Beautiful Sword

Beautiful Sword
Kesepakatan selesai.


__ADS_3

Happy Reading.


***


Sring.


Jia menarik belati yang ia sembunyikan di kakinya dan menodongkannya ke arah Liang.


"Tuan, saya sungguh tak mengenal anda dan perbuatan anda tadi sangat tidak terpuji" Ucap Jia.


Liang terlihat agak tersentak namun ia kembali santai.


"Kau yakin tak mengenalku?" Tanya Liang lagi.


"Tentu dan jika anda hanya ingin membuat keributan maka silahkan pergi" Tegas Jia dengan mata yang menyorot tajam.


Padahal di balik ketegasan Jia, ia agak merasa bersalah. Tapi jika ketahuan sekarang perjuangannya akan sia-sia.


Liang menatap Jia dengan muram dan kecewa.


"Huft, kalau begitu maafkan saya nona karena salah mengenali orang" Ucap Liang.


Jia mulai menurunkan belatinya.


"Kalau begitu jika anda tak ada keperluan lagi, silakan pergi" Ucap Jia lagi.


"Aku masih ada keperluan sedikit denganmu" Ucap Liang membuat Jia menyerit bingung.


"Tolong buatkan obat tidur untukku" Pinta Liang.


Deg.


Hati Jia merasakan sakit saat Liang meminta obat tidur. Ia tau setelah kepergiannya Liang menjadi susah tidur dan terus bekerja.


"Baiklah, silahkan tunggu di kursi itu" Ucap Jia menunjuk ke arah kursi.


Liang dengan patuh segera duduk dan Jia langsung meracik beberapa herbal.


"Apa anda juga kadang merasakan pusing di siang hari?" Tanya Jia.


"Ya" Jawab Liang sambil memperhatikan Jia yang lihai meracik obat.


"Aku pernah ke sini tapi tak mendengar tentangmu" Tutur Liang.


"Saya hanya seorang tabib pengelana jadi sering berpindah-pindah tempat dan kebetulan saya juga punya beberapa pasien di sini" Jelas Jia yang masih fokus.


"Keluargamu?" Tanya Liang.


"Orang Tua saya sudah lama meninggal, jadi saya meneruskan keahlian keluarga saya" Jawab Jia.


"Ah, maaf" Ucap Liang tak enak.


"Tidak apa-apa tuan" Balas Jia.


"Nah ini obatnya" Lanjut Jia menyerahkan sekantung obat untuk Liang.


"Aku harus membayar berapa?" Tanya Liang menerima obat itu


"Seikhlasnya tuan saja" Balas Jia.


Liang memang bingung tapi ia Menyerahkan sekantung koin emas dan itu membuat Jia kaget.


"Tuan ini terlalu banyak" Ucap Jia.


"Tidak apa-apa, anggap saja permintaan maafku" Balas Liang tersenyum lalu ia pergi dari rumah Jia.


Jia hanya terdiam memandangi punggung Liang.

__ADS_1


"Maafkan hamba Yang Mulia" Lirih Jia.


***


"Jadi bagaimana penyelidikanmu?" Tanya Liang pada Cheng.


Kini mereka sedang dalam perjalanan pulang ke istana dan Cheng berada di atas kuda di belakangnya.


"Tidak ada yang aneh Yang Mulia dan Tabib itu dan juga memang seorang pengelana" Jawab Cheng di belakang Liang.


Liang mengengam obat pemberian Jia.


"Tapi aku yakin itu dia" Guma Liang.


Cheng hanya terdiam, ia bingung harus menanggapi apa atas kegalauan Liang.


"Cheng, bisa tempatkan bawahanmu untuk mengawasi Tabib Su'er!" Ucap Liang.


"Baik Yang Mulia"


"Dan awasi juga Ibu Suri!".


***


"Jadi dia curiga?" Tanya Nenek Hong pada cucunya.


Dengan kedatangan Liang tadi, membuat Jia dan yang lainnya lebih waspada. Bahkan neneknya kini yang harus datang ke klinik Jia untuk bertemu.


"Awalnya ia curiga dan sempat mengetesku, tapi pada akhirnya ia percaya" Jelas Jia.


Nenek Hong menghela nafasnya.


"Segeralah bereskan masalahmu lalu temui ia" Ucap Nenek Hong.


"Maksud nenek?" Tanya Jia bingung, apalagi saat Nenek Hong terkekeh geli.


Jia tersenyum masam.


"Walau aku tak menyukainya tapi jika cucuku menderita tanpanya. Nenek hanya bisa percaya pada pilihanmu" Ucap Nenek Hong.


"Terima kasih nek" Ucap Jia sambil memeluk neneknya.


Mereka berpelukan beberapa saat sebelum Nenek Hong pulang dan tentu saja Nenek Hong membawa buntelan obat dari Jia. Bahkan mereka sempat berpamitan sebagai tabib dan pasien, karena mereka tau kalau Jia sedang di awasi.


***


Liang yang sudah sampai di istana langsung meminta pelayan untuk menyeduhkan obat untuknya.


