
Bab 39
"Maaf, Bu!" kata Amira ketika Bu Diah baru saja sampai ke rumah pulang dari bekerja.
Setelah apa yang terjadi di restoran tadi, Amira memutuskan untuk berjalan-jalan dan mengeluarkan semua rasa sesak yang ada di dalam dadanya sebelum akhirnya dia kembali ke rumah. Mungkin dia bisa saja pergi ke kantor dan meluapkan semua kekesalannya dengan bekerja, tetapi dia sadar kalau hal tersebut hanya akan membuatnya tidak fokus pada pekerjaan yang ada di hadapannya.
Bu Diah yang mendengar perkataan Amira Hanya bisa menarik nafas dalam dan kemudian menghembuskannya secara perlahan. Diakui atau tidak, Bu Diah masih sangat kesal dengan apa yang terjadi di restoran dan dia juga masih menganggap jika Amira melakukan sebuah kesalahan yang sangat besar dengan bertemu Pk Ferry tanpa sepengetahuannya dan juga tanpa seijinnya. Bu Diah tidak pernah berniat untuk membuat Amira menjauh dari ayahnya karena bagaimanapun juga dia sadar kalau lelaki yang sudah menyakitinya adalah ayah dari putri semata wayangnya. Namun Bu Diah ingin agar putrinya itu minimal pemberitahuannya terlebih dahulu mengenai pertemuannya dengan ayahnya itu, tidak seperti siang ini yang tiba-tiba bertemu tanpa sepengetahuannya.
"Ibu tidak memiliki hak untuk melarangmu bertemu dengannya karena bagaimanapun juga dia adalah ayahmu dan suka atau tidak suka kamu memang berhak untuk bertemu dengannya dan begitupun ayahmu yang memiliki hak untuk bertemu denganmu!" kata Bu Diah yang bersusah payah menekan semua rasa sakit yang ada di dalam dirinya dan dia juga berusaha untuk tidak menunjukkan rasa sakit tersebut kepada Amira.
"Apa yang terjadi tadi siang tidak seperti apa yang dikatakan oleh lelaki itu dan tidak juga seperti apa yang Ibu pikirkan saat ini!"
"Tidak seperti yang lelaki itu katakan? Apa maksudmu dengan mengatakan hal tersebut?"
Bu Diah memang sedikit kaget ketika Amira tidak menyebut mantan suaminya dengan sebutan ayah, tetapi dengan kata-kata lelaki itu. Menurutnya ada yang aneh dengan panggilan yang dikatakan oleh Amira kepada ayahnya itu, Tetapi dia sendiri tidak ingin terlalu cepat mengambil kesimpulan karena bagaimanapun juga dia sangat yakin kalau Amira pasti memiliki alasan tersendiri Kenapa melakukan hal itu.
"Aku meminta maaf kepada Ibu bukan karena sudah memutuskan untuk bertemu dengannya tanpa sepengetahuan Ibu sama sekali, tetapi karena aku sudah berbohong kepada Ibu mengenai sesuatu yang seharusnya sudah aku katakan sejak beberapa hari yang lalu!"
"Apa maksudmu Amira? Apa yang sudah kamu lakukan sehingga membuatmu berkata seperti itu? Ibu sangat yakin sesuatu pasti sudah terjadi dan kamu tidak mengatakan hal tersebut kepada Ibu!"
Amira menunduk lemah dan kemudian menarik nafasnya serta menghembuskannya secara perlahan hanya untuk meyakinkan dirinya bahwa dia siap untuk mengatakan apa yang sesungguhnya terjadi kepada ibunya itu. Bagaimanapun juga dia tidak bisa terus-menerus berbohong kepada ibunya mengenai apa yang terjadi di sekolah dan suka atau tidak suka ibunya berhak mengetahui mengenai apa yang terjadi selama ini.
__ADS_1
"Katakan kepada Ibu apa yang sebenarnya sudah terjadi dalam hidupmu selama beberapa hari ke belakang ini?" desak Bu Diah Yang benar-benar penasaran dengan apa yang sesungguhnya terjadi kepada putrinya tersebut dan dia benar-benar menginginkan putrinya itu jujur atas segala sesuatunya.
"Maaf, Bu, sebenarnya sejak beberapa hari yang lalu aku di skors dari sekolah dan aku tidak mempunyai keberanian untuk mengatakan hal tersebut kepada Ibu padahal seharusnya aku tidak melakukan hal itu."
"Di skors? Berapa lama? Apa yang sudah kamu lakukan sehingga membuat pihak sekolah memberikan hukuman seperti itu kepadamu?
