Beautiful Sword

Beautiful Sword
Eksekusi I


__ADS_3

Happy Reading.


***


Jia terduduk di pojokan penjara yang dingin itu, hari sudah semakin larut namun ia sama sekali tidak ada niatan tidur. Kenapa? Karena besok hari persidangannya.


Tuan Hua sangat murkan saat mengetahui perihal anaknya, bahkan ia mengancam akan berkudeta jika Jia tak dihukum.


Dan untuk masalah kabar Ilmu Hitam itu, rakyat tetap bersimpang siur membicarakannya bahkan setelah diumumkan hari persidangan Jia, masyarakat bertambah semangat untuk membicarakan hal ini.


Jia hanya berharap semoga pengorbanannya itu tak sia-sia, ia sudah sangat sedih karena tak bisa melihat keluarganya untuk terakhir kali.


Karena mereka tak diizinkan untuk bertemu Jia, tepatnya ia tak ingin menemui mereka. Rasanya terlalu berat jika melihat air matanya. Bahkan Jia tak ingin bertemu siapapun.


Ia hanya akan mengirim surat ke keluarganya untuk merelakannya jika besok Jia mendapat hukuman mati, ya dia yakin kalau hukuman matilah yang akan menghampiri.


"Dewa, apa yang kulakukan ini benar?" Lirih Jia, air matanya tak bisa terbendung lagi.


Apalagi mengingat tujuan ia hidup kembali untuk selamat dari kejadian itu, tapi tetap saja ia kan berakhir begitu.


Tapi tak ada penyesalan karena keluarganya akan hidup lebih lama, ya. Setidaknya.


Tapi tiba-tiba Jia merasakan hawa keberadaan seseorang di sana.


"Siapa?" Lirih Jia.


Penjara yang Jia tempati khusus untuk menampung satu orang, jadi jika ada yang datang tentu kepadanya.


"Ini aku"


***


Suasana sidang kembali ricuh saat kedua kubu saling berdebat, Ada kubu Tuan Hua dan Kubu Jia.


"Tuan Hua jika perkataan Selir Li benar maka bukankah kita harus menyelidikinya" Ucap Seorang Menteri.


"Omong kosong, puteriku mati karena kecemburuan seorang Selir" Bantah Tuan Hua.


Liang beberapa kali menghela nafas jegah dengan mereka.


"Tapi hal ini bukan sekali dua kali berhembus" Ucap Menteri lainnya.


"Ck, lalu kalian percaya kabar yang bahkan tidak ada kejelasan" Balas Tuan Hua.


Jing mengepalkan tangannya karena geram pada dirinya, ia merasa gagal sebab terlalu lambah mengumpulkan bukti sehingga seseoramg harus berkorban.


"Tenanglah adik" Bisik Huan.


"Tapi kak" Bantah Jing.


"Bukankah kita sudah sepakat untuk tidak menyiayiakan pengorbanan Nona Jia" Balas Huan membuat Jing terdiam di sana.


Sebenarnya dari lubuk hati Huan ia juga sangat menyesal.


"Kalau begitu panggil pelakunya" Ucap Tuan Hua.


"Yang Mulia?" Tanya Sekretaris Kaisar.

__ADS_1


Liang mengangguk.


"Bawa Selir Li kemari!" Ucap Kasim.


Tak lama pintuk terbuka, Jia dengan tangan terborgol masuk dan di dampingi dua prajurit. Mukanya sangat kurus dan juga pucat.


Hati Liang kembali teriris melihat keadaan Jia, bahkan Permaisuri menutup mulutnya tidak percaya.


"Jing!" Tegur Hua saat melihat Jing memegang pedangnya seolah hendak menyerang.


"Kak" Balas Jing.


Huan tak menjawab, namun ia mengambil tangan adiknya dari pedang itu.


"Jia akan sedih jika kau begitu" Ucap Huan yang menyadarkan Jing.


"Maafkan aku" Balas Jing.


"Katakan kalau kau membunuh puteriku karena cemburu" Desak Tua Huan saat Jia beelutut di sana.


"Tuan Hua, itu bukan pertanyaan yang bijak" Balas Pendukung Jia.


"Hah, bijak? puteriku terbunuh karena dia" Bentak Tuan Hua menunjuk Jia.


Liang yang tidak kuat lagi langsung mengebrak meja yang menyebabkan orang-orang terdiam.


"Selir Li katakan yang sejujurnya!" Titah Liang.


Jia menatap Liang datar.


"Hamba sudah katakan di ruang interogasi bahwa memang benar Selir Hua bermaksud membunuh Yang Mulia dan hamba terpaksa membunuhnya" Jelas Jia.


