
Happy Reading.
***
Liang menatap jegah wanita di depannya, ia bahkan tak pernah bertemu seorang wanita yang tidak tau malu.
Dengan penampilan khas orang bangun tidur, bahkan dengan pakaian tidur yang hanya dilapisi mantel tebal, plus rambut acak-acakan dan terkadang manguap
"Aku berani bersumpah, kau wanita pertama yang jauh dari kata anggun" Ungkap Liang.
"Lagian suruh siapa mengajakku ke selatan di Tengah Malam" Balas Jia sambil menyenderkan tubuhnya ke kereta.
"Jika kita berangkat saat hari sudah cerah, maka banyak yang akan curiga. Apalagi Perdana Menteri sudah mulai menyelidiki apa Kematian Rui" Jelas Liang.
"Orang tua itu sangat merepotkan" Keluh Jia.
"Tapi Yang Mulia yakin mau menemui Nenekku, jika beliau tau anda kaisar maka mungkin ia akan menyerang Yang Mulia" Ucap Jia, Liang menaikan sebelah alisnya.
"Menyerang Kaisar? Berani sekali"
"Anda tidak tau saja, Nenekku itu tidak takut pada siapapun dan itu juga alasan kenapa Pamanku membawanya untuk tinggal di pegunungan" Ungkap Jia.
"Huft, mau bagaimana lagi. Nenekmu satu-satunya yang bisa membantu" Ucap Liang.
Jia memposisikan tubuhnya untuk berbaring, ia menutupi matanya dengan satu lengan.
"Yakin kau bisa tidur?" Tanya Liang, pasalnya kini mereka sedang di dalam kereta kuda yang berjalan.
__ADS_1
"Aku bahkan bisa tidur aman di atas pohon" Guma Jia.
Dan tak lama Jia terlelap.
Liang hanya menggelangkan kepala melihat kelakuan unik selirnya itu.
"Cheng kita sudah sampai mana?" Tanya Liang pada Cheng yang menunggangi kuda di sebelah keretanya.
"Kita baru sampai perbatasan yang Mulia, Jika kita cepat mungkin kita akan sampai saat matahari bersinar" Balas Liang.
Rombongan mereka memakai jalur alternatif yang jarak tempuhnya cukup cepat dan daerah Selatan juga tak terlalu jauh dengan Ibukota dikarenakan daerah selatan merupakan tempat perdagangan.
"Oke, tetap awasi sekitar" Titah Liang.
"Baik Yang Mulia"
***
"Yang Mulia"
"Emmm" Rancau Liang.
Ia membuka matanya dan menemukan dirinya ternyata sudah berbaring di sebuah ranjang.
"Tunggu! Mengapa aku ada di sini?"
"Sepertinya Yang Mulia kelelahan sampai tak bangun saat Cheng menggendong anda.
__ADS_1
dan yah Kita sudah sampai di selatan" Jelas Jia, ia menyerahkan nampan yang berisi makanan di hadapan Liang.
"Selatan? Lalu Nenekmu?"
"Itulah, untungnya anda tertidur jadi tak sampai ada adu mulut yang terlalu lama. Hamba sudah menjelaskan pada nenek maksud kedatangan kita, awalnya memang beliau menentang permintaan kita termasuk Hamba yang menjadi selir. Tapi setelah Hamba menjelaskan semuanya, beliau agak tenang" Jelas Kembali Jia, ia mendudukan dirinya di pingiran ranjang.
"Agak?" Liang Menyerit.
"Hmm, Beliau akan tetap menginterogasi anda" Setelah kalimat itu Liang menyemburkan teh yang baru ia minum.
'Matilah aku' Runtuk Liang.
***
Bersambung dulu ya
Halo semuanya autor mau hiatus dulu ya soalnya tangan kanan mengalami cedera otot saat olahraga dan nulisnya agak susah gitu jadi ya hiatus beberapa hari. oke terus tunggu ya cerita ini.
Terima kasih.
Eh tapi gantinya Author buka Q&A ya, silahkan tanya apa aja. Kalo author bisa jawab akan author jawab.
Q&A nya bakah diikut sertakan di episode mendatang.
Sekali lagi mohon maaf dan terima kasih atas kesabaran para pembaca, mohon maklum Author yang punya fisik yang kalo sakit sampe Over.
Salam cinta Author.
__ADS_1