Bedak Sang Nyai

Bedak Sang Nyai
Mangsa Baru


__ADS_3

Hari ini Tiara harus masuk kerja. Tubuhnya yang remuk redam setelah pergumulan panas bersama Bayu sudah kembali normal setelah beristirahat seharian.


Bu Ratih menghubungi Tiara pagi-pagi sekali memastikan putri sahabatnya itu bisa kembali bekerja. Beberapa rekan kerja Tiara di bagian cleaning service juga menanyakan kabarnya. Peristiwa menghebohkan yang dialami Tiara menjadikan dirinya selebritis dadakan mall.


 Ada yang sekedar ingin tahu, ada juga yang dengan tulus memberikan dukungan tapi ada juga yang cuma sekedar numpang tenar dan mencari bahan gunjingan. Tiara tak peduli, toh dirinya sekarang memiliki Bayu dan tentu saja sejumlah uang yang disimpan rapi di dalam lemari tersembunyi.


Setiap kali Tiara menjalankan ritual khususnya ia akan mendapatkan kekayaan dan kecantikan yang didambakan Tiara. Sebagai imbalannya Tiara harus menyediakan satu sukma untuk menambah kekuatan Bayu dan juga kekuatan bedak setan.


Tidak ada pantangan yang diberikan Bayu, Tiara hanya perlu memikat satu pria saja. Hal yang akan dengan mudah Tiara dapatkan apalagi dengan pesona mistis yang dimilikinya saat ini.


"Ren, anterin aku kerja hari ini!" pinta Tiara beberapa saat setelah menerima panggilan Bu Ratih.


"Jam berapa Ra?"


"Satu jam lagi, aku siap-siap dulu!"


"Terus nganterin kamu naik apa? Kita kan nggak punya kendaraan Ra?!" suara Rendra terdengar kebingungan.


"Udah nanti kamu juga tahu! Ehm kamu masih inget caranya nyetir kan?"


"Hah, apa nyetir apaan?"


"Mobil, kan dulu kamu sempat bantu-bantu pak Ridwan anter barang?"


"Yaa, masih sih tapi …,"


Tiara menutup telponnya membiarkan Rendra semakin penasaran. "Cck, ni anak main tutup aja telpon, ada apaan ya kok pake nyetir segala? Apa jangan-jangan dia … ah, nggak mungkin! Masa iya Tiara beli mobil? Duit darimana dia?!"


Tak berapa lama kemudian bel di unit apartemen Rendra berbunyi, ia pun bergegas membuka pintu. Tiara sudah berdiri di hadapannya. Rendra terkejut mendapati adiknya yang terlihat begitu cantik dan juga seksi.


"Ra?! Ini kamu bukan sih?" Rendra mengerjapkan mata dengan takjub.


Tiara hanya melirik Rendra sepintas dan berlalu masuk ke dalam. Di tangannya ada beberapa kotak makanan.


"Ini buat makan kamu, inget jangan keluyuran!" Tiara kembali mengingatkan Rendra.


"Iya, aku tahu."


Rendra mendekat lalu mengintip apa yang Tiara bawakan untuknya. "Apaan ni Ra?"


"Balado ikan kembung, ayam goreng sama rendang. Simpan di kulkas kalo sisa biar besok pagi bisa kamu angetin lagi!"


Rendra mengamati Tiara yang sedang menata kotak makanan di meja makan. "Ra, beneran deh aku baru nyadar kamu cantik bener."


"Hhm," 


"Dari kemarin kamu kemana aja, sibuk judi sampai lupa sama aku. Parah kamu Ren apalagi sampai jual aku segala! Brengsek bener jadi kakak!" sungut Tiara sembari mencuci tangannya di wastafel.

__ADS_1


Rendra menggaruk kepala, pikirannya berkecamuk saat ini antara bingung, malu, sedih dan menyesal. "Sori Ra, aku khilaf!"


"Cck, khilaf mu kebangetan! Kamu juga pinjam uang ke pak Amrin kan?" 


Rendra menggelengkan kepalanya, "Nggak kok, si Amrin sendiri yang nawarin bantu. Ya nggak salah kan aku kalau nerima bantuannya!"


Tiara kembali berdecak kesal, "Kamu ni goblok, tolol, apa bego sih? Iku Podo wae ndes! Gara-gara kamu si Amrin ngejar aku, dia bahkan bikin malu aku dua kali!" 


"Hah, maksud kamu gimana?"


Tiara dibuat semakin kesal dengan tingkah Rendra, "Huh, kamu ini polos apa mang goblok to ndes?! Dia nagih hutang kamu, dia minta aku jadi istrinya dan ujung-ujungnya dia mau perkosa aku di kamar mandi mall kemarin!"


"Apa? Trus gimana, kamu sempat ngelayanin dia kayak Toni juga?"


PLAK!!


Bukannya mendapat jawaban tapi Rendra justru mendapatkan satu tamparan keras di pipinya. 


"Ini buat kebrengsekan kamu sebagai kakak!"


PLAK!!


"Ini buat kebodohan kamu sebagai lelaki pengecut yang lari dari tanggung jawab!"


PLAK!!


