Beautiful Sword

Beautiful Sword
Eksekusi II


__ADS_3

Happy Reading.


***


Plakkk


Tamparan keras mendarap di pipi Jia, Nyonya Hua langsung menghampiri Jia saat ia baru keluar dari aula.


"Kau pantas mati" Teriak Nyonya Hua kepada Jia.


Tapi Jia tetap diam dan ia menerima tamparan itu dengan lapang dada.


"Ibu" Tegur Tuan Muda Hua sambil menahan ibunya yang hendak menampar Jia lagi.


"Lepaskan aku, biarkan aku menyiksa jalan* itu" Ronta Nyonya Jia.


Segera prajurit di sana membawa Jia pergi dari amukan Nyonya Hua, Jia dibawa ke ruangan yang dikhususkan untuk penjahat yang akan dieksekusi mati. Ruangan itu seperti kamar dan di sini para penjahat bisa beetemu dulu dengan keluarga mereka.


Bicara sial eksekusi membuat Jia tertawa sendiri, apalagi hari eksekusinya 2 hari lagi.


"Hahaha, aku sungguh menyedihkan" Guma Jia duduk di kursi.


"Adik" Panggil histeris Liu datang bersama paman Bai dan Xang'er.


"Kakak" Balas Jia.


Prajurit segera membukakan pintuk untuk mereka bertiga.


"Adik kenapa bisa seperti ini?" Tanya Liu memeluk adiknya sambil terisak.


"Kakak sudahlah, ini takdirku" Balas Jia mengelus rambut kakaknya.


"Tapi ini tidak adil" Ucap Liu.


"Jia" Lirih paman Bai.


"Paman, aku baik-baik saja" Balas Jua tersenyum.


Xang'er yang tak tahan langsung memeluk Jia juga, kini ketiga perempuan itu hanya bisa menangis sambil saling menguatkan satu sama lain.


"Kakak, setelah aku pergi. Kakak harus pergi ke selatan, temui nenek kita" Ucap Jia sambil melepaskan pelukkan itu.


"Adik" Lirih Liu.


"Berjanjilah, kakak akan hidup bahagia" Ucap Jia.


Liu tak bisa menjawab, tangannya gemetar hebat di sana.


"Xang'er jaga dirimu. Aku yakin bisnismu akan berjalan sukses" Ucap Jia.


"Jia, ini tidak adil untukmu" Tegas Xang'er.


Jia tersenyum lembut, tangannya mengelus rambut Xang'er.


"Adil atau tidak, ini sudah kehendak Dewa" Balas Jia lembut.


"Tidak ini tetap tidak adil" Isak Xang'er.

__ADS_1


"Apa Yang Mulia tidak membelamu?" Tanya paman Bai yang sudah tau kesepakatan Jia dan Liang.


"Walau Yang Mulia mencintaiku sangat, tapi ia tetap kaisar yang harus bersikap adil" Balas Jia.


"Aku rasanya tak punya muka di depan makam ayahmu" Ucap paman Bai.


"Tidak, paman. Kau sudah menjagaku dan kakaku dengan sangat baik" Sangal Jia.


"Aku hanya ingin kalian bisa hidup bahagia walau tanpa kehadiranku. Jadi bisakah kalian berjanji untuk hal itu?" Tanya Jia.


Ketiga orang itu sontak mengangguk walau hati mereka sangat tidak rela jika sampai Jia pergi.


***


Keesokannya Ruangan Jia dipenuhi lagi orang Xiao, kedua pangeran, Permaisuri bahkan Selir Meng ada di sana.


"Kakak" Tangis Xiao di hadapan Jia.


"Hey, tenanglah" Ucap Jia.


"Aku tak bisa merelakan jika Kakak sampai sepeeti ini" Ucap Xiao.


Jia tersenyum.


"Selir Li, aku sangat berterima kasih atas bantuanmu sampai detik ini dan aku sebegai Permaisuri berjanji bahwa pengorbananmu tak akan sia-sia" Ucap Permaisuri.


"Terima kasih Yang Mulia" Balas Jia.


Sejenak Permaisuri memberikan pelukkan sebagai kakak kepada Jia dan Jia membalasnya dengan hangat.


"Jia" Lirih Jing.


"Tidak apa-apa Pangeran, aku mengerti. Kalian sudah bersusah payah sampai detik ini" Balas Jia.


"Aku gagal sebagai pangeran" Ucap Jing.


"Tidak, justru kau adalah pangeran yang hebat" Sangkal Jia.


"Terima kasih Jia" Balas Jing tulus.


Jia membalasnya dengan senyuman.


