Beautiful Sword

Beautiful Sword
Tinggal satu lagi


__ADS_3

Happy Reading.


***


Seminggu kemudian di hari itu perdana Menteri dieksekusi di depan semua orang. Tentunya hal tersebut sangat dinanti oleh orang-orang yang merasa dirugikan oleh Perdana Menteri.


Tidak ada bantahan dari Perdana Menteri itu sendiri, kerena semua pionnya sudah tertangkap semuanya.


Keluarga Hakim Ling juga telah diasingkan ke wilayan timur untuk mengabdi di sana, sementara para pion Perdana Menteri sudah dikirim ke tempat budak bersama keluarga mereka.


Anak Perdana Menteri? Mereka kini menanggung aib yang besar. Apalagi Kini Nyonya Meng berada dipenjara atas kesalahnnya mencoba membunuh Yelan. Selir Meng tidak dicopot gelarnya sebagai selir melainkan diturunkan kedudukannya menjadi yang terendah bahkan setera dengan pelayan.


Dan untuk adik tiri Selir Meng, ia bunuh diri karena tak mampu menanggung beban tersebut.


Istana sudah berjalan normal kembali dengan para petinggi Istana yang bisa dipercaya oleh Liang, tentunya ada beberapa kebijakan baru juga.


Selama seminggu itu juga Liang terkadang terbayang sosok Jia yang tersenyum padanya, tentu ia tau semua orang merindukan sosok itu.


Tapi mereka semua mencoba untuk bersikap senormal mungkin walaupun hati mereka masih sedih.


***


Seminggu yang lalu.


Setelah pulang dari aula, Liang dan yang lainnya segera menuju Paviliun karena mendengar bahwa keadaan Jia kini antara hidup dan mati.


Saat sampai Tabib Bao dan perawatnya terlihat berlutut di sana.


"Ampun Yang Mulia" Ucap Tabib Bao.


"Apa yang terjadi?" Tanya Ibu Suri.


"Kini Selir Li kritis dan hamba tak bisa berbuat apapun lagi" Jelas Tabih Bao.


Tanpa pikir panjang Liang segera memasuki Paviliunnya, di sana tubuh Jia telah terbaring lemah. Tapi satu yang patut Liang syukuri masih ada nafas yang berhembus di sana.


Liang kembali ke luar dan melihat yang lainnya, Semua orang di sana menatap Liang khawatir.


"Bagaimana kedaan Selir Li?" Tanya Permaisuri.


"Ia tertidur" Jawab Lemah Liang.


"Tabib jelaskan sedatail mungkin!" Titah Ibu Suri.


"Selir Li memberikan catatan ini untuk Yang Mulia" Ucap Tabib Bao sambil menyerahkan semuah surat.


Dengan cepat Liang menyambar surat itu dan membacanya. Di dalam sana tertulis penjelasan Jia tentang keadaannya dan juga Racun Musim Dingin, tentunya tanpa membawa nama Tabib Bao.


"Apa yang tertulis?" Tanya Huan.


Tanpa mampu berkata Liang menyerahkan surat itu kepada Huan.


Huan melotot saat membacanya, ia tak habis fikir dengan Jia, ia berani mengambil resiko yang begitu besar.


Setelah Ibu Suri, Permaisuri, Jing, Bibi Xi dan Yelan membacanya mereka hanya bisa menampilkan wajah terkaget.


"Tabib Bao apakah Selir Li bisa diselamatkan?" Tanya Ibu Suri.

__ADS_1


"Ampun Yang Mulia, hamba tidak bisa. Kita hanya bisa menunggu keajaiban dan juga jika rencana Selir Li berhasil" Jelas Tabib Bao.


Semua orang di sana terdiam, tak ada yang berani membuka mulutnya. Sementara Liang sudah terduduk lesu di sana.


"Baiklah, Tabib Bao kalu boleh pergi" Ucap Permaisuri.


"Baik" Tabib Bao pergi dan begitupula Bibi Xi serta Yelan. Karena mereka harus bersiap untuk kembali pulang.


"Panggil keluarga Jia" Ucap Liang.


"Aku akan memanggil mereka" Ucap Jing pergi.


"Yang Mulia Selir Li pasti bisa melewatinya" Ucap Permaisuri.


"Benar, kita hanya harus berdoa kepada dewa" Tambah Ibu Suri.


Tapi, Liang yang sudah lemas diam di sana tanpa menjawab.


***


Sejak hari itu mereka mencoba menghapus setiap lesedihan mereka dan mencoba hidup normal kembali.


Sejak Perdana Menteri terguling, mereka semua sudah lebih baik. Tapi walau begitu ada satu lagi hambatan mereka yaitu Selir Hua.


Setelah gagal dulu, kini mereka punya rencana baru.


Tapi saat Liang diam dalam pemikirannya tiba-tiba pelayan Jia, Miu datang tergesa.


