
"Mas Raka, tolong Alan … tolong dia!" Tiara mencengkram tangan Raka, matanya mengiba memohon pertolongan Raka. "Selasa Kliwon, sang Ratu pasti datang menjemput Alan!"
"Sang Ratu?" Raka bergumam lirih teringat kasus yang pernah ia tangani sebelumnya.
Adinda, sepupunya juga pernah berurusan dengan sang Ratu. Adinda terbujuk rayuan lelembut dari selatan demi menunjang karirnya di dunia modeling. Untung tak dapat diraih malang yang didapat, Adinda tewas karena terlambat memberikan tumbal untuk sang Ratu. Wajahnya membusuk dalam semalam, ia mendapat siksaan pedih hingga akhirnya nekat mengakhiri hidupnya.
"Hubungi Alan," pinta Raka pada Tiara.
Tiara berusaha menghubungi Alan, tangannya terlihat gemetar. Santi, Raka dan Rendra saling berpandangan menunggu kabar dari lelaki berlesung pipit itu. Sekali, dua kali, tiga kali tak ada jawaban dari Alan dan Tiara pun semakin ketakutan.
"Jawab Alan, jawab!"
Raka menghubungi Tegar sang adik, ia meminta Tegar untuk pergi mencari Alan setelah Raka meminta alamat pada Tiara. Ketegangan terlihat menyelimuti mereka, cemas dan ketakutan melanda.
Senja mulai merambat naik, waktunya memasuki hari yang ditentukan sang Ratu. Dari singgasana nya sang Ratu telah memerintahkan anak buahnya untuk bergerak menjemput tumbalnya. Seringai bengis di bibirnya menyiratkan bahwa dirinya telah mengetahui jika Tiara hendak mencuranginya. Sang Ratu tahu jika suatu hari Tiara pasti akan mengkhianatinya seperti halnya pengikut yang lain.
"Tak ada yang pernah lepas dariku!"
...----------------...
Alan masih berada di rumahnya ketika ia merasakan sesuatu yang aneh terjadi di rumahnya. Suara pintu diketuk tak hanya sekali tapi berkali kali. Awalnya ia tak mengindahkan hal itu, menganggapnya sebagai keisengan anak-anak. Tapi lama kelamaan ketukan itu membuat bulu kuduknya merinding.
Alan tak menyadari bunyi itu berasal dari kehadiran para lelembut yang memenuhi ruangannya. Lima lelembut dengan tubuh setengah ular itu berjaga atas perintah Sang Ratu. Mereka merayap dan mendekati Alan perlahan dengan lidah bercabang yang sesekali terjulur menjilat udara yang menari bebas di sekitar Alan.
Suara desisan ular terdengar di telinga pria berusia dua puluh tujuh tahun itu, ia berusaha mencari tapi tak ada apapun di sekitarnya.
"Aneh, ini rumah kenapa sih jadi nggak enak gini hawanya?"
Alan kembali menyentuh tengkuknya, punggungnya terasa berat. Itu karena salah satu dari lima siluman itu mulai membelit tubuh Alan. Ponsel Alan berbunyi terus menerus tapi ia sama sekali tak mendengarnya. Telinganya ditulikan begitu juga dengan matanya yang ditutup dengan ilusi.
"Waktunya mengambil hakku, bawa dia kemari!" suara sang Ratu terdengar menggema di pikiran para siluman itu.
__ADS_1
Kelimanya saling memandang, mendesis dan menggerakkan telinga seolah saling bicara dengan kode tertentu. Satu siluman wanita yang mulai membelit tubuhnya. Ia terlihat kegirangan saat berada tepat di depan wajah Alan yang tampan. Ia membelai wajah tak berdosa itu dengan kuku lentiknya yang kehijauan. Sisik di sebagian tangannya terlihat berkilau indah bak irisan tipis zamrud.
"Kau tampan sekali, sayang nyawamu harus tergadai!"
Lidah bercabangnya terjulur dan menjilat pipi Alan. Seketika kesadaran Alan perlahan menghilang. Racun siluman itu mulai bekerja perlahan dan menyiksa. Wajah Alan terasa kebas, pandangannya kabur. Ia jatuh terduduk, merasakan sesak dan tekanan berlebih di sekujur tubuhnya.
Bagaimana tidak, ular wanita itu telah membelit setengah dari tubuh Alan. Lilitannya semakin kuat seiring dengan wajah Alan yang semakin memerah. Jantung Alan serasa akan meledak, ia kesulitan mengontrol tubuhnya, matanya melotot merasakan sesuatu yang pahit di lidahnya yang mencekik leher dan membuatnya tak bisa bernafas.
