Beautiful Sword

Beautiful Sword
Jangan Sia-siakan


__ADS_3

Happy Reading.


***


Darah mulai mengenang di sana, semuanya terdiam.


"Kyaaa, Selir Li memangal seseorang"


"Apa itu Selir Hua?"


"Ya ampunnnn"


Teriakan itu langsung mengema di sana.


Di hadapan semua orang tepatnya beberapa langkah lagi menuju Kaisar, Jia memenggal kepala Selir Hua. Bahkan kepala dan tubuhnya sudah tergeletak di sekitar Selir Hua.


"Apa yang kau lakukan?" Teriak Kakak dari Selir Hua yang datang ke Istana.


"Aku hanya membereskan sesuatu yang mengancam Kaisar" Balas Selir Hua sambil mengelap pedang milik Jing dengan Hanfunya.


"Kau membunuh adikku" Teriaknya lagi mengambil pedang dan lengsung menyerang Jia, tapu dengan tangkas Jia melawannya.


"Pengawal pisahkan mereka!" Titah Ibu Suri.


Para pengawal bergegas maju dan memisahkan mereka, walau sulit akhirnya mereka terpisah.


"Lepaskan aku! Aku akan membunuh Selir Jalan* itu" berontak Kakak Selir Hua.


"Selir Hua sebenarnya apa yang terjadi?" Tanya Permaisuri yang telah menormalkan kekagetannya.


Jia melepaskan dirinya dan berlutut di hadapan Liang, ssmentara Liang masih berusaha mencerna di sana.


"Hamba hanya melindungi Yang Mulia Kaisar dari Selir Hua, karena hamba melihat Selir Hua mengeluarkan senjata dan mencoba menyerang Kaisar" Jelas Jia dengan nada biasa bahkan terkesan datar.


"Apa maksudmu? Menyerang? bahkan adikku tadi masih duduk si tempatnya" Bantah Kakak Selir Hua.


Para Menteri segera berbisik satu sama lain dengan ekspresi yang masih kaget.


"Benar, kami melihat Selir Hua masih duduk di tempatnya" Tutur seorang Menteri.


"Kalian memang melihatnya dengan keadaan normal karena Selir Hua memakai ilmu hitam" Jelas Jia.


"Lalu bagaimana kau bisa tau?" Tanya Menteri lainnya.


Jia terdiam dan seketika ia mengingat kalau ia meminum air yang Kepala Kuil berikan, air itu tak lain adalah Air yang telah didoakan untuk menangkal Ilmu hitam.


"Karena aku meminum air dari pemberkatan Dewa" Jawab Jia.


Langsung saja suasana masih ramai di sana.


"Bohong, adikku tidak pernah memakai ilmu hitam" Elaknya dengan suara yang semakin meninggi.


""Ck, bahkan seluruh keluarga kalian penguna ilmu Hitam" Balas Jia tajam.


Tuan Muda Hua pangsung terdiam mencoba mencerna apa yang terjadi, apalagi saat para Menteri berbisik lagi.


"Ya, aku pernah mendengar kabar itu"


"Apakah mereka menggunakannya untuk mempertahankan kekuasaannya?"


"Ini tak bisa dibiarkan"


"Apa kau punya bukti?" Tanya Tuan Muda Hua.


Jia menyeringai.

__ADS_1


"Di pesta kemarin bukankah adikmu kesakitan saat aku memakai kain sutra Langit" Balas Jia.


"Itu saja tak membuktikan apapun. Yang Mulia hamba tau kalau anda bijak sana, tolong hukum Selir Li" Tuan muda Hua sampai bersujud di depan Liang.


"Tapi, jika apa yang dikatakan Selir Li benar. Maka kita tidak bisa menghukumnya begitu saja" Ucap Huan.


"Hamba Setuju Yang Mulia" Tambah Jing.


"Yang Mulia hamba mohon, ini demi adik hamba yang tak bersalah" Ucap Tuan Muda Hua lagi.


"Aku mengerti perasaanmu Tuan, tapi harus ada penyelidikan lagi dan jika Selir Li memfitnah maka ia akan segera dihukum mati" Ucap Liang tegas.


Tapi Tuan Muda Hua tak puas dengan jawaban Liang.


"Yang Mulia hamba meminta sekali lagi, tolong hukum langsung Selir Li" Pinta Tuan muda Hua lagi.


"Baik jika itu maumu, pengawal penjarakan Selir Li" Titah Ibu Suri.


Kedua pangeran terbelak.


"Tapi Ibu Suri bukankah harus ada penyelidikan dulu" Bantah Huan.


"Tidak, Selir Li terbukti bersalah karena membunuh dan kita sudah melihatnya" Ucap Ibu Suri.


Pengawal di sana segera membawa Jia dengan tangan terikat.


"Yang Mulia tolong pikirkan lagi" Ucap Miu dan Yuan yang bersujud di sana.


"Tidak, ini sudah keputusanku" Balas Ibu Suri.


