
Happy Reading.
***
"Apa kakak yakin Ibu Suri tak akan keberatan jika di hari Ulang Tahunnya kita membuat keributan?" Tanya Xiao.
Jia menatap Xiao yang telah rapih.
"Tenang saja, lagipula ini juga rencana Ibu Suri" Jawab Jia.
"Nyonya bagaimana dengan Perdana Menteri?" Tanya Yuan.
"Tenang saja, Perdana Menteri akan hadir di sana" Jawab Xiao.
"Sebenarnya apa yang kau lakukan padanya?" Tanya Jia penasaran.
Xiao menyeringai misterius.
"Kakak Tau akar kehidupan?" Tanya Xiao, Jia mengangguk.
"Aku memberikannya pada Perdana Menteri" Jelasnya.
"Apa? Tapi dari mana kau mendapatkannya?" Tanya Jia, Akar Kehidupan bisa membuat orang sakit terlihat sehat bugar dalam beberapa hari.
"Kakakku Fung Ying yang memberikannya, aku bilang bahwa aku sukses membuat kakak tidak jadi melayani kaisar semalam" Jelas Xiao memasukan buah persik ke dalam mulutnya.
"Hahaha, kau pintar juga memanfaatkan kecemburuan kakakmu" Puji Jia.
"Nyonya kain ini mau dipakaikan di mana?" Tanya Miu.
"Aku akan menjadikannya jubah" Jawab Jia sambil menerima kain itu
***
Aula Istana utama telah disulap menjadi aula perjamuan yang megah nan indah. Di tiga kursi utama ada Kaisar, Ibu Suri beserta Permaisuri.
Lalu disisi kanan Ada kedua pangeran.
Setelah Jia datang dan duduk di tempatnya, matanya tak pernah luput menatap terus ke arah Meilan Hua. Ia terus menatap ekspresi Meilan saat melihat Perdana Menteri datang, ada ekspresi kaget di sana. Jadi Jia sudah bisa menyimpulkan semuanya.
Sayangnya karena jarak mereka yang jauh jadi efek kain sutra langit tak terlalu berefek, tapi sesekali Meilan Hua mengaruk lehernya.
"Kakak, lalu rencana selanjutnya apa?" Bisik Xiao di sebelahnya.
"Kita hanya tinggal menunggu aba-aba Kaisar" Jawab Jia dengan bisikan.
Jia langsung menatap Liang yang kebetulan menatapnya, sekilas Liang memberi anggukan.
"Terima kasih Yang Mulia mau menggundang Hamba ke perjamuan ini, Hamba akan berdoa semoga Ibu Suri diberikan umur panjang" Ucap Tuan Ziao, ia adalah seorang pedagang yang sering menjual rempah.
"Terima kasih atas doanya Tuan Ziao" Balas Ibu Suri.
"Tak masalah Tuan Ziao, anda juga telah berjasa dalam perekonomian kerajaan ini" Balas Liang.
"Ya Tuhan apa itu Kain sutra Langit?" Tanya Tuan Ziao kagum kepada Permaisuri.
__ADS_1
"Benar, saya mendapat hadiah dari Selir Li" Ucap Permaisuri.
"Nyonya Li boleh saya tau dari mana anda mendapatkan kain itu?" Tanya Tuan Ziao.
Pertanyaan Tuan Ziao sukses membuat beberapa orang berbisik.
"Saya Mendapatkan kain itu dari beberapa orang pengelana, ia bilang kain itu pembawa hal baik" Jawab Jia.
"Apakah ada masalah Tuan Ziao?" Tanya Perdana Menteri.
"Begini, Kain Sutra Langit adalah kain yang sangat langka, dan dikatakan juga selain membawa nasib baik kain itu bisa membuat orang-orang pengguna ilmu hitam kesakitan saat berdekatan dengan kain itu" Jelas Tuan Ziao.
wajah Selir Hua langsung pucat mendengarnya, ditambah juga keluarnya Hua yang sengaja diundang Liang.
"Benarkah itu?" Tanya Ibu Suri.
"Benar"
"Selir Li, apakah kau juga akan memberikan beberapa kain itu kepadaku?" Tanya Ibu Suri.
"Kebetulan Hamba sudah membungkusnya untuk hadiah anda" Jawab Jia.
"Tidak heran Ibu Suri tertarik, saat hamba berdagang Hamba mendengar kalo ada satu orang yang pernah memakai kain itu dan orang tersebut menjadi penguasa, ahahaha" Jelas Tuan Ziao dengan nada jenaka.
