Beautiful Sword

Beautiful Sword
Sebuah Syarat


__ADS_3

Happy Reading.


***


Liang meneguk ludahnya susah payah, kini dihadapannya duduk seorang wanita tua yang sedang menatapnya intens.


Dihadapan wanita ini karisma sebagai seorang kaisar runtuh begitu saja, baru kali ini ia merasakan sangat tertekan.


"Kau meminta bantuanku tapi kau sendiri membahayakan dua cucuku?" Ucap Tajam Nenek Hong.


"Iya, karena sekarang kerajaan membutuhkan bantuan keluarga Li" Jawab Liang.


"Aku bukan keluarga Li" Bantah Nenek Hong.


"Kalau begitu saya juga sangat membutuhkan bantuan keluarga Hong" Tambah Liang.


"Apa yang ku dapat?" Tanya Nenek Hong.


Jujur Cheng yang sedari tadi menguping pembicaraanpun ikut tertekan saat mendengar nada bicara Nenek Hong yang selalu tajam.


"Saya memang bukan Kaisar yang baik tap-"


"Kau memang bukan kaisar baik" Potong Nenek Hong.


'Jia di mana kau sekarang' Guma Liang dalam hati yang beeharap Jia segera menolongnya.


"Aku-"


"Nenek, sudah ku bilang jangan memperlakukan Yang Mulia begitu" Potong Jia yang akhirnya datang membuat kedua pria itu menghembuskan nafas lega.


"Cucuku, Nenek hanya berusaha membantumu lepas dari cengkerama Kaisar bodoh ini" Ucap Nenek Hong.


Jia menepuk jidatnya, 'Kaisar Bodoh'. Andai Nenek Hong tau sekejam apa pria di depannya.


Jia segera menghampiri mereka dan duduk di tengah-tengah Nenek Hong dan Liang.


"Nenek, aku menjadi selir hanya untuk membantu Kakak Liu dan sebentar lagi juga aku akan segera lepas" Jelas Jia.


"Nenek tau, tapi kehidupan di istana itu sangat mengerikan" Balas Nenek Hong.


"Anda tenang saja saya akan pastikan keselamatan Jia" Ucap Liang.


"Diam kau anak muda" Bentak Nenek Hong.

__ADS_1


Jia menghela nafas lelah, ia segera mengengam tangan keriput Neneknya.


"Nenek, percayalah padaku! aku bisa melindungi diriku sendiri" Yakin Jia.


"Nenek tidak mau lagi kehilangan siapapun, cukup ibumu yang terbunuh" Risaunya


Liang dan Cheng terbelak mendengar sebuah fakta, yang semua orang tau Nyonya Li meninggal saat melahirkan Jia.


Nenek Hong segera menghela nafas.


"Baik, bocah aku akan membantumu membuat Kain Sutra langit. Tapi syaratnya kau harus mengungkap kematian Putriku!"


"Boleh saya tau! Kenapa anda baru akan mengungkapnya sekarang?" Tanya Liang bingung.


"Masalah ini lebih rumit dari masalahmu kali ini. Ada banyak orang yang terlibat dan dulu kami belum punya hubungan kuat dengan istana" Jelas Nenek Hong, perkataannya sesuai fakta. Walau dulu ayah Jia seorang Jendral tapi kekuatan politik keluarga mereka terlalu lemah saat itu.


"Baik, saya akan terima syaratnya dan akan segera menyelidikinya" Seru Liang, Nenek Hong menganguk dan ia segera menyerahkan sebuah buku yang berisi penyelidikan keluarga Hong dan Li.


***


"Aku tak pernah tau ibumu terbunuh" Ucap Liang.


Jia yang duduk dihadapan Liang segera meletakan beberapa benang sulam, walau ia benci menyulam dan bahkan tidak bisa. Tapi Jia harus melakukannya sebagai alasan ia keluar istana untuk belajar menyulam.


"Anda tidak tau saja, waktu itu ayah hamba tak diperdulikan istana walau ia jendral. Tapi semenjak ia membawa kemenangan dan anda naik tahta barulah ayah hamba dihormati" Jelas Jia sedih saat mengingat hal itu.


Liang diam sebagai balasannya, ia kini mengerti kenapa ia naik tahta di usia belasan tahun. Karena ayahnya, kaisar terdahulu ingin ia berbuat sesuatu untuk penjabat militer.


"Aku sudah kirim perintah untuk penyelidikan ulang dan pengumpulan bukti yang kuat"


"Hamba sangat berterima kasih untuk itu" Balas Jia.


"Tapi aku juga tak menyangka bahwa selir ayahku dulu terlibat dan bahkan bermain serong dengan Perdana Menteri" Ucap Liang.