"Ibu Suri" Tegas Liang.


"Yang Mulia lain kali kau harus tegas" Balas Ibu Suri pergi dari sana.


Liang berdiri.


"Untuk kejadian ini akan segera diselesaikan dan untuk para tamu diharapkan pulang ke rumah masing-masing" Tegas Liang dengan datar.


"Tapi Yang Mulia, pangeran benar. Penyelidikan harus dilakukan" Ucap salah satu Menteri.


"Kau mau membantah?" Tanya Liang.


"T-tidak Yang Mulia" Balas Menteri itu ketakutan.


Tak lama para tamu undangan segera bubar dengan membawa gosip kejadian tadi dan tentunya akan melahirkan dua kubu. Kubu Jia dan kubu Keluarga Hua.


Setelah itu Liang pergi dari sana dan menyuruh para Pengawal membereskan kekacauan. Dan Tubuh Selir Hua akan segera dikuburkan.


***


"Apa yang kau pikirkan?" Tanya Liang pada Jia yang duduk diam di sana.


"Hamba hanya melakukan apa yang hamba bisa" Balas Jia lemah.


"Tapi itu terlalu gegabah" Ucap Liang, tapi Jia tersenyum kecil.


"Hamba akan lebih merasa bersalah jika membiarkan Yang Mulia terluka, tapi bukankah Istana butuh ini untuk mendorong penyelidikan" Jelas Jia maju dan mengengam tangan Liang yang memegang besi benjara.


"Kau tak perlu mengorbankan sebegitu besar" Balas Liang.


Jia tersenyum di sana, sementara Liang menatap Jia dengan tatapan sulit diartikan.


"Aku tak pernah mengerti tentang dirimu" Ucap Liang.


"Kalau begitu jangan mengerti hamba" Balas Jia.

__ADS_1


Perlahan tapi pasti Jia menarik wajah Liang mendekat dan sekilas mencium pipi Liang.


"Kalau begitu jangan biarkan pengorbanan hamba sia-sia" Ucap Jia. mundur.


Tapi sebelum Jia mundur, Liang Menarik Jia mendekat, jika saja tidak ada besi pembatas maka mereka sudah berpelukan.


Liang menempelkan bibirnya pada bibir Jia, sekilas ada lumatan di sana tapi tak lama.


"Maafkan aku" Lirih Liang sebelum pergi.


***


"Ibu apa maksud ibu?" Protes Jing pada Ibu Suri.


Setelah Ibu Suri pergi Kedua pangeran dan Permaisuri segera menyusulnya ke kediamannya.


"Kau tak mengerti?" Tanya Ibu suri.


"Kami tak pernah mengerti kalau Nona Jia sampai dihukum" Balas Huan.


Di sana Ibu Suri segera menghela nafas.


"Apa yang dilakukan Selir Li hari ini pasti sudah ia pikirkan matang-matang" Jelas Ibu suri.


"Dengan menolong Kaisar karena alasan tadi akan cukup membuat para pihak mencurigai Keluarga Hua dan mendorong istana melakukan penyelidikan" Lanjut Ibu Suri.


"Tapi sampai menghukum Selir Li? Bukankah itu terlalu keterlaluan" Ucap Permaisuri.


"Aku mengerti perasaan kalian, bahkan Kaisar sekalipun akan protes ssperti kalian. Tapi yang kita bisa lakukan adalah menjamin kalau pengorbanan Selir Li tak sia-sia" Balas Ibu Suri.


"Ibu Suri hamba mohon" Pinta Jing gusar.


"Tidak pangeran Jing, kita kita menyelamatkan Selir Li mungkin Tuan Muda Hua akan mengamuk" Jelas Ibu Suri.


"Bukti hampir lengkap lalu apa yang kita takutkan?" Tanya Huan.


"Huft, kalian terlalu muda untuk meyadarinya" Ucap Ibu Suri.


"Memang kami tak pernah mengerti jika harus mengorbankan seseorang" Tegas Huan.


"Maksud Ibu Suri, bukti tidak akan cukup apalagi politik Keluarga Hua cukup kuat dan Selir Li tau akan hak itu. Lalu Ia memutuskan untuk menjadi umpan, bukan begitu Ibu Suri?" Tanya Permaisuri.


"Ya"


"Kami akan menyelamatkan Nona Jia" Ucap Jing mengajak Huan pergi tapi.


"Berhenti kalian" Ucap Liang yang baru datang.


"kakak?"


"Ibu Suri Benar, kita hanya bisa memastikan pengorbanannya tak sia-sia" Ucap Liang.


Huan maju.


"Tapi apakah harus Nona Jia?" Tanya Huan tajam.


"Aku mengerti perasaan kalian, tapi.. "


"Kakak mencintai Nona Jia kan?" Tanya Jing memotong perkataan Liang.


Liang menutup matamya sejenak.


"Sangat, dan aku tak akan membiarkan siapapun menyiayiakan Pengorbanannya"


***

__ADS_1


__ADS_2