
Sejak malam itu, Ruminten menjadi semakin cantik. Ia memburu para lelaki dengan pesona mistisnya. Korban perdana bernama Wira Kusuma, anak tuan tanah dari desa sebelah. Ia memancing Wira ke tempat yang telah ditentukan sang Ratu. Kabut mistis menyelimuti daerah itu hingga tak satupun orang tahu jika nyai Kembang dan Wira Kusuma melakukan hal tabu disana.
Wira Kusuma tewas setelah menyetubuhi Ruminten berkali kali. Ia tewas perlahan karena menggilai tubuh elok Ruminten. Setiap kali mereka bersetubuh Bayu akan menghisap hawa kehidupan Wira dan tepat di hari kelima belas Wira tewas mengenaskan di dalam kamarnya.
Bayangan wajah Ruminten membuatnya sakit jiwa, tubuh molek Ruminten membuat Wira Kusuma ketagihan dan juga kesakitan menahan hasrat yang membuncah liar hingga akhirnya ia nekat mengakhiri hidupnya sendiri. Seutas tali melingkar dileher, menjerat tulang leher Wira, mengakhiri batas hidupnya di dunia.
Bayu melindungi Ruminten yang bertransformasi menjadi waranggana terkenal. Kecantikan dan kemolekan tubuhnya memikat sang pemilik padepokan seni. Hingga akhirnya Ruminten ditempatkan sebagai waranggana utama yang menarik para penonton.
Setiap kali tersiar kabar Nyai kembang akan tampil mereka dengan suka cita berkumpul hingga rela berjalan kaki hanya demi melihat wajah sang Nyai. Ruminten alias Nyai Kembang selalu mengenakan kebaya merah disetiap penampilannya. Warna berani yang semakin memunculkan aura kecantikan berbalut pesona mistis.
Ki Demang menelan ludah, jakunnya naik turun setiap melihat gerakan Nyai Kembang. Hasrat memiliki sang nyai begitu tinggi. Tapi sayang wanita idaman setiap lelaki itu selalu menolaknya. Ki Demang pun merencanakan sesuatu untuk memiliki sang Nyai.
"Ndoro, semuanya sudah siap!" bisik Dirman salah satu kacung kepercayaan Ki Demang.
"Bagus, lakukan dengan rapi!"
Dirman mengangguk dan membungkuk, ia undur diri meninggalkan Ki Demang yang kembali asik menatap tubuh Nyai Kembang. Meski keinginannya begitu besar, Ki Demang tetap bersabar. Ia tak peduli meski sesuatu yang sedang menegang dibawah sana minta dilepaskan.
Setiap gerakan Nyai Kembang membuat para kaum Adam terhipnotis, saweran pun banyak diterima Nyai Kembang baik yang sengaja diselipkan didada yang terbuka menggoda ataupun yang diberikan langsung sembari menyentuh tangan halus sang Nyai.
Setelah semalam suntuk menghibur, Nyai kembang berniat pulang ke rumahnya. Jarak yang cukup jauh membuat sang Nyai mau tidak mau menerima tawaran Ki Demang untuk mengantarkan pulang. Ia tak menyadari itu hanya tipu muslihat Ki Demang. Ditempat lain anak buah Ki Demang sudah menunggu waktu malam kembali menjelang.
Rombongan kesenian itu dicegat kawanan perampok ditengah hutan. Mereka dibunuh dengan keji dan hanya menyisakan satu orang saja. Sang waranggana ayu nan seksi, Nyai Kembang. Ia dibawa paksa menuju ke gudang tua milik Ki Demang.
Kawanan perampok yang berjumlah enam orang itu mengurung sang Nyai di sebuah bilik pengap. Nyai Kembang berteriak dan minta dibebaskan tapi tak ada yang mendengarkan. Ia tak kehabisan akal, sang nyai memanggil Bayu dengan mantra khusus tapi Bayu tak juga muncul. Sang nyai pun frustasi, ia ketakutan.
"Bayu, dimana kamu? Tolong aku Bayu!" ia menjerit tapi tetap saja Bayu tidak muncul padahal biasanya hanya sekali ia meminta Bayu akan datang.
