Beautiful Sword

Beautiful Sword
Racun Naga


__ADS_3

Happy Reading.


***


"Yang Mulia" Ucap Jia yang langsung mengagetkan mereka yang ada di sana.


"Jia" Ucap Jing yang terlihat senang saat melihat Jia, Bibi Xi dan Yelan keluar dari jalan rahasia.


"Yang Mulia, hamba telah membawanya" Ucap Jia sambil menunduk hormat kepada Liang yang ada di depannya.


"Salam Yang Mulia saya Yelan" Ucap Yelan sambil memberi hormat.


"Tegakkanlan tubuhmu Nyonya" Titah Liang.


Yelan segera menegakkan tubuhnya.


"Yang Mulia, selir Li terluka. Sebaiknya kita panggil tabib" Ucap Pangeran Huan, sambil membantu Jia menekan lukanya.


Liang yang kaget langsung menengok ke arah Jia yang sedang dibantu Bibi Xi dan Huan. Segera Liang mengendong Jia masuk ke dalam paviliun.


"Huan segera panggil tabib" Titah Liang.


Sementara menunggu tabib luka di tubuh Yelan juga diobati oleh Bibi Xi di ruangan sebelah.


"Tabib sudah sampai Yang Mulia" Ucap Huan, terlihat di sana seorang tabib dan perawat yang langsung meletakkan barangnya di samping ranjang tempat Jia.


"Yang Mulia, serahkan Selir Jia pada hamba. Lebih Baik anda keluar dulu" Ucap Tabib itu.


"Ayo kak" Ucap Jing sambil menarik Liang yang terlihat tak rela meninggalkan Jia.


***


"Apa yang sebenarnya terjadi?" Tanya Liang pada Bibi Xi.


Bibi Xi hanya menunduk.


"Tadi sewaktu menuju pulang kami dicegat oleh kelompok berpakaian hitam dan langsung menyerang kami. Selir Li dan Nyonya Yelan melawan mereka" Jelaa Bibi Xi menunduk.


"Pembunuh?" Tanya Huan memastikan.


"Menurut selir Li begitu" Jawab Bibi Xi.


"Apakah ada yang membuka mulutnya?" Tanya Liang.


"Tidak ada Yang Mulia, saat ditanya mereka langsung bunuh diri" Jawab Bibi Xi.


"Kakak biarkan aku yang menyelidiki mereka" Ucap Jing.


"Baiklah, nanti kita tanya kan setelah tabin selesai mengobati" Balas Liang.


Mereka kembali diam dengan pikiran masing-masing.


Tak lama tabib keluar dengan wajah tak enak.


"Bagaimana tabib?" Tanya Liang cepat.


"Ampun Yang Mulia, pedang yang mengores Selir Li terdapat racun. Hamba telah berusaha menetralkan racun itu, tapi hamba hanya bisa melemahkannya saja dan sekarang Selir Li sedang demam" Jelas Tabib itu bersujud di depan Liang karena ketakutan.


Bibi Xi menutup mulutnya kaget, sementara ketiga pria itu tercengang.


"Lalu bagaimana dengan nyonya Yelan?" Tanya Huan.


"Menjawab Pangeran, Nyonya Yelan punya pertahanan dari racun sehingga ia hanya mengalami luka gores" Jawab Perawat itu yang ikut bersujud.


Lianh segera masuk ke dalam Paviliun dan menuju tempat Jia berbaring.


"Yang Mulia" Ucap Yelan yanh sedang mengompres dahi Jia. Tapi setelah melihat Liang, ia segera mundur.

__ADS_1


"Kau tau tentang racun ini?" Tanya Liang kepada Yelan.


"Ini racun Naga Yang Mulia" Jawab Yelan.


Racun Naga adalah racun hasil percampuran dari racun mematikan sehingga dalam menemukan penawaran sangat sulit.


"Kau bisa mengobatinya?" Tanya Liang.


Yelan menggelang dengan muka menyesal.


"Maafkan Hamba, Yang mulia hamba tidak memampu mengobatinya".


Liang mengehela nafas gusar.


"Kembalilah beristirahat" Titah Liang.


Yelan pamit dan membeti hormat pada Liang.


setelah Yelan pergi Liang membuka selimut Jia untuk memeriksa lukanya.


Pinggang Jia memang sudah dibalut, tapi Liang bisa mengira-gira sebesar apa luka itu. Ia pun kembali menyelimuti Jia.


"Maafkan aku karena gagal melindungimu lagi" Ucap Liang sambik mengelus surai Jia.


Tangan Liang mengengam Tangan Jia yang terkulai lemah, Ia menyesal menuruti permintaan Jia untuk tidak di kawal. Seharusnya ia lebih memaksanya.


