Beautiful Sword

Beautiful Sword
Selamat Jalan Ibu Suri


__ADS_3

Happy Reading.


***


"Tabib Su'er, apa rencanamu selanjutnya?" Tanya Yang Er.


"Ku rasa, aku akan menetap di sini beberapa waktu lagi" Balas Jia.


"Bagaimana jika kau tinggal di sini" Tawar Yang Er.


Jia menatap hamparan bunga di hadapannya.


"Aku belum tau Nona, lagipula, aku masih harus melakukan sesuatu" Ucap Jia.


Yang Er menampilkan wajah kecewanya, padahal ia ingin Jia menjadi saudaranya. Agar mereka selalu bersama.


"Padahal aku ingin mengangkatmu menjadi saudara" Ucap Yang Er, Jia terkekeh pelan.


"Aku terlalu rendah untuk itu Nona" Balas Jia.


"Ayolah, kita sudah kenal setahun dan kau masih ragu seperti itu" Ucap kesal Yang Er.


"Kalau begitu akan aku pikirkan" Balas Jia.


"Benarkah?" Tanya Yang Er girang.


Jia menganggukkan kepalanya dan itu membuat Yang Er bersorak senang. Jia sedikit terpesona oleh senyum Yang Er, rasanta senyum itu mengingatkannya kepada sesuatu yang telah lama menunggu.


"Su'er, ayo kita rangkai bunga!" Ajaka Yang Er.


Jia segera tersadar yang mengikuti Yang Er yang berjalan menuju Gazebo di tengah padang bunga itu.


***


"Hey, kenapa melamun?" Tanya Nenek Hong.


"Aku bingung, setelah menemuinya apa yang harus ku lakukan lagi" Jawab Jia cepat.


"Ini memang sulit, kembali menjadi Selir juga bukan hal yang benar mengingat kau harus hidup dengan identitas baru" Balas nenek Hong.


Jia mendelik.


"S-siapa yang ingin jadi Selir lagi?" Tanya Jia salah tingkah.


"Jangan mengelak" Balas Nenenk Hong dengan kekehan geli.


"Lagipula mana mungkin itu bisa terjadi" ucap Jia murung.


Nenek Hong maju dan mengusap bahu cucunya.


"Dengar, cinta bisa melakukan apapun dan kau harus percaya itu" Ucap Nenek Hong.


"Tapi, cinta tak harus memiliki" Lanjut Nenek Hong.


"Nenek benar, aku hanya ingin ia tau kalau aku masih hidup" Ucap Jia.


"Nah itu, tapi untuk masalahmu. Sepertinya ada pengecualian, karena Nenek Lihat Kaisar akan melakukan apapun untukmu" Ucap Nenek Hong.


Jia terkekeh pelan dengan ucapan ngawur neneknya.


"Mana mungkin, ia kaisar dan ia tidak bisa melakukan sesuatu yang seperti itu" Ucap Jia dengan geli.


"Hohoho, kau tidak tau saja anak muda" Balas Nenek Hong tak mau kalah.

__ADS_1


"Nenek jangan ngawur" Ucap Jia.


"Kalau begitu mau bertaruh?" Tawar Nenek Hong.


Jia kaget dengan perkataan neneknya tapi ia juga merasa tertantang dengan hal itu.


"Baik, ayo kita bertaruh" Balas Jia.


Nenek Hong menyeringai licik saat Jia menyetujui tawarannya.


"Akan aku pastikan kau kalah cucuku"


***


Sementara itu di Istana.


"Ibu, kau ingin mengaku?" Tanya Liang pada Ibu Suri yang terduduk di hadapannya.


Kini anak dan ibu itu sedang bersitegang.


"Liang" Lirih Ibu Suri lemah.


"Ibu aku sudah tau kalau nona Yang Et adalah anakmu dan Tuan Er" Ucap Liang yang membuat Ibu Suri kaget.


"B-bagaimana kau tau?" Tanya Ibu Suri.


Liang tertawa sumbang.


"Waktu ibu melahirkan aku sudah cukup dewasa untuk mengerti keadaan" Jelas Liang.


"Lalu apa kau akan membenciku?" Tanya Ibu Suri.


"Ya, ibu seharusnya mengatakan hal itu diawal" Balas Liang.


Ibu Suri menatap anaknya yang berdiri di hadapannya.


"Maafkan ibumu ini yang kotor dan tak bermoral" Isak Ibu Suri.