Suara langkah kaki menggema, Nyai Kembang menarik tubuhnya ke sudut kamar. Keringat membasahi tubuhnya, ia menggigil ketakutan. Pintu kamar berserak kasar, Ki Demang muncul dengan seringai iblis.
"K-ki Demang?"
"Akhirnya aku bisa mendapatkanmu!"
Ki Demang menutup pintu dan menguncinya. Perlahan ia mendekati sang Nyai yang ketakutan menatapnya.
__ADS_1
"Kenapa kau takut Nyai? Dimana keangkuhan mu saat menolakku?"
Nyai Kembang gemetar, ia menggeser tubuhnya ke sisi lain menjauhi Ki Demang.
"Kau tahu nyai, aku menginginkan mu lebih dari kedua istriku! Tapi kau selalu menolakku! Kau tidak memberiku pilihan lain selain memaksamu seperti ini." Ki Demang terkekeh, ia senang Nyai Kembang akhirnya bertekuk lutut padanya.
"Ki Demang, maafkan saya. Tolong beri saya kesempatan!"
"Hhm, kesempatan? Baiklah, tapi layani aku malam ini!" Ki Demang berjalan mendekati Nyai Kembang yang sudah tak tahu bagaimana lagi harus menghindar.
Bayangan kematian tiba-tiba saja membuat sang Nyai ketakutan. Ia ingin hidup lebih lama lagi. Ia masih ingin menikmati kekayaan yang ditumpuknya diam-diam. Nyai Kembang juga masih ingin bermain-main dengan para lelaki. Merasakan kenikmatan duniawi yang membuat dirinya semakin cantik dan berjaya.
"Bagaimana nyai? Apa kau menerima tawaranku atau kau memilih untuk mati?!" Ki Demang mengambil sepucuk senjata yang diselipkan di balik pakaiannya. Sontak saja hal itu membuat lutut nyai kembang lemas.
Senjata api itu diacungkan Ki Demang dan tepat diarahkan pada pelipis sang nyai. Nyai kembang pun menangis.
"Sa-saya akan melayani Ki Demang," jawabnya dengan terbata bata.
"Pilihan cerdas nyai, sekarang buat aku bahagia!"
Ki Demang tertawa bahagia, bagian tubuh yang sangat diimpikannya kini terpampang jelas didepan mata. Ia melahap puncak ranum yang menggoda kejantanannya. Nyai kembang mer***tih dalam nikmat. Ki Demang membuatnya tak kuasa menahan diri.
Ia melupakan ketakutan yang tadi sempat menyergapnya. Kabut gairah yang ditularkan Ki Demang lewat sentuhan di bagian sensitifnya membuat nyai kembang menggigit bibir bawahnya sendiri. Ki Demang begitu gagah diatas tubuh molek sang nyai, ia menunjukkan kejantanannya yang menantang, besar, kuat, dan siap mengoyak kedalaman basah sang nyai yang berdenyut dan menghisap miliknya kuat.
Er***gan nikmat terus lolos dari bibir mungil sang nyai hingga pelepasan sempurna keduanya terjadi berkali kali. Ajian sakti yang dimiliki Ki Demang nyatanya memang membuat sang nyai kewalahan. Ia mengakui kejantanan Ki demang yang hampir setara dengan Bayu.
Bayu? Hhm, dimana lelembut berbulu itu berada? Mengapa dia tidak menjawab mantra Nyai kembang saat dipanggil?
Nyai kembang terus mempertanyakan keberadaan Bayu yang selalu ada untuknya. Disela kegiatan panas yang liar, pikirannya melayang pada Bayu. Dalam hati ia terus memanggil tapi Bayu tak juga muncul.
Nyai Kembang melihat celah untuk kabur, ia tak ingin terus menerus diperbudak Ki Demang. Ia juga harus membalaskan kematian teman-temannya yang mati terbunuh. Sang nyai membiarkan Ki Demang bermain lagi dengan bukit kembar menggoda miliknya. Berpura-pura mengerang nikmat, tangannya perlahan meraih senapan yang tergeletak sembarangan.
