
Happy Reading.
***
Kini keluarga Kerajaan beserta para selir sedang menikmati perjamuan dan pertunjukan.
Tujuan perjamuan ini untuk mempererat hubungan diantara mereka terutama para selir. Jia merasa tak masalah dengan tujuan perjamuan ini, tapi tidak untuk Selir Meng.
Bayangkan saja, setelah selir Meng mendudukan dirinya. Ia langsung menatap Jia dengan pandangan 'Terimalah Pembalasanku'. Dan tatapan itu berlangsung sampai kali ini.
Jia memang kadang merasa merinding sendiri dan ia teringat ucapan selir Feng waktu itu, tentang ia yang sudah menyinggung Selir Meng.
'Ck, ini akan lumayan merepotkan' Keluh Jia dalam hati.
Setelah kelompok tari selesai, para Pelayan mulai menghidangkan beberapa makanan. Memang saat pertunjukan tari mereka hanya dihidangkan segelas Teh yang tentunya ada sesuatu terselubung.
Jia tau, ini adalah ide Ibu Suri. Ia sangat ingin melihat ekspresi yang dikeluarkan para selir setelah upacara doa dan setelahnya mereka hanya dihidangkan segelas teh.
Tapi Ibu Suri melakukan ini bukan bertujuan iseng, beliau melakukannya untuk mengingat siapa saja yang harus mendapatkan kelas tata krama lagi. Yap beruntung Liang pernah menceritakan hal ini.
Jia juga terkadang sangat kagum kepada sosok Ibu Suri, beliau sangat bijaksana dan netral ditambah ketegasannya yang luar biasa.
"Yang Mulia, Kali ini ibu rasa panen akan berlimpah" Ucap Ibu Suri membuka Obrolan.
"Ibu benar, karena banyak bunga yang bermekaran di istana" Balas Liang sambil menatap Jia.
Jia sontak mendelik tajam, agar Liang tak menatapnya.
"Hahaha, anda benar Yang Mulia ditambah sudah ada sebuah tunas yang akan segera berbuah" Lanjut Ibu Suri sambil tertawa.
Liang menangapinya hanya dengan senyuman.
Fung yang tau maksud itu langsung tersenyum bangga, sementara selir Meng meradang di tempatnya.
Jia menyikut Xiao yang terkekeh disampingnya.
"Berhenti atau kau akan dapat masalah" Ucap Jia.
Xiao membalasnya dengan senyum jahil. Benar mencari masalah dengan selir Meng di saat begini bukanlah ide bagus.
"Tapi, Hamba harap tunas itu akan bertambah. Benarkan Ibu Suri?" Tanya Permaisuri.
"Kau Benar Permaisuri, semakin banyak tunas semakin baik" Balas Ibu Suri.
Skak.
Kini keadaan berbalik, Selir Meng yang bangga dan Selir Ying yang meradang.
Jia sebenarnya ingin tertawa, tapi ia harus berusaha manahan tawa walau pertunjukan hari ini sangat lucu
Ibu Suri, Kaisar dan Permaisuri bagaikan naratornya dan, Selir Meng dan Selir Ying adalah aktornya.
Liang menahan tawanya ditempat, tapi sepertinya kedua pangeran tak bisa menahan tawanya. Wajah mereka sengaja ditutupi oleh kipas yang mereka bawa tapi Jia yakin mereka sedang tertawa.
'Irinya' Ucap Jia, pandangnya beralih ke yang lain. Tak Jauh beda yang lain juga menahan tawa. Bahkan Selir Hua juga terlihat menahan tawa.
__ADS_1
"Nyonya ini persis seperti perkataan Kaisar" Bisik Yuan.
"Kau benar, ini sangat menarik" balas Jia.
Malam itu seperti biasa Jia datang melayani.
"Yang Mulia apa tidak bisa absen untuk ke perjamuan" Keluh Jia, ia sudah membayangkan betapa bosannya hanya duduk diam.
"Kau ikuti saja dulu, akan ada pertunjukan yang menarik" Balas Liang.
"Tapi..."
"Bawel" Ucap Liang tajam.
Jia hanya cemberut menanggapinya.
"Hamba pernah mendengar kalau bunga itu baru bisa menjadi tunas jika diberikan serbuk yang cocok" Ucap Tiba-tiba Selir Feng.
Jia Terdiam.
"Apa maksudmu Selir Feng?" Tanya Permaisuri.
"Tunas itu hanya bisa menjadi tunas jika baik bungga atau serbuknya cocok, karena jika sekuntum bungga yang selalu diberi serbuk belum bertunas maka ada yang salah" Jelas Selir Feng.
Pangeran Huan melotot, ia tak menyangka salah satu selir kakaknya bisa seberani ini.
