
Bab 38
"Dia datang bersamaku dan aku harap kamu tidak marah dengan hal tersebut!" kata seseorang yang datang dari arah belakang Bu Diah sehingga membuat perempuan yang satu itu dan juga Amira melihat ke arah sumber suara tersebut.
Betapa kagetnya Amira dan juga Bu Diah ketika melihat Pak Ferry berada tidak jauh dari mereka sambil berjalan ke arah keduanya, terutama Amira. Gadis itu jelas sudah berusaha untuk menghindari lelaki yang seharusnya dipanggil Ayah olehnya, tetapi dia terlalu enggan untuk mengatakan hal tersebut karena luka yang begitu dalam pada hatinya. Bagaimanapun juga Amira sudah berusaha untuk kabur dari laki-laki yang satu itu dan bahkan dia juga enggan untuk bertemu kembali dengan lelaki yang satu itu, tetapi kini justru lelaki itu datang kembali di hadapannya dan dia merasa jika apa yang dilakukannya tadi adalah sesuatu yang sia-sia.
Jika Amira merasa kesal dengan apa yang dilihatnya saat ini, maka Bu Diah pun merasakan hal yang sama dengan anak gadisnya itu. Namun Bu Diah bukan hanya kesalahan kepada mantan suaminya tersebut, tetapi dia juga kesal kepada putrinya yang menurutnya sudah membohonginya karena tadi pagi Amira mengatakan bahwa dia akan pergi ke sekolah. Namun kini pada kenyataannya dia justru melihat putrinya sedang berada di salah satu restoran bersama dengan mantan suaminya.
"Kenapa kamu pergi ketika jam sekolah? Bukankah Ibu selalu bilang kepadamu kalau kamu tidak boleh bolos selama kamu masih sehat dan tidak ada kepentingan lainnya?" kata Bu Diah sambil menatap ke arah Amira dan dia benar-benar berharap jika putrinya itu akan menjawab apa yang ditanyakannya dengan jujur.
"Dia tidak bolos, aku yang meminta izin kepada pihak sekolah karena bagaimanapun juga aku adalah ayahnya dan aku berhak untuk meminta izin kepada sekolah atas ketidakhadiran Amira di sekolah hari ini!" kata Pak Ferry yang berusaha untuk melindungi Amira dari kemarahan mantan istrinya meski dia sendiri sadar kalau saat ini dirinya sedang berbohong.
"Aku tahu kalau kamu adalah ayah kandungnya dan mungkin kamu berhak untuk melakukan hal tersebut, tetapi kamu harus ingat kalau akumu itu sudah menghilang ketika kamu memutuskan untuk berselingkuh dengan perempuan yang tidak tahu diri itu!" kata Bu Diah yang kini mulai menatap tajam ke arah mantan suaminya dan dia benar-benar berharap jika mata suaminya itu tidak ikut campur dengan urusan antara dirinya dan juga Amira.
__ADS_1
"Kamu suka atau tidak suka dengan hal itu tidak akan bisa mengubah kenyataan bahwa aku adalah ayahnya dan aku memiliki hak atas Amira sehingga aku bisa meminta izin kepada sekolahnya agar dia bisa tidak masuk sekolah hari ini karena ada beberapa hal yang harus kami bicarakan!"
"Aku tahu kalau kamu ada pemilik sekolahnya, tetapi bukan berarti kamu bisa melakukan hal seperti itu sesuka hatimu karena bagaimanapun juga di sini aku yang jauh lebih berhak untuk menentukan masa depan putriku daripada dirimu!"
"Kenapa kamu merasa kalau kamu jauh lebih memiliki hak untuk menentukan apa yang bisa dia lakukan dan apa yang tidak bisa dia lakukan? Apakah karena selama ini Kamulah yang membesarkannya seorang diri? Padahal kamu sendiri harus ingat kalau hal tersebut adalah pilihanmu sendiri karena kamu yang memilih untuk pergi dari kehidupanku dan kamu juga yang memilih untuk tidak memberitahukanku mengenai kehamilanmu itu!"
Bu Diah tersenyum sini setelah mendengar apa yang dikatakan oleh mantan suaminya tersebut. Bu Diah berpikir kalau dia tidak akan kembali menghadapi sifat egois dan juga keras kepala mantan suaminya itu, tetapi ternyata dirinya salah karena kini dia harus kembali menghadapi sifat egois dan juga kerap kepala mantan suaminya tersebut. Sepertinya istri baru dan juga keadaan tidak membuat mantan suaminya itu Menghilangkan sifat egois dan juga keras kepalanya.