"Yang Mulia andai anda tau, dibalik pangkatnya yang tinggi perdana Menteri adalah seorang pria yang suka mencoba kehangatan tubuh wanita berbeda setiap harinya" Ungkap Jia.


Liang berdecih jijik.


"Kalau itu aku tau, itulah sebabnya aku akan mempercepat penyelidikan agar perdana Menteri segera digulingkan"


"Tapi bukankah anda punya rencana lain untuk menggulingkan perdana menteri?" Tanya Jia bingung dengan perubahan rencana.


"Aku berubah fikiran setelah melihat kasus ibumu dan juga rakyat tidak bisa menunggu lagi" Jelas Liang.

__ADS_1


Kematian ibu Jia adalah kelakuan perdana menteri dan seorang selir kaisar terdahulu, sebulan sebelum Jia lahir, ibunya memergoki Perdana Menteri dan selir itu tengah memadu kasih, naas saat hendak pergi ibunya menjatuhkan giok yang hanya dimilikinya seorang dan segera mereka mengetahui bahwa ibunya seorang saksi mata perselingkuhan itu.


Perdana Menteri membayar orang untuk membunuh ibunya dan memanipulasi seolah ibunya meninggal karena melahirkan. Sebenarnya rencana itu sempurna, tapi paman Hong termasuk seorang yang cerdas makanya ia segera mengetahui pembunuhan itu.


Dan kalian tau siapa orang yang membunuh Ibunya? Orang itu adalah adik Ibu suri dan Paman Liang yang kini ia menjabat sebagai Hakim di pengadilan. Yap walau ia sudah beetobat tapi kesalahan tetaplah harus ditebus dan disinilah masalahnya bagaimana mereka bisa mengungkap ini sementara Pembunuh seorang hakim dan sangat didukung oleh rakyat.


***


Kini hari sudah sore, Nenek Hong masih mengerjakan pembuatan Kain Sutra Langit dibantu Paman Hong.


"Yang Mulia, di sini jarang orang memiliki hewan ternak jadi hamba harap Yang Mulia tak masalah hanya memakan sayuran" Ucap Jia.


"Tidak masalah bagiku" Balas Liang.


Jia tersenyum sebagai balasan. Mereka berdua kini sedang beristirahat setelah sebelumnya mengumpulkan bahan Kain Sutra Langit dan seperti yang dikatakan Jia bahwa desa ini jarang memiliki hewan ternak jadi mereka hanya makan sayuran.


"Aku mengerti dengan keadaan desa ini, walau desa ini cukup banyak penduduk tapi mengingat desa ini berada di atas bukit dan sangat besar kemungkinan hewan ternak bisa kabur" Ucap Liang sambil memasukan makan ke dalam mulut.


"Begitulah, dulu Paman Hong pernah memiliki seekor sapi. Tapi kemudian entah kenapa pagi harinya sapi itu hilang dan kandangpun sudah di rusak" Jelas Jia.


"Kalian tak curiga ada pencuri?"


"Tidak, karena pernah seorang warga melihat sendiri bahwa hewan ternak berusaha kabur dengan merusak kandang" Jelas Jia.


"Ku rasa karena di sini dikelilingi hutan dan insting ingin bebas hewan menjadi semakin besar" Ucap Liang.


Jia mengangguk sebagai jawaban dan mereka segera menyelesaikan makan untuk segera tidur. Dikerenakan besok dini hari mereka harus kembali ke Ibukota.


***


Jia berbaring nyaman di atas ranjang dan di sebelahnya Liang ikut berbaring, sebenarnya Liang sangat menahan diri untuk tidak menerkam Jia.


Walau mereka pernah tidur seranjang tapi Liang tetaplah Pria Normal yang akan bergairah kepada seorang wanita, Liang juga tak bisa minta kamar lain karena mengingat ini bukan istana yang memiliki banyak kamar.


"Yang Mulia apa hamba harus tidur di tempat lain?" Tanya Jia yang menyadari keadaan Liang.


"Tidak usah, kau di sini saja" Balas Liang sok kuat.


"Hamba tau Yang Mulia sedang menahan diri dan hamba juga tak bisa membantu" Ucap Jia.


Tapi Liang tetap kekeuh sok kuat, Akhirnya Jia bangun dan berjalan menuju lemari. Ia mengambil sesuatu dan menyerahkannya kepada Liang


"Yang Mulia minumlah ini! Ini akan membantu anda" Ucap Jia. Liang yang sudah tak tahan segera mengambil botol yang berisi herbal dan meneguknya dengan sekali teguk.

__ADS_1


Sementara Jia menyeringai misterius.


***


__ADS_2