Bedak Sang Nyai

Bedak Sang Nyai
Diantara Cinta Dua Lelaki


__ADS_3

Hari yang sibuk, beberapa event digelar berurutan selama sepekan penuh membuat jadwal kerja Tiara sangat padat. Tiara dan timnya secara bergantian memberikan back support pada penyelenggara event selain menjadi penghubung antara pihak distributor dan pengelola mall.


Kesibukan yang menggunung tak membuat hubungan Tiara dan dua pemuda tampan pemujanya berkurang. Secara bergantian mereka datang membawa makanan, bingkisan kecil atau pun setangkai bunga untuk Tiara. Terkadang mereka juga muncul bersamaan, jika sudah begini Anita dan Rio lah yang bahagia. Banjir cemilan mahal yang tak tanggung tanggung diberikan kedua pemuda fans berat Tiara.


"Wah, lama lamain aja hubungan kalian Ra! Jadi kita bisa terus makan enak!" ujar Anita sembari menikmati cemilan dari salah satu gerai makanan ternama dalam mall.


"Iya Ra, lumayan ngirit uang jajan ini kita!" timpal Rio menyesap kopi dengan cream membumbung tinggi andalan salah satu gerai kopi nomor wahid.


Tiara hanya tersenyum melihat tingkah kedua rekan kerjanya. Rio yang pendiam dan terkesan cuek kini mulai sedikit memperhatikannya, meskipun cara Rio sedikit berbeda tak seperti kaum Adam lain yang langsung blingsatan saat menatap wajahnya.


"Aku ke toilet dulu ya," 


Tiara berpamitan kepada kedua rekannya. Ia lelah dan ingin membersihkan wajah, memulas lagi dengan bedak ajaib miliknya. Saat membasuh wajah dengan air keran, buku halus di permukaan kulit meremang. Bayu datang.


"Kamu melupakan aku Tiara?" 


Tiara menatap pantulan dirinya di cermin dan melihat Bayu ada di belakang tubuhnya.


"Aku? Nggak lah siapa yang lupain kamu?"


"Kita bahkan tidak pernah mengobrol lagi seperti dulu." Bayu terdengar merajuk.


"Kamu selalu ada disisi aku kan? Kamu bahkan tidur di sebelahku tanpa permisi. Kamu juga memasuki alam bawah sadar dan kita bercinta disana. Aku membiarkan dirimu menguasai tubuhku, apa itu masih kurang?"


Tiara membalik tubuhnya tapi ia tidak menemukan Bayu, ia pun memutar kembali tubuhnya dan menatap Bayu yang ada dalam cermin.


"Aku merindukan saat kita dulu, saat kau belum sibuk mencari mangsa untukku!"


Tiara tersenyum menatap Bayu yang terbakar cemburu, "Kemari, biarkan aku memelukmu."


Bayu tak bergeming untuk sesaat tapi kemudian ia perlahan muncul secara nyata dihadapan Tiara.


 "Aku melakukan segalanya yang kau minta Bayu, mengindahkan perasaanku dan memberikan persembahan untukmu." Tiara berbisik di telinga Bayu, menggodanya dengan kerlingan mata.


"Apa itu masih kurang sayang?" bisiknya lagi disertai kecupan di leher Bayu.


"Aku tahu, tapi aku tidak bisa menghindari rasa cemburu ini Tiara. Aku mencintaimu sama seperti para manusia itu." tangan Bayu melingkari pinggang Tiara.


"Hhm, maafkan aku Sayang. Tapi aku lakuin semua juga demi kamu kan? Oke malam ini spesial deh buat kamu, semalaman kita berdua aja. Gimana?"


Bayu menatap kekasih berbeda dunia itu dengan senyum, memberinya satu kecupan liar sebelum akhirnya mengangguk dan menghilang, meninggalkan Tiara yang memeluk ruang kosong di depannya. Ia termangu sejenak. Secuil dari hatinya menolak apa yang ia lakukan.


"Kenikmatan semu, sesaat, menderita selamanya. Inikah yang aku mau?" gumamnya datar dan terdengar pilu.

__ADS_1


Tiara lalu menatap dirinya di cermin, menelisik tiap sudut wajahnya. Satu sisi ia senang dengan kondisinya saat ini bergelimang uang, cantik, dibanjiri hadiah, dikelilingi lelaki tampan yang memuja. Apalagi yang diinginkan dari seorang wanita single seperti dirinya?


Tapi sisi lain dirinya terasa kosong. Ia mengikatkan diri pada perjanjian yang tak mungkin dihentikan sepihak. Tiara sadar sepenuhnya dengan resiko itu. Bayu akan mengambil nyawa setiap lelaki yang menyentuh dan berhubungan badan dengannya. Itu artinya tak ada kesempatan bagi Tiara untuk memiliki kekasih sejati apalagi berangan untuk memiliki suami dan keluarga.


Kebahagian yang ia dapat sekarang adalah semu. Tiara menghela nafas berat, tak ada gunanya lagi mengeluh ataupun meratap, keputusan sudah dibuat dan Tiara tak lagi bisa mundur. 


"Waktunya meraih mimpi, nggak perlu ngeluh apalagi sedih. Semangat Tiara!"


Usai ber-make up dan merasa segar Tiara keluar ruangan. Ia dikejutkan dengan Arka yang berdiri menunggunya.


