Beautiful Sword

Beautiful Sword
Apakah ini benar?


__ADS_3

Happy Reading.


***


"Nyonya mau yang mana?" Tanya Miu memperlihatkan satu kotak perhiasan.


Jia melihat dengan teliti perhiasan itu.


"Hm, aku ingin yang kuning" Ucap Jia.


Sudah seminggu Jia kembali ke kediamannya dan sudah sebulan juga penggulingan Perdana Menteri.


"Nyonya menurut anda apakah yang akan dilakukan selir Hua?" Tanya Yuan meletakkan nampan di meja.


"Entahlah, sejak kematian Perdana Menteri. Selir Hua terlihat agak mundur" Ucap Jia.


"Lagipula pertikaiannya dengan Selir Ying selesai" Lanjut Jia.


"Hamba juga berfikiran seperti itu, lagipula tak ada alasan lagi Selir Hua bertindak" Tambah Miu.


Kini setidaknya Jia bisa bersantai sejenak di Istana. Ia sangat senang dengan tergulingnya Perdana Menteri karena dengan itu kedua pangeran tidak akan bertikai dengan Kakaknya Liang. Tapi Untuk beberapa minggu kedepan istana akan lebih sepi karena Xiao sudah kembali ke rumahnya.


Kenapa? Tentu janji Liang kalau ia akan mengabulkan peemintaan Jia. Ditambah setelah pesta Minggu depan ia juga akan kembali ke Rumah.


"Nyonya, bisakah anda membawa kami?" Tanya Yuan sedih.


Kedua pelayan Jia juga sudah mengetahui rencananya.


"Tentu kalian akan ku bawa juga. Karena kelian sudah ku anggap keluarga" Jawab Jia dengan tersenyum.


Tanpa Sadar Yuan maju dan memeluk Jia serta Miu. Tapi sedetik kemudian ia baru menyadari sesuatu.


"Ah maafkan s.. "


Tapi perkataan Yuan terpotong saat lengan Jia memeluk mereka berdua.


"Sudah ku katakan kalian keluargaku" Ucap Jia.


"Terima kasih nyonya" Lirih Miu.


"Ya"


***


"Jadi itu rencanamu?" Tanya Liang pada perempuan di depannya.


"Benar, Yang Mulia" Jawab Jia sambil menikmati harumnya teh yang masih panas.


Liang terlihat murung dengan jawaban Jia tapi mau bagaimana lagi ia juga tak bisa terus egois.


"Lalu bagaimana dengan penyelidikan keluarga Hua?" Tanya Jia.


"Jing dan Huan sudah hampir menyelesaikannya dan kita tinggal mengeksekusinya saja" Jelas Liang.


Jia memandang ke Luar jendela kediaman Liang, malam itu bulan bersinar terang.


"Lalu bagaimana rencanamu selanjutnya?" Tanya Liang.


"Hamba akan kembali hidup seperti semula, menjaga Restoran dan beberapa bisnis lain" Jawab Jia.


"Kau berencana menikah lagi?"


Pertanyaan Liang sontak membuat Jia memuncratkan teh yang ada di dalam mulutnya.

__ADS_1


"Uhuk, anda bercanda?" Balas Jia sambil terbatuk.


Liang yang merasa bersalah menyodorkan gelas berisi air putih.


"Aku hanya bertanya" Ucap Liang.


Jia terdiam sejenak sambil meneguk air itu.


"Hamba tak ada niatan lagi untuk menjalin hubungan, lagipula hamba memiliki seorang kakak yang harus hamba jaga" Jelas Jia.


Liang tak menjawab tapi ia berdiri dan berjalan ke arah Jia. Jia menatap Liang dengan pandangan bingung.


"Ada apa Yang Mulia?" Tanya Jia heran.


"Bisakah kau tetap tinggal di sini?" Tanya Liang dengan muka serius.


Jia menghela nafas di sana.


"Hamba sudah pernah bilang kalau hamba tak ingin lagi berurusan dengan istana. Karena itu terlalu merepotkan" Jelas Jia.


"Lalu bagaimana jika istana ku buat aman untukmu?" Tanya Liang.


Akhirnya Jia berdiri dan dengan berani mengelus pipi Liang.


"Maafkan hamba karena tak bisa menuruti keinginan Yang Mulia" Jawab Jia menatap ke dalam mata Liang.


Tangan Liang mengelus tangan Jia yang berada di Pipinya.


"Istana akan berbeda tanpamu" Ucap Liang parau.


"Anda bisa mengunjungi hamba atau hamba yang akan mengunjungi Yang Mulia" Jelas Jia.


"Walau hamba di luar Istana tapi hamba akan selalu ada untuk sekedar saran atau pendapat" Lanjut Jia.


"Kau harus berjanji untuk tidak melupakanku" Ucap Liang.


