
Tiara duduk termangu ditepi ranjang. Ia bingung dan menatap dirinya di cermin. Tiara melirik ke arah tumpukan uang yang semalam diberikan Bayu. Entah apa yang harus dia lakukan sekarang. Tiara tak bisa mundur, satu nyawa melayang dan kini tergeletak di tengah ruangan. Terbujur kaku bersimbah darah dengan tubuh polosnya.
Waktu berjalan begitu lambat, ia melihat ke arah jam dinding. Malam bahkan belum beranjak dan Tiara sama sekali tak bisa memejamkan mata. Bagaimana mungkin dia bisa tertidur nyenyak jika ada mayat di ruang tengah rumahnya?
Tiara tak menyangka jika Bayu adalah sosok lelembut gaib berbulu yang menjebaknya. Tiara bahkan jatuh hati pada Bayu dan menganggap Bayu adalah sang penolong. Tapi apa yang ia lihat beberapa jam lalu membuatnya bingung. Benarkah dia jatuh hati pada Bayu?
Tawaran Bayu memang menggiurkan, sejumlah uang tak terbatas didapatkan hanya dengan memberikan satu tumbal nyawa. Memancing para lelaki hidung belang, membiarkan mereka menikmati kehangatan tubuh Tiara di kedalaman wanitanya lalu … membunuhnya perlahan.
Rasanya terlalu kejam, tangan Tiara gemetar. Ia bingung dan juga takut pada saat yang bersamaan. Tiara sadar perjanjian dengan makhluk gaib tidak main main, nyawanya menjadi taruhan. Tapi tumpukan uang yang tergeletak begitu saja di atas kasur membuatnya kembali berpikir.
"Haruskah aku teruskan saja semua ini atau aku berhenti sekarang?" gumamnya lirih sembari menatap diri di cermin.
Suara derak pintu terbuka tidak Tiara hiraukan, ia menduga dua centeng Toni pasti datang kembali dan ia harus bersiap menghadapinya. Tiara pasrah jika dirinya harus terbunuh setelah menewaskan bos besar Toni, preman yang paling ditakuti seantero wilayahnya.
"Ra, ada apa ini?!" suara lelaki yang dikenalnya membuat Tiara menoleh ke arah pintu kamar.
"Rendra?" Tiara berdiri menatap kesal pada sosok kakak lelakinya.
"A-apa ini Ra? I-itu Toni kan? Kenapa dia begini?" Rendra menatap nanar sosok pria tel**jang di tengah ruangan.
Tiara diam dan hanya menatap jasad Toni. Rendra kembali bertanya dan mengguncangkan tubuh Tiara. Ia ketakutan.
"Bilang sama aku Ra, ada apa? Apa dia menyentuhmu?"
Tiara menatap tajam Rendra dan menamparnya dengan keras. "Kau gila, brengsek, bajingan! Teganya kamu jual aku ke dia, demi hutang kamu itu!"
Rendra terdiam, ia memegangi pipinya yang terasa panas karena tamparan.
"Kakak model apa kamu, hah?! Bajingan busuk, pengecut!"
"Ra, dengerin aku dulu Ra. Please!" Rendra mencengkeram kedua bahu Tiara dengan kuat
"Apa, apalagi yang mau kamu bilang brengsek!" hardiknya pada lelaki yang lebih tua tiga tahun darinya.
"Aku juga nggak niat begitu Ra, pikirku aku bisa dapat waktu buat cari uang. Aku … aku cuma,"
__ADS_1
"Cuma apa?!" suara lantang Tiara terdengar begitu keras hingga membuat Rendra buru-buru menutup mulut Tiara dengan tangannya.
"Ssst, kecilin suara kamu Ra! Ini jam satu malam, kalau ada warga yang denger trus kesini gimana?! Kamu lihat mayat Toni, mau kamu ditangkap polisi?!"
Rendra melepas tangannya setelah Tiara mengatur nafas dan sedikit tenang. Ia berjingkat dan mengunci pintu depan, menutup jendela yang sedikit terbuka lalu kembali mendekati Tiara.
"Sekarang jawab pertanyaanku, kamu bunuh Toni?"
Tiara menatap wajah kakaknya, jika ia bicara jujur Rendra tidak akan mempercayainya. Padahal jelas-jelas Bayu yang telah membunuh Toni dan memakan sukmanya. Jadi Tiara memutuskan untuk berbohong.
"Iya, aku getok kepalanya! Dia menyentuhku Ren, dia pantes mati!"
"Ssst, bisa kamu kecilin nggak sih tuh suara! Warga bisa denger nanti!"