"Anda bisa saja Tuan Ziao" Balas Ibu Suri tertawa kecil.
"Tuan Ziao, saya tak pernah mendengar tentang Kelebihan Lain kain sutra langit ini" Ucap Permaisuri.
Jia dan Xiao paham bahwa sebentar lagi perang akan dimulai.
"Aku juga pernah mendengar kisah itu" Komentar Liang.
"Anda belajar banyak Yang Mulia" Puji Tuan Ziao.
Muka keluarga Hua langsung pucat pasi mendengarnya.
"Tuan Hua kenapa dengan wajahmu?" Tanya Tuan Feng, ayah Selir Feng.
"Ah, saya kadang merasa tak enak badan" Jawab Tuan Hua dengan gugup.
"Tuan Hua jika tidak enak badan kenapa anda harus repot datang?" Tanya Liang.
"Hamba tidak sampai hati menolak undangan Yang Mulia" Jawab Tuan Hua.
"Kalau begitu biarkan Tabib memeriksa anda. Pelayan antarkan Tuan Hua ke kamar" Perintah Liang.
Beberapa pelayan nampak mendekati Tuan Hua, tapi Tuan Hua tetap tak bergeming.
"Yang Mulia hamba rasa hamba sudah sehat kembali" Ucap Tuan Hua.
Tuan Hua menolak tawaran kaisar untuk diperiksa pasalnya beberapa orang mulai berbisik tentang Kain Surta Langit yang dikaitkan dengan kesehatan Tuan Hua.
"Baiklah jika Tuan Hua menolaknya" Balas Liang.
"Sebelumnya terima kasih sudah menyemepatkan hadir di acara ulang tahun Ibu suri" Ucap Liang tegas
__ADS_1
"Maka dari itu ada Dua selir kerajaan yang akan menampilkan tarian perang mereka" Lanjut Liang.
Jia langsung meremas Gelas yang ia pegang.
"Kakak" Bisik Xiao.
"Tenang Xiao, kita lakukan perisis seperti dulu" Ucap Jia menahan kesal
Liang dengan seenaknya menyuruhnya menari tanpa pemberitahuan terlebih dahulu.
"Wah, kami merasa terhormat bisa melihat kedua selir kerajaan menari" Ucap para hadirin.
"Kalau begitu Hamba meminta waktu untuk mempersiapkan diri" Ucap Jia.
"Silahkan Selirku" Ucap Liang.
***
Jia dengan sebal memasang beberapa tusuk konde terakhir.
"Kenapa tak bicara sepanjang acara?" Tanya Jia kesal pada Pangeran Huan yang berdiri di belakangnya.
"Hehe, maafkan kami berdua. Yang Mulia sudah membagi bagian kami bicara dan kami juga dilarang bicara sebelum giliran kami" Jelas Pangeran Huan.
"Ck, kakak kalian benar-benar" Keluh Jia.
"Xiao, kau sudah selesai?" Tanya Jia para Xiao yang sedang berganti pakaian dibantu beberapa pelayan.
"Sudah" Jawabnya.
"Kalau begitu, mari kita mulai tariannya" Ucap Jia tajam, sekilas Pangeran Huan merinding mendengar nada bicara Jia, tapi untungnya ia sudah kenal Jia lama.
Pangeran Huan kembali ke tempat duduknya.
"Bagaimana, Jia marah?" Bisik Pangeran Jing.
"Sangat" Jawab Huan dengan berbisik.
"Hehehe, sepertinya Kakak kita yang akan menanggungnya" Kekeh Jing, tapi ia langsung berhenti terkekeh saat ditatap tajam Liang.
Tak lama Jia dan Xiao datang dengan pakaian tari mereka. Sontak kedatangan mereka menarik perhatian penonton hingga beberapa istri dari penonton langsung menatap tajam suami mereka.
Tapi tak berlaku pada Keluarga Hua, pasalnya Jia dan Xiao memakai Kain sutra Langit sebagai atribut mereka.
Para pemain Musik bersiap untuk memainkan musik mereka. Perlahan kedua selir itu mulai mengerakan tubuhnya perlahan. Kini mereka tak menggunakan senjata kayu lagi, tapi menggunakan Kian Sutra Langit yang mereka lambaikan ke arah Keluarga Hua.
"Sakittttttttt"
***
Hai, Author kembali lagi nih. maaf ya kalo ada beberapa yang typo dan terima kasih untuk kalian para pembaca setia. Semoga kita semua diberikan kesehatan dan dihindari dari Virus yang sedang menyerang.
Salam Cinta.
RiantiTeti
__ADS_1