Beautiful Sword

Beautiful Sword
Liang Tau?


__ADS_3

Happy Reading.


***


Jia lekas turun dari kudanya dan berlari ke arah Liang.


Tapi Jia melewati Liang.


Ya, di sana Liang terpaku karena wanita yang ia rindukan melewatinya begitu saja.


"Yang Mu, kenapa kau turun?" Tanya Jia pada bocah laki-laki di belakang Liang.


"Kakak Su aku mau menyusulmu, soalnya ibuku muntah lagi" Jelas Yang Mu dengan nada lirih.


Jia mengelus rambut bocah itu.


"Kau tak perlu khawatir, kakak akan segera ke sana" Balas Jia.


'Dewa beruntungnya aku karena Yang Mu muncul di saat yang tepat' Guma Jia dalam hati.


Jia segear menuntun Yang Mu ke kudanya dan kembali melewati Liang.


"Nona tunggu sebentar!" Ucap Liang berhasil membuat Jia berhenti melangkah.


"Ada apa Tuan?" Tanya Jia berbalik menatap Liang.


"Pernahkah kita bertemu?" Tanya Liang.


Entah kenapa angin langsung berhembus kencang menerbangkan beberapa daun di sana.


"Saya rasa tidak Tuan" Jawab Jia yang membuat Liang kecewa.


"Tapi kau mirip dengan seseorang" Guma Liang.


Tapi Jia tersenyum di sana, padahal ia sekuat tenaga menahan rasa ingin memeluk pria di depannya.


"Haha mungkin wajah saya pasaran" Balas Jia.


"Tapi aku yakin itu kau" Tegas Liang.


Liang maju ke hadapan Jia dan memperhatikan wajah wanita itu.


"Tuan, saya hanya seorang tabib jadi mana mungkin mengenal Tuan bangsawan" Jelas Jia.


Saat Liang akan membuka mulut suara Yang Mu menghentikannya.


"Kakak Su, cepat" Ucap Yang Mu.


Jia seketika tersadar di sana.


"Maafkan kakak, Tuan kalau tidak ada keperluan lagi saya akan segera pergi" Ucap Jia.


Dengan segera Jia menaikkan Yang Mu ke kuda dan menyusul dirinya. Jia memacu kudanya menuju rumah Yang Mu yang berada di desanya.


Kuda itu melewati Liang begitu saja, tatapan sendu dari Liang tak bisa disembunyikan lagi. Ia sangat yakin kalau wanita itu adalah Jia Li, perempuan yang ia cintai.


"Cheng" Panggil Liang.

__ADS_1


Sosok Cheng pangsung datang dan memberi hormat kepada Liang.


"Tolong selidiki eksekusi Selir Li dan juga perempuan tadi" Titah Liang.


"Baik Yang Mulia" Balas Cheng sebelum menghilang lagi.


"Ibu Suri apakah anda terlibat?" Guma Liang entah pada siapa.


***


Sementara itu di Kediaman Ibu Suri.


"Yang Mulia inu laporan dari tuan Er" Ucap salah satu pengawal Ibu Suri sambil menyerahkan sebuah gulungan.


"Baik, kau boleh pergi" Balas Ibu Suri.


Orang itu segera pergi, lalu Ibu Suri mulai membaca gulungan itu. Tak lama ia tersenyum lega saat melihat laporan dari Tuan Er.


"Jia, sepertinya kau melakukan tugasmu dengan baik" Guma Ibu Suri.


Ya dalang dibalik semuanya adalah Ibu Suri, ia yang mengikat perjanjian dengan Jia di atas sebuah fakta.


Dan fakta itu adalah....


Ia dan Tuan Er pernah berselingkuh tepatnya mereka adalah mantan kekasih sebelum Ia menjadi Ratu. Tapi karena pernikahannya itu cinta mereka harus kandas bagitu saja.


Walau kandaspun Cinta mereka sangat kuat sehingga setelah ketiga pangeran lahir, ia berbuat serong dengan Tuan Er. Lalu ia hamil dan melahirkan anak kandungnya yang ke dua yaitu Liang, karena Jing dan Huan adalah anak selir.


Apakah kaisar terdahulu mengetahuinya, ya pria itu tau. Tapi Kaisar terdahulu sangat mencintainya sehingga pria itu bodoh dengan membiarkan anak hasil perselingkuhan istrinya dan orang lain lahir ke dunia.