"Arka, kamu ngapain disini?"


Arka yang disapa tersenyum manis, ia menghampiri Tiara dan memberikan buket bunga segar. "Buat kamu yang selalu menghiasi hariku dengan indah."


Tiara tertawa kecil, "Diih, gombal!"


"Eh, beneran lho. Sehari nggak ketemu kamu kayak makan sayur nggak pake garam!" candanya dengan menggamit tangan Tiara.


"Ya berarti kamu nggak pinter masak, kurang garam gitu." balas Tiara dan keduanya pun tertawa.


"Masih lama pulangnya?" Arka memeluk pinggang Tiara dengan mesra.


"Masihlah, ini baru jam berapa?" jawab Tiara dengan manja.


"Ra!" 


Tiara menoleh ke arah pemilik suara, ada Miko disana yang tersenyum ke arahnya.


"Mas Miko?!"


"Happy Thursday," Miko mengulurkan tas kecil berwarna pink dengan pita manis diatasnya.


Tiara mengernyit dan tertawa geli, "Happy Thursday? Semua hari harus happy ya mas?" Tiara menerima dan melongok ke dalam isi tas mungil itu.


Kotak kecil bertuliskan salah satu toko perhiasan emas yang juga ada di dalam mall. Tiara terbelalak melihatnya. "Mas Miko ini,"


Miko mendekat, mengambil kotak itu lalu membukanya. Sebuah kalung dengan ukiran namanya terlihat indah sekali. Miko membantu Tiara mengenakannya.


"Cantik kan?" tanya Miko dengan mata berbinar.


"Cantik banget, makasih mas Miko." 


Arka hanya mengembangkan senyum masam, ia cemburu. Miko dan Arka saling memandang, keduanya tersenyum meski dipaksakan. Tiara dibuat bingung dengan situasi ini. 

__ADS_1


Suasana canggung yang tercipta membuat Tiara memutuskan untuk mengusir keduanya secara halus.


"Mas Miko sama Arka pulang dulu aja, aku masih banyak kerjaan. Makasih buat hadiah dan juga makanannya."


"Jam berapa kamu pulang biar aku jemput?" tanya Arka langsung.


"Eh, gue yang duluan datang mau jemput Tiara!" Miko mulai terpancing.


Arka hanya menatap sejenak Miko lalu berdecak kesal, "Suka-suka gue lah! Gue yang pertama deketin Tiara, Lo kan baru aja kenal jadi gue duluan!"


"Songong banget Lo, enak aja! Mana bisa begitu!"


Tiara tertawa dalam hati, baru kali ini ia diperebutkan dua lelaki sekaligus. Ada rasa senang dan juga bangga.


"Udah, udah nanti aku juga yang dapat masalah kalau kalian bikin keributan disini!"


Keduanya pun terdiam, Tiara menghela nafas lalu ia berkata. "Malam ini biar aku pulang sama mas Miko besok  baru pulang sama kamu, ok?!"


Senyum lebar mengembang di bibir Miko ia merangsek maju memeluk dan mencium Tiara, "Ini baru cewek aku!"


Sontak saja Arka meradang, wajahnya memerah menahan amarah. Ia langsung pergi begitu saja tanpa berpamitan dengan Tiara. Ia juga tak peduli dengan panggilan Tiara.


"Brengsek! Bisa bisanya si cucut itu ngeduluin cium Tiara! Mana didepan gue lagi!" umpatnya seraya berjalan ke arah basement. 


Kemarahan Arka meluap, ia berkali kali memukul tangannya sendiri. "Gue harus kasih pelajaran ke dia!"


Bayu memperhatikan Arka dari jauh, siasat licik sedang dijalankan Bayu. Ia tak suka Arka dekat dengan Tiara, Bayu tahu Tiara menyimpan perasaan padanya sejak Arka menolong Tiara dari pak Amrin.


"Kau harus mati!"


...----------------...


Di dalam apartemen, Rendra terduduk lesu di pinggir ranjang. Ia menatap jauh keluar jendela besar yang menghadap view kota Semarang. Rendra kembali dari pengintaian menjelang subuh. 


"Miko … kenapa kita harus bertemu sekarang?" Rendra meremas tangannya, amarah dan rasa kecewa berkecamuk dalam hatinya.


Semalam Rendra mengikuti Miko hingga ke pulang ke rumahnya. Ia terkejut ketika Miko masuk ke dalam rumah yang selama ini terlarang baginya untuk menginjakkan kaki di sana. Rumah Hendrawan Adhiwijaya, sang ayah yang sekian lama menelantarkan dirinya dan Tiara.


"Aku harus kasih tahu Tiara, sebelum terlambat! Miko adalah kakak tirinya, mereka nggak boleh saling jatuh hati. Dan tua bangka itu … ahh, sialan!"


"Aku benar-benar tak suka situasi ini! Tua bangka itu harus membayar semua penderitaan ibu dan juga kami!"


Rendra tak menyadari kehadiran lelembut dalam ruangannya. Bayu mendengar semuanya, ia menyeringai kejam. Rencana licik disusun Bayu, sesuatu yang kejam dan membuat situasi akan bertambah rumit.

__ADS_1


"Tenang saja kakak ipar, aku akan membalaskan dendammu sekaligus mendapatkan kekuatan tambahan untukku!"


__ADS_2