
Happy Reading.
***
"Wah-wah ada apa seorang pangeran ke sini?"
Jing memberi salam sebelum menjawab pertanyaan dari seorang wanita di balik tirai bambu itu.
"Salam, kedatangan kami ke sini untuk menanyakan sesuatu" Jelas Jing.
"Apa yang perlu kami jawab?" Tanya perempuan itu.
Kedua pengawal yang dibawa Jing hanya mengepalkan tangannya geram karena sikap kurang ajarnya.
"Tentang masa lalu suku anda" Ucap pangeran Jing.
"Hoho, jika wargaku tau kau mengungkit masa lalu kami mungkin pangeran akan dipenggal mereka" Balas Perempuan itu tertawa kecil.
Memang di ruangan ini hanya ada mereka berempat.
"Kurang ajar" Bentak salah satu pengawal Jing mengeluarkan pedang.
Tak lama terdengar suara tawa yang keras.
"Hahaha, pengawal anda harusnya diajari tatakrama terlebih dahulu" Ucap perempuan itu santai.
"Maafkan pengawalku" Ucap Jing.
"Pangeran" Bisik pengawal tadi.
"Kalian hanya perlu diam" Balas Jing.
"Baik, maafkan saya" Ucap Pengawal itu.
Tak lama sang ketua berdiri dan menggulung tirai pemisah antara ia dan Jing.
Srekk.
Seketika mata ketiga orang itu membulat melihat sang ketua, 'Cantik' itulah gumaan di hati mereka. Bahkan Jing sampai terpana.
"Kenapa? kaget?" Tanya perempuan itu.
Bagaimana tidak sang ketua adalah seorang gadis muda yang seumuran Jia, memiliki rambut putih dan mata hitam. Tentunya sangat cantik bak dewi.
"Perkenalkan Saya May Ling ketua suku di sini dan anda pasti pangeran ke dua Jing Fai" Ucap May.
"Benar aku Jing" Balas Jing.
"Mari ikut saya, kita bicara di tempat lain!" Ajak May berjalan mendahului mereka menuju belakang bangunan.
"Pangeran, anda yakin?" Tanya Pengawalnya.
"Ck, jika kita yang mempercayainya maka kita harus ke mana lagi. Lagipula mungkin saja dia tau Racun Naga" Ucap Jing kesal karena pengawalnya.
Jing sudah tau mengenai Racun Itu jadi ia sangat bertekad untuk membantu Jia sembuh.
__ADS_1
Mereka kini sudah duduk berhadapan di tepi danau yang sangat indah, bahkan Jing kaget saat May mengajaknya ke tempat ini.
"Jadi apa petanyaan Pangeran?" Tanya May sambil memainkan gelasnya.
"Begini, kalian tau kalau ada beberapa orang yang menjadi pembunuh bayaran dan mereka menyerang seseorang?" Tanya Jing.
May tersenyum lembut.
"Biar aku ceritakan. Sejak perjanjian kami dengan Kaisar terdahulu, tepatnya ayahku dan Kaisar. Suku kami sudah tidak bekerja menjafi bandit, pembunuh bayaran ataupun mata-mata. Para warga di sini juga lebih memilih hidup normal dari pada hidup dapan bahaya" Jelas May menarik nafas sebelum melanjutkannya.
"Tapi ada saja orang-orang yang tak puas dengan perjanjian itu, jadi mereka pergi dan membuat kelompok sendiri. Walau yang aku tau kalau mereka lebih lemah daripada generasi terdahulu" Lanjut May.
"Lalu apakah kalian tak berniat membasmi mereka?" Tanya Jing.
"Tidak, lagipula itu bukan urusan kami. Selagi mereka tak mengusik wargaku" Jawab May santai, Jing terlihat mengepalkan tangannya.
"Kau tau apa akibat yang mereka timbulkan" Bentak Jing geram, tapi May masih tenang.
"Pangeran, kami pernah mengusulkan kerja sama dengan Yang Mulia tapi sepertinya surat itu terhambat di kantor Perdana Menteri kalian" Balas May yang membuat Jing tersentak.
"Tapi, kami juga tak lepas tangan begitu saja. Kami tetap punya mata-mata di kelompok mereka" Ucap May.
"Lalu di mana tempat mereka?" Tanya Jing tak sabar.
"Hohoho, anda harus bersabar pangeran. Pertama sebaiknya kalian obati dulu Selir Li baru mengejak mereka. Karena mereka tak akan bertindak jika tak ada permintaan" Tutur May.
