Bedak Sang Nyai

Bedak Sang Nyai
Tipu Daya Iblis Tampan


__ADS_3

Waktunya makan siang, Tiara sengaja tidak ikut ke kantin bukan karena takut dengan kehadiran pak Amrin tapi kehadiran Arka membuatnya tertahan untuk sekedar memberi makan para cacing yang kelaparan di perutnya.


"Makan yuk mbak, lainnya udah pada pergi tuh!" ajak Arka dengan antusias.


Tiara mengulas senyum, "Nanti, kan gantian mas. Disini nggak boleh kosong!"


"Duh kita kok nggak enak banget sih manggilnya mas sama mbak. Kita kan seumuran lho!" Arka keberatan ia pun meminta Tiara untuk memanggil namanya saja tanpa embel-embel mas lagi.


"Ra, kamu dah punya cowok belum sih?" Arka semakin gencar melayangkan pertanyaan pada Tiara baik itu pribadi ataupun yang menyangkut keluarga.


"Kenapa emangnya? Mau daftar?" Tiara terkekeh geli melihat Arka yang terdengar frustasi dengan jawaban-jawaban Tiara.


"Ya jelaslah, emang nggak keliatan apa kalau aku suka sama kamu?"


"Nggak!"


Wajah Arka merona merah menahan kesal dan Tiara hanya tertawa geli. Kesal dengan jawaban yang diberikan Tiara, Arka pun akhirnya pamit undur diri. Bersamaan dengan pamitnya Arka, Anita datang setelah makan siang di kantin.


"Gantian Ra, kamu ishoma dulu!" 


"Iya mbak,"


Tiara berlalu sedikit cepat, ia hendak menuju ke toilet. Sedari tadi ia menahan hasrat buang air kecil, Tiara lega karena tak harus lama mengantri. Saat berada di bilik toilet ia mendengar himbauan dari seseorang diluar sana untuk segera mengosongkan toilet karena ada salah satu saluran yang bocor.


Tiara pun bergegas keluar dan segera mencuci tangannya. Tapi apa yang terjadi kemudian justru diluar dugaan Tiara. Pak Amrin menunggunya dengan wajah kesal. Tiara pun terkesiap.


"Pak Amrin?" 


"Dasar p*l*cur, kau sengaja menghindariku hah!" Pak Amrin merangsek cepat ke arah tubuh Tiara mendorongnya hingga membentur dinding tembok keramik.


Tangan kekarnya menahan leher Tiara dengan kuat hingga gadis itu kehabisan nafas. "Kau membuatku marah Tiara! Kau membuatku menunggu jawaban!"


"Ja-jawaban apa?! Se-semua sudah jelas, saya menolak tawaran bapak!" dengan susah payah Tiara menjawab pertanyaan pak Amrin, lehernya terasa sakit karena tekanan lengan pak Amrin.


Wajah Tiara mulai memerah, asupan oksigen ke otaknya berkurang. Pak Amrin yang kalap kembali bicara kasar.


"Kau s*nd*l yang tak tahu diuntung! Aku menolong kakakmu dan memberimu kesempatan untuk menikmati hidup enak, tapi kau malah menggoda lelaki lain!"


Tiara tak menjawab, tubuhnya mulai terasa lemas. Ia merasa kali ini pak Amrin tidak akan membiarkan dirinya hidup setelah apa yang terjadi di ruang ganti karyawan tempo hari. Tubuh ramping Tiara dengan mudahnya ditarik dan di hempaskan ke lantai. Tiara hanya bisa menjerit kesakitan.


"Aku tak lagi ingin jawaban dari mu Tiara, aku hanya mau dirimu sekarang! Suka tidak suka kau harus membayar hutang kakakmu dengan tubuhmu!" 

__ADS_1


Pak Amrin bertindak semakin beringas, ia menarik Tiara dalam dekapannya, mel*mat bibir Tiara dengan buas, dan membuka paksa pakaian Tiara. Pak Amrin gelap mata.


Pakaian bagian atas Tiara hampir terbuka, saat tubuh pak Amrin tersentak mundur oleh pukulan seseorang.


"Biadab, dimana sopan santunmu pak tua!" 


Pak Amrin mendapatkan pukulan bertubi-tubi dari dua orang lelaki yang bertubuh lebih besar dan lebih muda. Pak Amrin kalah tenaga dan ia pun tersungkur jatuh dengan wajah babak belur. Tiara menangis sejadinya, dua kali ia dilecehkan pria tua yang bernama Amrin Jaelani itu. 


Tiara sakit hati, apalagi kali ini perbuatan bejat pak Amrin diketahui rekan kerjanya. Adalah Rio dan Arka yang telah menyelamatkan Tiara dari perbuatan mesum pak Amrin. 


Rio yang curiga dengan gerak gerik pak Amrin, ia sudah memperhatikan kejanggalan tingkah laku pak Amrin dari kemarin. Lalu dirinya mencari tahu siapa pak Amrin dan mengawasinya dari jauh. Hingga siang tadi, ia melihat pak Amrin masuk ke toilet wanita. Arka yang kebetulan lewat dan menyapa Rio akhirnya ikut andil menggagalkan perbuatan mesum pak Amrin.