"Aku diskros selama seminggu dan masih tersisa tiga hari lagi serta tidak ada potongan hanya karena hari libur dan semua itu terjadi karena aku bertengkar dengan Sisil bahkan kami sampai adu jotos."
"Adu jotos? Kamu itu seorang perempuan, Amira, dan ibu juga tidak pernah mengajarkan untuk melakukan kekerasan kepada siapa pun yang ada di sekitarmu, lalu kenapa kamu bisa melakukan hal tersebut? Ada masalah apa sesungguhnya sehingga kamu berbuat sedekat Itu kepada kawanmu?"
"Dia bukan kawanku, Bu! Dia hanya seorang nenek sihir yang selalu berusaha untuk mengusik kehidupanku dan dia adalah seseorang yang tidak pernah memiliki hati dan juga perasaan sehingga terus-menerus membullyku sejak aku masih kecil dahulu!"
"Membullymu? Apa yang salah denganmu sehingga dia melakukan hal tersebut? Apakah kamu pernah mengusiknya atau kamu pernah melakukan sesuatu yang tidak tidak kepadanya sehingga dia melakukan hal tersebut?"
Bu Diah terdiam ketika mendengar apa yang dikatakan oleh Amira kepadanya barusan. Selama ini dia tidak pernah memikirkan apa yang akan terjadi kepada putrinya itu karena keegoisannya yang enggan untuk menuliskan nama mantan suaminya pada identitas dari putrinya itu. Rasa sakit yang begitu mendalam pada hatinya membuat dia terbukakan dan tidak bisa memikirkan apa yang dialami oleh putrinya itu.
"Sejak aku kecil mereka selalu membullyku dan mereka selalu memanggilku sebagai anak haram bahkan tidak sedikit dari mereka yang enggan untuk berteman denganku hanya karena aku tidak memiliki seorang ayah. Bukan hanya kawan-kawanku saja yang enggan untuk berteman denganku, tetapi orang tua mereka juga melarang anak-anaknya untuk berteman denganku dan bahkan secara terang-terangan mereka memanggilku sebagai anak haram dan memandangku sebelah mata meski aku memiliki prestasi yang setinggi langit!" kata Amira yang pada akhirnya mengungkapkan segala sesuatu yang selama ini dia pendam dan tanpa terasa air mata mulai jatuh membasahi pipinya.
Bu Diah hanya bisa terdiam mendengarkan apa yang dikatakan oleh putrinya itu karena dia memang tidak bisa mengatakan apa-apa atas apa yang sudah terjadi dalam kehidupan putrinya. Dia baru menyadari saat ini kalau apa yang dilakukannya sejak dahulu menjadi sebuah petaka yang sangat besar bagi putrinya dan dia juga menyadari kalau selama ini dia terlalu egois dan hanya memikirkan semua rasa sakit yang ada di dalam dadanya tanpa memikirkan apa yang akan terjadi kepada putrinya itu.
"Sekian tahun aku selalu berusaha untuk masa bodoh dan tidak pernah mau pedulikan apa yang mereka katakan, tetapi berapa hari yang lalu ketika Sisil mengatakan hal tersebut kembali, aku tidak bisa menahan emosiku lagi karena pada kenyataannya aku bukanlah anak haram, melainkan aku seorang anak yang memiliki ayah meski lelaki yang satu itu tidak pantas untuk dipanggil sebagai seorang ayah karena seorang ayah tidak akan pernah menyakiti perasaan anak dan juga istrinya dan juga tidak akan dengan begitu egoisnya mencari perempuan lain hanya dengan alasan menginginkan seorang keturunan!" Amira semakin menitikkan air mata ketika dia mengingat dengan baik apa yang dikatakan oleh Pak Ferry tadi siang dan bagaimanapun juga dia tidak bisa menerima alasan itu meski lelaki tersebut memaksanya untuk bisa memahami segala sesuatunya.
__ADS_1
Bu Diah mulai menitikkan air matanya dan ada penyesalannya begitu mendalam pada hatinya saat ini karena apa yang sudah dilakukannya sejak dahulu. Sesekali dia mengusap pipinya yang basah dengan air mata, tetapi hal tersebut tidak membuat pipinya mengering karena air mata terus membasahi pipinya.
"Maaf, maaf karena Ibu terlalu egois dan tidak pernah memikirkan Bagaimana perasaanmu dan juga tidak pernah memikirkan apa yang akan terjadi kepadamu atas keputusan yang sudah ibu ambil secara sepihak. Andai saja sejak dahulu Ibu tidak terlalu egois dan tetap mencantumkan nama ayahmu pada identitas dirimu, mungkin semuanya tidak akan menjadi seperti saat ini dan kamu tidak perlu dibully oleh para tetangga dan juga kawan-kawanmu!" kata Bu Diah yang kini mulai terisak merasakan semua rasa sakit yang dirasakan oleh putrinya hanya karena apa yang sudah dilakukannya di masa lalu.