Liang juga tau semematikan apa Racun Naga, tidak ada penawar atau obat. Saat terkena racun Naga sang korban harus mendapat peehatian lebih untuk menemukan penawarnya. Karena orang-orang yang membuat racun itu akan mencampurkan racun berbeda, sehingga tabib yang menanganinya akan kewalahan karena jenis racunnya akan berbeda dengan pasien lain.


"Y-yang Mulia" Lirih Jia yang mulai membuka matanya dan menemukan Liang duduk di pinggiran ranjang.


"Selirku"


"Maafkan hamba karena terlalu lemah" Lirih Jia, Liang mengengam tangan itu semakin erat.


"Tidak selirku, justru aku yang gagal melindungimu" Balas Liang.


Jia tersenyum lemah.


"Aku tau, sekarang jangan pikirkan hal itu dulu. Istirahatlah dulu" Balas Liang mencium dahi Jia.


"Lakukan sekali lagi Yang Mulia" Pinta Jia saat Liang melepaskan ciuman itu.


"Tentu"


Liang memberikan ciuman pada dahi Jia agak lama sebelum melepasnya dan segera pergi.


"Yang Mulia, pembunuh itu punya tato ular hitam di dadanya" Ucap Jia sebelum Liang pergi.


"Baiklah"


***


Huan, Jing dan Bibi Xi melihat Liang yang baru keluar dengan wajah murung.


"Bagaimana kakak?" Tanya Jing.


"Ia sekarang sedang beristirahat, jadi biarkan saja" Jelas Liang.


"Dan untuk penyelidikanmu, Selir Li bilang pembunuh itu memiliki Tato ular hitam" Ucap Liang pada Jing.


"Aku tau tato itu" Ucap Jing.


"Yang Mulia izinkan hamba segera menyelidikinya" Lanjut Jing.


"Lakukan" Balas Liang.


Jing segera peegi dari sana.

__ADS_1


"Nyonya Xi tolong jaga Selir Li dan Nyonya Yelan" Titah Liang.


"Baik, hamba mengerti" Balas Bibi Xi membeei hoat dan langsung masuk ke dalam paviliun.


"Huan ikut aku" Ucap Liang.


"baik kakak" Balas Huan.


Mereka segera kembali ke kediaman Liang, sebelumnya Liang telah menyurunh Cheng berjaga di paviliunnya.


***


"Huan bagaimana?" Tanya Liang pada Huan yang berdiri di hadapannya.


"Ini bukan perbuatan Perdana Menteri Yang Mulia" Jawab Hua.


"Jelaskan!"


"Mata-mata hamba bilang kalau Perdana Menteri sama sekali belum tau rencana kita, ia bahkan masih beraktifitas seperti biasanya" Jelas Huan.


"Jadi kemungkinan pelakunya adalah orang yang tau masalah ini" Lanjut Huan.


"Kalau begitu kita akan adakan rapat setelah kepulangan Jing" Putus Liang.


"Baik, kakak"


***


Jing kini sudah sampai di wilayan pegunungan yang ada di ibu kota.


Dulu wilayah ini terkenal dengan para bandit dan pembunuh bayaran. Namun seiring berjalan waktu kini mereka hanya menjadi suku penduduk saja.


"Wah sepertinya anda bangsawan" Ucap salah satu penduduk yang membawa kayu bakar. Melihat orang itu kedua pengawal Jing waspada.


"Apakah ketua kalian ada?" Tanya Jing.


"Ada apa anda ingin bertemu ketua kami?" Tanya Penduduk itu balik.


Akhirnya karena tak ingin berdebat lagi Jing mengeluarkan giok resmi Kaisar.


"Ah ternyata utusan Yang Mulia" Ucap Pria 8tu dengan santai.


"Masuklah" Lanjut Pria itu membuka gerbang itu. Gerbang itu tanpa penjaga karena jika ada yang berniat mencuri di sana maka sama saja bunuh diri.


"Pangeran apa tidak berbahaya?" Tanya salah satu pengawal khawatir.


"Ikut saja" Balaa Jing sambil berjalan masuk mengikuti pria itu.


Di dalam mereka langsung melihat kegiatan warga di sana dan jika di lihat di sini seperti sebuah kota kecil.


Jing terus mengikuti pria itu menuju bangunan besar yang tak lain kediaman ketua suku.


"Ketua ada yang ingin bertemu" Ucap Pria itu kepada seseorang di balik tirai.


Jing tak bisa melihatnya.


"Wah-wah ada apa seorang pangeran ke sini?"


***


Tebak-tebakan yu ketuanya kaya apa?


Cewe/cowo?


Tua/muda?


Kalo ada yang benet Author update gila-gilaan buat kalian.

__ADS_1


Salam cinta.


RiantiTeti.


__ADS_2