
"Surprise!" senyuman lebar penuh kemenangan dengan licik tersungging di bibir pak Amrin.
Tiara terbelalak, tak menyangka jika pak Amrin ada dihadapannya sekarang, "Ka-kamu?!"
"Apa kehadiranku mengejutkan, Tiara sayang?"
"Gimana pak Amrin bisa keluar dari penjara secepat ini?"
Pak Amrin menyeringai pada gadis ayu dengan pakaian berkabung yang tampak tak suka dengan kemunculannya yang mendadak. Ia berjalan perlahan mendekati Tiara. Kedua tangannya masuk kedalam saku celana, wajah arogannya membuat Tiara berdecak kesal.
"Kebanyakan gaya deh pak Amrin! Mau saya laporin polisi lagi?" Tiara mengancam meski ia sendiri tak yakin dengan ucapannya.
"Heh, kalo ngomong hati-hati! Semua bisa berbalik ke diri kamu sendiri!" Pak Amrin menggertak, ia mendekatkan tubuh lalu berbisik pada Tiara. "Aku tahu apa yang terjadi pada Toni!"
Tiara mendelik tak percaya, tangannya gemetar dan sontak ia sembunyikan ke belakang tubuhnya dengan posisi saling mengait. "Maksud bapak?"
Pak Amrin tersenyum menatap Tiara dengan penuh hasrat dalam jarak yang sangat dekat. "Dua centengku mengatakan hal menarik tentang mu dan Toni!" ia kembali berbisik menyerang Tiara.
Degup jantung Tiara kembali tak karuan, lututnya lemas.
"Aku juga tahu Rendra ada bersamamu sekarang, jadi …,"
"Apa maumu?!" Tiara memotong perkataan pak Amrin ia tak mau lebih lama lagi berdekatan dengan pria paruh baya yang bernafsu menjadikannya salah satu koleksi istri muda.
"Mudah saja, aku mau kau dan juga siapkan sejumlah uang untuk hutang judi Rendra. Jika tidak, Rendra harus bertukar nyawa dengan Toni!"
Pak Amrin tertawa puas, ia menarik dagu Tiara dan hendak mengecupnya saat tiba-tiba pukulan telak menghantam dirinya.
"Brengsek! Mau apa kau?"
Pak Amrin terhuyung, ia menyentuh sudut bibirnya yang pecah karena pukulan Rendra. "Lihat siapa yang datang dan menampakkan diri padaku!" seringai iblis muncul di wajah pak Amrin.
Ia menyeimbangkan tubuh dan berdiri dengan pongah menantang Rendra. "Sentuh aku sedikit saja maka kelakuan adikmu akan tersebar di seluruh jagad maya! Apa kau ingin Hendrawan semakin membenci anak-anak haramnya?"
"Bangsat!" Rendra hendak kembali maju dan merangsek menghajar si tua Amrin tapi Tiara mencegahnya. "Ren, tahan emosi kamu!"
"Lepasin Ra! Gara-gara dia dan keponakan bejatnya itu, kita harus menderita!"
"Diam kataku! Aku bakal beresin dia," Tiara berbisik, matanya melirik tajam pada pak Amrin yang mengusap dagunya. "Aku ada ide lain, sekarang mending kita pergi dari sini sebelum semua kacau!"
__ADS_1
Rendra yang masih tak terima melayangkan pukulan ke mobil mereka. Tiara menariknya masuk ke dalam mobil dan segera pergi dari tempat itu.
"Ingat Tiara, kau harus membayar hutang kakakmu itu plus bunganya!"
Pak Amrin berkata lantang ketika mobil Tiara melewatinya. Ia tak menyadari jika nyawanya juga dalam incaran Bayu. Dua centeng Toni, Robby dan Alex mendekat. Merekalah dua orang yang terakhir melihat Toni bersama Tiara.
"Lo yakin Toni dibunuh sama Tiara?" kalimat pertanyaan itu meluncur dari bibir pak Amrin dengan cepat.
"Ya, yakin nggak yakin si bos, tapi terakhir emang bos Toni main sama tu anak!" sahut Robby.
"Iya bos, mainnya asoy lagi bikin mupeng!" timpal Alex.
"Somplak! Lo pada ngintipin Toni maen?" Pak Amrin menghadiahi dua centeng itu dengan pukulan di kepala masing-masing.
"Ampun bos, ya kita nggak sengaja orang tuh cewek suaranya aduhai bener! Kan jadi penasaran pengen intip!"
"Iya bos, mana goyangannya yahud bener!"
Kedua centeng Toni itu saling menyahut membuat kepala pak Amrin pusing membayangkan nikmatnya bersetubuh dengan wanita incarannya itu.
"Brengsek lo pada, bikin otak gue panas!"
"Ampun bos!" Robby mengiba diikuti dengan Alex.
"Berisik Lo! Sekali lagi ngomong gue robek mulut Lo!" Pak Amrin menarik kerah baju Alex yang otomatis membuatnya terdiam.
