
Happy Reading.
***
"Jadi dia datang?" Tanya Pangeran Huan pada Jia yang duduk di hadapannya.
Jia menghembuskan nafas lelah.
"Tidak, ia bahkan tidak membalas perkataanku. Sepertinya dendamnya terlalu besar" Jelas Jia.
Kini mereka berada di taman paviliun Liang, ada Jia, Huan, Jing dan sang pemilik Paviliun itu sendiri.
"Kami juga sudah mencari titik terang, tapi tidak satupun petunjuk yang kita dapatkan" Keluh Pangeran Jing.
"Kalian sudah memeriksa kediaman Feng?" Tanya Liang.
"Iya, kami bahkan sudah menaruh mata-mata. Tapi tetap tidak ada petunjuk" Jawab Pangeran Huan.
"Ini cukup rumit" Ucap Jia.
"Lalu bagaimana pertikaian Selir Ying dan Selir Hua?" Tanya Liang.
"Lancar, kemarin mereka hampir baku hantam di kediaman Permaisuri" Jawab Jia dengan nada yang sedikit dingin.
"Wow, aku tak menyangka ternyata mereka sampai seperti itu" Komentar Jing.
"Kau tau usah heran, Sifat Selir Ying yang terlalu cemburu dan Selir Hua yang mudah terpancing" Jelas Huan.
Jia mulai memutar otaknya, ia berusaha mencari celah Selir Feng. Tiba-tiba.
"Apakah pelayan di kediaman Feng 5 tahun lalu berganti?" Tanya Jia.
"Benar, setiap 10 tahun pelayan di sana diganti" Jawab Huan.
"Jika tidak salah kepala Pelayan dulu tinggal di wilayan Selatan" Ucap Jia.
"Aku mengerti, tolong kalian kirimkan beberapa orang untuk menyelidiki" Titah Liang yang mengerti maksud Jia.
"Jia, kau memang cerdas" Puji Jing.
Jia hanya nyengir saja.
"Baiklah, jika tidak ada yang bisa dibicarakan lagi aku akan kembali" Ucap Jia sambil berdiri.
"Silahkan" Ucap Pangeran Huan.
Sementara Liang hanya diam melihat kepergian Jia, hatinya masih ada rasa bersalah atas perkataannya.
"Kakak, kalian ada masalah?" Tanya Jing.
Liang menghela nafas.
"Saat ia sakit, aku tidak sengaja menyebutnya sebuah pion" Jelas Liang.
"Yang mulia sungguh gila" Sindir Huan.
"Pantas saja ia marah, lagian siapa yang tidak marah jika dirinya disebut pion" Ucap Jing.
"Itulah, aku juga merasa bersalah. Tapi aku tidak tau caranya memperbaikinya" Keluh Liang.
Liang memang Terlihat kejam, tapi saat di depan keluarganya ia menjadi hangat.
"Kakak tinggal minta maaf saja" Ucap Jing.
"Sayangnya tak semudah itu" Balas Liang.
"Adik sudah berapa lama kau mengenal Jia? Ia tipe orang yang akan memaafkan jika yang meminta maaf sangat tulus dan berusaha" Jelas Huan.
Jing segera menepuk keningnya.
"Aku lupa"
__ADS_1
"Tapi jika kakak benar-benar ingin meminta maaf dengan tulus, ku rasa Jia akan memaafkannya" Saran Huan.
Liang hanya mengangguk.
***
"Nyonya sudah dengar?" Tanya Yuan.
Jia yang sedang melepaskan hiasan rambut menoleh ke arah Yuan.
"Apa?"
"Malam ini Seling Ying dipanggil untuk melayani Yang Mulia" Jawab Yuan.
"Aku sudah tau" Ucap Jia dingin.
"Nyonya sedang ada masalah?" Kini Miu yang bertanya.
"Huft, aku masih kepikiran ucapan Yang Mulia bahwa aku ini hanya pion" Jelas Jia.
"Nyonya harus segera melupakannya, tidak baik untuk kesehatanmu" Ucap Miu khawatir.
"Benar Nyonya" Tambah Yuan.
"Andai semudah itu" Rancau Jia.
"Pasti bisa, anda perempuan hebat" Ucap Miu yakin.
Jia menatap kedua pelayannya dengan tatapan lembut.
"Terima kasih".
***
Di dalam tidur Jia, ia merasakan sebuah tangan mengelus rambutnya.
Miu? Tidak, ia sudah tidur bersama Yuan.
Sontak Jia membuka matanya dan mencengkeram tangan itu kuat.
"Jia"
"Ya Tuhan, Yang Mulia apa yang anda lakukan di tengah malam? Lalu bagaimana Selir Ying?" Tanya Jia bertubi.
Liang tak menjawab, tapi ia mengkode Jia untuk duduk di meja dekat situ.
"Jadi?" Tanya Jia.
Liang menarik nafas.