Liang maju dan berjongkok di hadapan ibunya.


"Aku memaafkan ibu" Ucap Liang memeluk tubuh ibunya yang rapuh.


"Maafkan ibumu ini" Ucap Ibu Suri yang masih ada di pelukan Liang.


"Tapi, meracuni Nona Yang Er bukanlah hal yang benar" Ucap Liang melepaskan pelukan itu.


"Ibu tau dan Ibu akan mempertanggung jawabkan hal itu" Balas Ibu Suri.


"Apa yang akan ibu lakukan? mengaku pada publik artinya membuat Yang Er menanggung semua ini" Tanya Liang.


"Tidak, ibu tak akan mengaku. Tapi Ibu akan menghukum diri sendiri" Jelas Ibu Suri yang membuat Liang tersentak.


"Ibu.. "


"Dengar, ibu tidak ingin hal inu diketahui orang jadi tolong tetap rahasiakan hal ini" Potong Ibu Suri.


"Ibu, jangan bilang... "


"Ya, ibu akan melakukannya. Lagipula ini untuk menutup mulut dan menebus dosa ibu" Ucap Ibu Suri yang kembali memotong perkataan Liang.


Liang maju dan memegang pundak ibunya. Ia menatap nanar ibunya.


"Apa ibu yakin?" Tanya Liang nanar.

__ADS_1


"Ya, maafkan ibu" Jawab Ibu Suri.


Liang tak menjawab, lidahnya tiba-tiba kelu dan kaku.


"Tapi, kau tidak akan merasa kesepian karena ibu akan mengirimkan seseorang untukmu" Ucap Ibu Suri.


"Aku tak butuh selir lagi" Balas Liang.


Ibu Suri tersenyum lembut dan menatap anaknya.


"Bukan selir tapi seseorang, kau akan segera tau hal itu" Ucap Ibu Suri.


Liang bingung atas perkataan ibunya itu.


"Jangan terlalu dipikirkan anakku, ibu sangat mencintaimu" Ucap Ibu Suri sambil mengusap wajah Liang.


Mata Liang terpejam menakmati usapan lembut tangan ibunya.


"Anakku maukan kau melihat bulan dengan ibu untuk terakhir kali" Tawar Ibu Suri.


"Ya, aku mau ibu" Balas Liang dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


Malam itu ibu dan anak menikmati bulan yang bersinar terang, malam itu juga mereka saling mengungkapkan perasaan masing-masing.


***


Besoknya seluruh negeri berduka atas kematian ibu Suri.


Ya setelah dari kediaman Liang, Ibu Suri segera menangak racun dan meninggal dengan tenang. Tapi tentunya rakyat tau kalau ibu suri meninggal karena sakit.


Liang menatap nanar peti ibunya, tubuhnya bahkan tak kuasa ia gerakan.


"Yang Mulia anda harus bersabar" Ucap Huan yang ada di sisi Liang.


"Kakak kami masih ada untukmu" Tambah Jing.


Kedua pangeran itu setia berada di sisi Liang guna menguatkan Liang.


"Terima kasih" Lirih Liang.


Sepertinya yang paling berduka di sini adalah Permaisuri, karena sedari tadi tangisan Permaisuri tidak berhenti bahkan beberapa kali pingsan. Meninggalnya Ibu Suri adalah pukulan terberat yang Permaisuri rasakan.


Mungkin Ibu Suri sempat berpamitan kepada Liang, tapi tidak kepada Permaisuri.


"Permaisuri, sudah. Ikhlaskan semuanya" Ucap pelayan Permaisuri.


"Tidak, Hiks" Balas Permaisuri.


Liang maju dan merengkuh tubuh Permaisuri.


"Permaisuri, Ibu Suri akan sedih jika anda begini" Bisik Liang.


"Yang Mulia" Lirih Permaisuri.


Liang menepuk-nepuk bahu Permaisuri dengan lembut. Sebelumnya mereka adalah teman masa kecil sehingga wajar jika Liang bertindak seperti ini.


'Ibu, kami sangat kehilanganmu' Guma Liang dalam hati.


***


Hey, author kembali nih dan tebakkk. Cerita ini hampir tamat ya, dan untuk cerita yang Author janjikan juga masih tahap pengerjaan. Bagi yang belum follow Author di ******* cus Follow dulu.


Salam Cinta

__ADS_1


@RiantiTeti


__ADS_2