
Setelah cukup jauh dari pemukiman warga, Tiara dan Rendra pun berhenti sejenak. Bantaran sungai banjir kanal barat terlihat sepi dan lengang.
Rumput ilalang yang tinggi terlihat memenuhi sebagian bantaran kali. Debit air sungai mulai meninggi akibat hujan yang mengguyur sore tadi cukup deras.
"Ra, buang sini aja deh! Berat nih, pegel tangan aku!" Rendra menepuk-nepuk tangan kanannya yang terasa kebas.
Tiara tak menjawab, ia memeriksa sekitar meminimalisir saksi yang mungkin saja melihat mereka berdua.
"Buang disini segera, sebelum pagi menjelang!" Bayu berbisik di telinganya.
"Apa sudah cukup aman?" Tiara bergumam.
"Percaya padaku!" sahut Bayu lagi.
Tiara pun memberi kode pada Rendra untuk segera menghanyutkan koper berisi tubuh Toni ke sungai. Tanah yang berlumpur cukup menyulitkan Rendra membawa koper itu ke tepian sungai. Tiara membantunya dan dalam sekejap koper besar berwarna hitam itu hanyut terbawa arus yang cukup deras.
Keduanya menatap koper itu terombang ambing tergerus arus sungai yang mulai beriak mengganas. Air mulai naik menenggelamkan koper tanpa ampun.
"Ayo kita pergi!"
"Kemana Ra, kita balik kesana lagi?"
"Nggak! Kita cari rumah baru!"
"Rumah? Duit darimana?"
Tiara berdecak kesal dan menatap Rendra kakaknya. "Kamu lupa duit yang kamu pegang tadi? Itu duit asli!"
Mata Rendra terbelalak, ia menepuk jidatnya sendiri. "Lah iya aku lupa, ehm tapi boleh kan aku minta dikit buat isi dompetku?!" pintanya seraya tersenyum merajuk pada Tiara.
"Cck, iya! Tapi ingat kalo kamu pake buat judi lagi, aku potong tuh!" Tiara mengancam sang kakak, matanya turun ke bawah tepat ke pusat tubuh Rendra.
Tangan Rendra bergerak cepat menutupi kejantanannya sembari berkata, "Tega bener Ra, sama kakak sendiri!"
"Kamu juga tega jual aku ke Toni!" mata Tiara membulat dan wajahnya kembali menegang.
"Maaf, aku terpaksa! Eh tapi kalian sudah …," jemari Rendra bertaut bertanya dengan kode penyatuan dua anak manusia berbeda jenis.
Tiara tak menjawab dan hanya mendengus kesal membuat Rendra semakin penasaran. Tiara pun berlalu, melompati dinding beton pembatas yang digunakan sebagai tanggul pencegah banjir.
"Ra, jawab dong Ra!"
"Berisik!" Tiara mempercepat langkahnya ia malas menjawab pertanyaan Rendra.
"Hhm, aku simpulkan aja kalau kalian udah ngelakuin deh!"
Tiara sontak berhenti dan berbalik menghadap ke Rendra. "Ren, sekali lagi kamu nanyain ini!" Tiara mengancam dengan serius sembari jari telunjuknya bergerak memotong leher. "Aku nggak mau bahas beginian! Ngerti kamu!" tegasnya lagi.
__ADS_1
"Iiish, serius bener ngomongnya Ra! Ok, ok aku janji nggak bakal nanya lagi deh! Tapi sekarang kita kemana?"
Tiara berpikir sejenak, "Aku butuh tempat yang eksklusif, aman, penghuninya nggak ribet apalagi tukang nge ghibah, kamu tahu tempat yang cocok?!"
"Wah, kalo mau begitu ya sewa rumah di perumahan kalo nggak sewa apartemen aja Ra!" Rendra berdecak lalu tersenyum sinis pada Tiara, "Tapi sewa begitu kan mahal Ra, emange kamu duitnya cukup?" tanya Rendra dengan logat Jawanya yang kental.
