Beautiful Sword

Beautiful Sword
Menjemput Saksi I


__ADS_3

Happy Reading.


***


Kretak Kretak


Bunyi ranting pohon yang berbunyi saat roda kereta melewatinya.


"Bibi Xi apa anda merasa takut?" Tanya Jia sambil terus memacu dua kuda yang menarik kereta mereka.


"Aku sudah terbiasa dengan suasana ini" Jawab Bibi Xi di dalam kereta.


Kini mereka berdua tengah menuju Timur untuk menjemput mantan Selir Perdana Menteri.


Ya, hanya berdua. Karena jika terlalu banyak itu malah akan menambah kecurigaan, bahkan saat Jia pergi Liang sudah menyiapkan Jia palsu di Harem.


Mereka menyamar sebagai pedagang dengan membawa beberapa rempah dan sebuah giok yang menandakan bahwa mereka adalah pedagang resmi.


"Bibi Xi kita mulai memasuki perbatasan" Ucap Jia saat melihat gerbang di depannya dan beberapa prajurit berjaga.


Bibi Xi langsung merapihkan penyamarannya.


"Silahkan menunjukan izin melewati perbatasan Nona!" Ucap Prajurit itu.


Jia segera mengeluarkan gioknya, prajurit itu mengangguk.


"Apa yang anda bawa?" Tanyanya.


"Ini hanya rempah yang baru datang dan kami ingin segera menjualnya di daerah timur" Jelas Jia, satu prajurit memeriksa peti yang beeisi rempah itu.


"Lalu siapa perempuan yang bersamamu?" Tanya curiganya.


"Ah, itu ibu saya" Jawab Jia mantap.


Prajurit yang tadi memeriksa kereta memberikan anggukan dan pintu segera di buka.


"Silahkan lewat Nona" Ucap prajurit yang tadi menanyai Jia.


"Terima kasih"


Jia segera memacu kedua kudanya melewati gerbang itu. Beruntung mereka sudah sempat berkomunikasi dengan penguasa di sini yang tak lain adalah Ayah Jiao Feng agar pintu dibuka untuk para pedagang.


Kereta mulai berjalan ke arah pegunungan menuju kuik Naga timur. Tapi saat mereka berada di kaki gunung Jia memberhentikan kereta dan melepas kuda mereka dari tali yang menghubungkan ke kereta. karena dari sini mereka akan naik menggunakan kuda.


"Siap Bibi?" Tanya Jia sambil membantu Bibi Xi naik kuda.


"Tentu"


Jia akhirnya memastikan Bibi Xi menaiki kudan dan ia menutupi kereta mereka dengan beberapa ranting daun.


Jia memimpin di depan dengan tetap memegang tali kuda Bibi Xi.


Peejalanan terus berlanjut sampai matahari mulai terbit.

__ADS_1


***


Gerbang kuil Naga sudah di depan mata, gerbang yang besar dengan ukiran naga yang melingkar.


Jia menuruni kudanya dan membunyikan lonceng yang berada di samping gerbang.


Tak lama seorang bisku wanita membukakan gerbangnya.


"Ada keperluan apa?" Tanya biksu itu sambil menatap ke arah Jia dan Bibi Xi.


"Kami ingin menemui Nyonya Yelan" Ucap Jia sambil memperlihatkan giok resmi kaisar.


Biksu itu langsung memberikan hormat saat melihat giok resmi kaisar karena giok itu menandakan perintah kaisar secara resmi dan tentu saja diam-diam.


"Silahkan lewat sini" Ucap biksu itu, ia segera membuka gerbang itu dan mempersilakan Jia masuk.


Jia dan Bibi Xi menuntun kuda mereka masuk gerbang dan pemandangan pertama yang medeka lihat adalah sebuah bangunan besar dengan simbol Naga dan banyak sekali pohon bunga di sana.


Biksu itu memanggil beberapa temannya untuk membawa kedua kuda itu ke tempatnya.


"Lewat sini nyonya" Ucap Biksu itu menuntun Jia ke arah samping Bangunan besar itu. Jia dan Bibi Xi tetap memakai tudung mereka walau mereka banyak di perhatikan bisku di sana.


Ternyata Biksu itu membawa Jia dan Bibi Xi ke arah kuil yang berada di samping bangunan besar.


"Yelan ada di dalam dan sedang berdoa, mungkin ia akan selesai sebentar lagi jadi mohon tunggu" Jelas biksu itu sambil mempersilakan Jia dan Bibi Xi duduk di kursi depan kuil itu.


