
Pak Ferrry terdiam dengan apa yang ditanyakan oleh Amira kepadanya barusan karena dia tidak pernah mengira jika putrinya itu akan bertanya mengenai hal tersebut. Sepertinya dirinya sudah salah langkah dengan memuji bagaimana Bu Diah selamat menjadi istrinya karena justru hal tersebut membuatnya terjebak pada pertanyaan yang sangat sulit.
"Kenapa tidak bisa menjawab apa yang aku tanyakan? Apakah pertanyaan yang baru saja aku ungkapkan terlalu sulit sehingga tidak bisa Anda jawab sama sekali?" tanya Amira yang masih sangat enggan untuk memanggil Pak Ferry dengan sebutan Ayah meski lelaki itu berulang kali memanggil dirinya sebagai ayah.
"Ayah mengajakmu berbicara untuk menjelaskan apa yang sudah terjadi di masa lalu meski Ayah sadar kalau hal tersebut tidak akan berarti apa-apa dan ayah juga sadar jika mungkin apa yang akan ayah katakan nanti hanya dianggap sebagai angin lalu olehmu!"
"Kalau sudah tahu akan dianggap seperti itu, lalu untuk apa lagi mengajak berbicara dan menjelaskan apa yang sudah terjadi di masa lalu? Apakah hal tersebut bisa mengubah keadaan saat ini?"
"Ayah hanya meminta satu kesempatan saja kepadamu untuk menjelaskan semuanya dan setelah itu ayah berjanji kalau ayah akan menjadi sosok Ayah yang selama ini tidak pernah ada di dalam hidupmu!"
Amira terdiam dengan apa yang dikatakan oleh Pak Ferry karena bahkan dia tidak pernah memikirkan bagaimana sosok Ayah yang diinginkannya dan dia juga tidak pernah memikirkan bagaimana sikap dan juga sifat seorang ayah dalam keluarga. Mungkin ketika dia masih kecil, Amira seringkali merindukan sosok Ayah hanya karena dia melihat kebahagiaan dan juga tawa pada kawan-kawannya, tetapi seiring dengan berjalannya sang waktu dia bahkan tidak menginginkan hal tersebut dan dia juga tidak bisa membayangkan mengenai sosok ayah yang diinginkan olehnya. Semua pengalaman buruk yang terjadi di dalam hidupnya membuat Amira tumbuh menjadi seorang gadis yang berasal kalau dia tidak membutuhkan sosok ayah sama sekali sehingga saat ini ketika sosok tersebut muncul dalam kehidupannya justru dia tidak menginginkannya terlebih setelah mengetahui kisah yang terjadi antara ayahnya di juga ibunya dahulu.
Pak Ferry hanya bisa memaklumi sikap dari Amir saat ini karena bagaimanapun juga dia tidak bisa menyalahkan Amira maupun Bu Diah karena apa yang terjadi saat ini adalah kesalahannya sendiri bukan kesalahan mantan istrinya ataupun putrinya. Andai saja dahulu dia tidak melakukan sebuah kebodohan yang sangat besar, pasti saat ini dia tidak akan kehilangan waktu yang sangat berharga untuk bisa melihat tumbuh kembang dari putrinya itu. Namun nasi sudah menjadi bubur dan dia tidak bisa mengembalikan bubur tersebut untuk kembali menjadi nasi.
"Aku tidak pernah tahu dan juga tidak pernah menginginkan sosok seorang ayah seperti yang Anda katakan barusan kepadaku, karena selama ini aku terbiasa hidup hanya berdua saja dengan ibu dan bagiku dia adalah sosok ibu dan juga ayah terbaik yang pernah kumiliki selama ini dan aku juga tidak pernah menginginkan ada sosok lain yang hadir di dalam kehidupanku!" kata Amira tanpa melihat ke arah Pak Ferry sama sekali dan dia benar-benar tidak peduli dengan apa yang dirasakan oleh lelaki paruh baya tersebut.
Ada sembilu yang begitu dalam menusuk jantung Pak Ferry ketika dia mendengar apa yang dikatakan oleh Amira kepadanya barusan. Dia benar-benar sudah kehilangan banyak hal dan saat ini dia sungguh menyesali hal tersebut. Namun Pak Ferry sadar kalau sesalnya kali ini tidak ada gunanya sama sekali karena semuanya sudah terjadi dan dia jelas tidak akan bisa mengubah apa pun juga saat ini.
