
Happy Reading.
***
Jia bangun dengan malas, hari ini ia harus menemui Yang Er untuk membawa penawarnya. Ya itulah yang Jia harapkan.
Racun Yang Er sudah lama bersarang di tubuhnya jadi Jia juga membutuhkan waktu yang lama untuk mencari penawarnya.
"Adik kau akan segera berangkat?" Tanya Liu.
"Begitulah, tapi entah kenapa aku malas" Jawab Jia.
Liu tertawa pelan.
"Kau sepertinya harus menyelesaikannya dengan cepat karena ada seseoramg yang menunggu" Ucap Liu dengan nada Menggoda.
Jia salah tingkah di sana.
"Mana mungkin, bisa saja ia sudah memiliki selir lain" Jawab Jia.
"Kakak rasa tidak, Yang Mulia mencintaimu dan semua orang tau itu" Jawab Liu.
"Sudahlah kak, aku tak ingin membicarakannya dulu" Usah Jia gugup.
"Tapi kau juga mencintainya kan" Goda Liu dengan semangat, apalagi saat melihat wajah Jia memerah.
"Kakak juga bukankah sedang jatuh cinta" Goda Jia balik.
Liu segera panik saat Jia mengungkit seorang pemuda yang belakangan mendekatinya.
"Hahaha, wajah kakak memerah" Tawa Jia membahana.
"Jia, tolong tawamu merusak pendengar yang lain" Tegur Nenek Hong.
"Pagi nenek" Sapa Jia.
Nenek Hong hanya mengelangkan kepalanya melihat kelakuan aneh Jia.
"Kau tidak sarapan dulu?" Tanya nenek Hong saat melihat Jia menyampirkan tasnya di bahu.
"Ah, Nona Yang Er mengajakku untuk sarapan bersama" Jawab Jia.
"Baiklah, hati-hati di jalan" Ucap nenek Hong.
Jia segera pamit dan keluar menuju kudanya yang sedang di elus oleh adiknya Yuan.
"Nona kudanya sudah siap" Ucapnya, Jia tersenyum dan sedikit mencubit pipu gembul anak itu.
"Terima kasih" Ucap Jia dan ia segera menaiki kuda itu.
"Nona tidak sarapan?" Tanya Yuan sedikit berteriak.
"Tidak" Balas Jia langsung memacu kudanya.
Setelah hari itu Yuan dan keluarganya juga pindah ke sini untuk mengabdikan dirinya pada keluarga Jia.
Entah kenapa ia tadi bangun dengan malas, tapi saat ia mulai memacu kudanya perasaan Jia menjadi sangat bersemangat.
***
__ADS_1
"Tabib Su'er, Nona Yang Er sudah menunggu anda di taman" Ucap salah satu prajurit di sana saat Jia turuh dari kuda.
"Ah, Baik terima kasih" Jawab Jia yang langsung berjalab menuju taman.
Satu tahun mengobati Yang Er membuat Jia sangat hapal dengan denah rumah Tuan Er.
"Nona Jia sudah datang" Ucap Kie.
Yang Er segera menengok ke arah sumber suara. Mata Yang Er memang bermasalah tapi instingnya juga tajam.
"Tabib Su'er" Panggil Yang Er.
"Nona Yang Er, hamba datang" Ucap Jia.
"Duduklah" Balas Yang Er.
Jia segera duduk di hadapan Yang Er yang terlihat bersemangat.
"Jadi bagaimana perkembangannya Su'er?" Tanya Yang Er.
"Hamba sudah selesai membuatnya, tapi hamba juga tidak yakin ini berhasil atau tidak" Jelas Su'er.
Yang Er tersenyum lembut.
"Tidak apa-apa, kau sudah berusaha" Jawab Yang Er.
"Kalau begitu hamba akan memakaikannya pada Noalna setelah sarapan" Ucap Jia.
"Baik" Balas Yang Er.
Mereka segera sarapan bersama sambil diselingin canda tawa. Tentu Yang Er tetap di bantu untuk makan.
Setelah sarapan mereka masuk ke dalam kamar Yang Er.
Yang Er mengangguk paham. Tapi saat akan mengoleskan obat itu Tuan Er masuk dengan wajah cemas.
"Bagaimana tabib?" Tanya Tuan Er.
