
Tiara menikmati kebersamaannya malam itu bersama Alan. Lelaki berlesung pipit itu nyatanya berhasil mengalihkan perhatian Tiara. Sikapnya yang hampir mirip Arka membuat Tiara terhibur, meski sesekali batinnya masih membandingkan Alan dengan Arka.
Mereka menghabiskan malam dengan berputar putar mengelilingi kota Semarang di malam hari. Motor matic yang dikendarai Alan berjalan perlahan menikmati jalanan yang masih ramai meski sudah memasuki tengah malam. Canda dan tawa terdengar di tengah obrolan santai keduanya.
Alan menarik tangan Tiara agar memeluknya dari belakang. "Pegangan Ra, jatuh nanti kamu!"
"Iiiis modus kamu, bilang aja minta dipeluk!"
"Dikit,"
Keduanya kembali tertawa dan menikmati acara jalan-jalan malam mereka. Dari kawasan Tugu Muda sampai Kota Lama dijelajahi keduanya dengan riang. Tiara melupakan sejenak masalah pelik yang dihadapinya, ia juga melupakan Bayu, melupakan perjanjiannya dengan nyai kembang.
"Ra, laper nih. Makan dulu yuk?"
"Oke, tuh nasi goreng babat gongso pak Karmin enak deh keknya." Tiara menunjuk satu kedai nasi goreng yang antriannya lumayan banyak.
"Wah, banyak antriannya Ra keburu laper!"
"Nggak apa lah, tahan bentaran. Sambil ngobrol kita!"
Senyum Alan mengembang, ia menuruti permintaan Tiara. Keberuntungan sedang menaungi Tiara dan Alan, kedai yang dalam sehari bisa menghabiskan 600 porsi itu masih menyisakan jatah untuk pesanan mereka. Dengan sabar keduanya pun menunggu sembari menikmati indahnya gedung tua peninggalan jaman Belanda yang berdiri kokoh tak jauh dari tempat itu.
Tiara sedikit merinding saat menatap ke arah salah satu gedung tua yang dihiasi lampu sorot hingga menciptakan efek dramatis keangkuhan peninggalan masa lalu.
"Rame tapi bawaannya serem ya," Tiara meraba tengkuknya yang terasa berat.
"Kamu aja kali, aku nggak tuh." sahut Alan santai, ia lebih tertarik melihat lalu lalang kendaraan yang melintas di depan warung.
"Kamu pernah dengar bus hantu Ra? Kabarnya di hari - hari tertentu bus itu muncul di kawasan kota lama."
"Bus hantu?"
Tiara jadi teringat saat ia pertama bertemu Bayu, meskipun pada saat itu Tiara tak sadar jika sedang berada di dalam bus hantu tapi bukan berarti ia tak mendengar kasak kusuk yang beredar di kalangan tetangga. Beberapa hari setelah pertemuan pertamanya dengan Bayu, Tiara sempat mendengar cibiran ibu-ibu yang mengatakan dirinya gila dan menaiki bus berisi penumpang lelembut berpakaian putih.
Awalnya Tiara memang tidak peduli dan menganggap cibiran itu angin lalu tapi setelah mengenal Bayu, ia pun menyadarinya. Gosip itu benar adanya, Bayu menyulap bus hantu dengan ilusi mata untuknya. Mengingat hal itu dada Tiara terasa sesak.
Apa dosaku sampai harus ketemu Bayu? Ah, sudahlah percuma juga disesali. Aku hanya ingin menikmati hidupku saat ini.
__ADS_1
"Ra, kok malah bengong sih!" Alan mengagetkan Tiara.
"Eh, maaf. Kepikiran sama bus hantu, kali aja didalamnya ada cowok ganteng nyasar yang mau sama aku!"
"Ngaco pikiran kamu Ra, nih makan mumpung masih anget!"
Aroma nasi goreng babat yang menggoda membuat Tiara bersemangat memakannya, rasa pedas manis dipadukan dengan jeroan dan babat yang lembut membuat acara makan malam Tiara dan Alan terasa semakin nikmat.
Kenyang mengisi perut, Alan mengantarkan Tiara pulang tapi bukan ke apartemen miliknya. Tiara menunjukkan alamat rumah lamanya dan meminta diturunkan sedikit jauh dari ujung gang.
"Rumah kamu disini?"
"Iya," jawab Tiara sedikit gugup.
"Oh, yakin aku nih aman kalo aku tinggal sendirian?"
"Iya, aman kok udah pulang gih udah malam!"
Alan terlihat canggung tapi akhirnya ia memberanikan diri mengecup pipi Tiara, "Met istirahat, sampai ketemu besok."