"Siapin semuanya! Anak itu harus jadi milik gue besok malam!"
"Siap bos!" sahut kedua centeng dengan kompak, mereka pun segera pergi berlalu meninggalkan Pak Amrin yang masih menatap ke arah mobil Tiara menghilang.
...----------------...
Malam belum beranjak dari keangkuhannya merajai waktu. Tiara duduk termangu sendiri di depan televisi yang menyala. Ingatannya pada Arka kembali berputar hingga ia tak menyadari kehadiran Bayu di belakangnya.
"Kamu masih inget anak itu?"
Tiara terkejut ia mengusap kedua pipinya dari airmata yang meleleh. "Bayu, sejak kapan kamu berdiri disana?"
"Cukup lama untuk.memastikan kalau keputusanku membunuh Arka benar." wajah Bayu tampak menyeramkan dengan ekspresi datar.
__ADS_1
Tiara memundurkan tubuhnya hingga ke sisi ujung sofa saat Bayu mendekatinya. Bayu mungkin benar, Tiara menganggap Arka spesial. Perhatian dan ungkapan sayang yang diberikan Arka berbeda dengan Miko dan juga Bayu.
"Kamu gimana sih, namanya kehilangan teman ya pasti sedih." elak Tiara tanpa berani menatap Bayu
"Benarkah? Matamu bicara lain Tiara!"
"Yang bicara mulut bukan mata!" sahut Tiara ketus.
Bayu tiba-tiba saja berubah menjadi sosok lelembut sebenarnya. Tubuhnya yang penuh bulu, mata merah dan taring yang mencuat menyeramkan. Tiara sontak menjerit, meski ia sudah tahu siapa Bayu tapi perubahan wujud Bayu itu selalu membuatnya tak nyaman.
Tubuh Bayu yang penuh bulu menghimpitnya di dengan kasar, lehernya tercekik tangan Bayu yang besar dan berkuku tajam. "Katakan sekali lagi jika kau mencintainya!"
Suara Bayu menggelegar di telinga Tiara, bau tak sedap membuatnya mual tapi ketakutan Tiara mengalahkan segalanya, ia pun menggeleng.
"Kau telah mengikat perjanjian padaku dan sang Nyai, aku memilikimu seutuhnya dan memberimu kekuatan ajaib bedak setan. Aku akan membunuh siapapun yang menyentuh dan berani mencintaimu!"
Tiara memejamkan mata, tak ingin melihat Bayu dalam wajah buruknya. "Maaf, maafin aku!"
Lelehan air mata Tiara nyatanya tak menyurutkan sikap Bayu untuk mengendurkan himpitan. Ia semakin mencekik leher gadis yang katanya ia cintai.
"Nyawamu adalah milikku, ingat itu!"
Tiara dengan terpaksa menganggukkan kepala tanda mengerti agar Bayu melepaskan cengkeramannya, usahanya berhasil dan Bayu akhirnya melepaskan Tiara. Ia kembali ke wujud manusia tampan pujaan Tiara.
Dengan takut, Tiara melirik ke arah Bayu. Tangannya masih mengusap bekas cekikan yang terlihat kemerahan. "Pak Amrin, dia mengancamku!"
Bayu diam menatap Tiara, "Dia minta aku bayar hutang plus bunganya."
Bayu tersenyum, artinya mangsa baru kembali siap. "Terus apa mau kamu?"
"Bunuh dia, dan jangan sampai ada saksi!"
"Itu perkara gampang untukku, tapi sebelumnya seperti biasa kau harus membayarnya dengan tubuhmu sayang."
"Apapun asal laki-laki itu menghilang dari muka bumi!"
Bayu tertawa, ia membisikkan sesuatu di telinga Tiara dan gadis itu pun mengangguk samar. Tiara menuju kamar mandi, disana sudah disiapkan air kembang dan juga wewangian khusus untuk Bayu. Satu persatu pakaian dilepaskan dan Tiara menenggelamkan dirinya ke dalam air kembang tujuh rupa, melumuri tubuh dengan aroma wangi kesukaan Bayu.
Selarik mantra diucapkan Tiara sebagai penggenap ritual. Tak lama sosok Bayu muncul dari dalam air memeluk tubuh Tiara dengan erat, memberikan sentuhan di setiap titik sensitif Tiara. Bayu meraup rakus aroma minyak wangi yang menggairahkan dirinya. Mengusap pucuk kemerahan yang menyembul sempurna diantara helaian kembang setaman.
__ADS_1
Tiara mend*sah, meng*rang dan menikmati usapan kenikmatan Bayu yang semakin liar dan menggila. Menguasai dirinya dalam hasrat kenikmatan duniawi. Sisa malam mereka habiskan dengan saling memberikan kenikmatan yang diakhiri dengan pelepasan dahsyat dan leng*han panjang Tiara.
"Apa pun akan aku lakukan demi membalaskan dendamku!"