
Tiara berdiri mematung menatap jauh pemandangan kota Semarang dari apartemen miliknya. Lampu sengaja dipadamkan, Tiara ingin sendiri dalam gelap dan hanya berteman kerlipan lampu kota dibawah sana.
Membuka galeri dengan beberapa foto Arka dalam ponselnya, rasanya sungguh menyesakkan dada. Lelehan air mata kembali meluncur turun dari kedua mata indahnya. Menyesal, itu yang terlintas di benak Tiara. Ia menyesali pertemuannya dengan Arka. Jika saja Arka tak mengenalnya, Bayu tidak akan cemburu dan membunuhnya. Arka pasti masih hidup saat ini.
Nasi sudah menjadi bubur, perasaan Tiara kini hanya bisa dipendam dalam-dalam.
"Aku nggak boleh lagi jatuh cinta, jangan ada korban lain."
Bulu di sekujur tubuh Tiara berdiri tiba-tiba, suhu ruangan terasa berbeda dari sebelumnya. Rasa nyeri yang menggelitik di tubuh Tiara adalah pertanda kedatangan Bayu.
"Kamu menangis?" Bayu muncul begitu saja disisi Tiara, membelai rambutnya dengan lembut. Tiara mengusap jejak air matanya dan menggeleng lemah.
"Menyesal dengan perjanjian kita?" Bayu kembali bertanya.
Hati Tiara terasa perih mendengarnya, ya separuh dari diri Tiara menyesal dan setengahnya tidak. Mundur sudah tidak mungkin, bayangan kematian jelas menjadi resiko Tiara. Bayu lelembut berusia ratusan tahun, tak mungkin rasanya jika Tiara yang hanya manusia biasa berkalang dosa melawan begitu saja.
"Boleh aku tanya sesuatu?" Tiara membalik tubuhnya hingga keduanya berhadapan.
"Apa?" Bayu memainkan anak rambut Tiara, menyelipkannya di balik telinga.
"Kenapa kau memilihku?"
"Nyai Kembang yang memilihmu, aku hanya pengabdi tuanku."
"Siapa tuanmu Bayu?" Tiara dibuat penasaran dengan jawaban Bayu.
Bayu berhenti memainkan rambut Tiara, ia menatap lekat kekasihnya itu. "Seorang panglima terkuat di pantai Selatan, Maheswari Sasandoro ing Gayatri."
Tubuh Tiara merinding seketika, rasa takut menyergapnya saat mendengar nama itu disebut. "A-apa dia menyeramkan?"
"Dia cantik saat bulan purnama tiba tapi berubah menjadi siluman ular yang menyeramkan saat bulan mengecil."
Tiara menelan ludah kasar, ia tak bisa membayangkan bagaimana dirinya bisa terjebak dan menjadi budak sang Ratu kelak, keringatnya bercucuran dan tubuhnya gemetar.
"Kau takut? Ada aku yang akan menjagamu Tiara. Kita akan bersama jika waktunya tiba … selamanya!" Bayu berbisik sangat dekat di telinga Tiara membuatnya bergidik ngeri.
"Apa kamu juga terjebak di sana Bayu?"
Bayu menjauhkan tubuhnya dari Tiara, ia kembali memperhatikan wajah kekasihnya itu. "Dulu aku juga manusia, tapi karena perjanjianku dengan sang Ratu, jiwaku terperangkap dan berubah menjadi salah satu lelembut dengan wujud seperti yang kau lihat,"
"Apa aku juga akan jadi sepertimu?"
Bayu terdiam sejenak, lalu menjawab sembari mengusap rambut Tiara. "Ya, kau, nyai kembang, dan juga yang lainnya akan bergabung bersama kami kelak."
"Kecantikan, kekuatan, dan kekayaan akan menjadi milikmu selamanya Tiara. Asalkan kau menurut padaku." lanjutnya lagi, tangan Bayu menyusup diantara rambut Tiara membawa Tiara pada kecupan manis di bibir.
"Jangan takut, sayang. Percayalah padaku."
__ADS_1
Lagi-lagi Tiara hanyut dalam rayuan manis Bayu, ia tak bisa menolak meski hatinya ingin berontak. Tiara menghentikan permainan lidah mereka saat hasratnya mulai memanas.
"Bayu, aku rindu saat-saat kita dulu bersama. Kenapa kita nggak ngulangin semua itu lagi. Kamu dan aku, berdua menikmati malam dengan jalan santai berdua."
"Itu tidak mungkin terjadi."
"Kenapa tidak?"
"Tugasku menjagamu dan memastikan kau memberikan tumbal di saat yang telah ditentukan."
"Tumbal? Miko, Pak Amrin dan Arka apa mereka semua tumbal?"
"Jangan lupakan preman kampung yang mencoba menyentuhmu Tiara! Dia dan Arka hanya untuk bersenang-senang, tapi Miko dan pak Amrin itu bagianku!"
Seringai menyeramkan tersinggung di bibir Bayu, matanya berkilat kemerahan. "Jangan memikirkan hal buruk tentangku sayang, aku memberikan segalanya untukmu. Ikuti saja permainannya dan kau akan selamat." Bayu pun menghilang dari pandangan Tiara.
Sepeninggal Bayu, Tiara mengepalkan kedua tangannya. Ia merutuki pilihannya mengikuti perkataan Bayu. Jika saja nasib tidak berlaku kejam padanya, ia tak mungkin terjebak dalam situasi rumit seperti sekarang. Keinginannya memperbaiki kehidupan kini berubah jadi ajang balas dendam.
