sangat yakin kalau kalian pasti bertanya-tanya kenapa kita tidak mendengarkan sambutan dari ketua Yayasan yang baru di aula sedangkan kita memiliki Aula yang sangat besar dan justru memilih untuk mendengarkan sambutan tersebut di lapangan! " kata pembawa acara tersebut ketika semua siswa sudah berdiri jangan begitu rapi dan untuk kali ini Amira serta Sonia mendapatkan posisi di depan sehingga Amira bisa melihat Ferry Bramastyo dengan sangat jelas dari tempatnya saat ini. "Pemilihan tempat ini sesuai dengan permintaan dari ketua Yayasan kita yang baru dan hanya beliau saja yang mengetahui mengenai alasan dari pemilihan tempat ini. Oleh karena itu saya persilahkan kepada Bapak Ferry Bramastyo selaku ketua yayasan yang baru untuk memberikan sepatah atau dua patah kata di hadpaan para siswaa kami yang sangat membanggakan ini!"
Seketika lapangan dipenuhi dengan suara rio tepuk tangan yang dilakukan oleh para siswa yang ada di sana kecuali Amira. Gadis yang satu itu merasa jika dirinya tidak perlu melakukan hal tersebut mengingat ada kebencian yang sangat mendalam pada hatinya yang membuat dia enggan untuk memberikan tepuk tangan kepada lelaki yang sudah menyakiti perasaan ibunya dan juga dirinya. Menurut Amira, hal yang perlu diterima oleh lelaki yang satu itu bukanlah tepuk tangan melainkan cacian serta hantaman yang begitu hebat atas apa yang diperbuatnya di masa lalu.
"Selamat pagi semuanya?" tanya Pak Ferry dengan senyumannya yang begitu sumringah, tetapi hal tersebut justru membuat Amira semakin kesal dan juga benci kepada lelaki yang ada di hadapannya itu.
"Saya sangat yakin kalian pasti bertanya-tanya kenapa saya tidak mengumpulkan kalian dia ulang padahal tempat tersebut adalah tempat yang paling nyaman yang ada di sekolah ini! Saya memilih lapangan untuk menjadikan tempat kalian mendengarkan semua sambutan yang saya berikan kepada kalian dengan alasan agar kalian benar-benar bisa bertahan dari kerasnya kehidupan yang ada di dunia ini karena bagaimanapun juga langkah yang akan kalian tempuh setelah keluar dari sekolah ini adalah sebuah dunia yang benar-benar keras dan mungkin saja akan jauh dari kenyamanan yang kalian miliki selama ini!" kata Pak Ferry dengan suaranya yang sangat lantang dan langsung mendapatkan sorakan serta tepuk tangan dari para siswa yang ada di sana.
"Cih! Semua orang juga bisa mengatakan hal tersebut dan semua orang juga mengetahui kalau kehidupan tidak pernah ada yang mudah dan terlebih kehidupanku yang sudah kamu hancurkan dengan begitu hebatnya hanya karena nafsu binatang yang tidak cukup dengan satu perempuan!" kata Amira dengan suara yang sangat lirih dan dia benar-benar tidak peduli jika ada yang mendengar apa yang dia katakan barusan karena saat ini dia hanya ingin mengeluarkan apa yang dia rasakan saja.
__ADS_1
Sonia yang tanpa sengaja mendengar apa yang dikatakan oleh sahabatnya itu langsung melihat ke arah Amira, tetapi dia sendiri tidak memperingatkan sahabatnya tersebut. Sonia hanya beranggapan jika apa yang dikatakan oleh sahabatnya tersebut adalah sebuah pandangannya saja mengingat kehidupannya yang selama ini begitu banyak diterapkan dengan hinaan yang diberikan oleh orang-orang yang ada di sekitarnya sehingga membuat dia memandang orang-orang yang ada di sekitarnya dengan cara pandang yang berbeda sebagai bentuk protes dari apa yang dihadapinya selama ini.
Pak Ferry memberikan sambutan sambutan mengenai apa saja yang perlu dikembangkan di sekolah itu dan apa saja yang akan dia kembangkan dari sekolah tersebut agar tetap menjadi sekolah unggulan dan juga diminati oleh banyak siswanya. Meski sekolah tersebut adalah sekolah swasta, tetapi kualitas mereka benar-benar dijaga karena sekali saja kualitas mereka menurun maka mereka akan kehilangan begitu banyak siswa dan jelas mereka tidak menginginkan hal tersebut.
"Dalam upaya untuk mengembangkan Sekolah ini agar sesuai dengan apa yang saya katakan tadi maka saya menganggap putra saya, Alex untuk menjadi kepala sekolah di sekolah ini dan menggantikan kepala sekolah lama yang sudah memasuki masa pensiun!" kata Pak Ferry ada seketika seorang lelaki yang usianya sekitar 35 tahunan sejarah berdiri serta langsung berjalan ke samping Pak Ferry. "Dia adalah putra kebanggaan saya dan saat ini dia menjabat sebagaii CEO pada salah satu perusahaan yang saaya miliki. Namun, karena saya menyadari jika sekolah ini memerlukan seorang pimpinan yang memiliki standar tinggi maka saya meminta putra kesayangan saya ini untuk berangkat jabatan selain sebagai CEO dia juga menjadi kepala sekolah di sini!"
"Son, cara menjadi sugar baby bagaimana?" tanya Amira secara tiba-tiba sambil mendekatkan wajahnya pada Sonia.
"Hah? Sugar baby? Buat apa?" tanya Sonia yang cukup kaget dengan apa yang ditanyakan oleh sahabatnya tersebut karena selama ini Amira tidak pernah bertanya mengenai sesuatu hal yang aneh seperti barusan.
__ADS_1