
Happy Reading.
***
Liang kini menatap tajam perempuan yang duduk di depannya, sementara perempuan yang ditatap tajam tak merasa terganggu karena ia terlalu fokus pada Kain ditangannya.
"Aku tak percaya kalau ada orang yang berani memberikan ramuan tidur pada seorang kaisar" Ucap Liang.
Jia hanya terkekeh geli.
"Tapi bukankah itu cukup membantu" Balas Jia.
Liang memutar bola matanya.
"Andai aku tak berhutang budi, mungkin kau sudah ku penggal"
Jia yang mendengar kata penggal terucap begitu mudah dari mulut Liang membuatnya terdiam.
"Hamba Bahkan pernah merasakan kematian" Balas Jia dingin.
Liang terdiam mendengar nada bicara perempuan di depannya.
"Em, lalu bagaimana cara kita menggunakan kain itu?" Tanya Liang mencoba mengalihkan perhatian.
"Pengguna Ilmu Hitam akan kesakitan saat berdekatan dengan kain ini, apalagi saat ia sedang menggunakan ilmunya" Jelas Jia sambil memberikan Kain lain itu kepada Liang.
"Yang Mulia, anda gunakan ini sebagai atribut kerajaan" Lanjut Jia.
Liang menerima kain itu.
"Aku akan mengadakan sebuah jamuan perayaan ulang tahun Ibu Suri nanti untuk para selir dan aparat Pemerintah. Ku rasa untuk melumpuhkan Selir Meng, Selir Hua akan melakukannya perlahan dan pada saat itu kita bisa melakukan rencananya" Ucap Liang.
"Hamba mengerti"
"Kau tau selirku, ku rasa mungkin aku akan mengunjungi nenekmu bukan sebagai Kaisar" Ucap Liang tiba-tiba.
"Kenapa begitu?" Tanya Jia penasaran.
"Saat aku mengunjungi nenekmu, entah kenapa aku merasa seperti di rumah" Ucap Liang.
"Anda tak salah, Hamba juga sering menjadikan rumah nenek hamba sebagai rumah kedua" Balas Jia
Mereka saling menatap sejenak sebelum Jia memutuskan kontak mata. Membuat Liang sedikit Kecewa.
"Apakah sebegitu kau tak ingin membuka dirimu untukku?" Lirih Liang.
Jia menghela nafas dan menatap keluar jendela kereta yang mereka tumpangi.
"Hamba hanya tak ingin terjerat lebih lama dengan istana" Jawab Jia.
"Bagaimana jika aku membuat istana tempat yang aman untukmu?" Tawar Liang.
"Hamba...."
"Yang Mulia kita sudah sampai" Potong Cheng yang memberitahu bahwa mereka sudah sampai di Istana.
Jia segera bangun dari duduknya, dan segera keluar kereta disusul Liang.
"Yang Mulia kalau begitu hamba harus segera kembali ke Kediaman hamba" Pamit Jia.
"Baiklah, terima kasih sudah menemaniku" Balas Liang.
Jia menunduk hormat dan segera kembali ke kediamannya.
Sementara Liang masih berdiam diri di sana menatapa langit yang masih gelap.
"Yang Mulia, sampai kapan anda akan memanfaatkan Nona Li?" Tanya Cheng.
"Aku tidak yakin, tapi Untuk melindungi rakyatku aku akan melakukan apapun" Jawab Liang, lalu ia segera menuju istananya.
***
__ADS_1
"Nyonya?" Ucap Miu kaget melihat tubuh Jia sudah tergeletak di ranjang.
Sementara Jia hanya berguma tak jelas.
"Kapan anda pulang?" Tanya Miu sambil menghampiri Jia dan membuka kelambu tidur.
"3 Jam yang lalu, mungkin" Jawab Jia yang masih tergeletak.
"Hamba akan menyuruh Yuan untuk menyiapkan sarapan kalau begitu" Ucap Miu, tapi tangan Miu ditahan Jia.
"Aku ingin tidur"
"Nyonya tidur di pagi hari tidak baik untuk tubuh, lagipula bukankah anda harus menemui permaisuri" Balas Miu.
Jia hanya berdengus malas.
Tak lama Yuan datang dengan membawa nampan, tak lupa dengan wajah senang.
"Nyonya bagaimana perjalananmu dengan Yang Mulia?" Tanya Yuan antusias.
"Normal, seperti biasa" Jawab Jia.
Jia mengambil sumpit dan mulai makan.
"Apakah ada hal yang terjadi?" Goda Yuan yang hampir membuat Jia tersedak.
"Tolong jangan gila di pagi hari, aku dan Yang Mulia hanya rekan bisnis" Sangkal Jia.
Yuan segera menampilkan wajah kecewa.
"Kau jangan terlalu berharap apapun" Ucap Miu.
"Kakak tidak romantis sekali, padahal aku sangat mengharapkan Nyonya segera mengandung" Ungkap Yuan.
"Jangan gila" Ucap Serempak Jia dan Miu. Yuan membalasnya dengan tawa.
Mereka bertiga memang semakin dekat dari hari ke hari, pembawaan Jia yang raman dan Yuan yang ceria menambah warna di kediaman Meihua.