Ibu Suri segera tersadar dari lamunan masa lalu itu, ia tau kalau setelah Yang Er sembuh. Puterinya itu tetap tidak boleh tau hal ini dan ia tau caranya bagaimana.


Dengan menutup satu mulut selamanya dan mulut itu adalah dirinya.


***


Jia telah selesai memeriksa Ibu Yang Mu dan ia segera membereskan peralatannya untuk pulang.


Tapi bukan pulang ke rumah neneknya, melainkan ke sebuah rumah di desa itu yang sengaja dibuat oleh Jia untuk saat-saat seperti ini.


pertemuan mereka tadi bisa membahayakan perjanjiannya dengan Ibu Suri, malahan sangat membahayakan.


Apalagi ia tau kalau Cheng punya banyak bawahan yang biasa diberi perintah penyelidikan.


"Huft, memikirkannya saja sudah membuatku pening" Keluh Jia sambil menuntun kudanya.


Keluarga neneknya sudah tau kalau jika terjadi sesuatu maka Jia akan tinggal di rumah itu. Jadi ia tak perlu lagi memberi tahu mereka. Apalagi Jia sengaja menjadikan rumah itu sebagai kantornya sehingga jika ditanya rumahnya maka warga desa akan menunjuk rumah itu.


Sebab ia hanya di kenal sebagai Jia Li oleh keluarganya saja.


Jia mengikat kudanya itu di kandang. Lalu ia segera masuk ke dalam rumah yang sederhana itu.


Ia juga meletakkan barang bejanjaannya di dalam. Tapi saat akan berbaring, pintunya diketuk seseorang.


"Ya sebentar" Ucap Jia.


Ia merepihkan penampipan sebelum membuka pintu, tapi alangkah kagetnya ternyata yang mengetuk adalah Liang.

__ADS_1


"Tuan ada apa lagi?" Tanya Jia menormalkan kekagetannya.


"Ku dengar kau seorang tabib, jadi aku ingin meminta obat padamu" Ucap Liang.


"Ah begitu, duduklah dulu di kursi itu Tuan" Ucap Jia sambil menunjuk kursi di taman kepada Liang.


"Kenapa tidak di dalam?" Tanta Liang.


"Maaf tuan, tidak pantas perempuan dan laki-laki di dalam satu ruangan tanpa ikatan apapun" Jelas Jia.


"Baiklah" Jawab Liang segera duduk di kursi itu dengan ogah.


Sementara Jia masuk ke dalam untuk membuatkan teh untuk Liang.


"Jadi obat apa yang anda inginkan?" Tanya Jia sambio meletakkan teh di hadapan Liang.


"Obat untuk menghilangkan bekas luka" Jawab Liang enteng.


Tapi Jia masih terlihat santai dengan jawaban Liang, padahal Liang berniat memancing perempuan itu.


"Luka jenis apa itu?" Tanya Jia.


"Lukanya kerena terseret sesuatu" Jawab Liang.


"Hahahaha" Tawa jia lepas di sana.


"Tuan bercanda ya, Luka seperti itu bagaimana bisa ada" Ucap Jia.


"Ada, orang yang terluka di seret dan punggungnya penuh luka sayat" Balas Liang.


"Baiklah, saya punya obatnya Tuan" Ucap Jia.


"tolong ambilkan" Pinta Liang.


Jia mengangguk dan segera masuk ke dalam, tapi Liang mengikuti langkah Jia dalam Diam.


"Apa Ya... "


Kekagetan Jia terputus saat Liang membungkam mulutnya dengan bibir.


"Hmmm" Protes Jia berusaha mendorong Liang menjauh, tapi sia-sia.


Ciuman itu semakin dama, bahkan tangan Liang semakin menarik Jia mendekat.


Jia terus memberontak, sampau akhirnya ia menendang tulang kering pria itu.


Liang mengaduh dan menjauhi tubuh Jia.


"Tuan ini pelecehan" Seru Jia mengelap mulutnya yang basah, ia masih menormaloan nafasnya.


Tapi Liang menyeringai, sangat lebar malah.


"Tabib Su benar-benar menggodaku" Ucap Liang membuat wajah Jia memerah.


"Ah, bukankah kita sering melakukan ini dulu Pedang cantikku Jia Li"


***

__ADS_1


__ADS_2