"Hamba Janji" Balas Jia.


Tapi tiba-tiba suatu ide terlintas di benak Jia.


"Yang Mulia apa anda jatuh cinta pada hamba?" Goda Jia.


Liang dengan cepat menjauhi Jia dan membalikkan badannya guna menyembunyikan wajah merahnya.


"Apa maksudmu?" Tanya Liang tajam.


Jia menyeringai.


"Tapi benarkan?" Tanya Jia lagi.


Liang berlajan menjauh dari sana dan menuju Paviliunnya tapi Jia terus mengikuti Liang dari belakang guna menggodanya.


***


Akhinya pesta di gelar, ini pesta jamuan untuk para Sarjana Baru dan tentu baik keluarga kerajaan, selir sampau Menteri akan hadir.


Dan ini juga malam terakhir Jia ada di istana. Tentunya hal itu membuat beberapa orang berwajah murung.


"Jia kau akan pergi?" Tanya Jing.


"Bukankah tidak ada bedanta aku tetap di sini atau di luar" Balas Jia malas karena sedari tadi Jing terua menanyakan itu padahal pria itu bisa mengunjunginya bahkan ke rumahnya.


"Hehehe, soalnya aku bertanya untuk mewakili seseorang" Ucap Jing sambil menatap Liang yang duduk di singgasananya.

__ADS_1


Karena kursi mereka berdua berdekatan jadi Jing bisa dengan leluasa mengobrol dengan Jia.


"Ekhem" Tegur Huan di sebelah Jing.


"Apa kau tak menyadari ada yang menatpmu tajam sedari tadi?" Tanya Huan.


"Kalau itu aku sudah tau" Balas Jing tertawa.


Sementara Liang yang menatap tajam Jing tentunya semakin menatap tajam adiknya itu.


"Yang Mulia Ekspresi anda" Tegur Ibu Suri.


"Ah maafkan saya Ibu Suri" Balas Liang.


Ibu Suri hanya bisa menggelangkan kepalanya karena kelakuan Liang. Terdengar juga Permaisuri yang sedikit terkekeh di sana.


Tak lama acara dimulai dengan penyambutan para Sarjana, lalu perjamuan di mulai sembari ditemani para penari di sana.


Tapi Jia terus memperhatikan keadaan sekitar, ia ingin merekam itu dan menyimpannya dalam memori.


Tapi saat matanya melihat ke arah Selir Ying dan Hua ia malah mendapatkan tatapan tajam di sana. Sekilas Jia mengingat seminggu terakhir ia beberapa kali dipanggik Liang untuk melayaninya, tapi padahal mereka berdiskusi mengenai banyak hal.


Tentunya diskusi itu melibatkan kedua pangeran. Tapi hak tersebut malah diartikan dengan hal lain.


Mata Jia berpindah ke arah Selir Meng yang selalu murung, Jia tau ia korban ke dua orang tuanya tapi ia juga tak berhak ikut campur ke dalam urusannya. Tapi Jia rasa ia akan meminta Liang untuk memperlakukan baik Selir Meng.


Malam itu mereka semua berbahagia dengan perjamuan itu. Jia bahkan tertawa beberapa kali.


Tapi saat mata Jia kembali melirik ke arah Selir Hua, ia mendapati Selir Hua seperti melakukan sesuatu dengan ilmunya dan tatapan mata Selir Hua ke arah Liang.


Jia segera mengirim sinyal kepada beberapa orang di sana tapi tetap saja tak ada yang menyadarinya.


Saat Selir Hua berdiri itu sontak membuat Jia semakin panik, tak disadari ia teringat kembali perkataan Kepala Kuil dulu.


"Korbankan sesuatu"


Jia tambah panik saat Selir Hua menarik melati di kakinya dan berjalan ke arah Liang. Semua orang telah disihir agar tidak menyadari kelakuan Selir Hua. Tapi entah kenapa hanya ia yang menyadarinya.


Saat Selir Hua semakin mendekat sontak Jia mengambil pedang Jing dan berlari ke arah Selir Hua.


'Ya, ini takdirnya' Guma Jia dalam hati.


Crattt.


"Kyaaaa"


Darah dan Teriakan menghiasi malam itu.


***


Pengumuman:


Cerita ini tidak akan Author lanjutkan, maaf.


Tapi boong.


wkwkwk, tenang akan author tamatin dan satu lagi Author gak suka akhir yang tragis. Jadi Mungkin cerita ini akan Happy Ending tapi dengan cara Author.


Oh ya untuk mendukung Author jangan lupa pencet tombol jempol dan komentar juga biar Athor tambah semangat.


Dan kedepannya Author mungkin akan sering Update karena noveltoon lagi bagi-bagi THR dan itu lumayan buat beli pulsa Author, hehehe.


Terima kasih.

__ADS_1


__ADS_2