Tiara membuang muka ke arah lain dan masuk kembali ke kamarnya. Rendra mengikutinya, hendak kembali bertanya tapi seketika matanya terbelalak. Lembaran uang yang tergeletak di ranjang membuatnya terkejut.
"Astaga Ra, ini apalagi? Kamu ngerampok uang siapa?!"
"Cck, baru dateng main tuduh-tuduh aja! Kerjalah, masa iya ngerampok!"
"Ibu maksud kamu? Iiish, otak kamu miring!" Tiara menoyor kepala Rendra.
"Lha trus darimana duit sebanyak ini Ra?" Rendra meraih puluhan lembaran merah itu dan mengacungkannya ke wajah Tiara.
Tiara melirik tajam, ia tak suka Rendra mencampuri urusannya. "Kamu nggak perlu tahu aku ngapain, sekarang bantu aku gimana caranya nyingkirin si Toni itu!"
Rendra terdiam, ia menoleh ke arah ruang tengah dan adiknya bergantian. Semula ia hanya ingin mengecek keadaan Tiara karena salah satu temannya mengabarkan jika Toni dan dua centengnya datang mengacau.
Rendra yang mengkhawatirkan kondisi Tiara bergegas datang tapi melihat dia centeng yang berjaga dia pun mengurungkan niatnya. Rendra menunggu dengan sabar hingga akhirnya ia bisa masuk ke dalam rumah. Tapi betapa terkejutnya ia saat melihat Toni terbujur kaku dan adiknya Tiara termangu dalam kamar dengan setumpuk uang.
Rendra menjambak rambutnya dengan frustasi. Ia memutar otak untuk menghapus jejak kematian Toni.
"Gini deh,"
Rendra berbisik pada Tiara menyebutkan idenya. Tiara pun mengangguk dan segera membantu kakak lelakinya menyiapkan tas besar peninggalan sang ibu yang tergeletak di kolong tempat tidur. Dengan susah payah keduanya memasukkan jasad Toni ke dalam koper, menekuknya dengan paksa.
__ADS_1
Keduanya bekerjasama membersihkan sisa darah yang tercecer di lantai. Memberinya cairan pembersih lantai agar tersamarkan bau dan rupanya. Tiara juga mengemasi barang-barangnya dengan cepat. Memasukkan benda-benda milik pribadinya ke dalam dua tas sedang.
Setelah semua beres, Tiara meminta Rendra menunggunya sejenak di luar. Ia berdiam diri di kamar memanggil Bayu. Lelembut berbulu yang siap membantunya setiap saat.
"Ada perlu apa?"
"Bay, tolong aku. Buat aku dan kakakku tak terlihat. Aku harus membuang jasad Toni."
Bayu diam sejenak, "Baik, aku akan melindungi kalian berdua. Tapi ingat kau harus menyempurnakan semua ini!"
"Iya, iya tapi setelah semuanya beres. Dan aku pindah dari rumah jelek ini!"
Bayu tersenyum sinis, "Sebaiknya memang begitu, dua centeng Toni tidak akan tinggal diam. Dia pasti akan mencarimu dan bosnya!"
Tiara kali ini termangu, ia tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi pada dirinya jika sampai dua centeng sangat itu mengetahui Toni tewas mengenaskan karenanya.
"Bantu aku kabur Bayu, aku mohon. Aku ingin hidup tenang, jauh dari sini dan juga …,"
"Bergelimang harta, kecantikan, dan kekuasaan?" Bayu menawarkan hal yang sangat menggiurkan Tiara.
Ia mengangguk pelan seraya menatap Bayu yang kini ada dalam rupa lelaki tampan. Ia memeluk Bayu erat, menatapnya memuja.
"Bisakah kau melakukannya untukku?"
"Tentu saja, dengan senang hati!"
Bayu meraup wajah Tiara menciumnya dengan hasrat dan melepasnya sebelum mereka semakin liar.
"Pergilah bersama Rendra, aku akan melindungi mu dari tatapan mata manusia." Bayu perlahan menghilang.
Tiara memantapkan langkah pergi meninggalkan rumah kecil itu bersama Rendra. Koper besar berisi tubuh Toni diseret perlahan. Bayu memenuhi janjinya dengan melindungi keduanya dari tatapan mata manusia normal. Beberapa kali mereka berpapasan dengan warga, tapi tak ada yang bisa melihat ataupun mendengar suara mereka.
Tiara tersenyum, kini ia memantapkan hati untuk mengikuti perjanjian. Tiara akan mendapatkan segalanya, Bayu juga selalu ada bersamanya memberi Tiara kepuasan lahir dan batin yang selama ini ia inginkan.
Waktunya aku bersenang-senang!
__ADS_1