Beautiful Sword

Beautiful Sword
Tanggung Jawab


__ADS_3

Happy Reading.


***


Jia yang melihat itu langsung berbisik.


"Kakak, aku tau apa yang kamu lakukan. Tadi jika kau nekad maka aku bisa lebih nekad" Bisik Jia dengan mengancam.


Selir Hua langsung menghentikan perbuatannya, langsung saja Salir Ying mulai kembali normal.


"Kakak, ayo kita panggil tabib" Ajak Xiao sambil membantu kakaknya, sebelumnya Jia memberi kode ke arah Xiao.


Jia langsung melepaskan pegangannya pada Selir Hua.


"Kakak terlalu berani dengan mengerang secara terang-terangan. Jika kakak ketahuan maka seluruh keluargamu akan dihukum" Ucap Jia.


"Cih, tau apa kau. Seharusnya juga kau waspada karena mungkin saja kau targetku berikutnya" Ucap Selir Hua.


"Coba saja" Tantang Jia.


Selir Hua segera kembali ke kediamannya, sementara Jia mendapat pesan untuk ke kediaman Permaisuri.


***


"Ia semakin berani" Komentar Permaisuri.


"Hamba juga tak menyangka ia akan memperlihatkannya di muka umum" Balas Jia.


"Kalau begitu besok aku akan menyidang mereka berdua atas perkelahian itu" Ucap Permaisuri.


"Lalu bagaimana dengan Selir Ying?" Tanya Permaisuri.


"Xiao tadi mengirim pesan, kalau tabib yang memeriksa Selir Ying mengatakan sesuai rencana" Jawab Jia.


"Bagus, Bagaimana perkembangan Selir Feng?" Tanya Liang.


Yap, mereka bertiga sekarang sedang berdiskusi di kediaman Permaisuri secara diam-diam.


"Selir Feng tak menunjukan pergerakan yang berarti, sepertinya ia sedang memutar otaknya" Jawab Jia.


"Kalau begitu sementara penyelidikan harus semakin di perdalam" Ucap Liang.


"Hamba Setuju" Ucap Jia.


"Yang Mulia benar" Ucap Permaisuri.


"Ah, lalu bagaimana dengan penyelidikan Pangeran Huan dan Jing?" Tanya Jia.


"Pelayan itu sudah ditemukan dan ia sudah diamankan, tapi sejauh ini ia belum mau buka mulut" Ucap Liang.


Jia mulai berfikir.


"Ini cukup sulit, tapi bolehkah hamba menemuinya?" Tanya Jia.


"Kau boleh menemuinya" Balas Liang.


"Yang Mulia, tapi hamba masih curiga dengan diamnya Selir Feng" Tutur Permaisuri.


Kedua orang itu mengangguk setuju, mereka juga harus tetap menaruh curiga dengan diamnya Selir Feng.

__ADS_1


"Benar, tidak menutup kemungkinan Selir Feng tetap diam" Ucap Jia.


"Tapi tak menutup kemungkinan juga ia benar-benar diam" Balas Liang.


"Kalau begitu serahkan urusan Selir Feng kepada hamba" Saran Jia.


"Baik" Balas Liang.


***


Jia menatap seorang wanita tua yang terlihat awet muda, wanita itu terlihat sangat anggun.


"Kini giliran kau menemuiku?" Tanya Wanita itu.


"Tepat nyonya" Ucap Jia.


Wanita itu memberi kode kalau menyuruh Jia untuk duduk di sebelahnya.


"Tapi sayangnya aku tak akan buka mulut" Ucap Wanita itu.


Jia menghela nafas.


"Jika nyonya tak buka mulut sekarang maka anak asuh anda akan berbuat sesuatu yang jahat" Ucap Jia.


Wanita itu berdiri dengan wajah marah.


"Jahat? Lalu bagaimana perbuatan Perdana Menteri kepada Jiao?" Teriak marah Wanita itu tapi sedetik kemudian ia menutup mulutnya.


Jia menyeringai karena berhasil memancingnya.


"Nyonya jika kita menjadi korban kejahatannya, itu bukanlah alasan yang tepat menjadikan kita jahat pula" Ucap Jia.


"Tau apa kau" Ucapnya tajam.


"Tapi Nyonya, aku datang ke sini bukan untuk menghakimi Kakak Feng, tapi aku ingin melindunginya" Ucap Jia lembut.


Wanita itu menatap Jia mencari kejujuran.


"Ku akui kau jujur, tapi aku butuh waktu untuk mengatakannya karena ini bukan hal yang mudah" Ucap Wanita itu dengan tatapan merana.


Jia terdiam dan menyedari bahwa permasalahannya sangat besar.


"Aku mengerti Nyonya, lain kali aku akan datang lagi" Ucap Jia yang kemudian berdiri.


