
Happy Reading.
***
Jia terua saja terpaku melihat Bibi Xi menangis di hadapannya, setelah berdiskusi akhirnya Bibi Xi menceritakan semuanya tentang masa lalu Selir Feng.
"Bibi, dengarkan aku! Aku berjanji kalau Kakak Feng akan mendapat keadilan" Tutur Jia sampil memgelus tangan keriput itu.
"Ia hanya anak kecil waktu itu tapi ia memendam semuanya dan memutuskan membalasnya sendiri" Lirih Bibi Xi.
"Tenang Bibi, jika aku sudah tau akan permasalahannya maka aku akan membantu Kakak Feng" Balas Jia.
"Bibi mohon jangan biarkan Jiao menjadi orang jahat" Mohon Bibi Xi membalas genggaman tangan Jia.
Jia membalasnya dengan anggukan pasti dan senyum.
***
"Nyonya, mata-mata kita mengatakan bahwa tadi siang Selir Feng hampir menusuk Selir Meng karena Selir Meng membicarakan kehebatan ayahnya" Lapor Miu.
Jia langsung saja tersadar dari fokusnya menulis sebuah surat.
"Benarkah?"
"Iya nyonya, tapi sepertinya Selir Feng mengurungkan niatnya" Lanjut Miu.
"Tapi Nyonya jika cerita masa lalu Selir Feng benar bukankah kita bisa menggulingkan Perdana Menteri, apalagi ia terlibat pembunuhan ibu Nyonya" Ucap Yuan.
"Kau benar dan aku juga sudah memikirkannya" Balas Jia.
"Tapi bukan hal mudah juga menjadikan Hakim itu tersangka, apalagi ia adiknya Ibu Suri" Ucap Yuan.
Jia menghela nafas dan menatap ke luar kediamannya, sejenak ia menikmati gelapnya malam.
"Untuk masalah hakim itu, aku akan menemuinya dan meminta ia untuk mengakui semuanya" Ucap Jia.
"Nyonya itu terlalu gegabah" Protes Yuan.
"Jika dulu memang Ya, tapi aku jamin jika ia melihatku maka ia akan ketakutan" Ucap Yakin Jia. Yuan menatap Bingung.
"Karena Hakim itu sudah berubah" Jelas Miu, Yuan pun kini mengerti.
"Sudah malam sebaiknya kalian tidur!" Ucap Jia.
"Nyonya?" Tanya Yuan, tapi sebelum Jia menjawab Miu segera menyeret Yuan ke luar.
Setelah kedua pelayannya pergi Jia kembali fokus ke surat yang ia tulis untuk Selir Feng.
"Keluarlah" Ucap Jia.
Tak lama seorang Pria keluar dari balik lemari.
"Yang Mulia anda seperti pencuri" Sindir Jia.
Liang hanya terkekeh, ia sengaja bersembunyi karena tadi masih ada Miu dan Yuan.
"Jadi, benarkah fakta itu?" Tanya Liang sambil duduk di hadapan Jia.
"Benar, jadi hamba akan menyatukan kasus ini untuk menggulingkan Perdana Menteri" Balas Jia.
__ADS_1
"Lalu bagaimana dengan kasus ibu Hamba?" Tanya Jia yang membuat Liang membatu.
"Ibu Suri tidak mengatakan apa-apa setelah aku menjelaskan semuanya, sepertinya ia tidak percaya dengan kelakuan adiknya" Jelas Liang.
"Tapi Yang Mulia bisa menjaminkan, kalau Ibu Suri tidak akan menghalangi?" Tanya Jia dengan nada ancaman di situ.
"Tentu tidak, Ibu suri bukan orang yang akan membela sesuatu yang salah" Balas Liang.
"Hamba akan percaya perkataan anda untuk saat ini" Balas Jia.
Liang tak menjawab lagi sehingga mereka larut dalam keheningan dan hanya terdengar goresan kuas dan kertas.
"Anda tak akan kembali?" Tanya Jia.
Liang menaikan alisnya.
"Memgapa kau selalu mengusirku?" Tanya Liang.
Jia menghela nafas.
"Yang Mulia, hamba yakin kalau anda punya banyak pekerjaan" Balas Jia sambil melipat suratnya.
"Ck, kau terlalu kaku" Sindir Liang.
"Sayangnya jika hidup terlalu lembek di Istana maka ucapkan hai pada makam" Balas Jia, Liang terkekeh geli mendengarnya.
"Bagaimana jika aku akan menginap?" Goda Liang, Jia mendelik tajam.
"Boleh, tapi dalam mimpi" Balas Jia berdiri untuk meletakkan peralatan menulisnya pada tempat penyimpanan.
