Beautiful Sword

Beautiful Sword
Perencanaan


__ADS_3

Happy Reading.


***


Liang memijit keningnya pening.


Setelah masalah dengan Perdana Menteri selesai kini timbul masalah baru, Ilmu Hitam. Sesuatu yang bahkan tak terpikirkan.


Kejadian tadi siang Cukup memberikan peringatan yang begitu tegas, apalagi saat ia mendapat laporan bahwa bukan hanya Selir Hua yang mempelajari Ilmu Itu.


Ck, rasanya kepala Liang sudah mau pecah saja.


"Kakak, tidak ada riwayat kerajaan kita melawan Ilmu Hitam. Kebanyakan pemberontakan" Ucap Pangeran Huan, yap kedua pangeran dipanggil untuk mencari solusi masalah ini.


"Itu artinya kita bahkan belum tau cara menghadapinya" Balas Pangeran Huan.


"Huft, bahkan Ibu Suri juga tidak punya solusi" Ungkap Liang.


"Apakah kita bakar saja keluarga Hua?" Saran Jing.


Huan langsung melempar sebuah gulungan ke arah Jing, dan tepat mengenai kepala adiknya.


"Hei" Pekik Jing.


"Jangan gila" Balas Huan.


"Memang itu satu-satunya cara. Tapi terlalu gila, apalagi ilmu hitam sulit dicari buktinya" Ucap Liang.


Tak lama seorang wanita masuk ke dalam ruangan Liang dengan membawa beberapa catatan.


"Yang Mulia hamba menemukan beberapa catatan mengenai ilmu Hitam" Ucap Jia.


Liang, Huan dan Jing langsung antusias mendengar kelanjutannya.


"Tapi catatan ini sudah berusia 50 tahun dan Hamba tak tau apa masih berguna" Ungkap Jia, ia sempat kembali ke rumahnya dan mencari catatan yang ditinggalkan leluhurnya. Maklum saja hampir semua leluhur Jia adalah orang yang suka bertualang.


"Memang benar Ilmu hitam sulit dideteksi tapi ilmu hitam selalu meminta imbalan bagi siapa saja yang mempelajarinya. Mungkin untuk sekarang belum terlihat dampaknya, tapi lama kelamaan dampaknya akan kita lihat" Jelas Jia.


"Hmm, itu berarti kita harus menunggu korban selanjutnya?" Tanya Huan.


Jia meletakan beberapa catatan di bawah dia duduk dan mencari sesuatu.


"Dikatakan kita mungkin bisa mengungkap dengan cepat asal kita punya Kain sutra langit" Ucap Jia.


"Sutra Langit?" Tanya Jing.


"Aku pernah mendengar soal kain itu, tapi pengrajin kain itu sudah punah saat Bencana ombak di selatan terjadi 30 Tahun lalu" Jelas Pangeran Hua.


"Apakah kita bisa membuatnya?" Tanya Liang.


Jia terdiam dan menunduk, Liang menyeritkan kening bingung.


"Jia!" Panggil Huan.


"Sebenarnya, hamba tau keturunan yang masih hidup tapi hamba tidak tau apakah ia mau menolong" Ucap Jia.


Ketiga pria itu terbelak kaget mendengar penjelasan Jia.


Jia mengigit bibirnya dan mengangkat kepalanya menatap ketiga orang itu.

__ADS_1


"Dia Nenek hamba"


***


Jia kini melamun menatap kolam ikan di depannya, pikirannya berkelana ke kejadian kemarin saat ia menceritakan asal usul keluarga ibunya.


Yap Neneknya adalah dari klan pengrajin Itu, tapu setelah bencana 30 tahun lalu klan pengrajin dikatakan punah, tapi orang-orang tidak ada yang tahu bahwa masih ada yang selamat.


Dan kenapa ia bilang neneknya tidak tentu mau membantu karena ada sebuah dendam yang terbenam.


Sebenarnya setelah bencana itu, beberapa orang selamat tapi bantuan tak kunjung datang sehingga mereka yang selamat mati kelaparan dan hanya menyisakan Nenek yang waktu itu beruntung ditolong oleh seorang pria baik.


Kerena kejadian itu Neneknya membenci orang-orang pemerintahan, bahkan saat ibunya hendak menikah dengan ayahnya sangat sulit. Tapi walau begitu hubungan Jia dengan sang nenek sangat Baik.


"Nyonya"


"Ah, ya Miu?"


Miu menggelangkan kepalanya heran.


"Nyonya, hamba sudah memanggil anda beberapa kali" Keluh Miu.


"Ah, maaf aku melamun" Balas Jia.


"Nyonya anda masih kepikiran permintaan Yang Mulia?" Tebak Yuan.


"Kau benar".


"Nyonya mengapa anda tak mencobanya saja?" Saran Yuan.