Rendra diam dan pasrah mendapat tamparan keras dari Tiara. Dia memang pantas mendapatkannya. Rendra mengusap pipinya yang memerah dan panas. Tiara menarik nafas panjang mengontrol emosinya sejenak. 


Setelah cukup tenang Tiara menatap Rendra dan memperhatikan penampilan kakaknya, "Aku suka gaya kamu sekarang. Gini kan keliatan cakep, nggak nggembel." 


Tiara memang masih kesal, sangat kesal malah tapi sebagai adik ia berusaha memahami sikap Rendra. Besar bersama sejak kecil bersama Rendra membuatnya sangat memahami sifat sang kakak.


Tiara sudah cukup sakit kehilangan sang ibu secara tragis, ia juga sakit mendapati kenyataan sang ayah yang tak pernah muncul di hadapan mereka. Belum lagi sindiran dan ejekan tetangga pada mereka. Bukan hanya Tiara yang sakit, Rendra juga menahan rasa sakit yang sama. 


Kini lembaran baru terhampar di depan, Tiara memiliki lebih dari cukup meski harus menggadaikan diri mengabdi pada kegelapan. Sekali seumur hidupnya ia ingin membuat Rendra tersenyum.


"Kita berangkat sekarang, aku bisa telat nanti!"


Tanpa banyak bicara lagi keduanya turun ke lantai dasar. Tiara melenggang di depan Rendra, ia menebar senyum pada setiap pria yang dilewatinya. Pandangan takjub dan memuja terlihat dari sorot mata para lelaki. 


Rendra dibuat geleng-geleng kepala. Harus Rendra akui adiknya memang sangat menggoda. Andai Tiara bukan adiknya sudah pasti Rendra tak akan membuang kesempatan emas untuk mendekati Tiara.


"Mbak Tiara, ini kuncinya." Seorang satpam muda menghampiri Tiara dengan cepat seraya memberikan kunci.


"Makasih mas Slamet!" Tiara mengembangkan senyum seraya mengerling satpam muda dengan tahi lalat di pipi kanan.


"Ren, ambil!" 

__ADS_1


Rendra menangkap kunci mobil yang dilemparkan Tiara. Ia terkejut, dugaannya benar Tiara membeli sebuah mobil. 


"Cepetan Ren!" teriakan Tiara menyadarkan Rendra yang masih tak percaya melihat mobil di hadapannya.


Rendra bergegas menyalakan mesin dan tanpa banyak bicara, ia melajukan keluar area apartemen. Sepanjang perjalanan Rendra memilih untuk diam sambil sesekali melirik ke arah adiknya.


Tiara memperbaiki riasan, menambahkan sedikit polesan bedak ajaib di wajahnya, tak lupa ia merapalkan mantra yang diberikan Bayu.


...……...


...Rupaku Dewi Ratih...


...Teko welas teko lutut teko asih...


...Sapa kang ndulu badan saliraku…....


...……...


Tubuh Rendra terasa nyeri dan tengkuknya berat saat Tiara mengeluarkan bedak ajaib itu dari dalam tasnya. Aroma wangi bunga yang aneh menggelitik hidungnya. Bulu kuduknya meremang saat Tiara melantunkan lirih kidung Jawa yang tak dimengerti.


"Aku pulang jam sembilan malam, kamu jemput aku sebelum jam itu oke?!" Tiara berpesan sebelum turun dari mobil.


"Ingat …,"


"Jangan keluyuran? Iya, iya, udah gih turun!" potong Rendra cepat, Tiara tersenyum lalu berkata. "Bagus, kali ini jadilah kakak yang berguna untukku!"


Rendra hanya diam mematung dan memperhatikan adiknya yang berjalan memasuki pelataran gedung.


"Tiara benar, jadilah orang bener kali ini! Oke Ra, aku bakal buktiin ke kamu aku juga bisa jagain kamu!"


Tiara setengah berlari memasuki gedung. Ia hampir terlambat, lima belas menit lagi absennya akan hangus jika tidak segera meletakkan ibu jari di mesin absen otomatis. Ia berlari tanpa memperhatikan sekitar lalu tiba-tiba,


BRUUGH!!


Tiara sukses bertabrakan dengan seorang lelaki, ia terhuyung mundur dan hampir kehilangan keseimbangannya. 


"Aaw, maaf!" Tiara langsung meminta maaf pada pria muda berpakaian casual dengan wangi yang musk menggoda.


"Woy lihat-lihat kalau jalan! Main tabrak aja, lu pikir gue apaan? Seradak seruduk seenaknya, punya mata nggak sih lu?!" hardik lelaki itu tak terima.


Tiara terkejut, ia hafal suara lelaki yang sedang berteriak dihadapannya. Ia pun menoleh dan menatap pada lelaki muda itu.


'Huh, kita ketemu lagi disini! Saatnya aku membalas perbuatanmu, brengsek! Kita lihat sejauh mana, kamu bisa menghadapi pesonaku!'


Tiara tersenyum ganjil, aura tipis kehitaman kembali muncul menyelimuti tubuh Tiara. Bayu muncul di belakang tubuh Tiara, ikut tersenyum puas karena sebentar lagi ia akan kembali mendapat tambahan kekuatan.


Rayu dia, jerat dia dalam jebakan kita!

__ADS_1


__ADS_2