"Aku ingin meminta maaf atas ucapanku kemarin, sungguh aku tak bermaksud" Jelas Liang.
Jia menatap ke dalam bola mata pria di hadapannya, ia berusaha mencari ketukusan di sana.
"Sudah hamba katakan kalau wajar Yang Mulia menganggap hamba begitu. Lagi pula hamba memang poin anda" Balas Jia dengan nada sarkas.
"Jia, apakah kau tidak bisa memaafkanku?"
Jia sedikit tersentak.saat melihat Liang yang dikenal kejam, bernada lembut di hadapannya.
"Kalau soal maaf, Hamba pasti memaafkannya" Balas Jia.
"Tapi kau tidak terlihat memaafkanku" Ucap Liang.
"Hamba memang sudah memaaflan anda, tapi luka ini akan tetap ada" Jelas Jia sambil menunjuk dada kirinya.
"Ji-"
"Yang Mulia kembali lah ke kediaman hamba dan beristirahat. Hamba juga butuh istirahat" Pinta Jia.
Liang menghela nafas gusar.
__ADS_1
Jia segera berdiri dan alan beranjak dari sana. Tapi Liang meraih tangannya dan membawanya ke dalam pelukan. Jia kini duduk di pangkuan dengan membalakangi Liang, sementara kedia tangan Liang menahan tubuh Jia.
"Y-yang Mulia?" Pekik Jia kaget.
"Jia, sungguh aku bisa membunuhmu sekarang" Ucap Liang tajam.
"Jika begitu, bunuhlah hamba" Lirih Jia.
Liang mengeratkan pelukannya.
"Aku baru merasa sefrustasi ini saat berhubungan dengan orang lain" Ucap Liang, tapi Jia tak menjawab.
Perlahan tangan Jia melepaskan pelukannya dan berlutut menghadap Liang.
"Yang Mulia, soal luka di hati hamba. Anda tak perlu risau, lagian hamba akan tetap pada kesepakatan awal. Dan..... Hamba Mohon jangan frustrasi karena hamba, anda punya tanggung jawab besar dan jika sampai anda frustrasi maka akan berpengaruh pada tanggung jawab itu" Jelas Jia sambil meraih tangan Liang.
"Kau sungguh sangat sulit di mengerti" Balas Liang.
Jia hanya nyengir.
"Kalau begitu kembalilah ke kediaman anda, atau Selir Ying akan menyadari kepergian anda" Saran Jia.
Liang mengangguk dan segera pergi lewat jendela. Jia hanya menatap kepergian Liang dan menyentuh Dadanya.
"Ada apa denganku? Ayolah Jia ia orang yang membantai seluruh keluargamu, jangan terkecoh. Selesaikan cepat dan segera pergi" Guma Jia sambil menyakinkan dirinya sendiri.
***
"Nyonya selir Ying dan Selir Hua bertengkar" Ucap Miu.
"Miu, apa kau berencana merusak pagiku?" Tanya Jia.
"Tapi kini mereka baku hantam" Lanjut Miu. Jia segera melotot dan tak pakai lama menarik Miu.
"Di mana?" Tanya Jia.
"Kediaman Selir Ying".
Mereka berdua segera menuju ke sana meninggalkan Yuan yang baru membawa teh panas.
Benar saja saat sampai di sana, kedua selir itu sudah saling jambak dan para pelayan di sana hanya menonton. Jika Jia tebak tidak ada yang berani melerai pertengkaran itu.
"KAU PIKIR YANG MULIA AKAN MENCINTAIMU?" Teriak Selir Hua.
"HAHAHA, SEHARUSNYA KAU JUGA BERKACA SELIR YANG KEHILANGAN CINTA" Balas Selir Ying.
Pertengkaranpun semakin sengit, tak lama Xiao datang dengan wajah gusar.
"Kakak apa yang terjadi?" Tanya Xiao.
"Biasa" Balas Jia.
Tangan Selir Ying semakin menjambak rambut Selir Hua, begitupula sebaliknya. Sampai tangan mereka ada beberapa helai rambut lawannya.
"Oke, Xiao ayo kita pisahkan mereka" Tutur Jia yang melihat pertengkaran itu semakin sengit.
Mereka berdua dibantu beberapa pelayan mulai melepaskan kedua orang itu.
"LEPASKAN AKU, BIARKAN AKU MENCABUTI RAMBUTNYA" Teriak Selir Hua yang mencoba kembali menyerang.
"KAU BERCANDA, MALAH AKU YANG AKAN MENCABUT SELURUH RAMBUTMU" Balas Selir Ying.
Xiao terlihat cukup kesulitan menahan tubuh kakaknya, tapi Jia yang belajar teknik mengunci lawan langsung bisa menahan tubuh Selir Hua.
Tiba-tiba Selir Ying memuntahkan sesuatu dan pingsan.
"Kakak?" Pekik Xiao.
Jia melotot tapi ia segera melihat ke arah Selir Hua, di sana Selir Hua sudah....
***
__ADS_1