"Seorang perempuan tidak akan pernah berani untuk meninggalkan seorang lelaki apabila lelaki itu tidak melakukan sebuah kesalahan yang sangat fatal dan kamu sudah melakukan kesalahan fatal itu sehingga aku tidak akan pernah bisa memaafkanmu sama sekali bahkan sampai saat ini juga!"
Pak Ferry ingin mengatakan sesuatu ketika tiba-tiba Amira menggebrak meja dengan begitu kerasnya sehingga membuat kedua orang yang sedang berdebat itu langsung melihat ke arah Amira.
"Kalian hanya bisa berdebat dan mengungkit apa yang sudah terjadi di masa lalu padahal jelas hal tersebut tidak akan pernah bisa kembali membaik meski kalian mengungkit kejadian tersebut selama ribuan kali atau bahkan jutaan kali sekalipun!" kata Amira setelah kedua orang tuanya berhenti berdebat dan menatapnya.
__ADS_1
"Amira, Ayah hanya berusaha untuk menjelaskan mengenai apa yang sudah terjadi di masa lalu kepada ibumu dan Ayah hanya berusaha agar ibumu bisa memberikan izin serta hak kepada Ayah agar Ayah bisa mencintai dan juga mengurusmu sebagaimana semestinya seorang Ayah!" kata Pak Ferry yang berusaha untuk memberikan pembelaan atas apa yang terjadi di antara mereka saat ini.
"Aku sudah mengatakannya kepada Anda, kalau Anda tidak perlu terus-menerus memberikan pembelaan atas apa yang sudah terjadi di masa lalu karena semua pembelaan yang Anda katakan itu hanya untuk menutupi keegoisan yang sudah Anda lakukan di masa lalu!" kata Amira sambil menatap tajam ke arah Pak Ferry dan kembali mengingatkan lelaki yang satu itu mengenai apa yang sudah dikatakannya sebelumnya. "Aku tidak perlu pembelaanmu mengenai keberadaanku saat ini di sini meski satu hal yang benar dalam hal ini yaitu Anda yang menari ku secara paksa agar Anda bisa berbicara denganku!"
Bu Diah yang mendengar satu kenyataan dari putrinya tersebut langsung melihat ke arah mantan suaminya itu. Dia benar-benar tidak mengira jika mantan suaminya tersebut akan melakukan sesuatu yang tidak pernah dibayangkannya sama sekali dan bahkan menurutnya hal itu adalah sesuatu yang terlalu berani.
"Kali ini aku masih bisa memaafkan atas apa yang kamu lakukan kepada putriku, tetapi lain kali aku tidak akan pernah memaafkanmu jika kamu memaksa putriku untuk melakukan sesuatu yang tidak dia inginkan sama sekali!" kata Bu Diah dengan suara penuh penekanan dan dia benar-benar berharap jika mata suaminya itu mau mendengarkan apa yang dikatakan olehnya.
"Amira adalah putriku dan aku memiliki hak untuk bisa bersama dengannya serta memiliki hak untuk menjelaskan apa yang sudah terjadi di masa lalu dan kamu tidak memiliki hak sama sekali untuk melarangku melakukan hal itu!" kata Pak Ferry yang tidak mau kalah dengan apa yang dikatakan oleh mantan istrinya tersebut.
"Cukup!" kata Amira dengan suara yang sangat keras sehingga membuat beberapa pasang mata para pengunjung restoran tersebut melihat ke arah mereka bertiga. "Aku sudah mengatakannya kepada kalian, tidak perlu berdebat lagi mengenai apa yang sudah terjadi di masa lalu karena tidak akan mengubah apa pun juga pada kehidupan saat ini!"
Setelah mengatakan hal tersebut Amira langsung berlari dan meninggalkan kedua orang tuanya. Dia benar-benar lelah dengan drama yang ditunjukkan oleh kedua orang tuanya dan menurutnya apa yang dilakukan oleh kedua orang tuanya itu adalah sesuatu yang tidak pantas dipertontonkan di tempat umum.
__ADS_1
Di antara keduanya memang ada kisah yang sangat menyakitkan di masa lalu, tetapi bukan berarti mereka harus mengungkit kisah yang sangat menyakitkan itu di tempat umum sehingga membuat banyak orang mengetahui kisah mereka. Selain itu, Amira juga benar-benar kesal dengan sifat Pak Ferry yang masih saja terus-menerus memberikan pembelaan atas apa yang dilakukannya di masa lalu padahal semua orang juga mengetahui kalau dirinya lah yang telah bersalah atas apa yang terjadi pada kehidupan rumah tangganya dengan Bu Diah dahulu.
"Semua ini kira-kira kamu dan aku tidak akan pernah memaafkanmu kalau sesuatu yang buruk terjadi kepada putriku!" kata Bu Diah yang kemudian berlari mengejar Amira.