Tiara mengotori tangannya dengan darah. Meski tidak secara langsung tapi dengan meminta bantuan Bayu, Tiara kini menjelma menjadi gadis pembunuh.
Toni, Miko, dan pak Amrin adalah lelaki yang menjemput ajal karenanya. Apa yang bisa Tiara lakukan sekarang? Ia hanya bisa menjalankan skenario Bayu mencari mangsa untuk dipersembahkan pada Bayu, lelembut berbulu yang berusia ratusan tahun.
Tiara menangis dalam pilu. Kewarasannya muncul ke permukaan. Ia ingin kembali hidup normal, ia ingin kembali dicintai dan mencintai lelaki di alam nyata. Ia ingin kembali menjadi Tiara si cleaning service yang dulu dimaki dan dihina orang.
Puas menyesali kebodohannya Tiara pun terlelap tidur.
"Kenapa sama muka ku! Gatal sekali!"
Ia pun menggaruknya, tapi semakin digaruk rasa gatal itu semakin menjadi. Wajah Tiara terlihat memerah karena goresan kukunya.
"Aduh gimana ini!"
Bisikan lembut menyapanya, 'Segera berendam dalam air kembang Tiara!'
Tiara dengan tangan gemetar memesan bunga tujuh rupa melalui jasa pengiriman online. Rasa gatal di wajah menjalar ke tubuhnya.
"Ah, gatal!" ia kembali berteriak.
Tiara terus menggaruk dan menggaruk tanpa henti, ia bahkan melupakan panggilan dari Alan. Ia hanya memikirkan bagaimana caranya agar terbebas dari rasa gatal. Tubuhnya semakin memerah akibat garukan dan lecet dibeberapa bagian. Wajahnya pun mulai terlihat berbintik bintik merah.
Tak lama kemudian, pesanan pun datang. Tiara langsung menyambar bungkusan bunga itu dari tangan kurir dan bergegas ke kamar mandi. Melucuti seluruh pakaiannya dan membenamkan diri seluruhnya dalam bathtub.
Mantranya, ucapkan mantranya Tiara …,
Bisikan itu kembali datang, Tiara mengikuti petunjuk sang nyai. Ia mengambil sikap duduk dengan kedua telapak tangan menangkup di depan dada, menyelip diantara dua gundukan indah miliknya.
...Sukmaning sejati, ……...
__ADS_1
...Asmara wulan rahiku,........
...Yen Siro weruho...
...Kepileng kepa sikep asmaragama...
...………...
Tiara mengulang ulang terus mantra itu hingga air dalam bathtub berubah menjadi semerah darah. Tiara tak menyadarinya, ia hanya merasakan nyaman dan lebih segar, rasa gatal di tubuh serta wajahnya pun menghilang. Entah berapa lama ia berendam hingga akhirnya Nyai Kembang berbisik.
"Cukup cah ayu, keluarlah!"
Tiara perlahan membuka matanya, ia menemukan wajah ayu sang nyai yang tersenyum padanya. "Nyai Kembang?"
Wanita berkebaya merah itu mengangguk, ia membimbing tubuh polos Tiara untuk keluar dari air. "Kau meragukan kemampuan sang Ratu, itu sebabnya dia menghukum mu."
"Saya tidak mengerti Nyai." Tiara bingung dengan ucapan sang Nyai.
"Sedikit saja keraguan dalam hatimu untuk mengabdi pada sang Ratu, kau akan merasakan akibatnya." wajah nyai kembang berubah serius.
"Lalu saya harus bagaimana?"
"Siapkan ritual dan persembahkan seorang lelaki muda untuk sang Ratu."
"Ratu? Bukan Bayu?"
Nyai kembang menggelengkan kepala, "Ini hukuman untukmu cah ayu, nyawa lelaki muda harus dipersembahkan pada sang Ratu. Bawa lelaki itu ke sebuah gua tak jauh dari lembah diatas sana. Aku akan membimbing mu!"
"Laki-laki muda? Bagaimana caranya?"
"Terserah padamu, ingat waktumu hanya sampai bulan purnama berikutnya!"
Nyai kembang menghilang, meninggalkan Tiara yang kebingungan. Ia harus mencari mangsa baru jika tidak semuanya akan hilang dan hancur begitu saja.
"Bodoh, bodoh! Kenapa aku pake bimbang segala semalam!"
Tiara mondar mandir dan hanya mengenakan bathrobe, ia harus mencari mangsa baru. "Ah iya, ke diskotik aja banyak laki-laki buaya disana kan!"
"Aah, tapi kalo dia minta mantap-mantap sama aku gimana? Yang ada dia jadi santapan Bayu!" Tiara mengusap wajahnya kasar lalu duduk di sofa dengan lemas.
"Rendra gimana? Ah, nggak dia jagain aku! Aku nggak mau korbankan dia! Terus siapa dong?"
Tiara memijat keningnya yang terasa berat. Dimana ia harus mencari lelaki muda untuk sang Ratu? Haruskan ia mengorbankan sang kakak atau mencari mangsa segar lain yang bisa ia jerat dengan bedak setan miliknya.
Ponselnya kembali berdering, dengan malas ia meraih ponsel. Matanya membulat sempurna, satu nama tertera memberinya ide untuk menjadikannya tumbal bagi sang Ratu. Tiara kembali bersemangat dan segera menjawab panggilan.
"Hai, apa kabar Alan?"
__ADS_1