Beautiful Sword

Beautiful Sword
Tangkap Rubah Itu


__ADS_3

Happy Reading.


***


"Tabib bagaimana keadaanku?" Tanya Jia kepada tabib Bao.


"Nyonya maafkan saya, tapi racun ini menyebar lumayan cepat" Ucap Tabib Bao.


"Apakah obat yang kau berikan padaku kini sudah tak berfungsi?" Tanya Jia cemas.


Dengan wajah yang amat menyesal Tabib Bao mengangguk.


"Tabib bisakah anda melakukan sesuatu untukku dan rahasiakan ini dari Yang Mulia!" Pinta Jia.


"Apa itu nyonya?"


"Kau taukan aku sedang meneliti penawar, tapi waktunya tidak akan cukup. Jadi tolong bawakan aku racun musim dingin" Pinta Jia.


"Ampun nyonya saya tak berani" Balaa Tabib Bao bersujud di hadapan Jia.


"Tidak ada cara lain tabib, jika aku matipun setidaknya aku sudah berusaha" Ucap Jia menenangkan Tabib Bao.


Tabib Bao mengangkat kepalanya, ia tau waktu Selir Li tidak akan cukup jika mereka bersikeras mencari penawar. Dan ia juga paham atas permintaan Selir Li, Selir Li akan melawan Racun Naga dengan racun Musim dingin dan jika berhasil maka ia akan sembuh. Jika tidak maka kematian yang akan menjemput.


"N-nyonya hamba tak sanggup" Ucap Tabib Bao.


"Tabib dengarkan aku, aku sudah melihat kemungkinan yang akan terjadi dan tabib percayalah padaku" Ucap Jia mencoba manyakinkan Tabib Bao.


"Nyonya"


"Ku mohon Tabib" Potong Jia.


Tabib Bao menghembuskan nafasnya.


"Baiklan, saya akan bawakan nanti saat pemeriksaan berikutnya" Ucap Tabib Bao.


"Terima kasih" Balas Jia dengan senyum.


"Dan tolong katakan kalau aku sekarang baik-baik saja" Ucap Jia.


"Baik nyonya" Balas Tabib Bao yang segera pergi meninggalkan Jia.


Jia lekas mencari posisi nyaman untuk beristirahat.


***


"Bagaimana keadaannya tabib?" Tanya Ibu Suri yang sedari tadi menunggu Tabib Bao di halaman Paviliun.


"Selir Li tadi sempat mendapatkan serangan lagi, tapi kini ia sudah baikan dan beristirahat" Jelas Tabib Bao.


"Anda yakin Selir Li baik-baik saja?" Tanya Permaisuri memastikan.


"Yakin Yang Mulia Permaisuri" Jawab Mantap Tabib Bao.


"Lalu apakah anda sudah mendapat penawarnya?" Tanya Huan.


"Hamba sedang nerusaha pangeran" Jawab Tabib Bao.


"Kalau begitu kau boleh kembali" Ucap Ibu Suri.

__ADS_1


"Terima kasih Yang Mulia" Balas tabib Bao yang segera pergi.


"Selir Ying ayo kembali!" Ajak Permaisuri.


"Tapi bagaimana dengan kakak Jia?" Tanya Xiao dengan wajah khawatir.


"Percayalah ia akan baik-baik saja" Balas Permaisuri, Xiao pun dengan tak rela mengikuti Psrmaisuri.


"Liamg apakah kau akan tetap seperti itu?" Tanya Ibu Suri pada Liang yang duduk di pojok paviliun dengan Jing.


"..."


Dengan helaan nafas lelah Ibu Suri mendekati Lianh dan mengkode Jing untuk pergi dengan Huan.


"Berganti bajulah! Jangan tampakan sosok kaisar lemah" Ucap Ibu Suri.


Lianh menatap ibunya.


"Ini salahku, seharusnya akan tak membiarkan ia pergi tanpa pengawalan" Balas Liang murung.


Ibu suri mengelus surai hitam Liang.


"Dengar! Selir Li melakukan itu pasti ada maksudnya dan ia tau kalau itu yang terbaik" Ucap Ibu Suri.


"Kita hanya harus berusaha untuk menemukan penawarnya" Lanjut Ibu Suri.


"Ibu benar seharusnya aku tetap tegar" Balas Liang mencoba tersenyum


"Itu baru kaisar" Balas Ibu Suri.


Liang mengangguk dan tersenyum, ia akan berjuang untuk menuntaskan rencana mereka. Ia tak mau usaha Jia menjadi sia-sia.


