
Suara laknat dari dua anak manusia yang sedang memadu kasih terdengar dari balik pintu ruangan itu. Tiara mendengus kesal, "Dasar tua bangka!"
"Tunggu disini!"
"Kamu yakin dia bisa diganggu, sepertinya bosmu itu sedang menikmati malamnya."
Robby sebenarnya berpikir demikian tapi Pak Amrin sudah berpesan untuk memberitahukan jika Tiara datang. Robby ragu untuk sesaat tapi kemudian ia melanjutkan langkahnya dan mengetuk pintu ruangan itu.
"Bos, paketnya sudah datang!"
Tak ada sahutan dari dalam yang terdengar hanya erangan laknat dari sepasang anak manusia berbeda jenis. Tiara terkekeh, apalagi saat melihat wajah Robby yang merah padam mendengarnya.
"Ketuk lagi aja biar cepet dikelarin!"
Robby mendengus kesal, ia kembali mengetuk pintu. Tak lama kemudian terdengar suara berat lelaki memanggil Robby untuk masuk, lelaki berbadan tegap itu meminta Tiara mengikutinya.
Ruangan kerja yang cukup luas, aroma coklat menyapa hidung Tiara. Seorang wanita yang hanya menutupi tubuhnya dengan kain tipis terlihat duduk diatas sofa berwarna merah maroon. Ia menatap Tiara tak suka.
"Wah, rupanya ada yang sedang bersenang senang disini." sindir Tiara pada wanita yang menatapnya tajam.
"Ngapain kamu kesini?" tanya wanita itu dengan ketus, dialah Nita mantan rekan kerja Tiara yang begitu membencinya.
"Tanya aja sama pak Amrin. Yang jelas aku kesini bukan buat setor body kayak kamu!"
"Brengsek! Berani kamu …," Nita hendak merangsek maju memukul Tiara tapi Robby menghalanginya.
"Cukup! Kamu keluar!" pak Amrin membentak wanita yang baru saja memberinya kepuasan.
"Tapi pak!"
"Keluar!"
Dengan kesal Nita menurut dan sengaja mendorong tubuh Tiara. Ia juga membanting pintu dan terdengar mengumpat. Tiara hanya menggelengkan kepala melihat tingkah Nita.
"Ini uang yang bapak minta. Saya harap bapak nggak ganggu saya dan Rendra lagi."
Amplop coklat berisi uang dilemparkan Tiara ke atas meja. Pak Amrin memberi kode Robby agar keluar ruangan. Suara pintu terkunci terdengar dari luar. Tiara tersenyum licik.
"Kemarilah, itu baru hutangnya. Aku perlu bunganya!" Pak Amrin dengan angkuhnya duduk ditepi meja sembari menyalakan sebatang rokok.
__ADS_1
"Bunga? Berapa kekurangannya?" Tiara berpura-pura tak paham.
Pak Amrin tertawa, lalu menunjuk ke arahnya. "Kamu, kamu bunga yang aku mau!"
Tiara tersenyum lebar, "Benarkah, aku?"
"Iya kamu dan mulai malam ini kamu jadi istriku!"
Tiara tersenyum menggoda kemudian ia berjalan perlahan ke arah Pak Amrin, melepas satu persatu kancing baju dan mulai menanggalkan pakaiannya.
"Ini yang kau mau?"
Tubuh polos Tiara terpampang nyata di depan pak Amrin yang mulai terbakar nafsu. Jiwa lelakinya meronta untuk segera dilepaskan.
"Kemarilah sayang, dan puaskan aku!"
Tanpa menunggu lama, pak Amrin menyambar tubuh Tiara memeluknya erat dan bekerja berdasarkan nalurinya sebagai lelaki. Menikmati keindahan dua bukit kembar Tiara yang menggoda, menyesap manis madunya dengan rakus bak lebah pekerja. Tak butuh waktu lama bagi pak Amrin untuk memanaskan kejantanan yang tersembunyi dibalik celananya.
Ia menghimpit tubuh polos Tiara, memaksanya duduk diatas meja. Er*ngan laknat Tiara semakin membuat pak Amrin menggila. Hasrat yang tertahan selama ini akhirnya bisa disalurkan. Pak Amrin menggilai tubuh polos Tiara yang menggoda, menikmati setiap sentuhan di area sensitifnya hingga akhirnya pelepasan itu terjadi.
Pak Amrin memeluk erat tubuh Tiara dan menghujaninya dengan ciuman. Tiara muak tapi ia berpura pura menikmatinya. Lelah bercinta dengan dua wanita membuat pak Amrin terlelap tidur. Tiara mengenakan lagi pakaiannya, ia menatap jijik tubuh pria paruh baya yang kini mendengkur di sofa.
Bayu menampakkan diri, Tiara menatap ke arahnya. "Tunggu sampai aku pergi, dia milikmu Bayu dan jangan lupa buat dia menderita!"
Tiara pun melenggang keluar ruangan setelah mengetuk pintu agar Robby membukanya. "Sebaiknya jangan bangunkan Bosmu, dia kelelahan!"
