
Happy Reading.
***
Syarat yang diberikan Kepala Kuil adalah mencegah perpecahan keluarga kerajaan. Yap Jia sangat mengerti itu karena ia kembali teringat pengasingan para pangeran. Tapi Yelan dan Bibi Xi menatap bingung Kepala Kuil.
"Kau mengerti Nona Jia" Ucap Kepala Kuil santai.
"Aku mengerti" Balas Jia.
Yelan dan Bibi Xi tambah bingung, tapi mereka memilih diam.
"Bersiaplah Yelan dan kembali dengan selamat" Ucap kepala kuil.
Yelan mengangguk.
"Kalau begitu pergilah" Tutur Kepala kuil.
Mereka bertiga membeei hormat dan pergi.
"Nona Jia" panggil Kepala kuil saat Jia berada di ambang pintu.
"Ya Kepala kuil?"
"Kau sedang menghadapi ilmu hitam dan untuk melawannya kau harus mengorbankan sesuatu" Ucao Kepala Kuil.
Jia berjalan kembali ke hadapan kepala kuil.
"Maksud kepala?" Tanya Jia bingung.
Pada saat sebelum reinkarnasi memang Jia belum tau kalau Keluarga Hua pengguna ilmu hitam makanya ia sangat bingung dengan pernyataan kepala kuil.
"Mengorbankan sesuatu bukan berarti itu nyawa seseorang. Tapi aku merasakan kalau akan ada pengorbanan besar padamu" Jelas kepala kuil.
"Aku mengerti kepala" Ucap Jia.
Jia kembali memberi hormat dan pergi.
"Aku senang kau hidup kembali dan semoga berhasil" Ucap Kepala Kuil.
Saat Jia menengok ternyata Kepala Kuil sudah tidak ada di sana, tak lama semilir angin membelai wajahnya.
"Aku akan berusaha" Balas Jia dengan senyum.
***
"Jadi apa maksud dari mencegah perpecahan keluarga kerajaan?" Tanya Yelan yang penasaran.
Jia yang sedang memacu kuda menoleh ke arah dalam kereta.
"Sepertinya kepala kuil tau akan ada perpecahan, kemudian ia mengatakannya kepada kita" Jelas Jia berusaha menutupinya.
"Mungkin akan ada kudeta dari orang-orang yang melawan kaisar" Jelas Bibi Xi.
Yelan mengangguk paham, para biksu memang selalu mendengar berita yang terjadi di lingkungan kerajaan. Tapi untuk informasi kudeta mereka tidak tau dan tidak diperbolehkan membicarakan itu.
Kereta terus berjalan sementara hari semakin sore, mereka memutuskan untuk mengambil jalan memutar guna menghindari sesuatu yang terduga.
Tapi saat ditenha hutan Jia menghentikan kereta karena mendengar sesuatu.
"Ada apa nona?" Tanya Bibi Xi.
"sttt" Ucap Jia meminta mereka diam.
Tak lama ada kelompok orang memakai pakaian hitam mengepung kereta mereka, totalnya ada 20 orang.
"Nyonya Yelan" Bisik Jia memberikan kode.
__ADS_1
"Kami mencari kalian dan ternyata kalian lewat jalan ini" Ucap salah satu dari mereka.
"Siapa yang mengirim kalian?" Tanya Jia berdiri di atas kereta.
"Nona kuda sebaiknya anda menyingkir katena target kami dua orang di belakang anda" Ucao mereka.
Jia berdecih.
"Sayangnya aku bersama mereka jadi kalian juga harus menghadapiku" Balas Jia tajam.
"Cih, apa yang bisa dilakukan seorang wanita lemah" Ucap pria itu dengan nada menghina.
Tapi tak lama kepala dari pria itu jatuh menggelinding, darahpun mulai membasahi tanah. Pria yang lain terpaku melihat teman kepala temannya terpisah dari tubuhnya.
"Kalian terlalu meremehkan puteri seorang Jendral perang" Ucap Jia sambil menyeka darah dari pedangnya.
Salah satu dari mereka segera membuka penutup kereta dan ternyata kosonh, bahkan kedua kuda yang menarik kereta sudah hilang.
"Kalau begitu bersiaplah" Ucap mereka.
Kelompok itu maju menyerang Jia tapi satu kepala lagi tergelinding begitu saja. Tenyata Yelan berdiri di hadapan Jia.
"Dan kalian juga meremehkan mantan prajurit" Ucao Yelan.
Sebelum jadi selir, Yelan memang adalah mantan Prajurit.
"Habisi mereka" Ucap salah satu dari mereka.
Jia menangkis semua serangan mereka dan memberikan luka di daerah vital, beberapa mulai tumbang di sana.
Sementara di bagian Yelan tak begitu jauh, darah bahkan sudah berceceran di pakaian Yelan.
