
Happy Reading.
***
Jia Pov.
Kini dua saudara Li duduk berhadapan.
"Kakak aku ingin bertanya kenapa bisa Nona kedua Ying akan diangkat menjadi Selir?" Aku menatap serius kakakku.
"Kemarin Yang Mulia mengunjungi kakak dan saat itu kebetulan ada Selir Ying. Dia yang mendengar adik akan diangkat menjadi selir lalu menawarkan adiknya" Jelas Kakakku. Aku mengetuk-ngetuk jariku di atas meja.
"Apakah ada maksud lain Selir Ying?" Tanyaku lagi. Tapi kakakku mengelang.
"Tidak, dia bilang kita bisa mengulingkan kekuasaan Selir Meng" Lalu ku lihat dia akan melanjutkan.
"Adik apakah tidak apa-apa kau menerima tawaran Yang Mulia?" Tanya kakakku, aku bisa melihat raut kekhawatiran.
"Andai aku bisa menolak kak. Yang Mulia mengancamku jika menolak dan itu akan berimbas pada kelurga kita" Jawabku pelan. Tangan lembut kakakku mengelus rambutku perlahan. Tangan yang lembut dan penuh kasing sayang.
"Maafkan kakak yang lemah ini" Ucapnya.
"Kakak fokus saja pada kesehatanmu dan jangan terlalu terbebani" Balasku lembut. Aku mengengam tangan kakakku, walau tanganku tak selembut kakak tapi menurutnya tanganku penuh kehangantan.
"Kak ingat kita harus selalu waspada kepada siapapun di sini termasuk dua saudara Ying" Ucapku.
"Kakak mengerti. Kalau begitu ini sudah sore, kakak akan kembali" Ucapnya.
"Aku akan mengantar"
Kami berjalan beriringan menuju gerbang kediaman Meihua. Terlihat Miu dan Wui membukakan gerbang.
"Kakak hati-hati di jalan" Ucapku.
Tapi sebelum Kakakku menjawab, kami dikagetkan dengan teriakan yang berasal dari gerbang depan.
Sontak aku dan kakakku menuju ke sana.
"Sialan, lepaskan aku" Teriak seorang gadis berhanfu kuning yang mencoba melepaskan pegangan beberapa pengawal.
Aku mendekati seorang pelayan guna menanyakan apa yang terjadi.
"Apa yang Terjadi?" Tanyaku.
"Setelah adik selir Ying sampai di istana dia langsung mencoba untuk kabur" Jelasnya.
Jadi ini adik dari selir Ying.
"Aku tidak mau jadi selir, aku ingin pulang" Ucapnya yang masih berteriak.
__ADS_1
Tak lama aku melihat selir Ying berlari menuju adiknya.
"Adik apa yang kau lakukan?" Tanya selir Ying.
Ku lihat Mata adik Selir Ying itu melotot ke arah kakaknya.
"Dasar kakak sialan, ini pasti ulahmu menjadikan aku selir. Pulangkan aku sekarang juga" Aku menutup mulut mendengar segala sumpah serapahnya.
"Ayahanda sudah memerintahkanmu untuk menjadi selir" Ucap Selir Ying mencoba menenangkan adiknya.
"Ayahanda? Bukankah kau yang menawarkanku pada Kaisar" Sangahnya.
Aku merasakan kakakku menarik Hanfuku.
"Adik ayo kembali ini bukan urusan kita" Ajak Kakakku.
"Kakak, kita mendapatkan tontonan menarik. Mengapa kita harus pergi" Tolakku yang tak mau menyiayiakan tontonan gratis ini.
"Brengsek lepaskan aku, kalian tidak akan lolos dari Ayahku" Umpat kasarnya.
"Ada apa ini?" Sebuah suara mengalihkan pandanganku.
Aku melihat seorang perempuan cantik nan anggun berjalan ke arah dua saudara Ying.
"Adik, itu permaisuri. cepat beri hormat!" Ucap kakakku. Aku langsung memberi hormat pada wanita itu.
"Selir Ying bagaimana kau mengendalikan adikmu?" Tanyanya.
"Maaf Permaisuri, hamba lalai dalam mendidik adik hamba" Balas Permaisuri Ying yang masih kulihat Menunduk. Bahkan Nona kedua Ying ikut menunduk hormat, sebesar itukah auranya.
"Kali ini kalian ku maafkan, tapi jika berbuat onar kembali aku tak akan segan" Ucapnya tegas.
"Dan kalian calon selir baru ikuti aku!" Perintahnya.
Aku segera bangun dan mengikuti Permaisuri, kakakku memandang khawatir.