"Darimana kau tau?" Tanya Jing.
"Bukankah aku sudah bilang punya mata-mata di sana. Walaupun aku tak tau siapa yang menyewa mereka" Balas May.
May tertawa kecil karena melihat ketidaksabaran Jing.
***
"Kita tak boleh gegabah, pertama harus ada yang menyamar sebagai klien utamakan bangsawan. Lalu temui kakek-kakek tua di pasar ibu kota, dia berjualan manisan" Jelas Jing.
Semua peserta rapat mengangguk paham atas penjelasan Jing. Setelah Jing pulang rapat segera dilakukan, semuanya hadir kecuali Jia tentu saja.
Yang mengetahui Jia sakit hanya Mereka yang di sini, bahkan Liang masih menggunakan Jia palsu di Kediaman Meihua.
"Lalu bagaimana mengenai racunnya?" Tanya Liang.
Jing menampilkan wajah muram.
"Katanya kita harus menemukan penawarnya sendiri dengan meneliti racun itu" Jawab Jing.
Semua orang menampilkan wajah murung atas jawaban itu.
"Yang Mulia izinkan hamba merawat Kakak Li" Ucap Xiao.
Liang menghela nafas.
"Itu boleh saja, tapi jika kau menghilang maka akan menimbulkam kecurigaan" Balas Liang.
Xiao menampilkan raut sedih, tapi Liang juga tak mungkin memberikan izin.
__ADS_1
"Bagini saja, Kedua pengeran akan menangani kelompok itu dan sisanya menangani perdana Menteri" Saran Ibu Suri.
"Bagaimana Nyonya Xi dan Yelan. Kalian siap kan?" Tanya Permaisuri.
"Kami akan siap kapanpun" Jawab Mereka.
"Bagaimana Yang Mulia?" Tanya Ibu Suri.
"Baiklah kita ikuti saran ibu suri" Putus Liang.
"Kakak, kami akan berusaha semaksimal mungkin" Ucap Huan.
"Aku percaya pada kalian" Balas Liang.
Akhirnya rapat dibubarkan, tapi Ibu Suri tetap tinggal.
"Liang, bagaimana keadaan Selir Li?" Tanya Ibu Suri.
Liang menggelang.
"Benar kata Jing kita harus menemukan penawarnya sendiri, jika tidak nyawa Selir Li terancam" Jelas Liang.
"Bisakan aku menemuinya?" Tanya Ibu Suri.
"Tentu"
***
Liang dan Ibu Suri menuju dalam paviliun tempat Jia di rawat, namun saat mereka masuk terlihat Jia yang sedang membaca banyak buku.
"Selir Li kau seharusnya beristirahat" Ucap Ibu Suri melihat Jia.
Jia yang kaget langsung memberi hormat pada Ibu Suri.
"Hormat hamba Ibu Suri" Ucap Jia. Tapi tak lama Ibu Suri Membantu Jia bangun.
"Tak perlu, aku hanya ingin mengobrol denganmu" Ucap Ibu Suri sambil mengkode kepada Liang.
Liang yang mengerti langsung meninggalkan mereka. Lalu Ibu Suri mengajak Jia duduk.
"Ada apa Ibu Suri?" Tanya Jia.
"Soal kematian ibumu" Ucap Ibu Suri yang membuat Jia kaget.
"Aku sungguh tak menyangka kalau adikku sungguh kejam, ia memang licik tapi untuk membunuh ia tak akan tega. Ternyata Perdana Menteri sangat membawa pengaruh buruk" Lanjut Ibu Suri, Jia masih diam.
"Aku sudah berfikir bahkan menyuruh orang untuk menyelidikinya lagi tapi hasil yang ku dapat adikku memang bersalah. Aku juga tau kau sudah berbicara pada adikku"
"Lalu apakah Ibu Suri akan membelanya?" Tanya Jia.
Ibu Suri terdiam dan menghela nafas panjang.
"Aku sangat menyayangi adikku karena ia adikku satu-satunya, hatiku selalu bicara untuk membelanya tapi kejahatannya juga tak bisa dimaafkan begitu saja. Jadi Selir Li ku mohon padamu" Ucap Ibu Suri mengengam tangan Jia.
"Ungkap kejahatannya" Lanjut Ibu Suri dengan mata yakin.
__ADS_1
***