"Hamba akan segera mengoleskannya Tuan" Jawab Jia.
"Kalau begitu cepatlah tabib" Ucap Tuan Er.
Jia segera membuka wadah yang berisi salep lalu mulai mengoleskannya para kelopak mata dan sekitarnyanya. Dengan bantuan Kie Jia selesai membalut mata Yang Er.
"Butuh berapa lama tabib?" Tanya Tuan Er.
"Jika cepat maka untuk sekali pemakaian sembuh, dan untuk jangka waktunya obat ini membutuhkan waktu 1 minggu" Jelas Jia.
Tuan Er terlihat lebih lega.
"Kalau begitu aku serahkan pengobatan ini padamu tabib" Ucap Tuan Er.
"Baik, hamba mengerti Tuan Er" Balas Jia.
Sebenarnya Tuan Er sudah tau tentangnya dan ini juga salah satu perjanjian dengan orang itu. Jia diharuskan menyembuhkan Yang Er dan Orang itu akan menjamin kehidupan Jia dengan identitas baru. Tentunya sebagai Tabib Su'er.
Setelahnya Jia menyuruh Yang Er untuk beristirahat dan ia juga menyerahkan obat yang harus diminumkan tiga kali sehari kepada Kie.
"Kie, kalau ada apa-apa segera hubungi aku" Ucap Jia.
__ADS_1
"Baik Tabib" Jawab Kie.
"Nona Yang Er, hamba pamit pulang kalau begitu" Pamit Jia pada Yang Er.
"Baik tabib, terima kasih" Jawab Yang Er.
Jia segera meninggalkan kediaman itu untuk segera pulang. Tapi sebelum pulang ia harus belanja beberapa barang di pasar.
***
Jia menyusuri jalanan pasar yang masih ramai, banyak pedangan yang menawarkan barang dangangannya. Kudanya sengaja ia tuntun agar lebih mudah untuk berjalan.
Barang pertama yang akan Jia beli adalah kertas, ia menuju toko kertas yang ada di sana.
"Ah Nona Su'er anda datang lagi" Sapa sang pemilik toko.
Jia tersenyum.
"Paman aku butuh barang seperti biasanya" Ucap Jia, sang pemilik segera mengemas barang yang Jia minta.
Yaitu satu pak kertas, lalu bahan untuk tinta.
"Paman tolong jumlahnya dua kali lipat ya" Seru Jia.
"Baik"
Sambil menunggu pesanannya, Jia sekalin melihat-lihat di sana. Selain menjual alat tulis, di toko ini mereka juga menjual berbagai buku. Dari pengobatan, strategi perang bahkan buku untuk orang dewasa.
"Ini Nona" Ucap sang pemilik sambil membawakan barangnya.
Jia segera mengeluarkan sejumlah uang dan ia segera memberikannya kepada paman penjual.
"Terima kasih paman" Ucap Jia.
"Sama-sama"
Jia segera membawa itu ke arah kudanya, lalu memasukannya ke kantung yang diikat pada kuda.
Tinggal satu barang lagi, yaitu kain.
Saat Jia mulai melangkah menuju toko kain, matanya sekilas menangkap sosok yang ia kenal dan rindukan.
Liang berdiri tepat di hadapan Jia, karak mereka hanya 5 meter. Dan celakanya Liang juga melihat Jia.
Dengan cepat Jia menarik kudanya ke arah gang sempit, ia berharap Liang tidak mengikutinya atau misinya gagal.
"Dewa, tolong aku" Rapal Jia semakin tergesa. Ia sangat senang karena kudanya sama sekali tak rewel.
Langkahnya semakin cepat dan pada belokan terakhir Jia menaiki kudanya dan mulai memacunya menuju jalan pulang. Sejenak ia melihat ke belakang, dan ia cukup bernafas lega karena tak ada tanda-tanda Liang mengikutinya.
"Huft, untunglah Yang Mulia tidak mengikutiku" Guma Jia sambil mengelus kudanya.
"Kau cukup membantu tadi" Puji Jia.
Kudanya mulai melambat saat Jia memasuki hutan dan jalanan mulai menanjak.
Tapi Jantungnya kembali berdetak saat orang yang tidak ingin ia temui sekarang berdiri di tengah jalan seolah menghalanginya.
"Yang Mulia"
__ADS_1
"Jia"
***