Perasaan penasaran semakin menggerogotinya apalagi saat ia menginjakkan kakinya di istana.


"Yang Mulia ini obatnya" Ucap Pelayan itu.


"Terima kasih Dayang Meng" Ucap Liang menerima obatnya.


Lian Meng tersenyum dengan sopan lalu pergi. Ya dia adalah mantan Selir Meng, tapi kini ia menjadi kepala dayang di istana atas permintaan Jia.


Lian sangat berterima kasih atas bantuan Jia walau ia tau Jia jugalah yang membuat keluarganya hancur. Tapi setelah belajar dari masa lalu kalau dendam itu hanya membawa masalah maka ia sudah dlsadar sekarang malahan di hatinya ia merasa bersalah karena sempat mencelakai Jia.


Tapi itu hanya masa lalu, kini Lian sudah bertekad untuk mengabdi pada istana lagipula menjadi Selir dengan pangkat rendah malah membuatnya ditindas Selir Ying, jadi dengan menjadi kepala Dayang hidupnya lebih baik.


"Nyonya Meng anda dipanggil selir Ying" Ucap bawahannya dengan sopan.


"Baik" Balas Lian kesal.


Pasalnya Selir Ying pasti akan mencari masalah dengannya, walau ia selalu bisa mengatasinya tapi lama kelamaan ia juga risih.


Dengan langkah kesal ia mulai menujy kediaman Selir Ying, selir satu-satunya di istana.

__ADS_1


***


Satu minggu kemudian Jia mulau membuka perban di mata Yang Er, di saksikan Tuan Er beserta pelayan Yang Er.


Srek


"Nona silahkan amda membuka mata, tapi dengan perlahan" Ucap Jia.


Yang Er mulai membuka matanya perlahan, ia sempat berkedip beberapa kali menyesuaikan cahaya yang masuk.


"Bagaimana nak?" Tanya Tuan Er.


Yang Er hanya bisa terdiam di sana dan itu membuat mereka semua cemas.


"Kenapa kamarku jadi begini?" Protes Yang Er.


Tuan Er langsung memeluk puterinya dan menangis. Para pelayan juga menangis di sana.


"Syukurlah anakku, terima kasih tabib Su'er" Ucap Tuan Er.


"Sama-sama tuan" Balas Jia dengan senyum.


Mereka sama-sama terharu apalagi saat Yang Er kembali protes atas kamarnya yang kosng melompong. Tapi protesnya itu membuat semua orang mengucap syukur.


"Aku sangat berterima kasih atas bantuanmu selama ini" Ucap Tuan Er pada Jia yang duduk di hadapannya.


"Sama-sama tuan" Ucap Jia.


"Awalnya ku pikir ibu suri bercanda dengan mengirimmu tapi ternyata kau sangat luar biasa" Puji Tuan Er.


Jia tersenyum menanggapinya.


"Jadi apa rencanamu selanjutnya Nona Li?" Tanya Tuan Er.


"Mungkin saya akan segera bertemu dengannya dan menjelaskan semuanya" Jelas Jia.


"Itu bagus, Aku juga akan segera mengirim pesan pada ibu Suri" Ucap Tuan Er.


Jia sejenak tersentak mengingat sesuatu.


"Tuan Apa Ibu Suri serius?" Tanta Jia khawatir.


Tuan Er terlihat muram namun ia berusaha santai.


"Ya, diantara kita harus ada yang pergi. Lagipula ini sudah kesepakatan dari awal" Jelas Tuan Er.


Ya Ibu Suri akan menghukum dirinya sendiri atas perselingkuhan mereka. Awalnya Tuan Er yang akan mengajukan diri tapi, Ibu Suri bilang kalau ia harus menjaga puteri mereka.


Lagipula Ibu Suri merasa bersalah kepada Yang Er karena telah memberinya racun saat akan masuk sebagai Selir walau lewat tangan Selir Meng. Alasan Ibu Suri melakukannya adalah karena Liang dan Yang Er satu ibu.


Tapi masyarakat tidak mengetahui fakta itu karena yang mereka ketahui kalau Yang Er adalah anak Tuan Er dan mendiang istrinya. Itulah alasan ibu suri meracuni anaknya, ia juga bukan seta merta nekad tapi ini terencana karena ia sudah memperhatikan Jia lama jadi Ibu Suri yakin kalau Jia bisa menolong.


"Saya turut prihatin Tuan" Lirih Jia.


"Terima kasih, lagipula aku juga akan segera menyusul" Ucap Tuan Er.


"Maksud tuan?" Tanya Jia kaget.


"Ya, setelah Yang Er menikah tentu saja karena kami berdua, tidak Bertiga dengan mendiang kaisar sepakat untuk merahasiakan ini selamanya" Jelas Tuan Er.


***


Hai para pembaca, maaf Author gak muncul lama. Author kemarin sempat kehabisa inspirasi dan untungnya hari ini ada inspirasi yang mengalir.


Sebelumnya terima kasih sudah mau menunggu.


Salah cinta.

__ADS_1


RiantiTeti.


__ADS_2