"Mengapa kau selalu menolakku?" Tanya Liang.
"Sudah hamba katakan bahwa hamba tak ingin terlibat lebih jauh dengan istana, lagi pula hamba menjadi selir karena dulu ingin menyelamatkan kakak hamba" Jelas Jia yang masing berdiri membelakangi Liang.
Dan saat Jia berbalik, Liang sudah tidak ada di sana.
***
Kini kedua perempuan sedang berhadapan di kediaman Meihua. Setelah Jia mengirim surat kepada Selir Feng, kini Selir Feng mau datang untuk menemuinya.
"Jika aku mencerna suratmu, maka kau bersedia membantu masalahku?" Tanya Jiao.
"Benar, lagipula aku juga punya urusan dengan Perdana Menteri" Jawab Jia.
Jiao tertawa keras.
"Hanya itu?"
"Dan Bibi Xi juga memintaku untuk menjagamu agar tak tengelam ke dalam kejahatan" Balas Jia.
Terlihat Jiao tercengang saat nama Bibi Xi keluar dali mulut Jia.
"Kau apakan Bibi Xi?" Tanya Jiao.
"Aku hanya bertanya padanya dan ia menjawab. Tapi Kakak Feng ketahuilah membalas kejahatan dengan kejahatan bukanlah hal baik" Ucap Jia.
Jiao terdiam tak menjawab, walau dendamnya selalu berkobar tapi hati nuraninya tetap menahannya untuk balas dendam.
"Dan lagi sepertinya kau butuh bantuan untuk membalas Pria tua itu kan?" Tebak Jia.
__ADS_1
"Apa yang kau tawarkan?" Tanya Jiao.
"Aku hanya menawarkan kedamaian hati untukmu tanpa harus menodai tanganmu" Jelas Jia.
"Kau sungguh-sungguh sepertinya tapi apa motifmu untuk menggulingkan Perdana Menteri?" Tanya Jiao yang belum yakin.
"Ibuku dibunuh oleh pria tua itu karena mengetahui skandalnya dengan Mantan Selir kaisar terdahulu" Jelas Jia, ia sengaja menggunakan alasan itu karena tidak mau Selir Feng tau kalau ia bekerja sama dengan Liang.
"Aku pernah dengar skandal itu tapi kini aku terkejut dengan fakta yang kau bawa" Ucap Selir Feng.
"Aku akan pikirkan semuanya sebelum menjawab" Lanjut Jiao yang langsung berdiri.
Jia menatap punggung itu, ia tau kalau Selir Feng senang karena ada yang membantunya saat ia tak punya cara lain. Tapi ia juga merasakan keputusaan di punggung Selir Feng.
***
"Nyonya yakin akan tetap pergi?" Tanya Yuan khawatir.
"Yuan, aku hanya pergi ke pengadilan istana" Balas Jia gusar, pasalnya Yuan sedari tadi bertanya apakan ia yakin.
"Tapi Nyonya bagaimana jika dia mencelakai nyonya" Ucap Yuan.
Jia memutar matanya jegah.
"Percayalah aku akan kembali dengan selamat" Balas Jia sambil memegang kedua bahu Yuan.
Yuan terdiam, walau ia percaya tapi ia tetap saja khawatir.
"Yuan percayalah kalau nyonya kita itu orang yang kuat" Ucap Miu, yang sebenarnya juga sedikit khawatir.
Yuan meraih tangan Jia untuk dia genggam.
"Hamba Percaya".
***
Benar saja Hakim itu terlihat ketakutan saat melihat Jia.
"M-mau apa kau?" Tanyanya gugup.
Jia menyeringai.
"Kau ingat wajahku?" Tanya Jia yang beediri dihadapan pria itu.
"K-kau anak nyonya Li" Jawab Hakim itu.
"Tepat dan aku meminta pertanggung jawabanmu" Ancam Jia.
Pria yang menjabat sebagai hakim itu kini membeku, ia memang dulu sangat kejam seperti Perdana Menteri. Tapi semenjak Puterinya lahir ia bertekad berubah dan melupakan semua masa lalu, tapi kini Jia berdiri dihadapannya dan meminta ia tanggung jawab.
"Kau tau kan hukuman untuk pembunuh istri seorang jendral dan ibu seorang selir kesayangan Kaisar?" Ucap Jia.
"Dan Kau tau juga Kalau Ibu Suri tak akan membela orang yang salah" Lanju Jia.
Hakim Itu mencoba untuk menetralkan ekspresinya.
"Apa Maumu?"
***
__ADS_1