"Pangeran Huan, jagalah Yang Mulia untukku. Ia memang pintar tapi terkadang ceroboh" Pesan Jia pada Huan.


"Pasti Nona Jia" Balas Huan dengan nada Lirih.


Jia tersenyum dan memeluk mereka satu persatu.


Bahkan Jia tak bisa menahan air matanya lagi saat melihat mereka lenyap dari balik pintu, ia kembali sendirian bersama surat dari banyak orang.


Bibi Xi, Yelan, bahkan orang Tua Selir Feng juga mengirim surat untuknya. Mereka juga merasa bersalah karena tak bisa menolong Jia.


Dan seperti biasa Jia akan membalasnya dengan senyum. Tangannya mengengam surat dari sang Nenek.


Ia cukup terharu dengan keikhlasan Neneknya untuk melepas Jia, karena Nenek Jia sudah tau hal ini akan terjadi.


Bukannya ia peramal tapi kemungkinan besar hal ini akan terjadi.

__ADS_1


Tapi walau Nenek Jia terlihat tegar, pamannya memberitahu lewat surat yang diberikan kepada Jia, bahwa Neneknya menangis saat mendengar kabar itu. Ya, neneknya sangat mencintai Jia.


***


"Yang Mulia" Lirih Jia menatap Liang berdiri di hadapannya.


"Kau perempuan bodoh" Ucap Liang kembali dengan nada nanar.


Jia langsung maju dan memeluk Liang yang terlihat rapuh dan benar saja Liang langsung menjatuhkan tubuhnya pada pelukkan itu.


"Yang Mulia keputusan anda sudah yang terbaik, jadi jangan menyesali apapun" Ucap Jia.


"Maafkan aku karena tak bisa melindungimu" Lirih Liang di dalam pelukan Jia.


"Anda sudah melindungi hamba sejak pertama datang ke mari" Balas Jia.


Jia melongarkan pelukkan iru dan mengelus wajah tampan Liang yang kini terlihat sembab.


"Berjanjilah kalau anda akan hidup bahagia setelah ini" Ucap Jia sambil menempelkan dahi mereka.


Liang membalasnya dengan merengkuh wajah Jia, bibir mereka bersatu dan saling menyalurkan perasaan masing-masing. Bahkan air mata keduanya sudah bercampur satu.


"Aku berjanji" Ucap Liang melepaskan ciuman mereka.


Jia tersenyum manis.


"Yang Mulia, hamba mencintaimu" Ungkap Jia.


"Aku juga, sangat malah" Balas Liang kembali meneruskan ciuman yang penuh emosi itu.


***


Pagi ini awan mengiasi langit dan menutupi matahari yang akan bersinar. Langit seolah tau kalau hari ini bumi akan kehilangan satu orang yang berharga.


Hari eksekusi Jia akan segera dilaksanakan, walau kemarin banyak orang yang menentang tapi keputusan tetap berada di tangan kaisar.


Jia akan dieksekusi di hadapan keluarga Hua, para Menteri. Awalnya Tuan Hua juga meminta Keluarga Jia hadir, tapi itu langsung ditentang Liang tegas. Para pangeran Juga tak ada di sana, mereka tidak tahan juka melihat Jia diperlakukan sepeeti itu.


Saat kasim memberitahu bahwa Jia akan segera datang, itulah saat di mana orang-orang yang mencintai Jia menangis diam. Bahkan Liang sekalipun tak bisa menutupi ekspresinya.


Perlahan Jia datang dengan kain yang menutupi kepalanya, ya Jia meminta hal tersebut agar orang-orang tak melihat ekspresinya.


Tubuh Jia berlutut di hadapan orang-orang, terlihat seorang Algojo mendekati Jia. Algojo itu memperlihatkan sebuah pedang yang sangat tajam di sana kepada para peserta.


Beberapa kali Algojo memberi isyarat kepada Keluarga Hua, apakah mereka akan memaafkan Jia atau tidak. Tapi tetap mereka ingin Jia mati.


Pedang itu segera berayun menuju leher Jia, dengan cepat para penonton bisa menyaksikan Kepala Jia perlahan jatuh dan mengelinding. Darah membasahi tempat itu.


Dan Ekspresi kekosongan sangat terlihat di sana, mereka kini berduka.


Keluarga Hua tersenyum puas melihatnya, tapi sepertinya langit tidak, buktinya hujan lebat segera turun seolah berduka dan ingin menghapus darah Jia.


Liang tidak pergi untuk berteduh, tapi ia berjalan menuju tubuh Jia yang masih tergeletak di sana.


Liang berlutut di sana dengan tangisnya.


"Jia" Lirih Liang.

__ADS_1


***


__ADS_2