Adik dari selir Ying berjalan disampingku. Aku bisa melihat raut kesedihan mendalam, sepertinya ia tak senang menjadi selir.
Kami memasuki kediaman Phoenix, kediaman itu sangat megah dengan halaman yang luas. Permaisuri segera mendudukan diri di singgasana dan menyuruh kami berdua duduk di tempat yang sudah disediakan.
"Aku sangat mengerti kalian menjadi selir karena paksaan" Ucapnya sambil meniup pelan gelasnya.
"Xiao Ying, kuharap kau bisa lebih menjaga tata krama di sini. Aku sangat mengerti perasaanmu yang dipaksa menjadi selir, namun kau mau mengamuk seperti apapun itu tidak akan mengubah apapun. Mengerti?" Mendengar suara Permaisuri seluruh sarafku menjadi lebih tenang.
"Mengerti Yang Mulia" Jawab Xiao
"Jia Li, Walau kau menjadi selir atas perintah Yang Mulia tapi kau harus tetap menjaga tata Krama dan jangan besar kepala. Persaingan di sini sangat tidak sehat, jika salah melangkah maka kau akan terjatuh" Nasehat Permaisuri, seperti yang kudengar dia Netral.
"Hamba Mengerti" Balasku.
__ADS_1
"Baik, karena besok kalian akan diangkat maka kubiarkan kalian kembali ke kediaman masing-masing. Nona Ying pelayan akan mengantarkanmu ke Kediaman Poppy" Ucap Permaisuri.
Kami segera pamit dan berjalan kembali, sepanjang perjalanan hanya keheningan yang melanda.
Saat langkah kami berbelok Selir Meng datang menghadang.
"Hoho jadi ini calon selir ke 6 dan 7. Cih hanya ini? ku rasa bahkan kalian tidak akan bisa bertahan lama" Hinanya, aku tetap diam begitupula Nona Ying.
"Kau Nona kedua Ying, seorang adik yang ditumbalkan kakaknya sendiri demi kekuasaan. Malang sekali nasibmu" Lanjutnya dengan nada yang masih mencemooh.
Tanganku bergerak cepat saat melihatnya hendak menampar Selir Meng.
"Kakak, kami lupa memberi hormat padamu, Maafkanlah adikmu ini. Kami berharap kakak bisa mengajarkan kami tata krama perempuan terhormat. Tapi semoga dengan pertemuan ini kita bisa lebih akrab" Ucapku lembut. Terlihat Selir Meng tambah congkak, dia tidak tau saja kalau aku menyindirnya.
"Ternyata kau tau diri juga ya" Ucapnya sambil meninggalkan kami.
"Kenapa kau menahanku untuk menamparnya?" Tanya Xiao. Aku melepaskan genggaman tanganku.
"Kita tak bisa melawan kekuasaan Selir Meng dengan otot" Jawabku.
"Kita sama-sama terpaksa, tapi jika kita gegabah maka mungkin besok menjadi pemakaman kita" Lanjutku.
Aku segera menariknya menuju kediamanku, karena aku tau Kediaman Poppy bersebelahan dengan kedimanku. Sebelumnya aku menyuruh pelayan yang mengikuti kami untuk kembali.
"Mangapa kau memperlakukanku seperti ini?" Tanyanya sambil menatap gelas berisi teh.
Aku menghirup udara sore di taman.
"Melakukan yang kita tidak suka bukan berarti harus menjadi alasan kita untuk menyerah dan bodoh" Jelasku. Dia terlihat terkejut, Ah aku merasakan jiwa kesepian padanya.
"Sejak dulu aku selalu melakukan yang tidak ku sukai, tapi Menjadi selir lebih ku benci dari yang lain" Gumanya lemah.
Aku mengulurkan tangan untuk mengusap kepalanya, dia cukup terkejut namun tetap menerimanya.
"Dengar, kau perempuan kuat. Aku yakin kau bisa melewati ini, jika kau kesulitan bicarakanlah padaku. Aku akan ada untukmu" Ucapku sambil menariknya ke dalam pelukan.
Aku merasa dia sangat berbeda dengan Selir Ying, dalam selir Ying aku merasakan ambisi tapi didalam gadis ini hanya kesepian yang melanda.
"Terima kasih" Ucapnya.
Aku tersenyum saat merasakan basah pada hanfuku.
***
Tanpa mereka sadari seorang Pria yang tadinya ingin mengunjungi pedangnya malah menyaksikan adegan itu dari awal.
"Menarik" Ucapnya, bibir sexy itu menyeringai.
***
__ADS_1