
Rendra duduk terdiam menatap layar televisi datar di apartemen Tiara. Sesekali ia melirik ke arah kamar Tiara menunggu adiknya keluar kamar.
"Ren, yuuk kita berangkat!" Tiara siap dengan pakaian casualnya.
Rendra memijat kepalanya sejenak, menghela nafas berat lalu dengan gontai melangkah mendekat. Ia memperhatikan Tiara sejenak, merapikan rambut adiknya yang hanya diikat asal.
"Iish, tumben amat. Kamu kenapa?"
"Sekali kali merhatiin adik aku yang makin hari makin cantik." Rendra meraup wajah Tiara saking gemasnya.
"Pake skin care apaan sih, kok cantik bener. Aku pengen cobain juga dong!"
"Hhm, rahasia! Khusus buat cewek-cewek." Tiara melepaskan tangan kakaknya lalu berjalan mendahului Rendra. "Kita mau kemana sih, tumben bener ngajakin jalan?"
"Hhm, nanti kamu juga tahu." jawab Rendra datar, ekspresi wajahnya muram membuat Tiara curiga.
"Kita beli makanan sama minuman dulu deh di minimarket!"
"Buat apaan sih Ren, kamu bikin aku penasaran aja?!"
"Kita mau jadi mata-mata!" jawaban Rendra otomatis membuat Tiara terbelalak tapi Rendra tak memperdulikannya, ia kembali terdiam, datar tanpa ekspresi.
Setelah membeli sekantong makanan dan minuman ringan, ia pun melajukan mobilnya menuju ke suatu tempat. Mobil yang Rendra kemudikan berjalan perlahan hingga akhirnya berhenti tak jauh dari sebuah rumah mewah yang cukup luas. Ia sengaja mengambil jarak aman, agar tak terlihat.
"Ini rumah siapa Ren?" Tiara dibuat kebingungan, ia celingukan memperhatikan sisi kanan dan kiri.
Rendra menarik nafas dalam, ia menoleh ke arah Tiara, berpikir sejenak lalu perlahan kembali melajukan kendaraannya. Kali ini mobil mereka melintas ke depan rumah mewah bercat putih. Pagar besi menjulang tinggi dengan ornamen singa kembar. Saat mereka melewati rumah itu pintu pagar tengah terbuka lebar.
Deretan mobil mewah tampak menghiasi garasi yang cukup luas.
"Gila ini rumah udah kayak dealer mobil mewah aja." celetuk Tiara.
"Tuh liat siapa yang keluar dari dalam rumah!" Rendra menunjuk ke arah pria bertato di lengannya.
"Eh itu Miko, berhenti Ren!" Tiara dengan segera keluar dari mobil dan menghampiri Miko.
"Mas Miko!" sapanya riang.
Miko terkejut saat melihat gadis pujaannya datang tanpa memberi kabar. "Lho Tiara, kamu sama siapa?"
"Sama Rendra, ehm … ini rumah kamu?" Tiara melihat ke sekeliling lalu kembali bertanya.
"Iya, wah kebetulan banget kamu datang. Masuk yuk, aku kenalin sama mami papi!"
Tiara menoleh ke arah Rendra yang berdiri menatap rumah Miko dengan wajah muram. Ia melambaikan tangannya pada kakak lelakinya itu dan Rendra pun tersenyum masam.
"Udah waktunya kamu tahu siapa dia Ra," gumamnya sebelum menghela nafas berat.
Miko menggandeng mesra tangan Tiara, "Mereka lagi sarapan, gabung yuk?"
"Eh sarapan? Jam segini?" Tiara melirik jam yang melingkar di tangannya. "Jam sepuluh ini kan udah siang," gumamnya lirih.demgan bibir mengerucut manja.
Miko terlihat begitu bahagia saat mengenalkan Tiara pada kedua orangtuanya. "Mi, kenalin nih cewek Miko yang baru!"
Wanita paruh baya yang masih terlihat cantik itu sedikit terkejut, tapi kemudian tersenyum. "Baru lagi?"
Miko memberi kode untuk diam, sementara maminya tertawa. "Hhm, iya!"
Hendrawan Adhiwijaya, terkesiap melihat wajah Tiara. Ia diam dan memperhatikan Tiara. Menelisik tiap sudut dan lekuk wajah wanita muda dihadapannya itu.
__ADS_1
"Namanya siapa Mik?" tanya Hendrawan penasaran.
"Tiara pi, cantik kan namanya secantik orangnya." puji Miko yang membuat wajah Tiara merona, ia memukul ringan lengan Miko.
Hendrawan tersedak saat mendengar nama gadis yang dikenalkan putranya itu. "Si-siapa? Tiara?"
"Diiih segitunya Pi, denger nama Tiara? Saking cantiknya ya sampe kaget?" Miko mengulurkan segelas air mineral pada papinya.
"Namanya Tiara Anindita, dan saya Rendra Setiawan!" suara Rendra terdengar nyaring menyapa lelaki berusia enam puluh lima tahun itu.
Hendrawan dibuat semakin terkejut dengan kedatangan Rendra, dugaannya benar. Matanya terbelalak dan wajahnya memucat. Sementara istrinya, menatap heran pada Rendra.
"Ini siapa Mik, temen kamu juga?" tanya mami Miko, ia memperhatikan penampilan Rendra yang terlihat tampan dan sangat mirip dengan Hendrawan muda.
"Dia Rendra, kakak Tiara."