"Tuan Hua, jika kau terus berbuat onar maka prajurit akan menyeretmu keluar" Ucap Permaisuri.


Tuan Hua langsung terdiam sambil mengepalkan tangannya.


"Dari mana kau tau jika Selir Hua mau membunuhku?" Tanya Liang melanjutkan interogasi.


"Ilmu hitam punya banyak mantra, dan Selir Hua menggunakan mantra untuk berada di titik buta mata sehingga orang awam tidak bisa menyadari keberadaannya. Lalu untuk ilmu hitam itu, hamba tau karena Selir Li pernah kesakitan saat berdekatan dengan Kain Sutra Langit" Ucap Jia.


"Lalu apa motif puteriku mau membunuh kaisar?" Tanya Tuan Hua.


"Puterimu sangat serakah jadi ia akan berfikir, kalau Yang Mulia tidak bisa ia miliki maka tidak ada yang bisa memilikinya" Jelas Jia.


"Beraninya kau?" Ucap Tuan Hua.


"Yang Mulia tolong berikan puteri hamba keadilan" Lanjut Tuan Hua.


Liang menghela nafas.


"Tuan Hua, kita harus melakukan penyelidikan dulu" Jelas Liang.


"Tapi Yang Mulia tolong lihat dari segi kemanusiaan" Desak Tuan Hua.


"Tuan Hua Kaisar benar, istana harus melakukan penyelidikan dulu" Ucap Permaisuri.


"Lalu jika apa yang dikatakan Selir Li bohong maka puteri hamba tak akan tenang" Ucap Tuan Hua.

__ADS_1


"Tuan Hua, Jika selir Li salah maka ia akan langsung dipenggal" Ucap Liang tegas.


Seluruh Orang terdiam atas perkataan Liang tadi. Sementara Jia hanya bisa menunduk.


"Tapi untuk sekarang kita lakukan penyelidikan terlebih dahulu" Ucap Liang.


"Tunggu Yang Mulia" Ucap Ibu Suri.


"Selir Li tetap bersalah karena saat membunuh Selir Hua ada kecemburuan di sana" Lanjut Ibu Suri.


para pendukung Jia melototkan mata mereka.


"Apa maksud Ibu Suri?" Tanya Liang.


"Kita tanya saja kepada orangnya?" Balas Ibu Suri menatap Jia.


"Selir Li katakan dengan jujur apakah ada isyarat kecemburuan di sana?" Tanya Permaisuri.


Jia sejenak terdiam sebelum membalas dan bapasannya membuat semua orang kaget.


"Ya, hamba cemburu kerena kedekatan Yang Mulia dengan Selir Hua dulu" Jawab Jia datar.


"Selir Li" Tegur Liang tak menyangka Jia melakukan hal seperti itu.


"Selir Li jika kau dipojokan seseorang maka katakan saja" Ucap salah satu Menteri.


Tapi Jia menggelang.


"Tidak Menteri, aku mengatakan yang sejujurnya" Ucap Jia.


"Yang Mulia Selir Li pasti diancam" Seru Huan.


"Pangeran Huan, sebelum Selir Li kemari ia sudah diperiksa kalau ia datang dengan keadaan normal" Balas Ibu Suri.


"Yang Mulia tolong" Ucap Jing bsrlutut.


"Pangeran Jing kelakuanmu sangat tidak pantas" Tegur Ibu Suri.


Liang hanya diam menatap Jia yang berlutut di sana, ia benar-benar tak bisa berbuat apa-apa lagi saat Jia kengatakan itu.


"Yang Mulia Selir Li sudah mengaku, lalu tunggu apa lagi" Ucap Tuan Hua.


"Ibu Suri" Lirih Liang.


"Yang Mulia bukankah anda mendengarnya sendiri" Balas Ibu Suri.


Mata Liang sekilas terpenjam.


"Jia Li, pangkatmu sebagai selir ku cambut dan kau diusir dari istana" Putus Liang barat.


Sementara Jing dan Huan terdiam di sana sambil memandangi Jia nanar, Permaisuri juga tak bisa menyembunyikan ekspresinya.


"Lalu, kecemburuan di istana adalah dosa besar dan tak termaafkan" Lanjut Liang.


"Kau juga mambunuh salah satu Selir atas dasar kecemburuan walau niatmu juga untuk melindungi kaisar"


"Jadi...... Jia Li kau dijatuhi hukuman mati dengan cara dipenggal"

__ADS_1


***


Wahai pembaca harap tenankan diri dulu. Jangan terbawa emosi, karena Author pernah bilang kan kalau suka Ending yang Happy.


__ADS_2