Bedak Sang Nyai

Bedak Sang Nyai
Lusi oh Lusi


__ADS_3

Tiara diam seribu bahasa, Rendra menyodorkan segelas air untuknya. 


"Sejak kapan kamu tahu kalau Miko anak dari laki-laki itu?"


Rendra meneguk air dari gelas yang dipegangnya. "Kemarin, waktu ketemu dia pertama kali disini. Dia mirip sekali papah."


"Jangan sebut laki-laki itu, papah! Aku nggak sudi dia kamu panggil papah!" hardik Tiara tanpa memandang kakaknya.


"Mau kamu ingkari bagaimanapun dia tetap papah kamu!"


"Laki-laki itu selamanya bukan papah aku!" Tiara tak bergeming.


Rendra hanya bisa menghela nafas panjang. Ia memahami jika hati adik perempuannya saat ini sedang tidak karuan. Rasa marah, kecewa, sedih, bercampur jadi satu ditambah dengan sakit hati penolakan sang ayah.


"Aku nggak bisa maafin mereka Ren, apa yang laki-laki itu buat ke kita sudah sangat keterlaluan!" 


Tiara kembali meluapkan emosinya, sumpah serapah juga dilemparkan untuk lelaki yang menjadi investor DNA dalam tubuhnya. Rendra hanya bisa diam dan mendengarkan, ia menunggu adiknya itu tenang. Hingga beberapa saat kemudian Tiara kelelahan, suara teriakan dan umpatan berubah dan berganti dengan suara isak tangis.


Rendra memeluknya erat dan membelai rambut hitam Tiara. "Lepaskan semua, nangis sepuasnya. Biar lega!"


Dan isakan Tiara pun terdengar begitu pilu bagi Rendra. Ibunya menitipkan sang adik untuk dijaga sebaik mungkin, ia juga menjalankan amanah sang ibu untuk berjuang agar keberadaan mereka diakui Hendrawan. Berbekal alamat dan tekad Rendra berkali kali mendatangi Hendrawan baik di kediamannya ataupun di tempat kerja. Tak sedetik pun Rendra mengeluh, ia terus berusaha untuk meluluhkan hati sang ayah.


Hendrawan Adhiwijaya, adalah salah satu pemilik dan petinggi mall tempat Tiara bekerja. Hingga suatu hari Hendrawan mau berbicara padanya. Itu pun hanya menyerahkan sejumlah uang untuk kebutuhan Rendra dan Tiara. 


Di mall itu juga Rendra berkenalan dengan pak Amrin, atasan Tiara yang selalu membantunya untuk bertemu Hendrawan. Uang pemberian Hendrawan digunakan Rendra untuk berjudi atas bujukan pak Amrin. Toni adalah sepupu pak Amrin dan keduanya bekerja sama untuk menjerat Rendra yang polos agar menghabiskan seluruh tabungan pemberian Hendrawan dan juga memiliki Tiara.


Tangis Tiara tak lagi terdengar, ia mengurai pelukannya. Menarik nafas panjang lalu mencuci muka. Melihat adiknya mulai tenang Rendra tersenyum senang lalu kemudian menyalakan televisi.


"Ra, lapar. Ada makanan?"


Tiara berdecak kesal, ia mengeringkan wajah basahnya dengan handuk kecil. Lalu berjalan ke arah dapur. "Mau bikin mie instan?"


"Nggak ada rendang Ra?" 


"Nawar lagi! Bukan warung, seadanya aja!"


Rendra mengangguk, ia kembali terfokus pada update berita yang ditayangkan. Matanya membelalak saat berita itu menayangkan penemuan jasad dalam koper.


"Ra, Tiara! Sini buruan!"


"Ada apaan sih?!" sahut Tiara kesal.


"Lihat tuh!" Rendra membesarkan volume televisi yang sontak membuat Tiara terkejut.

__ADS_1


"Gawat, itu bukannya …," Tiara menutup mulutnya, matanya menatap nanar berita menghebohkan itu.


"Koper ibu,"


"Kita harus gimana Ren?"


Rendra diam sejenak, "Nanti aku cari informasi, aku yakin centeng-centeng Toni bakal mulai cari kita!"


Ia menatap Tiara sejenak lalu kembali berkata, "Apartemen ini aman untuk bersembunyi asal nggak ada orang yang usil cari kita. Sementara jangan kasih tahu siapa pun dimana kita tinggal."


Tiara mengangguk pelan, berita itu membuat tubuhnya gemetar ketakutan. Setelah mengisi perut, Rendra berpamitan. Ia harus pergi ke suatu tempat dan melihat situasi dan perkembangan penemuan mayat Toni.


"Butuh bantuan?" suara Bayu tiba-tiba saja ada di belakang Tiara yang diam membisu menatap layar televisi yang telah berganti program.


"Iya, aku membutuhkanmu sayang, untuk menuntut balas." Tiara berbalik dan mengalungkan tangannya pada kekasih gaibnya itu.


"Aku akan membereskannya tanpa jejak," Bayu menautkan bibirnya pada Tiara, menyesap manisnya daging kenyal sewarna merah jambu milik Tiara.


"Apa kamu juga sudah membereskan gadis itu?" Tiara bertanya disela pagutan lembut Bayu yang mulai membakar dirinya.


"Secepatnya akan kubereskan. Waktunya memanen jiwa bukan?"


"Buat kematian yang mengenaskan untuk mereka!"


"Kematian mereka hanya menunggu waktu, beri aku kepuasan bersamamu sayang. Aku merindukanmu," suara serak Bayu menenggelamkan Tiara dalam hasrat.


"Aku juga merindukanmu, melebihi dari apapun." 


...----------------...


Lusi menggila di apartemen miliknya. Ia kembali harus ditenangkan kedua teman Miko. Ia terus berteriak dan mengumpat.