Tiara tersenyum ganjil, ia menarik tangan Rendra memaksanya berjalan lebih cepat. Ia memesan sebuah mobil dari aplikasi online untuk mengantarkan mereka ke daerah Candisari.
Rendra hanya diam dan mulai memperhatikan adik satu satunya itu. Lebam di leher, tangan, dan beberapa bagian tubuh yang tertutup pakaian menarik perhatian Rendra. Ia ingin bertanya tapi menunggu situasi yang tepat. Saat ini adiknya kalut dan terus menatap keluar jendela kaca mobil yang membawa mereka ke sebuah gedung bertingkat yang lumayan mewah.
"Ra, gila kamu! Kita ngapain kesini!" Rendra mengusap kasar rambutnya seraya berkacak pinggang. Ia tak habis pikir kenapa Tiara memilih lokasi ini untuk menyewa tempat tinggal.
"Berisik! Udah ikutin aku aja!"
Rendra kesal Tiara memerintahnya seperti seorang bos, tapi ia tetap menurut dan mengikuti Tiara. Mereka disambut petugas keamanan dan Tiara langsung mengutarakan keinginannya untuk membeli dua unit apartemen sekaligus.
Rendra pun terbelalak, ia berbisik pada adiknya. "Ra! Kamu gila ya!"
"Kamu diem aja nggak usah banyak tanya! Bawel bener, udah tunggu disini jangan kemana mana biar aku yang urus semuanya!"
Tiara berlalu meninggalkan Rendra, ia mengikuti petugas keamanan menemui seseorang di dalam sana. Gedung yang lumayan bersih dengan sofa empuk dan mesin pendingin maksimal membuat mata Rendra tak bisa menahan kantuk. Ia pun terlelap.
Rendra merasa tubuhnya melayang layang, rasa lelah dan takut berhimpit menjadi satu menyesakkan dada. Kakinya melangkah gontai, lututnya gemetaran. Ia tak tahu ada dimana saat ini, semuanya tertutup kabut. Kelebatan bayangan timbul tenggelam dari balik kabut. Bayangan tinggi besar dan hitam, muncul bergantian seperti mengelilingi dirinya.
"Hei, siapa itu?!" Rendra berteriak, ia menajamkan mata mencari sosok yang membuat bulu kuduknya meremang.
"Siapa? Siapa disana?!"
Rendra dibuat semakin penasaran. Ia pun mendekati sosok dalam siluet itu, tapi kemudian dirinya dikejutkan dengan geraman kasar yang memekakkan telinga. Sepasang tangan mencekik leher Rendra dengan cepat, entah darimana datangnya tiba-tiba saja tubuh Rendra terpelanting ke tanah dengan menahan cekikan.
Tubuhnya tertindih sesuatu yang cukup berat. Rendra tercekat dan kehabisan nafas, ia berusaha membuka mata mencari tahu siapa penyerangnya. Alangkah terkejutnya Rendra saat mengetahui siapa yang ada di atas tubuhnya, Toni.
Toni menggeram aneh, matanya melotot dari mulutnya keluar cairan yang meleleh kehitaman dan berbau busuk. Ulat-ulat kecil keluar dari lubang telinganya. Jemari Toni yang menghitam berbau busuk dengan kulit mengelupas, semakin mengeratkan cekikannya membuat Rendra kehabisan nafas.
Ia ingin berteriak tapi tak bisa, hanya suara aneh yang bisa lepas dari kerongkongannya yang mulai terasa perih dan sakit.
'Aku mati, aku mati! Tolong, seseorang tolong aku!'
Rendra pasrah, ia tak bisa bergerak, nafasnya mulai tersengal dan pandangan mata mulai kabur. Tapi tak lama sebuah tepukan keras di pipi dan panggilan namanya membuat Rendra kembali tersadar.
"Ren, Rendra! Bangun Ren!" Tiara berteriak.
"Mas, bangun mas! Mimpi opo cah Iki, lha kok njerat njerit rak nggenah! Mas, mas Tangi! Mesakne mbak'e Iki lho!"