Tiara terkejut, pipinya merona dan jantungnya berdebar kencang. "Alan,"
"Tiara? Kamu Tiara kan?" seorang wanita paruh baya berkerudung biru terdengar tak jauh dari Tiara berdiri.
"Eeh, Bu Risma. Apa kabar Bu?" Tiara gugup saat bertemu dengan Bu Risma, pemilik kontrakannya dulu.
"Ya ampun bener, kamu kemana Tiara? Banyak orang cariin kamu lho termasuk anak buah Toni yang serem, juga polisi lho Ra. Ada apa sih sebenarnya?"
"Apa, polisi?" wajah Tiara memucat.
"Iya, kapan hari itu ada polisi datang ke rumah tapi karena ibu juga nggak tahu kamu kemana ya ibu jawab aja nggak tahu." Bu Risma menatap Tiara dari ujung rambut sampai ujung kepala.
"Ooh gt, tolong ya Bu kalau ada yang cari saya lagi bilang aja saya pindah ke luar kota." Tiara mengambil dompet dalam tas kecilnya, lalu menyerahkan beberapa lembar uang ratusan ribu untuk Bu Risma.
"Ini untuk ibu, makasih sudah bantuin saya selama ini. Maaf saya nggak pamitan tapi memang saya ada perlu mendadak."
"Eeh apa ini Ra? Nggak usah, kamu lebih butuh dari ibu!" Bu Risma menolaknya dan mengembalikan sejumlah uang itu.
__ADS_1
"Ini buat ibu saya ikhlas kok, beneran. Lagi pula saya sekarang udah punya suami jadi udah nggak pusing lagi."
Tiara berbohong pada Bu Risma, ia harus menutupi jejaknya agar tidak ditemukan para centeng Toni dan juga petugas kepolisian.
"Lho udah nikah to, kok nggak bilang-bilang? Sama orang mana, Ra?"
"Ehm, Surabaya! Udah ya Bu saya pergi dulu takut dicariin suami nanti!" Tiara segera berlalu dan meninggalkan Bu Risma yang masih penasaran.
"Eeh, Ra! Ini gimana uangnya!" Bu Risma berteriak tapi Tiara tak mengindahkan, ia segera masuk ke dalam taksi yang berhenti saat tangannya melambai.
"Hmm, malah pergi. Ya udah lah rejeki nomplok malem-malem, lumayan juga lima ratus ribu bisa buat beli skincare ini." senyum Bu Risma mengembang saat menghitung lembaran uang berwarna merah di tangannya.
"Eeh, jangan-jangan tu anak jadi gundik kayak ibunya ya? Masa nikah diem-diem aja? Ah, bodo amat dah!" Ia kembali bermonolog tapi sejurus kemudian Bu Risma pun pergi.
...----------------...
Tiara memutar otak, benar kata Rendra anak buah Toni mengincarnya begitu juga dengan pihak kepolisian. Itu artinya dia benar-benar harus menghilang. Ia mondar mandir di ruangan dan sesekali memegang kepalanya yang terasa pusing.
"Aku harus gimana?"
"Serahkan saja Alan padaku, sayang!" suara Bayu tiba-tiba menyapanya.
Tiara terkejut dan berbalik, "Nggak, kamu nggak boleh nyentuh Alan. Dia bukan bagianmu!"
"Ohya, lalu milik siapa?" Bayu tersenyum sinis dan berjalan mendekati Tiara.
"Dia milikmu? Kamu jatuh cinta sama dia? Itu berarti dia milikku!" mata Bayu berubah menjadi sepasang lidah api yang menyala.
"Dia milik sang Ratu, kamu berani sentuh dia? Hadapi tuanmu dulu kalau begitu!" Tiara tak kalah menggertak. Kali ini dia harus melindungi Alan.
Bayu perlahan berubah normal, ia berdecak kesal dan masih menatap Tiara. "Baik, jika dia memang milik Ratu itu berarti waktumu hanya beberapa hari lagi."
"Aku tahu, sebelum purnama selanjutnya."
"Bagus, aku akan mengawasimu sayang. Aku akan selalu berada di sisimu, jadi jangan coba - coba mengkhianati perjanjian kita!"
Bayu menarik tubuh Tiara dalam pelukannya, mencium bibir Tiara dengan penuh hasrat tapi entah mengapa Tiara sama sekali tak terpengaruh kali ini. Ia hanya membalas ciuman Bayu singkat.
__ADS_1
Bayu yang menyadari hal itu menghentikan ciuman dan berbisik pada Tiara, "Kau milikku Tiara, ingat itu!"
Bayu melepas pelukan dan menghilang dengan senyuman iblis menghiasi wajah tampannya.