Setelah melakukan perjalanan selama sejam lamanya, akhirnya keduanya sampai pada sebuah villa yang berada di pinggiran kota. Pak Ferry sengaja mengajak Amira ke tempat itu karena dia merasa jika tempat itu adalah tempat yang aman dari pandangan orang lain dan mereka bisa berbicara dengan penuh ketenangan tanpa khawatir ada yang mengganggu mereka. Villa tersebut adalah salah satu aset yang dimiliki oleh Pak Ferry tanpa sepengetahuan istrinya dan villa tersebut merupakan tempat yang penuh dengan kenangan antara dirinya dengan Bu Diah.
"Ini adalah tempat yang penuh kenangan antara aku dan juga ibumu!" kata Pak Ferry yang memberitahukan mengenai hal tersebut kepada putrinya.
Amira yang mendengar hal tersebut hanya tersenyum sinis dan terus berjalan ke arah teras dan kemudian berhenti di sana untuk melihat pemandangan dari tempatnya berdiri saat ini. Hamparan kebun teh dan juga pegunungan membuat suasana menjadi semakin sejuk dan sangat sayang kalau dilewatkan begitu saja.
__ADS_1
"Tempatmu berdiri adalah tempat kesukaan ibumu dan dia biasanya sambi menikmati secangkir teh di sana," kata Pak Ferry yang memang masih mengingat dengan baik apa yang menjadi kebiasaan dari mantan istrinya itu.
"Apa gunanya segala kenangan ini dijaga dengan begitu baik kalau pada akhirnya hubungan yang dibina justru tidak bisa dibina dengan baik?" tanya Amira yang menurutnya, apa yang dilakukan oleh ayahnya itu adalah sesuatu yang sangat sia-sia karena sejatinya yang terpenting adalah menjaga hubungan bukan menjaga sesuatu yang memiliki nilai historis tinggi dalam sebuah hubungan.
Pak Ferry kembali terdiam dengan apa yang dikatakan oleh Amira kepada dirinya. Sepertinya dia harus benar-benar berhati-hati kepada putrinya karena setiap kali dia mengatakan sesuatu, Amira selalu berhasil untuk memberikannya pertanyaan yang tidak pernah dia bayangkan sebelumnya. Pak Ferry benar-benar tersadar kalau dia memang tidak mengetahui apa-apa mengenai putrinya dan dia menyesali hal tersebut.
"Sepuluh tahun Ayah dan ibumu menikah, tetapi kami belum juga diberikan keturunan padahal kami sudah melakukan berbagai macam cara agar bisa mendapatkan keturunan, hanya saja kami belum melakukan program bayi tabung karena saat itu kami masih menginginkannya secara normal," kata Pak Ferry yang pada akhirnya memulai kisah yang selama ini selalu dia anggap sebagai pembenaran atas apa yang dilakukannya.
Amira untuk kali ini menahan diri untuk tidak mengatakan apa-apa dan membiarkan ayahnya itu untuk menceritakan apa yang tidak pernah dia ketahui selama ini. Bukan karena Amira merasa jika hal tersebut akan mengubah pandangannya, hanya saja dia ingin memberikan lelaki yang satu itu untuk memberikan pembelaan sebelum dia melakukan sesuatu yang tidak pernah dibayangkan sama sekali oleh lelaki yang ada di sampingnya.
Pak Ferry sejenak melihat ke arah Amira dan menunggu putrinya tersebut memberikan tanggapan atas apa yang dia katakan. Namun, setelah beberapa saat berlalu ternyata Amira tidak juga memberikan tangganpan atas apa yang dikatakannya sehingga membuat Pak Ferry yakin kalau Amira benar-benar ingin memberi kesempatan kepadanya untuk membela diri atas apa yang sudah dilakukannya dahulu.
"Saat itu, ayah mengenal Indi, ibu tirimu. Dia adalah seorang janda dengan dua orang anak dan anak bungsunya adalah istri Alex, ayah sangat yakin kalau kamu pasti pernah bertemu dengannya ketika dia datang ke kantor Alex."
"Maafkan Ayah yang mungkin salah karena terlalu memanjakannya sehingga membuat dia tumbuh menjadi wanita yang arogan."
