
Happy Reading.
***
Jia Pov.
"Nona orang dari Istana sudah sampai" Teriakan itu sontak membangunkanku dengan paksa, sepertinya kapan-kapan aku harus mengajarinya agar bisa diam.
"Mei kau berisik" Rancauku sambil membalikan badan.
"Apakah Nona lupa? kalau hari ini anda akan pergi ke istana dan besok pengangkatan anda menjadi selir" Jelas Mei sambil menguncang tubuhku.
Mendengar kata Laknat itu aku langsung terbangun tiba-tiba, bahkan Mei yang disampingku kaget melihat respon tiba-tibaku.
"Mei apakah mereka membawa pedang?" Tanyaku serius. Mei terlihat berfikir sejenak sebelum menjawab.
"Iya nona, mereka membawa tandu, pedang, dan berbagai hadian" Jelas Mei.
"Hadiah?" Tanyaku heran, yang ku tau bahwa hari ini aku akan diangkat menjadi selir tapi mengapa harus mengirim hadiah jika aku akan ke istana hari ini.
"Aku akan menemui mereka!" Ucapku sambil mengenakan jubah untuk menutupi pakaian tidurku.
Aku pergi ke halaman depan yang ternyata sudah ramai orang dari istana, bahkan beberapa tetanggaku ikut menonton.
"Nona Kedua Li, kami ke sini untuk menjemputmu" Jelas salah satu dari mereka sambil memberi hormat, bisa kutebak dia adalah ketuanya.
"Bagaimana jika aku menolak?" Tantangku.
"Yang Mulia berpesan jika anda menolak maka kami tidak akan segan" Jelas Pria itu.
Aku mengusap keningku pening. "Aku punya pertanyaan kenapa kalian membawa hadiahnya kemari?" Tanyaku.
"Nona saya ingin memberi info bahwa pengangkatan anda ditunda dan akan dilaksanakan besok berbarengan pengangkatan selir ke 7" Jelas Pria itu, keningku mengkerut saat mendengar kata 'Selir ke 7'.
"Selir ke 7, bukankah hanya aku yang akan diangkat besok?" Tanyaku.
"Bukan hanya anda Nona, Yang Mulia menutuskan bahwa Puteri ke dua penguasa Barat akan diangkat menjadi selir ke 7"
'Cih ternyata dia ingin menguatkan kekuasaannya, dasar licik' umpatku dalam hati.
"Baiklah aku akan bersiap kalian tunggu di sini. Bibi Fei dan Ni'ang tolong tata hadiah ini" Putusku yang langsung dianguki yang lain.
Aku kembali ke kediamanku diikuti Mei.
"Apa Nona tidak apa-apa?" Tanya Mei sambil membantuku untuk membersihkan diri.
"Jangan Khawatir Mei, Ah aku ingin berpesan kepadamu. Semua hadian dari mereka untuk yang berupa barang bisa digunakan tolong amankan dan untuk barang berupa emas, perak dan lain-lain bagi dua. Sebagian berikan kepada pengurus kuil dan sebagian lainnya berikan kepada Xang'er" Jelasku panjang lebar.
__ADS_1
Setelah aku tidak ada di sini otomatis yang memegang keuangan tidak ada. Untungnya kemarin aku sempat mengobrol kepada Paman Bai dan Xang'er tentang keuangan, dan kami memutuskan aku akan berbisnis dengan Xang'er, mengingat hadiah yang diberikan kaisar tidaklah sedikit.
Ku rasa dengan berbisnis dengan Xang'er setidaknya uangku bisa diputarkan tanpa aku harus turun tangan sendiri. Untuk kedai tetap seperti biasa hanya aku akan mengambil keuntungan dari 30% menjadi 15%, Karena aku sadar bahwa setelah ini Paman Bai lah yang akan mengurusnya.
"Selesai Nona" Ucap Mei.
Aku segera memeriksa riasan yang ku kenakan. Hanfu biru muda dengan riasan tipis, tak lupa rambut hitamku ditata manis dengan hiasa dari Emas. Eh Emas?
"Mei kenapa kau memakaikanku perhiasan dari Emas?" Tanyaku.
"Nona tadi hamba diperintahkan oleh ketua rombongan itu" Jelas Mei ketakutan.
Aku membuang nafasku kasar, dan segera bergegas menemui mereka. Saat sampai halaman beberapa tetanggaku mendekati.
