
Bab 43
"Ini apa?" tanya Gabriella ketika Alex Baru saja sampai ke rumah setelah seharian berada di kantor.
Alex tidak menjawab apa yang dikatakan oleh Gabriella, tetapi memilih untuk melihat Amplop yang dilemparkan oleh istrinya tersebut. Dari sampul amplop tersebut saja Alex sudah tahu jika amplop tersebut berasal dari pengadilan agama dan dia paham jika isi dari amplop tersebut adalah panggilan untuk sidang pertama perceraian mereka.
Ya, setelah merenung selama beberapa hari dan sikap Amira yang benar-benar menjauh darinya meski tetap datang ke kantor dan juga masih menyelesaikan semua pekerjaannya dengan baik, tetapi tetap saja Amira benar-benar menjaga jarak dari Alex. Beberapa kali Alex berusaha untuk membuat Amira mengerti kalau dirinya tidak bisa mengambil keputusan yang sangat berat itu, tetapi gadis itu tidak peduli sama sekali dengan hal tersebut dan tetap menjaga jarak antara dirinya dengan Alex.
"Aku yakin kamu bisa membaca tulisan yang ada di dalam amplop tersebut dengan baik sehingga tidak perlu bertanya kepadaku mengenai maksud dari amplop tersebut!" kata Alex dengan lantainya dan tidak sedikitpun merasa bersalah atas apa yang sudah dilakukannya.
"Kamu menggugat cerai? Kenapa? Kenapa kamu menceraikanku? Bukankah sejak dulu kita sudah sepakat kalau kita tidak akan pernah bercerai sama sekali apa pun yang terjadi di dalam kehidupan rumah tangga kita ini?"
"Aku tahu kalau kita sudah sepakat mengenai hal tersebut, tetapi setelah aku pikir-pikir akan jauh lebih baik kalau kita berpisah saja daripada bersama dan terus saling menyakiti satu sama lainnya."
"Saling menyakiti? Sejak kapan kamu mulai mempermasalahkan mengenai hal tersebut sedangkan selama ini kamu seolah-olah bersikap baik-baik saja tanpa ada kata dan menyakiti satu sama lain?"
"Kamu sendiri pasti menyadarinya kalau kita seringkali bertengkar dan aku memang sudah sangat lelah dengan hubungan yang terus-menerus seperti ini tanpa ada akhirnya sama sekali. Bagaimanapun juga rumah tangga yang diisi hanya dengan pertengkaran tidak akan pernah berhasil dan pada akhirnya mau tidak mau kita benar-benar harus mengalahkan pada keadaan serta mencari kebahagiaan kita sendiri!"
"Mencari kebahagiaan kita sendiri kamu bilang? Kebahagiaan apa yang kamu maksud kalau pada kenyataannya selama ini kamu selalu berkata jika kamu bahagia hidup bersamaku dan juga anak-anak? Lalu kamu ingin kebahagiaan seperti apa lagi? Kalau kamu bermasalahkan karena kita seringkali bertengkar dan berselisih pendapat, maka hal tersebut bukanlah sebuah masalah yang besar karena setiap hubungan pasti akan mengalami fase seperti itu dan kita hanya perlu menyelesaikan setiap masalah yang ada!'
"Dan aku merasa kalau ini adalah penyelesaian terbaik dari semua masalah yang seringkali memicu pertengkaran di antara kita!"
"Kamu ...."
Gabriella tidak menyelesaikan kata-katanya karena dia benar-benar sudah kehabisan kata-kata untuk mengungkapkan apa yang ada di dalam hatinya. Perceraian adalah sesuatu yang paling dihindarkan oleh Gabriella Karena bagaimanapun juga dia pernah hidup tanpa sosok seorang ayah dan itu adalah sesuatu yang sangat menyakitkan sehingga membuatnya tidak ingin membuat anak-anaknya mengalami apa yang dialaminya dahulu.