Hanya dalam beberapa detik Alan menggelepar hebat dan kemudian diam. Alan yang malang, cintanya pada Tiara membuatnya menjadi sasaran empuk sang Ratu. Nyai Kembang datang menjemput roh Alan yang perlahan terlepas dari tubuhnya.
Selendang hijau keemasan dikalungkan Nyai Kembang pada Alan yang kini telah terpisah dari raganya. Alan bingung mendapati dirinya bertelanjang dada dengan pakaian ala keraton. Wanita cantik berkebaya merah menyambutnya dengan senyuman menawan.
"Ratu telah menunggumu anak muda."
Tanpa daya untuk melawan, Alan mengikuti langkah Nyai Kembang memasuki kereta emas yang ditarik empat siluman ular. Kereta kencana sang Ratu melesat cepat menembus dinding dimensi ruang menuju kerajaaan.
Tegar yang dihubungi sang kakak segera pergi menuju rumah Alan. Hawa aneh menyapanya saat memasuki teras rumah. Tegar mengetuk pintu tapi tiba-tiba saja ia terjungkal ke belakang. Sesuatu dengan energi besar mendorongnya kuat. Tegar hanya melihat kilatan cahaya hijau keemasan yang melesat cepat menembus pintu.
Tegar curiga dan segera membuka pintu yang tidak terkunci itu. Matanya terbelalak saat melihat tubuh Alan tergeletak diatas lantai.
"Ya Allah, mas … mas! Mas'e kenapa ini? Bangun mas, bangun!"
Tegar teringat cahaya tadi, ia terkesiap dan segera memeriksa kondisi Alan. "Innalillahi wa Inna Ilaihi Raji'un,"
Tegar pun menghubungi Raka, ia menceritakan segalanya pada sang kakak. Raka tertunduk lesu, ia mengusap wajahnya sebelum menatap Tiara dan Rendra.
"Gimana, apa Alan ada dirumah?" Tiara yang tak sabar mencecarnya dengan beberapa pertanyaan tapi Raka hanya diam dan menatap Tiara iba.
"Jawab mas kenapa diem aja!" Tiara pun frustasi dibuatnya.
"Maaf Ra, tapi … Tegar terlambat, Alan sudah meninggal."
__ADS_1
Tiara tersentak, ia menggelengkan kepala dan mundur kebelakang. Tangannya semakin gemetar, "Nggak, nggak mungkin. Ini salah, mas Raka. Ini bohong kan?!"
Tiara jatuh terduduk dilantai, kematian Alan melengkapi nestapanya. Tekadnya untuk kembali terasa sia-sia, padahal sebelumnya Alan dan Tiara sepakat untuk memulai hubungan yang lebih serius setelah intens berkomunikasi.
Sang Ratu telah mencuranginya, ia bertindak lebih cepat dari Tiara dan Raka. Hanya sesal yang kini tertinggal di hati Tiara. Ia memeluk dirinya sendiri dalam kesedihan yang tak terkira pedihnya.
"Ra, kasih tau aku apa yang diminta Bayu dari kamu?"
Tiara tak menjawab, ia menenggelamkan dirinya dalam tangisan.
"Ra, please jawab aku! Kita bisa menghentikan Bayu, Ra! Kita bisa selesaikan masalah kamu!" bujuk Raka lagi.
"Bedak, Tiara memakai bedak untuk mempercantik dirinya. Bayu meminta nyawa sebagai pengisi kekuatannya." Rendra teringat akan cerita Tiara dan menjawab pertanyaan Raka.
"Bedak? Dimana bedaknya?"
Rendra berpikir sejenak, dengan setengah berlari Rendra menuju ke kamar. Ia mencari keberadaan bedak yang dimaksud Tiara. Beberapa kotak bedak ia temukan dan langsung dibawa ke hadapan Raka.
"Aku nggak tahu yang mana tapi cuma ini yang aku temuin di meja Tiara."
Raka menatap satu persatu kotak bedak tabur dan padat yang Rendra bawa, ia menggelengkan kepala.
"Aku rasa bukan ini," ia lantas mendekati Tiara yang sudah bisa menguasai dirinya.
"Ra, please bantu aku kalo kamu mau bebas dari Bayu dimana kotak itu? Kamu mau semua berakhir kan?"
Tiara mengangkat kepalanya perlahan, ia menoleh ke atas meja dimana beberapa kotak bedak tergeletak. Raka membantunya berdiri, Tiara pun berjalan perlahan mengambil tas yang tergeletak di tepi ranjang miliknya. Kotak bedak dengan ukiran unik berwarna coklat kehitaman.
Tiara menyerahkan kotak itu pada Raka. "Ini bedak yang diberikan Bayu untukku." ujarnya lirih nyaris tanpa tenaga, matanya menyiratkan kesedihan mendalam.
Raka memperhatikan kotak itu dengan dahi berkerut. "Jadi disini rumahmu."
__ADS_1