"Nona Li semoga nona mendapat kebahagiaan"
"Nona harus jaga kesehatan"
"Dewa selalu bersama Nona"
"Jangan lupakan kami"
Itulah ucapan yang ku dengar, Kediamanku berada di wilayah yang cukup miskin. Mereka yang sakit kebanyakan aku yang merawatnya mengingat biaya ke tabib sangat mahal.
"Kalian juga jaga diri ya!" Balasku dengan senyum manis.
"Hiks, Nona harus sering berkunjung ke sini, hiks jaga diri, hiks jangan mudah ditindas" Ucap Mei sambil tersedu, tanganku menyeka air matanya.
"Bibi Fei dan Ni'ang jaga diri kalian dan jaga kediamanku. Aku akan sering berkunjung" Pamitku pada mereka.
"Nona tenang saja" Balas mereka
Beberapa orang membantuku menaiki tandu, saat tandu berjalan aku menengok ke belakan dan melambaikan tangan. Ku lihat para pelayan dan warga desa memberiku penghormatan.
"Jaga diri kalian" Gumaku tanpa suara.
Perlahan air mataku luruh.
'Jia kau jangan lemah, kau harus kuat. Lindungi orang yang kau sayangi' Tekadku dalam hati.
***
Aku menatap kagum bangunan Istana, bangunan yang sangat kokoh dan megah. Ku rasa satu harga tiang di sini bisa membangun rumah.
"Nona silahkan ikuti kami!" Pinta seorang pelayan menuntunku.
Kami melewati taman dan danau buatan yang luas sebelum sampai di bagian Harem. Mereka menuntunku memasuki gerbang, ku lihat ada beberapa jalan. Ada yang ke kanan, kiri dan lurus.
__ADS_1
"Nona silahkan lewat sini" Ucap pelayan itu sambil menuntunku ke arah kanan.
"Nona saya ingin memberitahu, jalan ke kiri menuju taman, kalau lurus menuju kediaman Permaisuri dan jalan ini menuju kediaman para selir" Jelasnya, aku menganguk paham.
Dia membawaku ke sebuah gerbang yang bertuliskan 'Kediaman Meihua'. Tunggu Meihua? bukankah itu nama bunga yang langka. Wah sepertinya kaisar itu sangat serius denganku.
Saat kakiku melewati gerbang aku disuguhkan pemandangan yang indah di sebelah kiri ada sebuh taman buatan dengan beserta meja dan bangku untuk duduk, disebelah kanan ada kebun dengan ukuran sedang. Jalan menuju kediamanku diberikan sebuah kolam ikan dengan jembatan ditengahnya.
"Nona Li" Sapa Miu sambil memberi hormat.
"Kalau begitu hamba undur diri" Ucap pelayan itu.
"Tunggu" Ucapku menghentikan pelayan itu.
"Ini untukmu, terimakasih sapaan hangatmu. Lain kali tolong layani aku ya" Ucapku sambil memberikan salah satu hiasan rambut dari emas.
"Tapi Nona hamba tidak layak" Tungkasnya sambil berlutut.
"Dengar, aku bukanlah nona sombong. Jika kau tau kehidupanku di luar maka kau akan mengerti kenapa aku memberikan ini. Jual lah dan belikan makanan untuk keluargamu" Perintahku.
"Terima kasih banyak Nona, saya janji suatu saat nanti saya akan melayani anda lagi" Ucap Pelayan itu terharu. Setelah dia menerima hadiah dariku dia segera pergi sambil mengengam erat pemberianku.
"Siapa nama pelayan itu Miu?" tanyaku kepada Miu yang sedari tadi menonton.
"Namanya Yuan Nona, Nona sepertinya memiliki mata tajam ya" Tebak Miu sambil menuntunku untuk memasuki kediaman.
"Kau pintar seperti biasa Miu" Balasku dengan seringai.
"Aku sudah cukup mengenal anda Nona. Lagipula anda memang harus mengumpulkan pengikut di sini. Yuan adalah pilihan tepat, dia cukup ahli dalam strategi" Jelas Miu.
Aku meminum Teh yang Miu buat, teh tersebut sangat enak.
"Benarkah?" Tanyaku yang mulai tertarik.
"Benar Nona, namun karena keterbatasan keluarga dia tidak bisa belajar lebih jauh"
"Hm, aku akan meminta kepada Yang Mulia untuk membuat Yuan sebagai pelayanku. Bagaimana menurutmu?" Tanyaku sambil menopang dagu.
Miu tersenyum misterius.
"Pilihan yang bagus" Balasnya.
"Selir Li memasuki kediaman Meihua" Lapor Wui.
'Ku rasa saatnya membicarakan sesuatu dengan kakakku' Gumaku dalam hati.
***
__ADS_1