(Mimpi apa anak ini, kok teriak-teriak nggak karuan! Mas, mas bangun! Kasian mbak nya ini lho!)
Rendra membuka matanya, ia menarik nafas lega. Akhirnya ia terbebas dari cekikan itu. Jantungnya berdebar kencang, ngeri membayangkan apa yang baru saja ia alami, ingatannya masih tertuju pada sosok Toni yang mengerikan.
__ADS_1
"Kamu mimpi apa?"
"Ehm, anu ehm nggak Ra." jawab Rendra ragu, ia hampir kelepasan bicara. "Apa sudah selesai?" ia bertanya balik pada Tiara.
"Sementara udah, kita bisa masuk dulu di unit yang kita beli. Sore nanti atau besok, semua urusan kelar."
"Oh," Rendra hanya menjawab singkat. Kepalanya masih pusing mengingat mimpi mengerikan tadi.
Tiara berbicara sejenak dengan kepala keamanan, lalu ia berpamitan dan mengajak Rendra naik. Tak berapa lama, mereka sampai di lantai lima tempat dimana dua unit apartemen yang dibeli Tiara berada.
"Ini punya kamu, punyaku di sebelah sana." Tiara menyerahkan kunci masuk kepada Rendra.
Rendra termangu dan menatap Tiara tak percaya, harga satu unit saja mencapai ratusan juta dan Tiara membelinya dua? Sulit dipercaya.
"Ra, aku mau bicara!" Rendra menarik tangan Tiara dan memintanya masuk ke dalam hunian mewah itu.
"Jujur sama aku sekarang, darimana kamu dapat uang segini banyak? Ini nggak murah lho Ra, mana kamu beli dua lagi!"
Tiara masih diam dan melipat dua tangan didepan dadanya.
"Kamu mau aku percaya ini dari gaji cleaning service, hah?!"
"Aku udah pindah bagian Ren!"
"Terus, bagian mana? Apa gajinya sebesar ini? Terus ini, lihat ini?!" Rendra menarik paksa lengan Tiara dan menunjuk pada lebam di beberapa tubuhnya.
"Jelasin sama aku kenapa? Jangan bilang kamu jual diri kamu dan jadi piaraan kayak ibu!"
PLAAK!!
Satu tamparan keras mendarat di pipi Rendra. Wajah Tiara memanas begitu juga dengan airmata yang menggantung di pelupuk matanya.
"Jaga omongan kamu!"
Airmata Tiara meleleh membasahi pipinya, sementara Rendra terdiam menatap Tiara. Ada sesuatu yang membuat wajah Tiara begitu mengerikan tapi Rendra tak tahu apa itu. Bulu di seluruh tubuhnya meremang menandakan alarm bahaya untuknya. Sesuatu yang aneh sedang terjadi pada Tiara.
"Aku ingatkan kamu untuk nggak campuri urusanku Ren! Mulai detik ini, kamu kerja sama aku! Yang penting kamu bisa hidup enak kan? Nggak ngemper di jalanan, nggak ngais makanan sisa, apalagi minta minta sama orang yang ngehina bahkan nyumpahin kita!"
Rendra masih terdiam, lelaki berkumis tipis itu menatap sang adik dengan sejuta tanya. Aura magis yang keluar dari tubuh sang adik begitu pekat dan menekan. Rendra hanya bisa merasakan ada sosok lain yang menguasai Tiara tapi ia tak tahu pasti apa itu.
"Istirahat, tidur, jam tiga sore temani aku ke pasar. Ada yang harus kita lakukan malam ini, dan aku butuh bantuanmu!"
"Malam ini?" tanya Rendra ragu.
"Ya, malam ini!"
Tiara menatap tajam Rendra kemudian berlalu meninggalkannya. Rendra bernafas lega ketika Tiara pergi, tekanan udara seolah kembali normal.
__ADS_1
"Aneh, apa yang kamu lakuin Ra?!"