Usaha pertamanya gagal, ia kembali menggapai senapan dengan mengubah posisi tubuhnya yang kini berada dipangkuan Ki Demang saling berhadapan dengan tubuh polos. Ki Demang yang menikmati permainan pinggul nyai kembang tak menyadari jika senapan miliknya sudah ada ditangan sang nyai.
Nyai kembang tersenyum menggoda, ia menarik bokongnya hingga kejantanan Ki Demang yang tegak berdiri terlihat jelas.
__ADS_1
"Kenapa berhenti? Nanggung ini?!"
Nyai kembang kembali tersenyum menyusuri wajah Ki Demang. Ia me**gut bibir aki-aki tua yang masih gagah rupawan itu.
"Aku menyukai kejantanan Ki Demang, sangat suka tapi … waktunya habis!"
Wajah Ki Demang berubah, ia merasakan benda dingin yang menyentuh perutnya. Sejurus kemudian,
DOR!!
Letusan tembakan dua kali menembus perut Ki Demang. Melesak masuk menghancurkan isi perut dan juga jantung Ki Demang. Darah membanjir membasahi ranjang keras dan berdebu. Nyai kembang berdiri menatap Ki Demang yang melotot ke arahnya sembari menyentuh lubang di tubuhnya. Tak ada kata perpisahan, Ki Demang pun tewas ditangan sang Nyai.
Suara letusan tembakan membuat para kacung yang berjaga diluar terkejut. Mereka menggedor pintu dan memanggil Ki Demang. Sang nyai menatap nanar tubuh bersimbah darah itu. Tubuh polosnya terciprat percikan darah Ki Demang. Suara gedoran pintu semakin keras, Nyai kembang terpojok. Ia menatap pintu dan tubuh kaku didepannya bergantian.
Akhirnya pintu pun terbuka paksa, mereka terkejut melihat tuannya tewas bersimbah darah dan sang nyai yang berdiri mematung dengan senapan di tangannya.
"Perempuan s*nda*! Bunuh dia!" teriak sang kacung, Dirman.
Nyai kembang mengarahkan senapan ke arah mereka, tapi sayang peluru didalamnya habis. Ia gemetar dan tak tahu harus bagaimana. Para kacung itu dengan kasar menarik tubuh polos sang nyai.
Tapi kabut gairah menguasai diri mereka. Tubuh polos sang nyai terlalu sayang jika dilewatkan. Keenam orang itu pun mengagahi sang Nyai bergantian. Nyai kembang pasrah, ia tahu kematiannya akan segera datang. Benar saja, setelah puas berkali-kali bermain dengan tubuh molek nyai kembang mereka membunuh sang nyai dengan keji.
Tiga sabetan parang mengakhiri hidup sang nyai. Tubuhnya dilempar begitu saja di tengah hutan, dibiarkan menjadi santapan hewan nocturnal yang merajai malam. Nyai kembang tewas dalam kenistaan.
Nyai Ratu muncul di depan jasad tak berbentuk nyai kembang. Ia muncul di hari ketiga setelah kematian sang nyai. Wajah cantik semasa hidup tampak mengerikan dengan daging yang terkelupas. Tubuh moleknya tercabik cabik hewan dan tak utuh lagi. Bau busuk tak tertahankan menyebar, menusuk hidung.
"Aku memanggilmu cah ayu! Bangkit dan kembalilah pada wujud aslimu!"
Sebait mantra meluncur dari mulut Nyai Ratu, tubuh rusak nyai Kembang bergerak perlahan. Menyatukan daging dan tulang yang berserak tak karuan. Wajah rusaknya perlahan kembali seperti semula begitu juga dengan tubuhnya.
Nyai Ratu tertawa terbahak bahak, "Kemarilah cah ayu, kau akan menjadi pengikutku. Aku membutuhkanmu untuk mencari pemilik bedak setan selanjutnya."
Nyai Kembang mengangguk tanpa ekspresi. Ia mengikuti Nyai Ratu dan menghilang ditelan gelapnya malam. Kematian Nyai Kembang bukan tanpa sebab. Batas waktu perjanjian sudah berakhir dan kini waktunya Nyai Kembang mengabdi pada sang Ratu penguasa kegelapan.
Bayu kembali terkunci dalam kotak kayu menunggu kembali dibangkitkan.
__ADS_1