"Yang Mulia" Ucap Miu sambil memberi hormat.


"Nyonya, nyonya telah sadar" Jawab Miu.


Tanpa berkata lagi Liang langsung pergi menuju Paviliunnya untuk menemui seseorang yang membuatnya gundah belakangan ini.


Saat sampai Paviliun masih sepi tapi ia bisa mendengar suara orang mengobrol di dalam. Perlahan Liang masuk dan menemukan Jia sedang tertawa di sana.


"Yang Mulia" Ucap Yuan yang tersadar atas kedatangan Liang.


Liang masih terpaku berjalan mendekat menuju Jia dan dengan cepat Liang memeluk Jia di sana. Yuan yang mengerti langsung pergi dan membiarkan kedua orang itu melepas rindu.


"Perempuan Bodoh" Runtuk Liang yang masih memeluk Jia.


"Yang Mulia" Balas Jia.


"Kenapa kau begitu nekad?" Tanya Liang.


Jia tak menjawab tapi ia mengelus punggung rapuh Liang.


"Hamba kembali" Ucap Jia.


"Ya kau kembali" Balas Liang.


Sereka saling melepas rindu, Liang akhirnya menceritakan perihal Perdana Menteri dan semua pengikutnya. Tentu itu menjadi kado untuk Jia yang baru sadar.


Bahkan Liang juga sengaja menyuapi Jia makan dengan penuh perhatian, Jia yang senang tak menolak setiap suapan itu. Malah ia tersenyum di sana.


Liang akhirnya mundur saat beberapa orang datang untuk menjenguk Jia dan seketika Paviliun itu penuh dengan suara berisik mereka.

__ADS_1


"Yang Mulia, nyonya Hong mengirim pesan" Ucap Cheng pada Liang yang duduk dihalaman Paviliun.


Mendengar nama Hong seketika Liang pucat, Nenek Hong memang mengatahui perihal cucunya itu dan selama seminggu Nenek Hong tak memberikan balasan surat yang dikirim Liang.


Dengan gugup Liang membuka surat itu dan menemukan sederat kalimat di sana.


Tapi ketakutan itu hilang seketika saat membaca surat, Nenek Hong berkata bahwa Jia cucunya adalah orang yang kuat dan tak mungkin mati semudah itu.


Liang tersenyum di sana, ternyata firasat Nenek Hong sangatlah tajam.


"Cheng kirim surat balasannya" Ucao Liang, Cheng hanya mengangguk.


***


Selama pemulihan Jia tetap tinggal di paviliun Liang dan dirawat oleh Tabib Bao, ia juga sambil menerima informasi apa saja yang ia lewatkan seminggu ini.


"Kau tidak istirahat?" Tanya Liang saat menemukan Jia sedang duduk dan membaca buku.


"Hamba sudah sehat kembali Yang Mulia, besok bahkan hamba bisa kembali ke harem" Ucap Jia.


Liang menghela nafas dan duduk di hadapan Jia.


"Kau masih memikirkan rencana untuk Selir Hua?" Tanya Liang.


"Benar, mau bagaimanapun Selir Hua bisa menjadi ancaman kapanpun" Balas Jia.


"Aku sudah mengatakan padamu beberapa kali, jangan pikirkan masalah itu karena kami yang akan mengurusnya" Jelas Liang sambil menarik buku yang Jia baca.


"Yang Mulia" Gerutu Jia.


"Istirahatlah, kau butuh itu!"


"Tapi Hamba bosan jika seharian ini hanya tidur saja" Keluh Jia.


"Kalau begitu aku akan menemanimu" Ucap Liang sambil membawa Jia ke ranjang.


Semenjak Jia sadar kembali, mereka secara tidak langsung menjadi dekat.


Liang memeluk tubuh Jia di ranjang sambil mengelus surai hitam milik Jia.


"Tidurlah, aku akan menemanimu" Ucap Liang lagi.


***


Hali para pembaca, setelah cerita ini taman Author akan buat cerita baru tapi dengan latar belakang Dinasti Joseon.


Author gak akan up di aplikasi ini, melainkan aplikasi sebelah dengan inisial W, nama Aku Author sama ya dengan aplikasi ini @RiantiTeti.


Saat ini Author lagi nabung untuk cerita baru agar bisa segera tamat dan bisa update setiap hari. Bagi yang penasaran follow dulu Author di aplikasi itu dan author akan memberikan pengumuman lebih lanjut.


Cerita itu tetep ada bumbu romantis, tapi bukan antar raja dan selir/permaisuri lagi. Melainkan Pengawal raja dan adik seperguruannya. Di sana juga Sang pria sikapnya kaku dan dingin, sementara perempuannya jahil dan cerewet.


Di cerita itu juga akan ada konflik yang lebih menantang dari ini.


Terima kasih sebelumnya yang sudah membaca.


Salam Cinta Author.

__ADS_1


__ADS_2