Gabriella berusaha untuk menarik nafas dalam dan kemudian menghembuskannya secara perlahan agar emosinya sedikit meredam sehingga nanti dirinya bisa berbicara dengan kepala dan juga emosi yang jauh lebih tenang daripada saat ini. Dia sangat yakin kalau semua permasalahan yang dihadapi oleh diri kita juga Alex pasti bisa diselesaikan dengan cara baik-baik tanpa harus terjadi sebuah perpisahan di antara mereka. Lagi pula, ini bukanlah pertama kalinya mereka bertengkar dan setiap kali mereka bertengkar selalu bisa diselesaikan dengan baik tanpa harus melibatkan pengacara terlebih sampai harus ke pengadilan agama.
Sementara itu Alex menggunakan kesempatan yang ada untuk berjalan ke arah kamarnya dan membersihkan diri. Dia yakin kalau dirinya dan juga Gabriella sama-sama membutuhkan sedikit waktu untuk menenangkan diri sehingga nantinya bisa membicarakan segala sesuatunya dengan kepala yang jauh lebih tenang daripada saat ini. Dia sangat yakin kalau amarah yang ditunjukkan oleh Gabriella barusan terjadi karena perempuan yang satu itu belum siap dengan perpisahan yang diinginkan olehnya.
__ADS_1
Namun Alex sendiri tidak mungkin untuk tetap bersama dengan Gabriella mengingat dia sudah memilih untuk bersama dengan Amira karena dia sangat yakin jika gadis itu bisa membuatnya bahagia dan kehidupannya nanti akan jauh dari pertengkaran. Alex sadar kalau hal tersebut memang masih berupa harapannya saja, tetapi dia akan berusaha untuk menciptakan hal tersebut dan dia tidak akan pernah menyesali apa yang sudah menjadi keputusannya karena bagaimanapun dia benar-benar menginginkan gadis itu untuk bisa menjadi pendamping hidupnya.
"Makanlah terlebih dahulu dan setelah itu kita akan berbicara mengenai banyak hal karena sepertinya saat ini kita membutuhkan hal tersebut!" kata Gabriella ketika dia memasuki kamar dan mendapati Alex yang baru saja selesai membersihkan diri
"Aku ...."
"Aku tahu kalau kamu akan mengatakan jika kamu sudah makan di luar atau kamu merasa tidak lapar sama sekali sehingga kamu tidak ingin memakan makanan yang aku masakkan, tetapi aku hanya mengingatkanmu bahwa hal tersebut tidak akan ada gunanya sama sekali karena aku selalu tahu apa yang biasa kamu lakukan dan apa yang tidak pernah kamu lakukan!"
Gabriella memang benar-benar sangat memahami bagaimana sifat dan juga sikap Alex sehingga dia bisa menghadapi setiap emosi yang ditunjukkan oleh suaminya tersebut. Menikah selama berapa tahun-tahun dan sebelumnya berpacaran untuk waktu yang sangat lama membuat Gabriella benar-benar memahami mengenai segala sesuatu terkait dengan Alex.
"Aku benar-benar tidak lapar dan aku memang benar-benar sudah makan di luar sehingga tidak berniat untuk makan lagi untuk saat ini!" kata Alex yang berusaha untuk menolak apa yang ditawarkan oleh istrinya tersebut karena dia terlalu khawatir jika setelah itu dirinya akan goyah.
"Kamu tidak perlu berbohong kepadaku karena aku adalah orang yang paling mengetahui bagaimana sifat dan juga sikapmu itu sehingga aku dapat memastikan kalau saat ini kamu belum makan sama sekali dan buatmu pasti sedang keroncongan menahan lapar!"
"Kamu tidak perlu lagi mempedulikanku karena yang harus kamu pedulikan adalah dirimu sendiri dan juga anak-anak!"
"Aku memang sudah tidak ingin memakan dan bukan karena khawatir kalau kamu akan meracuniku!"
"Aku tidak menerima penolakanmu kali ini dan kamu harus tetap makan apa yang aku hidangkan di atas meja makan!"