Seringai iblis muncul di wajah ayu Tiara, sesaat setelah taksi menjemputnya. "Aku tinggal menunggu kabar baik dari kekasihku."
Bayu menjalankan perintah Tiara, ia menggoda pak Amrin dengan bebauan tak sedap. Bayu menggelitik hidung pak Amrin agar terjaga dari tidurnya.
"Brengsek! Bau apa ini!" sungut pak Amrin yang masih dalam keadaan polos tanpa sehelai benang pun.
"Mana dia, dimana Tiara?!" Pak Amrin kebingungan mencari Tiara, ia pun memanggil Robby tapi sia-sia.
Bayu menutup semua pendengaran para centeng hingga tak akan terdengar apa pun dari luar. Ia manipulasi Indra pendengaran centeng-centeng yang berjaga dibawah sana.
"Brengsek, kemana semua orang! Budeg semua!"
Ia berjalan mendekati pintu tapi tubuhnya tiba-tiba saja tertarik sesuatu tak kasat mata. Ia terhempas kuat menabrak sofa empuk kesayangannya. Pak Amrin kebingungan, ia menengok ke kanan dan ke kiri tapi tak ada siapapun disana.
__ADS_1
Tangan kirinya terpelintir ke belakang dengan keras, ia menjerit kesakitan. Begitu juga dengan tangan kanannya, hingga posisi kedua tangan kini ada dibelakang. Bayu membenturkan kepala pak Amrin ke meja kayu jati berkali-kali hingga darah terlihat membasahi wajahnya.
Tubuh pak Amrin melayang sesaat dan kembali terlempar ke meja kerjanya. Ia kembali menjerit berteriak minta tolong, namun tak ada yang mendengar suaranya. Pak Amrin ketakutan, tubuh tuanya gemetar akibat darah yang tak henti keluar dari luka robek di dahinya. Ia berlari ke arah jendela hendak memanggil para centeng, tapi Bayu menarik tubuh pak Amrin dan menghempasnya lagi. Lampu ruangan padam seketika.
Tubuh pak Amrin terus melayang dan terhempas dengan keras berkali kali hingga seluruh ruangan berantakan. Bayu muncul dihadapan pak Amrin, ia mencekik leher lelaki paruh baya itu dengan kuat mengangkatnya hingga beberapa centimeter dari lantai. Pak Amrin pasrah, kematian hanya berjarak satu milimeter darinya. Sesaat kemudian tubuh tua itu terlempar ke arah jendela kaca dengan kuat. Tubuh pak Amrin melayang melewati jendela tebal yang pecah karena kuatnya lemparan Bayu. Pak Amrin, mati mengenaskan.
...----------------...
Alex, salah satu centeng kepercayaan pak Amrin mendongak ke arah ruangan kerjanya. Alex mengira bosnya sedang bercinta habis habisan.
Ia berdecak kesal, "Hhm, asik-asik terus sama si Nita! Gue jadi pengen ngicip tuh cewek mana toketnya gede pula! Sekali hap waaah mantap!"
"Apanya yang mantap?!" tanya Robby yang rupanya sedang merokok di teras.
"Noh si Nita, mantep anunya!"
"Gila aja berani pegang jatah bos, bisa mati lu!" Robby mengingatkan sembari menghisap dalam rokok ditangannya.
"Gila bos kita maen lagi, tua-tua kenceng bener anunya!" perkataan Alex membuat Robby tergelak, tapi tawa mereka terhenti saat Nita menghampiri keduanya.
"Pak Amrin masih maen ma tuh anak?"
"Eh, Nit kok lu disini?!" tanya Robby kebingungan, ia dan Alex saling menatap.
"Daritadi aku juga diluar nungguin cewek sialan itu keluar!"
"Lah tu cewek udah pulang daritadi lho!" Alex menjawab kekesalan Nita.
"Lho kalo kamu disini terus yang diatas siapa dong?" Alex kembali menatap ke arah ruangan pak Amrin yang kini gelap.
"Aaah, paling si bos manggil cewek lain!"
Ketiganya saling menatap tapi tak lama kemudian suara pecahan kaca diikuti benda melayang keluar dari jendela menghujam cepat kebawah. Benda itu jatuh disertai cipratan darah membuat Nita menjerit ketakutan.
Tubuh polos pak Amrin jatuh tepat diatas pagar. Tubuhnya tertembus tiga buah ujung pagar yang tajam.Tubuhnya dipenuhi pecahan kaca tebal, luka robek di dahinya serta mata yang terbelalak menatap kearah Nita dan para centeng.
Para centeng pun terperangah, mereka bingung dan tak tahu bagaimana bisa pak Amrin terjatuh dari lantai tiga. Robby memberanikan diri mendongak kearah jendela yang pecah berserak, ia melihat sesosok makhluk berbulu yang menyeringai padanya dengan taring panjang dan mata merah menyala bak lidah api.
"Se-setan!"
__ADS_1