
Happy Reading.
***
"Jadi apa yang kalian bicarakan?" Tanya Liang pada Jia yanh sibuk membaca buku tentang racun.
"Hanya pembicaraan biasa" Jawab Jia masih fokus, sementara Liang menghembuskan nafas melihat Jia yang masih saja sibuk membaca.
"Istirahatlah, tabib pribadiku yang akan mencari penawarnya" Ucap Liang.
Kini Jia sudah teralihkan tatapannya.
"Sayangnya hamba tak bisa tinggal diam saat hamba terancam" Balas Jia.
"Lagipula hamba tak akan terlihat sakit walau sudah diracuni" Lanjut Jia.
"Kau memang keras kepala" Cibir Liang.
Jia hanya membalasnya dengan kekehan.
"Ibu Suri tiba-tiba mengizinkan penyelidikan pada paman" Ucap Liang.
"Ia juga mengatakan itu tadi" Balas Jia.
"Ia juga bilang kalau kau mendatangi paman" Ucap Liang.
"Ah, aku hanya mengancamnya untuk bekerja sama dalam mengulingkan Perdana Menteri" Jelas Jia.
"Maksudmu, kau tidak akan menuntutnya lebih dalam karena ia membantu penyelidikan ini?" Tanya Liang memastikan, Jia mengangguk.
"Benar, lagipula pesan dari nenekku hanya untuk mengungkap dan menghukumnya" Balas Jia.
"Jia, bisakah kau istirahat kembali" Tegas Liang yang gusar melihat Jia tetap membaca.
"Dan Yang Mulia bisakah besok anda bawakan beberapa tanaman obat dan peralatannya" Balas Jia dengan permintaan.
Liang memutar matanya jegah dan dengan sekali gerakan Liang mengangkat Jia.
"Yang Mulia lepaskan hamba" Pekik Jia panik.
"Kau terlalu keras kepala" Balas Liang meletakan Jia di ranjang.
"Tapi...."
"Tidur atau aku yang menidurimu" Ancam Liang.
Seketika nyali Jia ciut dibuatnya.
"Baik, hamba akan tidur"
Liang memastikan tubuh Jia sudah terselimuti, ia lekas memberekan buku yang tergeletak di meja.
Setelah selesai Liang pergi dari Paviliun dan kembali ke kediamannya.
***
Keesokannya Jing dan Huan memulai rencananya. Dan benar saja ada seorang kakek-kakek menjual manisan di depan toko bunga.
"Apakah ada yang berbentuk ular?" Tanya Jing.
Karena menurut May jika ingin mengobrol lebih dalam maka harus menyebutkan kodenya.
Terlihat kakek itu langsung memeriksa sekitar.
__ADS_1
"Tentu ada tuan, sekitar matahari terbit dan teratai bermekaran" Jelaa Kakek itu.
Jing menganguk dan pergi bersama Liang. Kenapa Kakek itu tak mencurigai mereka sebagai pangeran, karena Jing dan Huan menyamar sebagai wanita bangsawan.
Segera mereka mengikuti petunjuk kakek itu, tak lain ke arah Barat dan di penginapan yang mempunyai kolam teratai.
Saat sampai di sana ia kembali mendapat petunjuk dari swseorang, sepertinya kakek itu sudah memberitahu kelompoknya atas kedatangan mereka.
Mereka diantar ke sebuah ruangan dan di sana sudah ada seorang pria menunggu.
"Ada apa dua gadis menemui kami?" Tanyanya.
"Kami ada permintaan dan jika kalian bisa mengabulkannya maka kami akan membayar mahal" Jelas Huan.
"Hahaha, ternyata kalian benar keluarga bangsawan" Kekeh Pria itu.
"Duduklah dulu!" Lanjut Pria itu.
Huan dan Jing menurut dan duduk di sana.
"Jadi?"
"Kami ingin menanyakan salah satu pelanggan anda" Ucap Jing langsung.
"Dan maaf, kami tak bisa memberikan informasi itu" Balas Pria itu cepat.
Huan dan Jing menyeringai.
"Kalau begitu kami akan pergi sekarang dan mungkin kalian akan menyesal" Ucap Huan santai sambil berdiri.
"Tunggu, menyesal?" Tanya pria itu menghentikan mefeka berdua.
"Ayah kami berdua tau kalau istana sekarang sedang memburu kalian" Jelas Jing.
"Tidak mungkin, kami sudah melakukan sesuatu diam-diam" Ucap Pria itu.
Jing menyeringai.
"Apa kau tidak curiga terhadap salah satu pelangganmu?" Tanya Jing.