"Sayangnya tidak semudah itu. Jika aku menemuinya otomatis ia akan bertanya mengapa aku sampai berhubungan dengan kerajaan. Bisa ditebak, mungkin nenekku akan langsung pingsan di tempat" Jelas Jia.


Neneknya tinggal di perbukitan daerah Selatan dan lumayan jauh dari keramaian, sehingga beliau tidak tau bahwa ia dan kakaknya menjadi selir.


"Tidak apa-apa, bahkan kaisar sampai kerepotan kerena masalah ini" Balas Jia.


"Nyonya, apakah kita bisa memanfaatkan gosip yang beredar untuk membatasi pergerakan Selir Hua?" Bisik Yuan, yang masih terdengar oleh Miu dan Jia.


"Maksudmu seperti rencana 'anak perempuan itu'(Kasus Fung)?" Balas Jia.


"Betul, kita bisa menyebarkan gosip bahwa Kematian Rui ada hubungannya dengan selir Hua karena kerengangan hubungannya dengan Selir Meng" Jelas Yuan.


Jia dan Miu mengangguk-anggukan kepalanya.


"Menurut hamba untuk sekarang itu bukan ide buruk" Tambah Miu.


"Aku juga berfikiran begitu, setidaknya kita punya waktu lebih lama untuk berfikir" Balas Jia.


"Huft aku lapar, Miu, Yuan bantu aku masak" Lanjut Jia, ia bangun sambik meregangkan badannya.


"Nyonya biar saya saja" Ucap Yuan sambil mengejar Jia menuju Dapur.


Miu hanya bisa tersenyum melihat mereka berdua, ia kadang mengingat pertemuan pertamanya dengan Jia.


Keluarga Li dulu yang membelinya dari perdagangan budak 3 Tahun yang lalu, ia dirawat dengan baik bersama Mei. Bahkan Jendral Li melatihnya seni bela diri.


Kini Miu ingin membalas itu semua dengan mengabdi kepada keluarga Li.


***

__ADS_1


"A-ayah" Lirih Selir Meng dengan bergetar.


"Anakku kini apa yang kau lakukan lagi?" Tanya Perdana Menteri.


"Aku tidak tau, tiba-tiba Rui kejang-kejang lalu meninggal" Ucap Selir Meng.


Lagi-lagi Perdana Menteri memijat keningnya pening, setelah ia kehilangan kekuasan dalam monopoli perdagangan lalu masalah baru datang.


"kau tau sangat sulit mencari orang sepeeti Rui lagi" Ucap Perdana Menteri.


Selir Meng mengigit bibirnya sebelum berucap sesuatu.


"Ku rasa ini perbuatan Fung Ying" Ungkap Selir Meng.


"Tidak, kau tau ia cukup pintar dengan tidak melibatkan dirinya pada masalah untuk sekarang ini. Bukankah kau melempar kesalahanmu pada Selir Hua?"


Lian Meng terbelak mendengar ucapan Ayahnya.


"Maksud Ayah?"


"Huft, ini perbuatan Selir Ying. Tapi kita tidak tau apa yang lakukan pada Rui. Ayah akan segera mencari tau" Ucap Perdana Menteri.


"Dan untuk sekarang Jangan buat masalah" Tegasnya lagi.


"Baik Ayah"


Lian menatap kepergian ayahnya melalui pintu belakang, malam ini ayahnya sengaja menemuinya secara diam-diam untuk menanyakan soal Rui. Rahang Lian mengeras saat mendengar ini perbuatan Meilan Hua, ck padahal ia sudah berusaha baik kepadanya.


"Kini aku hanya punya Jiao Feng" Guma Lian.


***


"Nyonya, Nyonya!" Panggil Miu sambil mengoyangkan tubuh Jia pelan.


"Hmmm" Rancau Jia.


"Yang Mulia ada di sini"


Dengan spontan Jia langsung membuka matanya kaget, ia menoleh ke arah jendela yang menunjukan bahwa hari masih gelap gulita.


"Ada apa?" Tanya Jia pada Miu yang masih mengenakan pakaian tidur.


"Hamba Tidak tau, Nyonya sebaiknya segera menemui beliau" Ucap Miu.


Dengan Malas Jia bangun dan berjalan menuju ruang tamu. Liang terbelak saat melihat keadaan Jia yang acak-acakan.


"Ekhem, sebaiknya kau berkaca dulu" Ucap Liang.


"Tak perlu, katakan saja Langsung keperluan anda!" Ucao Jia sambil duduk di hadapan Liang.


"Ayo kita temui Nenekmu"


***


Bersambung ya,


Maaf Author udah lama Gak Update, banyak hal yang author harus urus jadi kurang sempat lanjut lagi.


Tapi terima kasih yang sudah menunggu.

__ADS_1


Salam Cinta


RiantiTeti


__ADS_2