"Ibu tidak perlu meminta maaf kepadaku saat ini karena hal tersebut tidak akan pernah ada gunanya lagi dan bagaimanapun juga aku sudah mengalami segala sesuatunya serta saat ini aku sudah terlalu terbiasa dengan hal itu bahkan tidak pernah menganggap hal tersebut sebagai sesuatu yang terlalu menyakitkan kecuali apabila kata-kata itu dikatakan oleh Sisil karena dia bukan hanya menganggapku sebagai anak haram melainkan melakukan sesuatu yang jauh lebih menyakitkan lagi daripada hal itu!"
"Tetap saja, apa yang terjadi kepadamu adalah kesalahan ibu dan tidak seharusnya ibu bersikap egois seperti itu kepadamu. Ibu memang sakit hati dengan apa yang dilakukan oleh ayahmu kepada ibu di masa lalu, tetapi tidak seharusnya kamu menanggung derita berkepanjangan hanya karena rasa sakit yang Ibu rasakan kepada lelaki itu!"
"Tidak! Ibu tidak pernah salah dengan apa yang ibu lakukan dan aku lebih senang disebut sebagai anak haram daripada harus menuliskan nama lelaki yang tidak tahu diri itu pada identitas diriku karena menurutku dia tidak pernah pantas untuk dipanggil sebagai seorang ayah dan bahkan dia tidak pantas mengetahui kenyataan yang sesungguhnya!"
Bu Diah menatap lekat ke arah dan kemudian melangkah mendekati putrinya tersebut serta memeluknya dengan begitu erat. Keduanya hanyut dalam air mata dan juga kesakitan yang sama, sesuatu yang selama ini mereka pendap seorang diri pada akhirnya tumpah juga dan saling menguatkan satu sama lain meski saat ini kenyataan yang sesungguhnya itu sudah terbuka dan tidak ada lagi rahasia di antara mereka. Namun tetap saja apa yang terjadi membuat Amira dan juga Bu Diah masih merasakan sakit yang begitu hebatnya serta tidak bisa melupakan apa yang sudah terjadi di masa lalu.
"Dia adalah seorang laki-laki yang sangat brengsek dan aku tidak pernah ingin melihatnya lagi serta aku juga tidak pernah ingin untuk memanggilnya dengan sebutan ayah karena menurutku dia memang tidak pantas untuk mendapatkan panggilan seperti itu!" kata Amira yang saat ini masih berada di dalam pelukan Bu Diah.
"Kamu tidak perlu memanggilnya dengan sebutan ayah dan kamu juga tidak perlu bertemu lagi dengannya kalau kamu memang tidak menginginkan untuk bertemu dengannya lagi! Bahkan, Ibu tidak keberatan apabila kamu ingin keluar dari sekolah itu dan bahkan jika kamu ingin bersekolah di luar kota ataupun luar negeri sekalipun, ibu akan mengabulkannya daripada kamu harus merasakan semua rasa sakit seperti saat ini!"
Tidak, Bu, Aku tidak akan pernah menunjukkan kelemahanku di hadapan laki-laki itu karena bagaimanapun juga aku ingin membuat dia benar-benar menyesal atas apa yang sudah dilakukannya dahulu kepada ibu dan juga kepadaku! Bahkan aku juga ingin membuat perempuan sialan itu merasakan apa yang Ibu rasakan dahulu dan aku berjanji kepada Ibu kalau perempuan itu pasti akan bertekuk lutut di hadapan Ibu memohon ampun atas apa yang sudah dilakukan di dahulu!"
Bu Diah melepaskan pelukannya dari tubuh Amira ketika mendengar apa yang dikatakan oleh putrinya itu karena bagaimanapun juga dia benar-benar kaget dengan apa yang dikatakan oleh Amira.
"Apa yang akan kamu lakukan kepada mereka? Ibu tidak pernah mengajarkan kepadamu untuk membalaskan semua rasa sakit yang pernah kita rasakan dahulu dan ibu juga tidak pernah mengajarkanmu untuk melakukan sesuatu yang tidak-tidak!" kata Bu Diah yang hanya ingin memastikan jika putrinya tidak melakukan sesuatu yang tidak-tidak, yang pada akhirnya hanya akan membuat putrinya itu menyesal seumur hidup.
__ADS_1
"Ibu memang tidak pernah mengajarkanku untuk melakukan hal tersebut, tetapi hukum alam yang akan membuat mereka merasakan apa yang kita rasakan dahulu!" kata Amira dengan penuh keyakinan dan juga penekanan.