***


"Kenapa harus ke sana?" Keluh Selir Meng.


"Selir Meng kau tau rakyat di pengusi di sana menanyakan apa kelurga kerajaan akan berkunjung. Tapi sayangnga Kaisar dan yang lain sibuk untuk saat ini" Jelas Permaisuri.


"Dan untuk ketuanya Selir Meng" Lanjut Permaisuri.


Selir Meng yang hendak protes langsung dipotong oleh rayuan Permaisuri.


"Bayangkan Jika rakyat puas dengan kerjamu, mungkin Kaisar akan memberikan cintanya" Ucap Permaisuri, Saat mendengar itu Selir Meng langsung bersemangat.


Sementara Selir Hua berdecih dengan kelakuan Selir Meng.


"Dan untuk yang lain tolong lakukan yang terbaik" Ucap Permaisuri.


"Baik Yang Mulia" Balas Mereka.


Mereka semua langsung memasuki kereta, dan tentunya Xiao bersama Jia palsu dan Miu serta Yuan.


Kedua pelayan kesayangan Jia belum mengetahui keadaan Jia sekarang, karena khawatir mereka akan panik berlebihan.


Bahkan keluarga Jia juga belum mengetahuinya.


"Nyonya Xiao, bisakah anda jelaskan bagaimana keadaan Nyonya Kami!" Pinta Yuan.


"Kakak Jia sekarang sedang melakulan sesuatu dan akan segera pulang" Jawab Xiao bohong.

__ADS_1


"Syukurlah, kami sangat khawatir" Balas Yuan.


"Jika Nyonya kami sudah pulang, tolong segera kabari" Ucap Miu.


"Pasti"


Ada rasa sedih saat Xiao membohongi kedua pelayan Jia, tapi ia juga tak bisa memberitahu mereka yang sebenarnya.


Xiao memutuskan untuk menikmati perjalanan mereka ke daerah Utara yang baru terkena musibah banjir. Jarak ke daerah Utara sangat jauh jadi mereka akan menghabiskan waktu lama di sana.


***


Tiga hari setelahnya, di sidang kerajaan.


"Yang Mulia apa maksud dengan selebaran itu?" Tanya Menteri keuangan yang pagi ini kaget dengan selebaran bahwa rubah akan tertangkap.


"Aku baru menemukan sebuah fakta atas kematian Selir Feng dan pelakunya" Jelas Liang yang duduk di kursi kebesarannya.


"Lalu siapa pelakunya dan sebenarnya apa yang terjadi?" Tanya Menteri Perdagangan.


Ya, semua Menteri bingung pagi ini atas selebaran itu.


"Sewaktu kecil Selir Feng pernah dinodai oleh seseorang dan ia menuntut keadilan dengan bunuh diri" Jelas Liang, yang membuat seluruh aula penuh dengan bisikan.


"Bagaimana perempuan yang ternoda bisa masuk sebagai selir?"


"Siapa orang kejam itu?"


"Kita tak bisa membiarkan orang jahat ada di negeri kita"


Itulah bisikan para Menteri.


"Aku ingin bertanya, hukuman apa yang cocok untuk pelakunya?" Tanya Liang.


"Menurut hukum yang berlaku pelaku harus di penggal" Jawab Pensehat Kerajaan.


Para Menteri serentak mengangguk, Liang tersenyum kecil di sana.


"Bawa pelakunya ke mari!"


Sontak orang-orang mengalihkan pandangan pada pintu besar di belakang mereka. Mereka semua penasaran terhadap pelakunya.


Saat pintu itu terbuka, masuklah kedua pangeran, Yelan, Bibi Xi dan tentunya sang pelaku yang wajahnya ditutupi kain.


Kedua pengawal yang mengikat pelaku membawanya ke hadapan Liang dan Menyuruh pelaku berlutut.


Saat Liang akan buka suara, tiba-tiba ada seorang wanita dan seorang gadis memasuki aula dengan wajah panik.


"Nyonya Meng?" Ucap Mereka kaget.


Ya itu Nyonya Meng dengan adik Selir Meng.


"Yang Mulia suami hamba tak bersalah" Ucap Nyonha Meng langsung bersujud Ke depan Liang.


"Yang Mulia tolong lepaskan ayah hamba" Pinta Adiknya Selir Meng.


Sementara Para Menteri masih terpaku di tempat.


"Tunggu Jangan-jangan pelakunya Perdana Menteri" Ucap Seorang Menteri.

__ADS_1


Huan langsung membuka penutup kepala sang pelaku dan benar saja itu adalah Perdana Menteri.


***


__ADS_2