Beautiful Sword

Beautiful Sword
Perselisihan


__ADS_3

Happy Reading.


***


"Nyonya" Teriak Yuan sambil belari masuk kediaman Meihua, Jia yang sedang menyirami tanamannya sampai terjolak kaget.


"Yuan, jangan berteriak di sini" Protes Miu.


"Hehehe, maaf. Nyonya tadi hamba dapat gosip kalau Selir Ying membanting semua barang di kediamannya karena semalam Yang Mulia memanggil Selir Hua lagi" Lapor Yuan dengan antusias.


"Benarkah?" Tanya Jia yang masih fokus dengan kegiatannya.


"Nyonya bukankah anda harusnya senang?" Tanya Yuan.


"Yuan, kau tau semalan aku bermimpi kalau masalah ini akan lebih besar lagi" Lirih Jia.


"Sebaiknya anda beristirahat, biarkan hamba melanjutkan menyiram tanaman" Ucap Miu Khawatir.


"Baiklah" Ucap Jia.


Yuan yang sigap langsung membawa Jia untuk duduk ke dalam dan mengambilkan beberapa camilan.


"Nyonya apa perlu saya panggilkan tabib" Tawar Yuan yang khawatir melihat wajah pucat Jia.


"Tidak usah" Balas Jia.


Semalam Jia kembali dihantui eksekusi itu, kejadian yang bahkan Jia tak mau ingat lagi. Tapi semalam berbeda, Mimpi itu hadir kembali seiring rencana besar mereka dimulai.


"Aku merasa sesuatu akan terjadi kepada kita" Lirih Jia.


"Nyonya bukankah mimpi itu hanyalah bunga tidur" Ucap Yuan yang mencoba menghibur Jia.


Jia tak menjawab, ia hanya menghela nafas gusar.


"Lalu apa yang Selir Ying lakukan sekarang?" Tanya Jia.


"Hm, sekarang ia sudah tenang lagi tapi Hamba rasa pertikaian antar Selir Ying dan Selir Hua akan dimulai" Jawab Yuan.


"Lalu Selir Meng?"


"Selir Meng belum kembali" Jawab Yuan.


Beberapa hari yang lalu Perdana Menteri kembali sakit karena Efek akar kehidupan sudah hilang Dan dengan keluarnya Selir Meng sangat menguntungkan mereka karena Selir Meng tidak ada di Istana untuk merecoki rencana mereka.


Selir Feng? Ia sedang menyusun rencana ulang dikarenakan Selir Hua mulai bertikai dengan Selir Ying.


"Setidaknya beberapa hari kedepan kita akan lebih bersantai" Ucap Jia.


"Nyonya yakin tak perlu dipanggil tabib?" Tanya Yuan lagi.


"Ck, ternyata kau bawel juga ya" Tutur Jia tajam.


"Nyonyaaa"


***


"Dia sakit?" Tanya Liang.


"Benar Yang Mulia, Nyonya Li sudah beberapa hari wajahnya sangat pucat" Ucap Cheng.


Liang kini memikirkan Jia, ia tak mau Jia sakit karena itu akan mempengaruhi rencana mereka semua.


"Apakah pelayannya sudah memanggil tabib?" Tanya Liang.


"Nyonya Li menolaknya, ia lebih memilih berbaring" Jawab Cheng.

__ADS_1


Liang menatap gusar catatan di depannya, sebenarnya ia ingin mengunjungi Jia tapi jika diketahui Selir Hua atau Selir Ying maka rencana mereka akan kacau.


Meminta bantuan adiknya juga tak mungkin, lagian mereka sedang bertugas.


"Cheng aku akan Ke kediaman Meihua" Putus Liang gusar.


"Baik" Balas Cheng.


Liang memutuskan akan menyelinap diam-diam ke sana, ia harus memastikan bahwa Jia masih bisa bertempur.


***


"Uhuk"


"Kakak, sudah ku bilang biarkan kita memanggil tabib" Ucap Xiao, setelah menghasut kakaknya, ia diam-diam ke mengunjungi Jia di malam hari.


"Kau terlalu khawatir" Balas Jia yang mencoba tersenyum.


Xiao menghembuskan nafas lelah, ia tak menyangka sosok Jia ternyata cukup keras kepala.


"Ayolah Kak! Jika kakak sakit bagaimana rencana kita akan berjalan" Rayu Xiao lagi.


"Rencana kita akan berjalan tanpa campur tanganku" Balas Jia yang tetap kekeuh.


"Kakak sangat keras kepala" Runtuk Xiao.


"Maaf saja" Balas Jia.


Xiao mendekati Jia yang terbaring di ranjang, ia duduk di pinggiran ranjang. Walau Jia sudah meminum obat buatannya sendiri, tapi tetap harus ada tabib yang memeriksa.


"Kakak, aku hanya tak ingin kau sakit" Lirih Xiao sambil mengengam tangan Jia.