Amira merasakan sakit hati yang begitu dalam saat dia mendengar apa yang dikatakan oleh ayahnya. Bagaimana tidak sakit hati jika anak orang lain saja bisa begitu dimanjakan, sedang anak kandungnya sendiri seolah-olah dibuang begitu saja dan bahkan tidak berusaha untuk dicari andai saja saat ini mereka tidak bertemu dan dirinya yang tidak mengetahui mengenai kisah yang sudah terjadi pada masa lalu kedua orang tuanya.
"Maaf, kalau hal tersebut membuatmu terluka karena sungguh ayah tidak mengetahui mengenai kehadiranmu dan ayah hanya menginginkan seorang anak, itu saja!" kata Pak Ferry yang baru menyadari jika apa yang dia katakan bisa saja menyakiti perasaan Amira.
"Aku? Terluka? Kenapa aku harus terluka dengan hal tersebut? Aku tidak pernah tahu kalau Anda ada, jadi kenapa harus terluka hanya karena hal kecil seperti itu? Tidak penting sama sekali!"
"Maaf, Ayah kira ...."
__ADS_1
"Kamu kira kalau kamu begitu berarti di dalam hidupku? Maaf sekali karena aku tidak pernah menganggap Anda sebagai seseorang yang berarti di dalam hidupku karena bagiku, Anda sudah meninggal sejak aku berada di dalam kandungan Ibu."
"Ayah tidak akan menyalahkanmu mengenai hal tersebut, karena kamu tidak bersalah sama sekali mengingat kamu hanya mengetahui dari ibumu kalau aku sudah meninggal, seharusnya ...."
"Kalau ingin menyalahkan Ibu atas apa yang dia katakan, akan jauh lebih baik kalau Anda menyadari terlebih dahulu kesalahan yang sudah Anda perbuat sehingga Ibu bisa melakukan hal tersebut! Perempuan mana yang tidak akan sakit hati jika suami yang dia cintai dan selalu dia temani dalam suka dan duka sudah mengkhianati cintanya?"
"Ayah hanya menginginkan keturunan dan ayah menikah dengan Indi karena berpikir jiak Indi bisa memberi Ayah keturunan, tetapi nyatanya tidak. Selain itu, Ayah juga sudah menawarkan kepada ibumu untuk hidup bersama-sama saja tanpa harus berpisah, tetapi ternyata ibumu tidak mau melakukan hal tersebut dan memilih untuk berpisah saja dan bahkan tanpa memberitahukan mengenai kehamilannya kepada ayah. Mungkin kalau saat itu ibumu mengatakan hal tersebut maka Ayah tidak akan melepaskannya!"
Amira tertawa dengan begitu kerasnya ketika mendengar apa yang dikatakan oleh Pak Ferry barusan. Menurutnya, apa yang dikatakan oleh ayahnya tersebut adalah sesuatu yang sangat lucu dan sangat wajar kalau dia tertawa seperti saat ini.
"Perempuan waras mana yang masih mau bertahan dengan seseorang yang sudah menyakitinya dengan begitu hebatnya? Perempuan waras mana yang mau menerima poligami dan membiarkan hatinya terluka begitu dalam karena hal tersebut? Jika aku menjadi Ibu, aku juga tidak akan memberitahukan mengenai kehamilanku kepada seorang pengkhianat cinta seperti Anda!"
"Kamu tidak paham keadaan Ayah saat ini, Ra!"
"Tidak paham? Ya, aku belum lahir saat itu, jadi tidak paham sama sekali dengan keadaan saat itu. Namun, saat ini aku sudah dewasa dan usiaku sudah 17 tahun, sehingga aku sangat paham dengan keadaan itu dan sangat mengerti! Selingkuh hanya karena tidak mendapat keturunan? Hah, itu adalah sebuah alasan yang mengada-ada yang dikatakan oleh lelaki yang pada kenyataannya dia sendiri seorang penjahat kellamin, tetapi berkedok dengan keinginan untuk mendapatkan keturunan!"
"Ayah tidak pernah berniat ...."
"Tidak berniat selingkuh atau tidak berniat untuk menjadi penjahat kellamin? Mau berniat atau pun tidak, pada kenyataannya Anda sudah melakukan kesalahan tersebut dan untuk melakukan kesalahan itu tidak perlu ada niat karena yang diperlukan hanyalah kesempatan dan Anda mendapatkan kesempatan tersebut!"
"Ra, Ayah hanya menginginkan keturunan saja, apakah itu salah?"
"Keinginannya tidak salah, tetapi caranya yang salah dan tidak akan pernah termaafkan sampai kapan pun!"
__ADS_1