"Hahaha, itu tak mungkin mereka sudah punya perjanjian dengan kami" Balas Pria itu.
"Lalu apa kau tau salah satu misimu ternyata membawa dampak besar terhadap kelompokmu" Jelas Huan.
"Tidak mungkin"
"Mungkin karena, malam ini akan ada perburuan besar-nesaran terhadap kalian" Ucap Jing.
"Baik-baik, katakan apa yang kalian ketahui dan kami akan memberikan informasinya" Putus pria itu.
Huan dan Jing menyeringai, ternyata benar apa yang dikatakan May kalo kelompok mereka sangat takut terhadap istana.
***
"Pelaku penyerangan adalah istri Perdana Menteri" Ucap Jing.
Yang lain hanya terdiak kareana terkejut.
"Itu artinya ia tau rencana ini?" Tanya Jia yang sekarang bisa hadir dalam rapat. Sekarang Yelan dan Bibi Xi yang tidak mengikuti rapat, mereka sibuk mempersiapkan diri dan bukti pribadi.
"Tidak, iya hanya ingin membunuh Yelan dan Bibi Xi" Jawab Huan.
"Kenapa hanya mereka berdua?" Tanya Liang.
__ADS_1
"Karena ia cemburu terhadap Yelan juga Bibi Xi dan Istiri Perdana Menteri pernah bertikai sebelumnya" Jelas Huan.
"Dia perempyan gila yang masih mengejar orang-orang yang punya masalah dengannya" Ucap Permaisuri.
"Apa ia tak akan menganggu rencana kita?" Tanya Xiao.
"Tidak Selama ia tak tau rencana kita" Jawab Jia.
"Lalu bagaimana pengumpulan buktinya?" Tanya Jia kepada Liang.
"Sudah semua dan lengkap. Kita tinggal memanggil perdana Menteri saja" Jawab Liang.
"Selir Li bagaimana racunmu?" Tanya Ibu Suri.
"Ibu Suri tenang saja hamba akan segera menemukan penawarnya" Jawab Jia, walaupun di sana Ibu Suri masih menampilkan wajah khawatir.
Begitupula yang lain mereka menampilkan wajah khawatir.
"Oke, jadi untuk masalah ini ada yang kalian harus ketahui" Ucap Liang mencoba membangun suasana lagi.
"Ini bukan hanya akan menggulingkan Perdana Menteri. Tapi mengungkap kasus kematian Nyonya Li" Lanjut Liang.
"Nyonya Li? Maksud Yang Mulia ibu Kakak Jia?" Tanya Xiao.
"Benar, ini ada kaitannya dengan Perdana MenteriĀ dan beberapa orang lainnya" Jelas Liang.
"Aku hanya akan memberitahu kalian sekarang agar kalian nanati tak kaget" Ucap Liang melihat ke arah Xiao, Permaisuri, dan kedua pangeran.
Kenapa? Karena masalah ini baru didiskusikan oleh Jia, Liang dan Ibu Suri.
"Lalu bagaimana dengan bukti dan saksinya?" Tanya Jing.
"Untuk itu, semuanya telah beres diurus. Tinggal eksekusinya saja" Jawab Liang.
Walau beberapa orang di sana masih terkejut, tapi mereka mencoba mencerna semuanya.
"Dan untuk masalah kelompok itu, kita tinggal menunggu mereka masuk ke jebakan" Ucap Huan.
"Kerja bagus" Puji Liang.
"Ini juga atas bantuan May ketua suku" Balas Jing.
"Ku rasa kerja sama ini sangat mengntungkan" Balas Liang.
"Yang Mulia, hamba punga satu ide. Untuk menahan para selir lain, bagaimana kalau para selir di kirim untuk mengabdi di masyarakat" Ucap Xiao.
"Maksudmu bakti sosial?" Tanya Liang memastikan.
"Benar, kita tak mau rencana inu terganggu jadi hamba usulkan ide itu" Jelas Xiao.
"Ide yang bagus Selir Ying. Yang Mulia hanba setuju" Ucap Permaisuri dan di ikuti anggukan yang lain.
"Baik, kita kirim para selir untuk liburan. Selir Ying kau yang akan bertanggung jawab" Putus Liang.
"Hamba akan laksanakan" Ucap Xiao.
"Selir Li" Pekik Ibu Suri.
"Uhuk" Jia memuntahkan darah di sana.
Huan langsung gerak cepat dengan menahan tubuh Jia akan tak ambruk.
Dan Liang segera mengendong Jia kembali Ke Paviliun. Tapi sebelum kembali ia berpesan untuk segera mulai rencana.
__ADS_1
***