Jia tak menjawab ia malah memejamkan matanya sambil menikmati setiap hantaman pening di kepalanya, kadang ia rindu sang ayah karena jika ia sakit ayahnya akan membuatkan sup jamur untuknya.


"Xiao jika kau ingin membantu tolong minta pada Miu buatkan sup jamur" Ucap Jia dengan mata yang masih terpejam.


Mendengar suara itu Jia langsung membuka matanya, dan terpampang wajah tegas Liang dihadapannya. Liang duduk di tepat Xiao tadi.


"Di mana Xiao?" Tanya Jia berusaha duduk.


"Ia ku suruh kembali" Jawab Liang sambil menahan Jia untuk duduk.


"Kenapa menolak tabib?" Tanya Liang.


"Hamba hanya sakit biasa karena kelelahan" Balas Jia.


"Kau tau kelelahan bisa membunuh?" Tanya Liang.


"Hamba tau" Lirih Jia.


"Lalu kenapa?" Tanya Liang lagi.


Jia menghela nafas lelah.


"Hamba hanya tak ingin terlihat lemah di depan musuh" Jawab Jia.


Liang terkekeh mendengarnya.


"Kalau begitu jika di hadapanku kau bisa menunjukkan dirimu" Ucap Liang.


Jia menatap Liang tak percaya, dulu Pria dihadapannya sangat kejam dan tak berperasaan saat mengeksekusi keluarganya.


"Apa Yang Mulia tak punya kerjaan lain dengan merawat selir seperti hamba" Kekeh Jia.


"Selir Sepertimu?"

__ADS_1


"Ya, selir yang bahkan menolak melayani Yang Mulia" Jawab Jia.


Liang balik terkekeh.


"Sayangku, aku memang kadang kesal kau selalu menolakku tapi aku tak mau salah satu pionku sakit" Ucap Liang, tapi setelahnya ia sadar bahwa ia mengungkapkan fakta kejam.


"J-"


"Hamba mengerti, bagi Kaisar wajar menganggap Hamba begitu" potong Jia, ia langsung membalikkan tubuhnya membelakangi Liang.


Sementara Liang meruntukki dirinya.


"Jia" Ucap Liang.


"Kembalilah Yang Mulia, hamba rasa pekerjaan anda masih banyak" Lirih Jia.


Liang menatap Punggung Jia dengan tatapan yang tak bisa diartikan.


"Baiklah, tapi makan supmu" Balas Liang.


Setelahnya Liang benar-benar pergi, tak Lama Miu dan Yuan datang membawa sup Jamur beserta obat.


***


"Bagaimana menurutmu Cheng?" Tanya Liang setelah mereka kembali.


Cheng yang berada di sampingnya ikutan bingung, pasalnya ia tak pernah berurusan dengan hal yang seperti itu.


"Hamba tak bisa menjawabnya Yang Mulia" Balas Cheng.


Liang Menghembuskan nafas gusar.


"Apakah aku menyakitinya?"


***


Pagi ini suasana tegang sangat ketara di kediaman Permaisuri. Pasalnya Selir Ying memulai pertikaian dengan Selir Hua.


"Apa maksud kakak?" Tanya Selir Hua.


Selir Ying terkekeh.


"Apakah kau yakin bisa hamil sementara ini sudah mau dua bulan kau rutin melayani Yang Mulia" Sindir Selir Ying, Selir Hua langsung meradang mendengarnya.


"Kakak jika jangan memfitnahku" Ancam Selir Hua.


"Fitnah? Kalau begitu ayo panggil tabib kerajaan sekarang" Desak Selir Ying.


Sementara Permaisuri hanya diam menyaksikan pertikaian itu, pagi ini ia cukup terhibur.


"Lalu jika kakak terbukti salah bagaimana?" Balas Selir Hua.


"Aku tak akan salah" Balas Selir Ying yang semakin memanas.


"Kakak apa kita biarkan mereka saja?" Bisik Xiao.


"Biarkan saja" Jawab Jia.


"Hahaha, kakak terlalu yakin. Tapi jika kakak salaj artinya kakak melecehkan keluarga Hua dan kakak pasti tau apa akibatnya" Ancam Selir Hua, Selir Ying semakin terkekeh.


"Kau juga berarti tak percaya kekuatan keluarga Ying" Balas Selir Ying.


Selir Feng memijit keningnya pening, rencananya gagal untuk memanfaatkan keluarga Hua karena Selir Hua malah bertikai dengan Selir Ying. Dan pagi ini ia cukup pusing dengan pertikaiannya.


Tapi mata Selir Feng menatap Jia yang juga menatapnya, sorot mata Jia seolah berkata 'hentikan apapun rencanamu, ayo bicara'.

__ADS_1


Apa selir Li sudah tau dendamnya?


***


__ADS_2