Kejadian di toilet itu sontak membuat geger mall, pak Amrin diamankan dan Tiara dimintai keterangan oleh pihak manajemen. Seperti biasa Bu Ratih menjadi Dewi penolong bagi Tiara. Kasusnya diteruskan ke jalur hukum karena pihak manajemen merasa dirugikan dengan tingkah pak Amrin.


Saat hendak dibawa ke kantor polisi, pak Amrin berhenti di hadapan Tiara.


"Ini belum berakhir Tiara, ingat aku akan mencarimu!"


Tiara yang shock akhirnya diminta pulang untuk menenangkan diri. Arka dengan suka cita mengantarkan Tiara pulang. Untuknya musibah Tiara adalah sebuah berkah. Arka merasa inilah jalan yang diberikan Tuhan untuk mendekati pujaannya.


"Kamu dirumah sendirian?"


Tiara mengangguk, dengan suara parau Tiara mengucapkan terimakasih dan meminta Arka untuk pulang.


"Udah, jangan dipikirin terus!" potong Arka cepat.


"Aku capek, nggak keberatan kan kalau kamu pulang dulu?" pinta Tiara dengan wajah sembab karena banyak menangis.


"Ok, aku pulang ya? Kalau ada apa-apa jangan sungkan untuk telepon aku?"


Tiara mengangguk, lalu masuk ke dalam rumah kontrakan kecilnya itu. Ia terkejut saat mendapati Bayu sudah ada di dalam rumah. Berdiri dengan ekspresi datar. Menatap ke arah pintu dan Tiara bergantian.


"Siapa dia?"


"Arka," Tiara menjawab lirih dan memeluk Bayu. Tangisnya kembali meledak.


"Ada apa?" tanyanya lembut seraya mengusap rambut Tiara, membiarkan Tiara menangis membasahi pakaiannya.


"Pak Amrin,"


Suara Tiara tercekat lalu ia kembali bercerita tentang kejadian yang ia alami. Kejadian memalukan yang membuatnya terluka. Bayu mendengarkan dengan baik.

__ADS_1


"Kamu dendam sama dia?"


"Iya, aku benci dia! Dua kali dia permalukan aku!" jawab Tiara geram.


"Aku bisa membantumu Tiara, membalaskan dendam demi kakak dan juga kehormatan kamu," Bayu mulai mempengaruhi pikiran Tiara.


Bayu sengaja membiarkan Tiara saat dilecehkan di kamar mandi. Ia ingin Tiara membenci pak Amrin, agar Bayu dengan mudah menghasut Tiara.


"Bagaimana caranya?"


"Mudah sekali Tiara sayang, selain itu kamu akan mendapatkan apa yang kamu inginkan." senyum licik Bayu melengkung di wajah tampannya.


"Aku inginkan?" Tiara mengernyit tak paham.


Bayu membawa Tiara ke depan cermin, ia berdiri di belakang Tiara.


"Kecantikan, kekayaan, dan kekuasaan." tangannya membingkai wajah Tiara dan menyusuri lekuk tubuh Tiara perlahan.


"Uang, kau butuh uang bukan? Uang adalah segalanya, dan uang adalah kebahagiaan." Bayu berbisik pelan di telinga Tiara meremangkan seluruh bulu di tubuh Tiara.


"Aku memang butuh uang, tapi bagaimana bisa balas dendam dan mendapatkan uang secara bersamaan?"


"Kau hanya perlu membawanya ke suatu tempat, rayu dan goda dia dengan tubuhmu. Sisanya biar aku yang akan mengurusnya." Bayu kembali berbisik, kali ini membangkitkan hasrat primitif Tiara.


Ia mend**ah terbawa halusnya bisikan suara Bayu yang menyusuri lekukan tubuh indah Tiara.


"Apa kau sanggup Tiara? Aku berjanji akan melindungimu, membalaskan dendam mu, dan juga memberimu segalanya," 


"Segalanya?" mata Tiara menatap sosok Bayu di cermin dengan rasa tak percaya.


"Segalanya sayang, lihatlah di meja. Aku akan memberikanmu lebih dari ini, jika kau menjalankan semua perintahku."


Mata Tiara terbelalak melihat segepok uang yang tiba-tiba saja ada diatas meja. "Ini …,"


"Lakukan perintahku, satu sukma untuk setiap keinginanmu Tiara."


"Hanya satu, dan aku bisa melakukannya dengan siapa pun?"


Bayu menghembuskan nafas di telinga Tiara membuat Tiara tak kuasa lagi menahan hasratnya pada Bayu. Ia memejamkan mata menikmati setiap sentuhan Bayu yang membawanya pada sensasi kenikmatan lagi dan lagi.


"Iya Tiara, siapa pun. Ingat satu sukma untuk segalanya. Lakukan untukku, lakukan untuk dendammu dan lakukan untuk kita." Bayu mengatakan disela kegiatannya memancing hasrat Tiara.

__ADS_1


"Aku akan melakukannya, apa pun demi … oh, Bayu!"


 


__ADS_2