Gabriella benar-benar memaksa Alex untuk memakan makanan yang sudah dia masak dan juga sudah dihangatkannya tadi. Gabriella memang mendapatkan surat panggilan dari pengadilan sejak siang, tetapi hal tersebut tidak membuatnya enggan untuk menyiapkan segala sesuatunya bagi anak-anak dan juga suaminya tersebut. Bagaimanapun juga, menurutnya setiap masalah pasti ada jalan keluar Apabila mereka bisa berbicara dengan tenang dan dari hati ke hati. Selain itu, Gabriella juga meyakini kalau Alex masih sangat mencintainya dan tidak mungkin mengungkapnya cerai tanpa alasan yang jelas.
Alex yang dipaksa untuk makan makanan yang ada di atas meja makan tidak memiliki pilihan lain selain memakan apa yang sudah terhidang di hadapannya saat ini. Selain itu dia juga tidak bisa memungkiri kalau dirinya memang sangat kelaparan mengingat makanan yang terakhir masuk ke dalam perutnya adalah makan siangnya tadi bersama Angela dan juga seorang kolega.
Dalam hening Alex menikmati makanan yang ada di hadapannya dan Gabriella dengan setia duduk di hadapan lelaki yang sangat dicintainya itu. Perempuan yang sudah melahirkan dua orang anak tersebut menatap suaminya dengan tatapan lembut dan beberapa kali dia berusaha untuk menarik nafas dalam kemudian menghembuskannya agar dia tidak kembali terus emosi hanya karena mengingat mengenai amplop yang berisi panggilan sedang berceraian antara dirinya dengan Alex. Bagaimanapun juga ini yang belum tersebut memang membuatnya emosi dan tidak habis pikir dengan apa yang dilakukan oleh suaminya itu.
"Aku sudah selesai makan dan sepertinya Kita bisa mulai berbicara mengenai permasalahan yang terjadi di antara kita!" kata Alex setelah menghabiskan semua makanan yang ada di hadapannya hingga tak bersisa sama-sama sekali.
Gabriella tidak menanggapi apa yang dikatakan oleh Alex karena saat ini dia benar-benar berusaha untuk mengendalikan diri dan juga emosinya sehingga mereka benar-benar bisa berbicara dengan tenang dan dari hati ke hati. Sesekali dia meminjamkan matanya dan merampakan beberapa doa yang dia hafal untuk menghilangkan bayangan akan surat panggilan pengadilan itu.
__ADS_1
"Aku benar-benar meminta maaf kepadamu karena harus mengambil keputusan yang sangat menyakitkan ini! Sungguh aku tidak memiliki pilihan lain selain mengambil keputusan yang sangat berat tersebut mengingat selama beberapa bulan ini intensitas pertengkaran kita cukup tinggi sehingga membuatku benar-benar berpikir ulang mengenai segala sesuatunya dan merasa kalau kita tidak perlu mempertahankan pernikahan ini kalau pada akhirnya hanya akan saling menyakiti satu sama lain!" kata Alex ketika kata-katanya tidak kunjung mendapatkan tanggapan dari Gabriella.
Gabriella masih tetap diam setelah mendengar apa yang dikatakan oleh Alex barusan, otaknya benar-benar berpikir mengenai bagaimana cara terbaik untuk menjawab apa yang dikatakan oleh suaminya tersebut karena bagaimanapun juga dia tidak ingin kalah dari apa yang dikatakan oleh suaminya itu. Gabriella benar-benar ingin mempertahankan pernikahan yang sudah dibangunnya sejak beberapa tahun yang lalu dan dia juga enggan untuk kehilangan seseorang yang sangat dicintainya itu.
"Gab, sungguh aku tidak ingin menyakitimu dan juga menyakiti anak-anak dengan keputusan yang aku buat saat ini, tetapi menurutku agak jauh lebih menyakitkan apabila kita tetap bersama-sama mengarungi biduk rumah tangga yang penuh dengan pertengkaran!" Alex kembali melanjutkan kata-katanya ketika tidak mendapatkan respon apa pun dari Gabriella dan dia merasa jika perempuan yang ada di hadapannya itu sedang memikirkan beberapa hal atau bisa juga sedang meresapi apa yang dikatakan lainnya.