"Panggil aku Bibi Xi" Ucapnya.


Jia tersenyum dan mengangguk.


Setelah kepergian Jia, Bibi Xi tetap duduk di sana menikmati udara segar dari pegunungan tempatnya kini. Semenjak ia dibawa ke sini, ia merasa bahwa ia bukanlah sandera melainkah tamu.


"Jiao, bibi harap kau tak menjadi sepertinya" Lirih Bibi Xi.


***


Suasana kediaman Ibu Suri menjadi canggung setelah Ibu Suri Mengungkit kejadian kemarin, apalagi Permaisuri juga ikut mengungkitnya.


Sementara dua selir sedang menunduk.


"Mulai sekarang aku tak ingin kalian berselisih seperti kemarin, karena bukan hanya keluarga kerajaan yang dipermalukan tapu keluarga kalian juga. Mengerti?" Ucap Ibu Suri.

__ADS_1


"Kami mengerti" Ucap serempak mereka.


Setelah itu mereka kembali duduk di tempatnya lagi.


"Selir Meng bagaimana keadaan ayahmu?" Tanya Ibu Suri.


"Ayah mulai membaik dan kata tabib hanya butuh beberapa hari untuk benar-benar pulih" Jawab Selir Meng, ia sudah kembali ke istana kemarin.


"Baguslah, semoga ayahmu cepat pulih" Balas Ibu Suri.


"Teeima kasih atas doa anda" Ucap Selir Meng


Sebenarnya Selir Meng cukup kesal karena ia harus kengurus ayahnya dikarenakan ibu dan adik tirinya peegi entah kenapa. Bukannya ia tak mau mengurus ayahnya tapi dengan kepergiannya ia sudah kecolongan sehingga Selir Hua dan Selir Ying berhasil mendapatkan cinta Yang Mulia.


"Sebenarnya ada yang ini ku umumkan hari ini, kalian tahu kan bulan depan akan diadakan perjamuan rutin tiap tahun" Ucap Ibu Suri.


Tubuh Selir Feng sontak membeku, ia tau kalau perjamuan itu adalah perjamuan musim gugur. Perjamuan di mana ia bertemu pria brengsek itu.


Jia terus memerhatikan tingkah laku Selir Feng, ia curiga perjamuan itu adar hubungannya dengan dengan itu. Jika benar, mereka harus segera mengetahuu luka Selir Feng karena Jia tau Selir Feng bukanlah orang jahat.


***


"Dia membeku saat mengetahui Perjamuan Musih Gugur bulan depan" Ucap Jia pada semua orang di ruangan itu.


"Berarti ada hubungannya dengan perjamuan itu" Ucap Xiao, ia kini mengikuti rapat itu.


"Tak salah lagi, kita harus segera mengetahui alasan Selir Feng" Ucap pangeran Huan.


"Benar, ia cukup menghambat kita dengan keterlibatannya" Tambah Pangeran Jing yang agak kesal karena awalnya mereka ingin mengulingkan Selir Meng lewat Selir Hua dulu tapi ada Selir Feng yang entah kenapa berdiri di tengah mereka.


"Kalian benar, tapi ku rasa tak semudah itu apalagi pelayan keluarga Hua terdahulu belum mau buka mulut" Ucap Liang.


"Tapi jika Selir Feng tetap menghambat amaka kita harus bertindak tegas" Tutur Permaisuri.


Jia meneguk ludahnya gelisah, ia masih yakin kalau Selir Feng adalah korban.


"Aku setuju" Ucap beberapa orang di sana.


"Nona Jia apakah kau kurang setuju?" Tanya Ibu Suri.


"Hamba merasa kita harus tau alasannya dulu" Ucap Jia.


"Tapi ia akan menjadu bumerang" Ucap Ibu Suri.


Xiao menatap Jia dengan pandangan penuh tanya.


"Bagaimana jika urusan Selir Feng serahkan pada hamba dan hamba berjanji ia tak alan menghambat" Ucap Jia yakin.


Ternyata ucapan Jia membuat orang di sana terdiam.


"Maksud kakak?" Tanya Xiao tambah bingung.


"Nona Jia kau memang berani dan cerdik tapi apakah kau bisa menjaminnya?" Tanya Ibu Suri tegas.


"Hamba akan menjaminnya" Jawab Jia yakin.


Kedua pangeran itu menatap Jia dengan pandangan Khawatir, Xiao yang minta penjelasan, Permaisuri yang tetap diam dan Liang yang tetap tak percaya.


"Baik kalau begitu, ku serahkan urusan itu padamu" Putus Ibu Suri.

__ADS_1


Setelahnya rapat dibubarkan dan Jia segera menuju ke suatu tempat.


***


__ADS_2