
Happy Reading.
***
"Jika benar Selir Feng punya masalah dengan Perdana Menteri maka itu artinya lawan kita bertambah satu karena Selir Feng juga melindungi Keluarga Hua" Ucap Liang.
Ke lima orang yang berada di ruangan rahasia itu mengangguk setuju.
"Dari penyelidikan orangku, bahwa beberapa pelayan Selir Feng pernah mendengar Selir Feng mengingau 'Akan Ku bunuh kau'" Tambah Permaisuri.
"Selir Li lalu bagaimana penyelidikanmu?" Tanya Liang
"Xang'er juga tidak sedekat itu dengan Selir Feng tapi menurutnya desas-desus luka di perut Selir Feng benar" Jawab Jia.
"Ibu Suri bagaimana menurutmu?" Tanya Permaisuri.
"Aku tak yakin kita bisa menyelesaikan ini cepat, tapi ku rasa kita harus merubah rencana yang ada" Jawab Ibu Suri.
"Bagaimana dengan memanfaatkan Selir Ying" Saran Pangeran Huan.
"Kita tau kalau Selir Ying adalah orang yang mudah cemburu dan kita bisa mengalihkan perhatian Selir Hua ke dia" Jelas Pangeran Huan.
"Itu berarti menumbalkan Selir Ying" Tebak Pangeran Jing.
"Usulmu memang tidak buruk, tapi jika Selir Hua dan Selir Feng sudah beraliansi maka itu bukan hanya bisa mengalihkan selir Hua tapi juga Selir Feng" Tutur Liang.
"Bagaimana dengan memisahkan mereka dulu" Usul Jia.
Semua orang menatap Jia dengan pandangan bingung.
"Begini, aku bisa merasakan bahwa dendam selir Feng sangatlah besar dan kita bisa buat Perdana Menteri seperti sasaran empuknya, sementara Selir Hua teralihkan perhatiannya ke Selir Ying" Jelas Jia.
"Lalu keluarga Hua?" Tanya Ibu Suri.
"Jika melihat fakta bahwa Selir Hua adalah anak kesayangan dan juga masalah Selir Hua dan Selir Meng itu adalah masalah ringan, maka kemungkinan keluarga Hua juga akan mendukung Anak mereka. Jangan Lupakan Kalau Selir Hua juga mudah terpancing" Jawab Jia yakin.
"Penjelasan Selir Jia benar, Menjadikan Perdana Menteri sasaran empuk itu membuat Selir Feng tak sabar dan jika ia melihat Selir Hua sudah teralihkan maka ia akan bertindak sendiri" Ucap Pangeran Jing.
"Selir Jia kau pernah bilang kalo Xiao memberi sebuah obat saat Perdana Menteri sakit?" Tanya Permaisuri.
"Benar, dan obat itu hanya mampu bertahan dalam beberapa hari dan mungkin Lusa efek obat itu akan hilang" Jelas Jia.
"Nah, kini kita bisa melihat sebuah kesempatan" Ucap Pangeran Huan.
"Kalau begitu kita akan bagi tugas" Putus Liang.
***
"Kakak apakah yang aku dengar itu sungguhan?" Tanya Xiao kepada Jia yang duduk dihadapannya.
"Iya" Jawabnya singkat tanpa mengalihkan pandangan dari luar jendela.
"Kakak pasti sangat kecewa" Tutur Xiao sedih, Jia menghela nafas lelah.
__ADS_1
"Mau bagaimana, fakta dari Selir Feng juga bukanlah sesuatu yang bisa dipandang sebelah mata" Ucap Jia.
"Lalu kenapa tidak biarkan Selir Feng dan Selir Hua menumbangkan Perdana Menteri?" Tanya Xiao yang sebenarnya masih bingung dengan perubahan rencana.
Alasan Xiao tidak mengikuti rapat, karena ia diberi tugas memata-matai kakaknya.
"Jika itu terjadi, bisa dibayangkan kekacauan apa yang akan terjadi dan lagi pula jika Selir Hua benar-benar teralihkan ada kemungkinan Selir Feng tak menyerang langsung Perdana Menteri walau perdana Menteri menjadi sasaran empuknya karena ia juga butuh bantuan"
"Berarti Selir Meng?" Tanya Xiao.
"Kemungkinan Ya atau jika Selir Feng sangat besar dendamnya maka ia akan menyerang langsung. Yang Mulia juga sudah memikirkan dan menyiapkan segala kemungkinan" Bapas Jia.
"Jika begitu lalu kenapa kakak masih murung?" Tanya Xiao.
Jia lagi-lagi menghela nafas gusar.
