Bedak Sang Nyai

Bedak Sang Nyai
Jatuh Cinta, Lagi?


__ADS_3

Sudah dua hari Tiara tak keluar dari apartemennya. Hanya Rendra, sang kakak yang mengantarkan makanan untuk Tiara. Dia berusaha menjadi kakak yang baik untuk adiknya itu. Siang ini Rendra kembali datang, ia cukup khawatir melihat wajah pucat adiknya.


"Ra, kamu sakit? Pucet bener tuh muka dari kemarin. Kita ke dokter ya?"


Tiara menggeleng pelan, ia sibuk mengganti ganti saluran televisi membuat Rendra pusing.


"Kamu mau liat apaan sih?! Ganti melulu dari tadi?"


"Nggak tahu, iseng aja."


Rendra menghela nafas, ia mengambil sepiring nasi kebuli lengkap dengan ayam goreng dan juga acarnya. "Makan dulu isi perut kamu!"


Tiara dengan malas meraih piring dari tangan kakaknya itu. Mereka kembali terdiam sambil melihat tayangan televisi yang akhirnya menarik perhatian Tiara.


"Anak buah pak Amrin nyariin kamu." ujar Rendra ditengah menikmati makan siang mereka.


"Uhuuuk," Tiara tersedak, ia buru-buru mengambil air.


Rendra memperhatikan Tiara, adiknya itu jelas menyembunyikan sesuatu. "Pak Amrin bunuh diri. Apa, kamu udah tahu?"


Tiara kembali terbatuk, ia menggelengkan kepala.


"Kabarnya kamu sempat ketemu pak Amrin sebelum dia mati. Bener, Ra?" Rendra kembali bertanya bak seorang polisi yang mencari keterangan dari tersangka.


"Toni mati pas ketemu kamu waktu itu, sekarang pak Amrin. Aku jadi curiga sama kamu Ra?"


Mendengar kecurigaan Rendra, Tiara berusaha tetap tenang. Ia tak menjawab, dan melanjutkan makan. Tapi diamnya Tiara membuat Rendra semakin gencar bertanya.


"Miko, Arka, semua yang berhubungan sama kamu mati." wajah Rendra berubah serius dan tegang. "Kamu bunuh mereka semua Ra?"


BRAAK!!


Tiara kesal dan memukul meja dengan keras. "Arka dan Miko mati bukan karena aku!" ia membelalakkan kedua mata indahnya pada sang kakak.


"Toni sama pak Amrin memang pantas dapat hukuman setimpal, tapi bukan aku pelakunya! Mereka mati karena kebodohan mereka sendiri!"


"Tapi semuanya merujuk ke kamu Ra, kamu orang terakhir yang ada sama mereka! Apa kamu pikir itu nggak bikin polisi curiga?" Rendra semakin menekan Tiara.


"Aku nggak menyentuh Toni sama sekali. Dia mati dengan sendirinya, begitu juga sama pak Amrin. Dia bunuh diri kan, aku bahkan nggak ada disana saat itu." Tiara menatap Rendra dengan ekspresi datar, rasa empati pada kematian dua pria preman kampung itu menguap sudah.


Rendra menghempaskan punggungnya ke sofa, selera makannya hilang. Ia mengacak rambutnya dengan frustasi. "Semoga polisi nggak nemuin hubungan kamu sama mereka, aku cuma khawatir kalo …,"


"Kita akan pindah dari sini sebulan lagi! Pergi ke kota lain dan melupakan semua yang ada disini."Tiara memotong perkataan Rendra, ia menegaskan rencananya untuk pindah dari kota kelahirannya.


"Pindah? Kemana lagi?"


"Entah, jauh dari sini dimana orang nggak kenal dan nggak tahu siapa kita!"


Mereka saling menatap, keduanya terlibat tidak langsung dalam kasus kematian Toni jadi menghilang adalah cara terbaik.

__ADS_1


"Satu lagi, bantu aku dapetin lelaki yang kita temui kemarin." Tiara kembali berkata dan kali ini sedikit mengejutkan Rendra.


"Alan?"


Tiara mengangguk, dahi Rendra berkerut dan ia memiringkan kepala. "Kenapa aku harus bantu kamu dapatkan dia? Dia anak orang kaya apa gimana?"


