
Happy Reading.
***
"NYONYA" Teriak Yuan dengan terburu-buru.
"Kenapa kau berteriak di pagi hari?" Tegur Jia.
Yuan mengatur nafasnya yang masih memburu.
"Se-selir Feng Bunuh Diri" Lapor Yuan.
Prang
Seketika kaca yang dipegang Jia teejatuh dari tangannya.
"Yang benar?" Tanya Miu seolah tak percaya.
"Aku tadi mendengarnya dan kabar ini juga sudag tersebar luas di Istana" Jelas Yuan.
Tangan Jia gemetaran.
"Padahal baru kemarin ia mempercayaiku" Guma Jia yang masih Syok.
"Nyonya tenangkan dirimu" Ucap Miu sambil mengelus pundak Jia.
Jia memijit keningnya pening.
"Miu bantu aku berganti pakaian" Ucap Jia, Miu dengan sigap langsung memampah Jia. sementara Yuan menuangkan teh.
***
"Anakku Hiks... " Tangis Ibu Jiao Feng sambil memeluk peti anaknya.
"Istriku sudahlah, iklaskan anak kita" Hibur Ayah Jiao yang tak kalah terpukul dengan kematian anaknya.
"Yang Mulia hamba mohon beri keadilan untuk anak hamba" Ucap Nyonya Feng sambil bersujud di depan Liang.
"Nyonya Feng, aku akan pastikan anakmu mendapat keadilan" Ucap Liang.
Ibu Suri dan Permaisuri juga terlihat terpukul dengan kematian Selir Feng, kematian mendadak dengan meninggalkan sebuah pucuk surat yang meminta keadilan.
"Kakak" Bisik Xiao yang berada di sebelah Jia.
Jia yang masih syok hanya bisa berguma.
Xiao berinisiatif untuk memeluk Jia yang masih syok.
"Kakak tenanglah" Ucap Xiao.
Sementara Jia hanya diam di pelukan Xiao, Jia bukan hanua syok karena keadilan bagi Jiao menjadi gagal tapi ia sangat menyayangkan atas kematian Jiao saat ini karena ia belum mendapatkan keadilan yang seharusnya.
Di sisi yang lain baik Selir Meng ataupun Selir Hua sangat terpukul atas kematian teman mereka, apalagi kematian mendadak.
Wajah mereka berdua terlihat sangat lesu dan tak bertenaga. Tapi mereka berdua juga cukup bertanya-tanya keadilan apa yang Jiao inginkan. Sebab masyarakat hanya mengetahui surat Jiao sebagian dan tidak keseluruhan, karena Liang sengaja merahasiakannya sampai waktunya tiba.
Pemakamanpun dilakukan dengan sangat khidmat dan diliputi rasa duka yang mendalam.
***
"Nyonya makan dulu" Rayu Yuan sambil menaruh semangkuk bubur.
"Yuan aku tak berselera" Jawab Jia.
"Nyonya hamba mohon satu suap saja" Ucap Yuan sambil berlutut.
Jia menatap Yuan pelayannya yang sangat mengkhawatirkannya.
__ADS_1
"Baik, satu suap" Ucap Jia.
Dengan engan Jia menyuapkan sesendok bubur ke dalam mulutnya.
"Nyonya ada surat dari Kaisar" Ucap Miu yang baru datang dan menyerahkan sepucuk surat.
Jia lantas membuka surat itu, di dalamnya tertulis mengenai kematian Jiao dan penyelidikan secara rahasia.
"Miu, apa Yang Mulia mengatakan hal lain?" Tanya Jia.
"Yang Mulia hanya mengatakan bahwa hamba harus memastikan anda tetap sehat"
Setelah mendengar jawaban Jia segera bengun dan menuju ranjang.
"Nyonya apa tak ingin berganti pakaian dulu?" Tanya Miu.
Sesudah dari pemakaman Jia bahkan tak berganti pakaian sama sekali, ia hanya duduk diam dengan pendangan kosong.
Tak ia mendengar obrolan seseorang.
"Kakak" Ucap Xiao yang datang melihat keadaan Jia.
"Iya"
"kakak makanlah, aku sudah membawakan sup biji teratai dari kedaimu" Rayu Xiao.
"Dari mana kau mendapatkannya?" Lirih Jia.
"Dariku, adikku" Jawab Liu.
Jia segera bangun dari posisi berbaringnya.
"kakak" Lirih Jia.
"Adikku, kini kau bukan orang yang kakak kenal" Ucap Liu.
"Kakak tau kau sangat terpukul tapi dengan kau seperti ini, kematian Selir Feng akan sia-sia" Lanjut Liu sambil mengelus rambut Jia.