"Aku merasa bersalah pada nenekku" Jawab Jia.
Xiao kini tak membalas perkataan Jia, ia juga mengerti betapa bersalahnya Jia pada neneknya.
"Nyonya ada surat" Ucap Miu sambil menyerahkan sebuah surat kepada Jia.
Jia menerimanya dan membacanya.
"Dari siapa kak?" Tanya Xiao penasaran.
"Yang Mulia, ia minta bertemu" Jawab Jia.
"Kenapa kau tersenyum seperti orang gila?" Tanya Jia.
"Hihihi, soalnya akan ada pasangan yang memadu kasih malam ini" kekeh Xiao.
Pipi Jia bersemu merah.
"Jangan ngawur, kami tuh rekan bisnis" Tungkas Jia.
Tapi sepertinya Xiao tak menghiraukan jawaban Jia dan ia tetap menggodanya.
***
"Sepertinya kau tak senang?" Tebak Liang.
"Entahlah" Jawab Jia.
Kini mereka berdua sedang menikmati malam di danau paviliun rahasia Liang.
"Kau kecewa Kain buatan nenekmu tak terpakai?" Tebak Liang lagi.
Jia menatap Liang dengan tatapan datar.
"Mungkin juga, Tapi jujur hamba merasa kesepakatan kita tidak akan ada habisnya" Jawab Jia jujur.
"Maksudmu dengan bertambahnya selir Feng" Balas Liang, Jia mengangguk.
__ADS_1
"Tenang saja aku bukan Kaisar yang pelit. Kau bisa meminta imbalanmu lebih" Lanjut Liang sambil menyesap teh hangat.
Jia merapatkan mantel yang ia pakai, sebenarnya ia sangat malas membahas yang ia rasakan sekarang.
"Kalau begitu, jika kesepakatan kita selesai tolong lepaskan juga Xiao Ying" Tutur Jia
"Hoho, kenapa kau sangat suka mengusir selirku" Kekeh Liang.
Tapi Jia diam tak membalasnya, matanya menatap kosong air danau yang memantulkan cahaya bulan.
Perlahan tangan Liang meraih dagu Jia, ia menatap ke arah bola mata hitam itu yang kini tak memancarkan semangat seperti biasanya.
"Jia, aku lebih suka kau marah-marah dari pada hanya membisu" Ucap Liang dengan memanggil nama Jia.
Tapi tetap Jia membisu. Posisi duduk yang bersebelahan membuat Liang bisa meraih tubuh Jia.
Tangan Liang kini berada di pinggang Jia sementara yang sebelah lagi tetap memegang dagu Jia.
"Baik, besok kita mulai rencananya agar kau cepat bebas" Putus Liang.
"Jadi, sekarang keluarkan lagi semangatmu itu" Lanjutnya.
Jia meraih tubuh Liang dengan tangannya perlahan ia membenamkan wajahnya di dada Liang dan Liang menyambut pelukan itu, ia tau ini sangat lancang tapi ia membutuhkannya. Entah kenapa hari perasaannya begitu campur aduk, antara kecewa, kesal, marah, sedih.
"Terima Kasih" Ucap Jia.
Malam itu meraka habiskan dengan saling berbagi kehangatan, saling menguatkan, dan saling meluapkan emosi.
Walau luapan itu lewat keheningan tapi bagi siapapun yang melihat mereka akan tau bahwa perasaan mereka terhubung.
Dan walau salah satunya tidak sepenuhnya tulus.
***
"Apa?" Teriak marah Fung Ying.
Ia memijit keningnya pening, ini sudah hampir sebulan Selir Hua dipanggil untuk melayani kaisar.
"Sepertinya ada yang terjadi saat Selir Hua jatuh sakit" Guma Fung gelisah.
Karena yang ia dengar kalo Selir Hua diracuni oleh pelayan yang punya dendam dengannya, Fung tidak heran sih apalagi ia tau tabiat selir Hua.
"Kakak, menurutku mungkin Selir Hua menggunakan kesempatan saat ia sakit untuk menggoda Yang Mulia apalagi di sana ada Keluarga Hua" Tutur Xiao, kini ia dapat bagian kompor kepada kakaknya.
"Aku juga curiga ke sana, tapi jika benar. Ini tidak bisa dibiarkan, bagaimana jika Selir Hua hamil" Risau Fung.
Xiao menatap Kakaknya yang sedang gelisah itu.
"Bagaimana dengan pukul balik" Saran Xiao.
Fung menatap adiknya seksama, ia berpikir ada benarnya juga. Selagi Selir Hua belum hamil, ia masih punya kesempatan untuk memukulnya.
***
__ADS_1