"Dia jaminan nyawa kamu,"


"Hah, apa?!" Rendra yang terkejut sampai melonjak dari duduknya. Ia segera berpindah tempat duduk dan mendekati Tiara. "Maksud kamu gimana sih? Serem bener jaminan nyawa?!"


"Aku harus dapetin dia apa pun caranya Ren, karena kalo nggak ...," Tiara ragu untuk melanjutkan kalimatnya.


"Mau nungguin sampai kapan nih? kalau nggak kenapa Ra? Kenapa bisa jaminan nyawa aku?!" Rendra tak sabar menunggu Tiara bicara.


Tiara menghela nafas dengan berat, lalu menoleh ke arah Rendra. Untuk sesaat Tiara ragu tapi akhirnya ia pun mulai bercerita tentang keadaan yang sebenarnya.


Mulai dari pertemuannya dengan Bayu, perjanjian yang Tiara lakukan dengan sang Nyai dan juga tumbal-tumbal yang harus diberikan untuk Bayu dan kekuatan bedak setan. Ia juga bercerita tentang kematian para lelaki di sekitar Tiara dan bagaimana Bayu bekerja.


Rendra terkejut bukan kepalang, ia sontak mundur menjauh dari adiknya. Rendra tak percaya dengan pengakuan Tiara. Ia juga tak menyangka jika adiknya mengambil jalan pintas demi kecantikan dan kekayaan yang ia dapatkan sekarang ini.


"Gila! Kamu, kamu ngapain sih milih jalan begitu! Apa kamu nggak mikir dulu akibatnya Ra!" Rendra berteriak, ia menatap adiknya lekat - lekat dari ujung kepala sampai ujung kaki.


"Jadi semua ini hasil dari lelaku kamu?!" matanya membelalak, kecurigaannya atas uang yang didapatkan Tiara dalam waktu singkat terjawab sudah.


Rendra bingung, marah, takut, dan kecewa atas pilihan Tiara. Meski mereka minim pengetahuan tentang agama, tapi Rendra tahu pelaku pesugihan model apa pun yang memakai media lelembut dari alam gaib akan berujung pada petaka.


"Kamu bisa hidup enak sampai sekarang disini karena Bayu, hutang kamu lunas, dan semua musuh kita hilang." Tiara kali ini bicara tanpa menatap ke arah kakaknya, ekspresi nya datar.


"Aku butuh nyawa Alan atau …," Tiara menjeda kalimatnya.


"Aku yang mati!" Ia menoleh ke arah Rendra, seketika Rendra lemas tubuhnya melorot ke lantai ia bingung harus bersikap dan berkata apa pada Tiara.


"Kalau aku mati, aku nggak bisa jamin nyawa kamu juga selamat dari kejaran centeng-centeng itu!"


Andai kehidupan mereka baik, andai takdir tidak mempermainkan hidup keduanya, andai sang ayah mau mengakui mereka sebagai anak dari awal, dan andai Rendra tidak terjerat bujuk rayu duo Amrin dan Toni, mungkin pilihan hidup tak akan sesulit ini. Sejuta kata andai memenuhi pikiran Rendra yang kusut.


"Kenapa Ra, kenapa kamu nggak mau cerita sama aku?!" tanyanya setengah histeris.


"Dimana kamu waktu aku sendirian? Kamu pergi gitu aja ninggalin aku malahan kamu jual aku ke Toni!" Tiara kembali mengulang dan mengingat kesalahan Rendra.


"Udah deh, aku yang mutusin aku juga yang bertanggung jawab! Kamu mending pulang aja sekarang, aku pengen sendirian."


Untuk beberapa saat mereka saling diam, hanya suara televisi yang masih setia mengisi keheningan ruangan. Rendra kembali menatap adiknya sejenak sebelum berdiri dan berkata, "Jaga diri kamu baik-baik, anak buah Amrin lagi cari kamu."


Rendra berlalu meninggalkan Tiara sendiri. Tiara memejamkan mata, tangannya mengepal, hatinya terasa sakit dengan ucapan Rendra selama pembicaraan tadi.