"Dan ia mempercayaimu" Ucap Liu.
Jia dengan spontan memeluk kakaknya, ia tak menangis melainkan hanya meluapkan emosinya lewat pelukan.
Setelah melepaskan pelukan Jia langsung disodori sesendok Sup biju teratai.
"Kau gerak cepat Xiao" Puji Jia.
"Tentu saja" Balas Xiao sombong.
Mereka bertiga akhirnya menghabiskan malam dengan saling bercerita dan menghibur diri.
Sejenak Jia bisa tersenyum kembali.
***
"Kau sudah baikkan?" Tanya Liang.
"Sudah Yang Mulia" Balas Jia.
Kini mereka berdua sedang mengadakan pertemuan dengan para Pangeran.
"Jia jika kau masih tak sanggup, lebih baik istirahat dulu" Ucap Huan yang khawatir melihat wajah Jia yang masih pucat.
"Tak perlu, lagipula aku ingin ini segera selesai" Tolak Jia.
"Nanti jika selesai akan ku traktir kau makan" Ucap Jing mencoba menghibur Jia.
"Akan ku tunggu" Ucap Jia.
__ADS_1
"Kalau soal makanan kau langsung semangat" Cibir Jing.
"Pangeran Jing, jika kau berani mencibir selir kerajaan maka hukumannya dipukul papan 50 kali" Ancam Liang.
"Uh galaknya" Keluh Jing merinding.
Jia tertawa geli melihat interaksi mereka berdua.
"Oke kembali ke masalahnya" Ucap Liang mengakhiri sesi bercanda mereka.
"Dari surat peninggalan Selir Feng dikatakan bahwa ada saksi lain yang lebih penting selain Nyonya Xi" Ucap Liang.
"Apa ada yang lain?" Tanya Huan.
"Benar, dia adalah mantan selir Perdana Menteri" Ucap Liang.
Mereka bertiga tertegun mendengarnya.
"Bukankah dia diasingkan ke pegunungan Timur" Ucap Jing.
"Dia sekarang telah menjadi biksu di sana dan mengabdikan dirinya di kuil naga timur" Jelas Liang sambil sesekali memeriksa surat Peninggalan Jiao.
"Kalau begitu biarkan aku yang menjemputnya" Tawar Huan. Tapi Jing malah memberika pukulan kecil pada tangan Huan.
"kau lupa kalau pria dilarang masuk ke kuil itu" Tungkas Jing.
"Tapi bukankah kita memiliki satu perempuan yang bisa diandalkan" Ucap Huan menatap Jia yang sedang meneliti surat itu.
"Apa?" Tanya Jia curiga.
"Selirku jempulah mantan istri Perdana Menteri!" Pinta Liang.
"Apa harus aku?" Tanya Jia geram, karena ia merasa dimanfaatkan.
"Kau tidak sendiri, pergilan dengan Nyonya Xi" Tambah Liang.
"Ck, baik Yang Mulia" Balas Jia dengan paksa.
Kini gantian Kedua pangeran itu yang tertawa terbahak.
***
"Bibi Xi" Ucap Jia menyadarkan Bibi Xi.
"Ah Nona Jia"
"Bagaimana?" Tanya Jia setelah ia menjelaskan maksudnya.
"..."
"Bibi Xi aku tau kau sangat berduka tapi jika kita ingin memenuhi permintaan kakak Jiao dengan cepat maka kita juga harus bergerak cepat" Jelas Jia.
"Kau benar, sekarang bukan saatnya aku bersedih" Balas Bibi Xi menghapus air matanya.
"Bibi kita berangkat besok dini hari" Ucap Jia.
"Baik, Bibi Akan bersiap"
Setelah itu Jia pamit pergi dari sana, setelah pergi dari hadapan Bibi Xi barulah ekspresi Jia kembali murung.
"Kakak Jiao aku berjanji kau akan mendapat keadilan" Ucap Jia yakin.
***
Sementara itu berita kematian Selir Feng masih menjadi perbincangan hangat warga. Mereka banyak bertanya-tanya tentang surat peninggalan Selir Feng dan juga mereka menebak maksud surat itu.
Perdana Menteri yang belum sadar akan hal itu masih menjalani harinya seperti biasa, alasannya karena ia bahkan tak mengingat wajah anak itu. Yap, Dulu selir Feng tidaklah secantik sekarang, ia dulu sangat berbeda dengan yang sekarang.
__ADS_1
Tapi para masyarakat mulai menyebarkan Rumor tentang skandal yang ada di istana
***