***
"Hamba memberi hormat kepada Permaisuri" Ucap Jia.
"Bangunlah adikku" Balas Permaisuri.
"Terima kasih"
Jia segera menempati tempat yang disediakan di kediaman Permaisuri, hari ini giliran para selir memberi salam kepada Permaisuri. Sementara memberi salam pada Ibu Suri dilakukan satu minggu sekali.
"Adik Ku dengar kau ke luar istana untuk belajar menyulam?" Tanya Selir Meng.
"Benar kakak, aku memutuskan untuk belajar beberapa keahlian perempuan" Balas Jia dengan senyum.
"apa adik membawa hasil belajar adik?" Tanya Selir Meng lagi, Jia yang sudah menduga taktik Selir Meng menyeringai.
"Tentu, tapi ini tidak seindah sulaman kakak-kakak yang lain"
Jia mengeluarkan sebuah kain yang tersulam bunga Meihua, setelah Jia mengeluarkan kain itu terjadi perubahan pada Selir Hua. Tubuh Selir Hua timbul beberapa bercak merah yang terasa menyengat.
"Kakak itu sangat indah" Puji Xiao.
"Benar, bisakah adik membuatkan satu untukku!" Ucap Permaisuri tertarik.
Selir Meng mendengus kesal saat Jia mendaoatkan banyak Pujian.
"Walau sulaman hamba belum sempurna tapi hamba akan berusaha membuatkannya" Balas Jia.
Sementara itu Selir Hua menahan rasa menyengat sebisa mungkin, ia hanya berharap salam pagi ini segera selesai.
"Adik kenapa dengan tanganmu?" Tanya Selir Feng kaget melihat tangan Meilan Yang timbul bercak merah.
Suara Selir Feng ternyata terdengar oleh selir yang lain sehingga kini mereka memerhatikan Selir Hua.
__ADS_1
"Adik apa kau kurang sehat?" Tanya Permaisuri.
Seketika Meilan Hua gugup saat ditanya begitu.
"Ah, hamba rasa kemarin hamba memakan makanan yang salah" Jawab Selir Hua.
"Kalau begitu, pelayan anatarkan Selir Huan kembali ke kediamannya dan panggilkan tabib istana!" Perintah Permaisuri.
Beberapa pelayan mulai membantu Meipan untuk bangun, rasa menyengat di tubuhnya kian terasa.
Sementara selir Meng manatap jijik bercak merah itu, ia menganggap itu wabah yang akan menular.
Jia dan Permaisuri menyeringai melihat itu.
"kalau begitu adik-adik yang lain silahkan kembali" Ucap Permaisuri.
Para selir Segera memberi hormat dan kembali ke kediamannya, sementara Jia dan Xiao tetap di tempat.
Setelah itu Permaisuri menyuruh mereka berdua untuk mengikutinya.
"Tak ku sangka ternyata Kain itu cukup bekerja" Ucap Permaisuri sambil kendudukan dirinya di bangku.
"Hamba juga kaget saat melihat reaksi tersebut" Balas Jia.
Jia dan Xiao segera menyusul untuk mendudukan dirinya.
"Xiao, kau kini sudah tau rencana ini. Ku harap kau bisa membantu" Ucap Permaisuri.
"Hamba akan berusaha" Balas Xiao. Jia sebenarnya cukup Khawatir dengan keterlibatan Xiao, Tapi ia juga sadar bahkan mereka butuh bantuan Xiao, setidaknya Xiao bisa mengarahkan Selir Ying agar tetap diam.
"Yang Mulia sudah memberitahu tentang rencana yang akan berjalan, Kita hanya harus memastikan bahwa kita mengenakan Kain Sutra Langit" Tutur Permaisuri.
"Hamba Mengerti" Ucap serempak Jia dan Xiao
Jia mengeluarkan dua potong kain dan ia merikan kepada Xiao dan Permaisuri.
"Kau pandai menyulam juga ternyata" Puji Permaisuri saat melihat sulaman burung Phoenix.
"Terima kasih atas pujiannya" Balas Jia.
"kakak lain kali tolong ajari aku" Ucap Xiao.
"Tentu".
"Gawat Yang mulia" Ucap Pengawal rahasia Permaisuri.
"Ada apa?"
"Perdana Menteri jatuh sakit"
"Apa?" Pekik mereka semua.
Tidak, Perdana Menteri tidak boleh jatuh sakit sampai perayaan Ulang Tahun.
"Berarti sasaran Selir Hua adalah Perdana Menteri bukan Selir Meng" Ucap Xiao.
Permaisuri memijit keningnya pening.
"Ini di luar rencana, kita menganggap bahwa sasaran selanjutnya Selir Meng" Ucap Jia tak percaya.
kalau begini rencana mereka bisa hancur.
"Yang Mulia, hamba punya sesuatu" Ucap Xiao.
***
Maaf ya Author kedepannya akan jarang update. Handphone Author sedang bermasalah, jadi harus bolak balik UGD.
Tapi Author sangat berterima kasih kepada yang sudah setia menunggu.
Salam Cinta.
__ADS_1
Author