Bunyi anduan pedang sanat tersengar di hutan itu dan karena matahari belum terbenam maka pertarungan mereka sangat jelas.
"Rasakan ini" Teriak pria itu mencoba menusuk Jia.
Jia memegang Pinggangnya yang mengeluarkan darah membasahi hanfunya.
"Nona" Teriak Yelan.
"Nyonya fokus saja" Balas Jia menangkis serangan selanjutnya.
Dua orang kembali jatuh ke tanah dengan luka gores menganga.
"Akh" Pekik Yelan memegangi bahu kirinya.
"Menyerah saja, kalian kalah jumlah" Ejek salah satu dari mereka.
Kini Jia dan Yelan tersudut, tapi Jia malah menyeringai.
"Kalian terlalu sombong" Ejek Jia.
Dengan kecepatan kilat Jia maju dan mengeluarkan ilmu yang di ajarkan ayahnya, yaitu Kilat pemotong.
Bugh, crak, brak.
Semua tubuh para penyerang itu berjatuhan dengan tubuh terbelah.
Jia menatap tajam seorang pria yang terduduk ketakutan.
"Siapa kau sebenarnya?" Tanya pria itu gemetar.
"Kau tau kenapa Jendral Li bisa menang di pertempuran?" Tanya Jia.
"Karena ayahku pencipta ilmu itu" Lanjut Jia.
Pria itu berusaha bangun dan berlari, tapi dengan cepat Yelan melempar belati itu dan menancap di punggung pria itu.
__ADS_1
Jia mendekati pria yang telah terduduk itu.
"Katakan siapa yang membayar kalian?" Tanya Jia.
Pria itu diam dan malah memasukan sebuah obat ke mulutnya, tak lama tubuhnya kejang-kejang.
"Huh racun" Ucap Jia.
"Apa dia mati?" Tanya Yelan.
"Iya, tapi kita akan tau siapa yang mengirim mereka" Ucap Jia saat matanya melihat lambang ular hitam pada punduk pria itu.
"Nona Jia tadi itu hebat" Puji Yelan.
"Nyonya juga hebat" Balas Jia.
Di kuil para Biksu sengaja diajari bela diri oleh kepala kuil, Yelan yang mantan prajurit menjadi tambah hebat saat diajari kepala kuil.
"Kalau begitu aku akan memanggil Nyonya Xi dulu" Ucao Yelan meninggalkan Jia.
jia memperhatikan mayat di depannya dan mengambil sebuah pamatik suar.
Duar.
Dengan seringai Jia menarik suar itu.
"Nona ada apa?" Panik Yelan yang datang bersama Bibi Xi.
"Kita akan biarkan orang yang mengirim merek senang dulu" Jelas Jia.
"Bibi Xi kau tak apa-apa?" Tanya Jia yang melihat wajah pusat Bibi Xi.
"Aku hanya mual melihat genangan darah ini" Icap Bibi Xi.
Memang mereka sedang berada di genangan darah para pembunuh itu bahnya bau anyirnya sangat tercium.
"Kalau begitu sebaiknya kita segera pergi" Ucap Jia.
"Lalu bagaimana dengan mayat mereka?" Tanya Bibi Xi.
"Biarkan saja Nyonya, malam nanti mayat mereka akan dimakan para serigala" Ucap Yelan yang mebali mengikat kudanya ke kereta kembali.
Jia dengan cepat memacu kuda itu, mereka tak perlu lagi mengkhawatirkan mayat para pembunuh itu karena akan ada seriga yang akan memakannya apalagi jalanan di situ jarang dilewati orang.
***
Bunyi air yang mengalir deras terdengar, Jia dan yang lainnya sedang mencuci pakaian mereka dari cipratan darah, sementara Bibi Xi mencuci roda kereta dan kaki kuda mereka.
Luka mereka berdua juga sudah di obati dengan obat yang Jia bawa.
Sebentar lagi mereka akan segera sampai di pintu rahasia menuju kedialan Liang langsung, pintu itu ada di hulu air terjuan dekat perbatasan Ibu Kota.
"Aku sudah selesai" Ucap Jia sambil memeras air Pada rok Hanfunya.
"Aku juga" Balas Yelan, Kereta mereka juga sudah bersih kembali.
Dan beruntung pakaian mereka bertiga adalah warnah hitam sehingga noda darah tak terlalu ketara.
"Sebaiknya kita cepat" Ucap Jia yang mengigil karena hembusan angin di sana.
Tak lama angin besar menerpa mereka semua sehingga rambut mereka berkibar.
"Sepeetinya angin itu menyuruh kita untuk bergegas" Ucap Bibi Xi.
Jia dan Yelan mengangguk setuju dan keretapun berjalan kembali.
***
__ADS_1
Catatan : Di sini Yelan gak botak ya, ia tetep punya rambut tapi gak sepanjang perempuan yang lain.