"Ini kedua kalinya aku ke sini, tapi entah kenapa rasanya masih aneh" Ucap Bibi Xi.


Suasana di sini memang sangat sunyi karena para biksu disuruh untuk tak biacara jika tak perlu.


Tak lama seorang wanita cantik keluar dari kuil dan Jia sangat terkejut saat melihat penampilannya. Wanita itu sumuran ibunya tapi penampilan seperti seumuran Jia.


"Nyonya Yelan?" Tanya Jia memastikan.


"Aku Yelan, kalian siapa?" Tanya Yelan bingung.


Jia kembali memperlihatkan Giok resmi Kaisar dan Yelan yang melihatnya langsung memberi hormat kepada Jia.


Yelan menengok ke sekitar dan mengajak Jia untuk ke belakang Kuil dan menuju Gazebo di sana. Jia dan Bibi Xi lantas membuka tudung mereka.


"Ada apa Yang Mulia mengutus anda berdua?" Tanya Yelan.


"Nyonya anda ingat penyebab anda diceraikan Perdana Menteri?" Tanya Bibi Xi langsung.


Yelan terlihat kaget dan syok di sana.


"Sebenarnya ada apa?" Tanya Yelan.


"Anak kecil yang dilecehkan Perdana Menteri waktu itu adalah Nona Feng yang menjadi Selir kerajaan tapi ia sudah meninggal karena bunuh diri" Jelas Jia saat melihat Bibi Xi tak bisa menjelaskannya.


Yelan menutup mulutnya tak percaya, malam itu memang ia memergoki suaminya melecehkan anak kecil tapi ia tak tau kalau itu selir Feng. Akhirnya ia juga ketahuan memergoki kejadian itu, jadi suaminya ingin membunuh Yelan. Beruntung ia bisa kabur dan menjadi biksu di sini.


"Apa itu benar?" Tanya Yelan yang almasih kaget.

__ADS_1


Jia mengangguk.


"Aku menyesal sampai sekarang, karena waktu itu aku tak bisa menyelamatkan anak itu" Sesal Yelan.


"Tak usah dipikirkan Nyonya" Balas Jia.


"Nyonya Yelan, aku punya permintaan sebagai orang yang dulu mengasuh Selir Feng" Ucap Bibi Xi sambil berlutut.


"Mohon Nyonya bersaksi atas kejadian itu" Pinta Bibi Xi.


"Nyonya anda tak perlu berlutut" Ucap Yelan membantu Bibi Xi bangun.


"Tapi aku harus meminta izin dari kepala kuil dulu" Ucap Yelan.


"Tentu, biarkan aku yang meminta izin" Ucap Jia.


Yelan segera mengajak mereka menuju kepala kuil yang terletak di belakang Kuil.


kediaman itu berada di antara hutan bambu.


Akhirnya mereka sampai di depan sebuah rumah yang sederhana.


Yelan memasuki rumah itu dan mencari kepala kuil.


"Ada apa?" Tanya sebuah suara di belakang Jia.


Jia langsung melompat kaget dan mengelus dadanya.


"Hey nona muda aku bukan hantu yang patut kau takuti" Ucap Wanita tua itu.


"perkenalkan ini kepala kuil" Ucap Yelan.


"Salam kepala kuil" Hormat Jia dan Bibi Xi bebarengan.


"Kalian pasti punya urusan yang penting sampai-sampai datang ke mari" Tebak kepala kuil itu.


"Benar kepala" Balas Jia.


"Kalau begitu silahkan duduk dan ceritakan keperluan kalian" Ajak kepala kuil mempersilahkan mereka duduk.


Jia dan Bibi Xi yang masih terpaku diberi kode Yelan untuk menurutinya.


"Ceritakanlah"


Akhirnya Jia menceritakan semuanya dan permintaan mereka untuk membawa Yelan ke Ibu kota. Kepala kuil hanya mengangguk-anggukan kepalanya menyimak cerita Jia tanpa memotong.


"Hmm, kehidupan manusia memang unik" Ucap Kelapa Kuil sambil meminum tehnya.


"Tak ada yang tau apa yang terjadi selanjutnya di hidup manusia. Kematian dan kehidupan sangatlah dekat dengan kita"


"Kalian boleh membawa Yelan, Tapi dengan satu syarat"


***

__ADS_1


__ADS_2