"Aku tidak tahu harus mengatakan apa kepadamu atas keputusan yang sudah kamu ambil itu dan terlebih keputusan tersebut benar-benar mendadak bahkan kamu tidak membicarakannya terlebih dahulu kepadaku mengenai hal tersebut," kata Gabriella yang pada akhirnya mengatakan sesuatu setelah terdiam sama beberapa saat.
"Aku mengambil keputusan tersebut karena seperti yang aku bilang kalau keputusan itu adalah keputusan terbaik setelah kita kerap kali bertengkar hanya karena beberapa hal kecil dan menurutku hal tersebut tidak bisa kita abaikan lagi."
"Aku sadar kalau selama beberapa bulan ini kita memang seringkali bertengkar hanya karena beberapa hal kecil yang terjadi di antara kita dan biasanya hal tersebut terjadi karena kesalahpahaman saja bukan karena sesuatu yang sangat fatal. Namun aku tidak pernah mengira jika pada akhirnya kamu akan memutuskan hal tersebut dan bahkan kamu mengambil keputusan secara sebelah pihak tanpa membicarakannya terlebih dahulu denganku!"
"Karena kesalahpahaman tersebut telah membuatku pada akhirnya mengambil keputusan yang satu ini meski aku sendiri menyadari kalau hal tersebut adalah sesuatu yang sangat berat bagiku karena bagaimanapun juga selama ini aku terlalu terbiasa hidup di sampingmu dan juga terbiasa hidup dengan cinta darimu!"
Mendengar apa yang dikatakan oleh Alex, Gabriella hanya bisa tersenyum miris karena menurutnya kata-kata itu adalah sesuatu yang sangat menyakitkan. Bagaimana mungkin Alex bisa mengatakan bahwa dirinya sudah terlalu terbiasa hidup bersama dengannya dan juga hidup dengan cinta yang diberikan olehnya, tapi memutuskan untuk melepaskan segala sesuatu yang dianggap sebagai kata terbiasa dalam hidupnya.
"Kenapa kamu tidak membicarakan terlebih dahulu segala sesuatunya denganku? Jika memang terjadi kesalahpahaman di antara kita maka aku sangat yakin akan selalu ada jalan keluar dari semua kesalahan itu."
"Untuk kali ini aku benar-benar merasa kalau kita tidak bisa lagi berbicara dari hati ke hati meski kamu menginginkan hal tersebut karena bagaimanapun juga nggak apa-apa itu sudah terlalu sering terjadi hingga akhirnya menjadi sebuah masalah yang sangat besar."
"Sebuah masalah yang sangat besar? Bagaimana mungkin semua masalah kecil yang terjadi selama ini dan selalu berhasil kita selesaikan dengan baik, kamu anggap sebagai sebuah masalah yang sangat besar? Kamu benar-benar tidak mengerti dengan cara berpikirmu sehingga bisa mengatakan hal seperti itu."
"Inilah salah satu alasan kenapa aku menganggap bahwa kita tidak bisa melanjutkan hubungan ini lagi karena setiap saat akan muncul kesalahpahaman yang baru dan juga pertengkaran baru hingga pada akhirnya membuat aku benar-benar lelah dengan segala sesuatunya!"
"Lelah?"
Gabriella benar-benar tidak habis pikir dengan apa yang dikatakan oleh Alex barusan. Bagaimana mungkin lelaki yang selama ini selalu menyanjungnya dan juga mengatakan beribu kata cinta bisa mengatakan kalau dia lelah dengan apa yang terjadi di antara mereka. Entah sudah berapa puluh ribu kali mereka bertengkar dan entah sudah berapa purnama mereka lalui kehidupan ini secara bersama-sama dan lelaki yang ada di hadapannya tidak pernah mengatakan lelah sama sekali, tetapi saat ini hanya karena pertengkaran yang sangat kecil saja Alex bisa mengatakan kalau kata lelah di hadapannya.
"Apakah kamu memiliki perempuan lain sehingga membuatmu menjadi seperti saat ini?" tanya Gabriella yang entah kenapa tiba-tiba terpikir mengenai hal tersebut.
__ADS_1