Selir Meng menyeringai puas melihat Jia hanya terdiam.
'Tahan Jia, Tahan' Rapal Jia dalam Hati agar ia tak membalas.
"Hahaha, Kakak Feng kau hebat dalam berdongeng" Puji Xiao.
Xiao Berdiri dan meminta Izin untuk berbicara.
"Kakak Feng, adik rasa untuk perkataan kakak terlalu dangkal. Karena seolah kakak menyalahkan sang Bungga, karena bertunas atau belum bertunas tidak memengaruhi keindahan dan keunggulan bunga itu sendiri" Jelas Xiao.
"A-apa?" Gagap Jiao Feng tergagap.
Perkataan Xiao bukan hanya untuk membela Jia, tapi Ia membela para selir yang memang belum mengandung. Bahkan Xiao juga membela Jiao Feng itu sendiri.
Prok Prok Prok.
Liang bertepuk tangan, ia berdiri.
"Wah, tak kusangkan aku punya seorang selir yang hebat" Puji Liang.
"Bagaimana menurut Ibu Suri?" Tanya Liang.
"Hahaha, kau benar Selir ke 7 memang luar biasa. dia harus diberi hadiah" Ucap Ibu Suri kagum.
"Baik, Selir Ying kau akan kuhadiahi sepasang anting giok"
Xiao segera berjalan ke hadapan Liang dan berlutut. Seorang kasim datang dengan membawa sebuah kotak, ia berdiri dan menyerahkan otak itu kepada Xiao.
"Sebuah kehormatan menerima hadiah dari Yang mulia, hamba sangat berterima kasih" Ucap Xiao.
__ADS_1
Liu dan Jia tersenyum kagum, mereka berdua tak menyangkan Xiao berani membantah Ucapanan Jiao yang terkenal tajam dan sarkas.
Sementara Fung Ying menatap Adiknya dengan pandangan yang tidak bisa diartikan.
Selir Meng kini manatao tajam Xiao yang telah kembali ke tempat duduk.
'Akan ku buat perhitungan nanti' Ancam Selir Meng dalam hati.
Perjamuan kembali dilanjutkan walau terkadang masih ada sindir menyindir. Tapi kini Jia hanya duduk diam menyimak, saat Xiai pasang padan untuknya dan kakaknya.
Deg...
'Sial, aku lengah'
Tubuh Jia seketika langsung memberi sinyal bahwa makanan atau minumannya disabotase. Langsung saja ia menghirup aroma teh dan makanan.
'Ini, herbal pelumpuh'
Herbal pelumpuh sangat ampuh untuk melumpuhkan tubuh setidaknya selama semalaman, tapi kerja obat ini cukup lambat.
'Ini pasti ulah Selir Meng, aku ingat akan ada perjamuan malam. Yap, ia ingin mempermalukanku'
Mata Jia terpejam mencoba menahan pacuan jantungnya agar penyebaran herbal ini lebih lambat, setidaknya ia harus menyembunyikan diri setelah perjamuan ini.
"Nyonya ada tidak apa-apa?" Bisik Yuan.
"Yuan, segera temui Miu dan buatkan obat penetral!" Balas Jia
"Anda diracuni?"
"Kau tenang saja, aku masih bisa bertahan"
Walau Yuan sangat khawatir tapi ia segera pergi menuju kediaman Meihua untuk menyampaikan pesan dari Jia.
Mata Jia menatap tajam Selir Meng tapi selir Meng berpura-pura tak tau.
Sementara Pangeran Jing yang menangkap bahwa sesuatu terjadi pada Jia langsung berbisik kepada Liang.
Liang langsung menatap ke arah Jia yang sedang berusaha menekan penyebarannya.
"Ku rasa Perjamuan ini kita selesaikan sekarang. Para selir juga harus bersiap untuk perjamuan malam" Titah Liang.
Permaisuri menatap aneh ke arah Liang, tapi ia juga segera mendukung ucapan Liang.
Segera keluarga kerajaan, para selir segera kembali ke kediaman masing-masing.
Jia juga segera menyuruh Kakaknya untuk pergi bersama Fung, ia berusaha untuk tak membuat Liu khawatir.
Setelah kakaknya pergi, ia segera berjalan dengan tergesa ke kediamannya lewat jalan rahasia.
Tapi ditengah perjalanan pandangannya menjadi gelap, tapi ia tak pingsan melainkan ada yang menutup matanya dengan selembar Kain. Tak beberapa lama tubuhnya terasa melayang.
Jia tak bisa berteriak, tubuhnya mulai lumpuh. Ia hanya bisa berharap kepada janji Liang untuk melindunginya.
Semoga saja.
__ADS_1
***