"Brengsek! Kenapa kalian bawa aku kemari! Aku mau bunuh perempuan nggak tahu diri itu!"


"Lus, kamu nggak capek apa dari tadi teriak terus. Kasian tu leher sampai urat keluar semua!" teman wanita Miko bernama Amanda menenangkan.


"Lo harusnya sadar kenapa Miko berubah Lus! Salah Lo juga kali kenapa selama ini bikin Miko terkekang. Laki kek Miko gitu maunya dibebasin, jiwa dia tuh jiwa bebas jangan dikit-dikit Lo larang kesana, larang kesini, nanya ada dimana, ngapain, sama siapa?!" Tomi kekasih Amanda ikut menimpali.


"Salah gue dimana? Wajar lah Miko cowok gue dan dia harus jadi milik gue seutuhnya!" Lusi masih tak terima dengan ucapan Tomi.


"Gue tadi sudah bilang kan, introspeksi diri lo sendiri deh baru nyalahin dia!"


"Tomi betul Lus, Miko juga butuh ruang sebagai laki-laki untuk sosialisasi sama temen lain. Jangan posesif dan agresif begitu." 

__ADS_1


"Aaah a***ng lo pada, keluar semua dari sini! Banyak bacot lo berdua! Keluar!" Lusi berteriak sambil melemparkan barang-barang di dalam apartemennya ke arah dua teman Miko.


"Lus, tenangin diri lo!" Tomi berusaha melindungi kekasihnya dari lemparan benda yang terus melayang ke arah mereka.


"Keluar! Kalian sama brengseknya sama Miko!"


Mau tak mau Amanda dan Tomi pun keluar dari apartemen Lusi. Mereka memilih mengalah dan membiarkan Lusi berpikir. Lusi segera mengunci pintu, tubuhnya merosot ke lantai, ia menangis meratapi sang kekasih.


Tingkahnya tak juga berubah dari semalam, meski sempat tenang untuk beberapa waktu, ia kembali histeris saat mengingat perlakuan kasar Miko padanya. Bukan salah Miko karena Lusi juga memancingnya berbuat kasar. Pipi Lusi sedikit bengkak akibat pukulan Miko. Ia meraba pipi kanannya yang terasa nyeri.


Lusi berjalan gontai dengan airmata berlinang, ia menuju wastafel dan membasuh wajahnya berharap air dingin bisa mengurangi ketegangan dan nyeri di pipinya. Lusi menatap wajahnya di cermin, ia mengusap pipi yang mulai membiru.


"Sssstt,"


Suara seperti berbisik menyapanya, Lusi terkejut dan mencari sumber suara. Ia mastikan tak ada siapapun dalam apartemen miliknya, bahkan ia ingat betul pintu sudah terkunci.


"Ssssstt …," 


Suara itu kali ini terasa lebih panjang dan jelas. 


"Siapa?!" Lusi tergerak untuk mencari tapi sesuatu tak kasat mata menariknya keras ke arah cermin. 


PRANG!!


Lusi berteriak, kepalanya dibenturkan ke cermin dua kali dengan cukup keras hingga darah mengucur dari keningnya yang terluka. Darah Lusi mengotori retakan cermin di dinding.


"Aaargh!" 


Ia berteriak kesakitan, belum juga usai keterkejutannya tangannya kembali ditarik dengan kasar. Ia dihempaskan ke lantai dengan cepat membuat tubuhnya menumbuk meja dapur dengan keras. Tak hanya itu, sebuah pisau dapur tiba-tiba saja melayang dan bergerak cepat ke arahnya.


Lusi yang menyadari ancaman bahaya segera berdiri dan berusaha lari tapi usahanya itu sia-sia. Pisau dapur besar dan tajam itu menancap tepat di pahanya. Ia menjerit kesakitan dan kembali terjatuh.


Lusi menoleh ke arah belakang tapi tak ada orang disana, ia menangis sejadinya dan berusaha melepaskan pisau yang menancap. Darah mengalir cukup deras karena hampir memotong pembuluh Vena disana, banyaknya darah yang keluar membuatnya mulai kehilangan kesadaran.


Lusi berusaha mencari ponselnya, berniat menghubungi Amanda yang baru saja keluar dari apartemennya. Tapi belum sempat tangan Lusi menggapai ponsel, kakinya kembali ditarik sosok tak kasat mata, tubuhnya terangkat beberapa sentimeter dari lantai.


Sesuatu mencekik lehernya, tulang di lehernya mendapat tekanan yang luar biasa, nyeri dan sesak. Lusi tak lagi bisa berteriak, suaranya menghilang begitu saja. Kakinya meronta-ronta dan wajahnya memerah. Lelembut berbulu hitam dengan mata merah menyala muncul dihadapannya.


Mata Lusi semakin membelalak lebar tapi ia tak bisa berbuat apapun. Sebelum ia memahami apa yang terjadi, tubuhnya terlempar kuat ke arah jendela. Lusi baru menyadari tubuh penuh darah miliknya terasa begitu ringan, ia juga menyadari jika kini dirinya terjun bebas dari lantai sepuluh.


Malang bagi Lusi, tubuhnya terhempas kuat tepat menimpa kap depan mobil Tomi. Wajah penuh darah, kepala menghadap ke kiri dengan mata yang menatap nanar ke arah Amanda didalam mobil. Amanda sontak berteriak histeris.


"Astaghfirullah Al adzim … Innailaihi wa Inna Ilaihi Raji'un!" 

__ADS_1


Tomi memeluk tubuh kekasihnya yang gemetar ketakutan dan menangis histeris. Ia menggelengkan kepala lalu memejamkan mata, tak kuasa melihat pemandangan mengerikan di depannya.


__ADS_2