Aku memang bodoh Ren, bodoh sekali! Aku tergoda Bayu, nggak mikir panjang. Kalau boleh aku kembali, aku mau kembali tapi nggak mungkin juga. Nyawa kamu juga nyawaku bisa melayang. Aku masih ingin hidup menikmati apa yang aku punya sekarang. Maaf Ren, maafin aku yang udah seret kamu sejauh ini!


Tiara menangis dalam diam, entah kata apa yang pantas untuk menggambarkan perasaannya saat ini. Tiara menyesal tapi juga menikmati hasilnya. Ia tak memungkiri Bayu membuat dirinya tenang dan terlindungi. Ia juga menikmati setiap sentuhan Bayu.

__ADS_1


Tiara oh Tiara,


Ponselnya berdering, Alan mengirimkan pesan singkat memintanya bertemu lagi. Tiara termangu, ia ragu untuk menjawab tapi kemudian ia pun membalas pesan Alan. Mereka akan bertemu di sebuah kafe di daerah Pleburan, Han's Kopi.


Sesuai janji, mereka pun bertemu. Tiara terlihat cantik meski dengan pakaian casualnya, polesan bedak ditambah lipstik natural membuatnya semakin cantik bersinar. Sejak turun dari taksi, Tiara selalu disambut tatapan memuja para lelaki yang kebanyakan mahasiswa dan eksekutif muda yang baru pulang kantor.


"Hai, lama nunggu ya?"


Senyum Alan mengembang sempurna, ia takjub dengan kecantikan Tiara malam ini. "Wah, kamu cantik banget wangi lagi! Spesial ya buat aku?"


"Iish apaan sih, biasa aja kali. Kamu kan tahu aku gimana?"


"Hhm, iya sih tapi aku boleh bilang jujur nggak sih Ra?"


"Ya bilang aja, emang ada yang larang?"


Alan tersenyum tipis, "Aku lebih suka kamu yang dulu, lebih natural, lebih cantik."


DEG!!


Jantung Tiara terasa berhenti berdetak, ia tak menyangka Alan memyukai penampilan kucelnya yang dulu.


"Oh jadi sekarang aku nggak cantik nih?" ia mencoba menutupi rasa terkejutnya.


"Cantik sih, cantik banget malah, terlalu cantik! Sampai liat tuh mata cowok -cowok semuanya ke kamu!"


Tiara menoleh ke arah belakang dan benar saja tatapan memuja dari para lelaki semua tertuju padanya. Tiara terkekeh, dan meminum es cappucino pesanannya.


"Namanya juga punya mata ya terserah mereka mau liat apa."


"Ehm, Ra boleh nggak aku nanya sesuatu?"


"Tanya aja?"


"Kata Santi kamu masih belum bisa ikhlasin Arka ya?"


Tiara melipat kedua tangan diatas meja, ditatapnya lelaki yang sedikit mirip dengan Arka. "Begitulah, kenapa emangnya?"


"Arka spesial banget ya Ra, dihati kamu?"


Tiara menghela nafas sebelum memutuskan bercerita tentang Arka. Pertemuan mereka yang tak disengaja dan juga kekonyolan Arka. Cerita tentang sosok lelaki yang baru pertama menjadi teman dekatnya itu mengalir begitu saja dari bibir Tiara. Terkadang Tiara tersenyum, sesekali berubah sedih tapi kembali tertawa saat Alan menghiburnya.


Tiara belum menyadari jika Alan sengaja membuatnya bercerita agar beban di hati gadis pujaannya berkurang. Alan peduli pada Tiara terlepas dari mantra pemikat yang dirapalkan Tiara sebelumnya.


Alan meraih tangan Tiara dan menggenggamnya erat, "Mulai sekarang, ada aku disini. Kamu bisa berbagi banyak hal sama aku. Aku mungkin nggak bisa gantiin Arka tapi aku bisa juga kok bikin kamu tersenyum dan bahagia."


Hati Tiara menghangat, getaran aneh menjalar dari genggaman tangan Alan. Ia tak tahu pasti apa yang terjadi, Tiara hanya merasa nyaman bersama lelaki berlesung pipit di depannya.


Apa aku jatuh hati padanya?

__ADS_1


__ADS_2