Ibunda Miko menoleh ke arah Hendrawan dengan tatapan menyelidik. Seketika ia bisa membaca jika ada yang disembunyikan suaminya itu.
"Pi, apa ada sesuatu yang mau kamu ceritain?" ia memancing Hendrawan untuk bicara.
"Biar saya yang jelasin Tante," Rendra menarik kursi dan duduk diantara Hendrawan dan istrinya.
"Ra, Mik, kalian juga duduk. Kita harus bicara!"
Tiara bingung tapi ia menuruti perintah kakaknya itu begitu juga dengan Miko.
"Ren, ada apaan sih?! Serius bener!" Tiara merendahkan suaranya.
Ia merasakan kejanggalan sikap Rendra, apalagi Rendra hanya diam dan menatapnya tajam. Tatapan yang mengintimidasi setiap orang yang ada di ruangan itu.
"Maaf jika kedatangan kamu mengganggu sarapan kalian." Rendra terdiam sejenak.
"Pah, aku nggak salah denger? Maksudnya gimana Ren?" Tiara mulai gugup.
"Ra, laki-laki yang ada di hadapan kamu ini adalah papah kamu, ayah kita. Hendrawan Adhiwijaya!"
"A-apa? Jangan bercanda Ren!"
"Dia, ayah kita! Laki-laki yang bikin ibu meninggal dalam kesedihan, nelantarin kita dalam penderitaan! Dia lelaki bejat yang menipu ibu dengan harapan kosong!"
Suara Rendra terdengar lantang dan penuh penekanan. Perkataan Rendra membuat merah telinga ibunda Miko, tak terkecuali Miko sendiri.
"Pi, bilang kalo itu nggak benar! Bilang Pi!"
Ibunda Miko berteriak frustasi. Setelah sekian lama kehidupannya tenang tanpa ada masalah, kini datang dua anak manusia yang mengaku sebagai darah daging suaminya.
"Mas Rendra jangan ngaco deh, kalo ngomong jangan sembarangan. Papi saya nggak mungkin begitu! Saya tahu persis gimana papi!" Miko menolak semua perkataan Rendra.
"Ohya, benarkah? Kita tanya sama papi kamu ehm, papah saya juga tepatnya! Silakan bicara pak Hendrawan Adhiwijaya!"
Hendrawan menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Raut wajahnya berubah, ia menatap lekat-lekat ketiga anak muda di depannya, lalu berganti menatap istrinya.
"Lebih baik kalian pulang, ini bukan tempat kalian!"
Rendra berdecak kesal, bukan itu jawaban yang Rendra inginkan. Sementara Tiara diam terpaku menatap tak percaya pria yang sedang berbicara.
"Apa yang dikatakan pemuda ini tidak benar! Mereka bukan anakku, mi!"
Rendra semakin kesal, amarah berkecamuk di dadanya. Penolakan selalu menjadi bagian akhir setiap ia menginjakkan kaki di rumah itu. Ia terkekeh mengejek Hendrawan yang masih juga belum mau mengakui keberadaan mereka.
__ADS_1
"Bertahun tahun lalu papah datang ke rumah meminta ibu untuk bertahan, rupanya itu cuma sandiwara. Hendrawan Adhiwijaya, kau memang penipu ulung!"
"Tutup mulut kamu! Saya nggak kenal kamu!"
"Ohya, lalu apa ini?" Rendra melemparkan sejumlah foto kenangan dirinya bersama sang Ibu dan Hendrawan ke atas meja.
Ibunda Miko meraih cepat dan matanya terbelalak. "Fanny?! Ini Fanny kan? Jadi selama ini benarkan dugaanku! Kamu memang berselingkuh sama dia!"
Ibunda Miko berteriak histeris dan melemparkan foto-foto itu ke arah Hendrawan.
"Tante kenal ibu kan? Apalagi yang mau kau ingkari Hendrawan Adhiwijaya?"
Hendrawan diam menatap sejumlah foto yang ia lupakan. Bayangan Fanny, gundik kesayangannya kembali terangkat dari dasar memori. Dari awal Tiara masuk, Hendrawan sangat terkejut melihat kemiripan Tiara dengan Fanny. Dugaannya benar jika wanita yang digandeng mesra Miko adalah putri kandung yang belum sempat ia kunjungi.
Miko meraih salah satu foto yang tergeletak di depannya, tangannya gemetar. Ia menoleh ke arah Tiara yang diam seribu bahasa. Tangan Tiara mengepal menahan amarah, ia tak tahu harus senang karena bertemu ayahnya atau sedih karena hal ini.
Penolakan Hendrawan jelas-jelas menjadi tamparan keras untuk Tiara. Ia tak menyangka Miko yang menjadi incarannya masih memiliki hubungan darah dengannya.
"Pergi kalian dari sini! Aku nggak sudi liat wajah menjijikkan kalian dirumahku!" ibunda Miko kembali histeris. Ia berdiri dan kembali mengumpat dengan kata-kata kasar. Membuat Tiara semakin geram.
"Kalian sudah dengar kata-kata dia kan, pergi! Aku bukan papah kalian!" Hendrawan kembali menegaskan pengusiran itu membuat Rendra kembali berdecak, ia pun berdiri dan menarik tangan Tiara.
"Sekali pengecut tetap pengecut, sekali penipu tetap penipu, dan sekali pengkhianat tetap pengkhianat. Papah sebaiknya ingat itu!" Rendra menatap Hendrawan tanpa berkedip.
"Pergi kataku!" Ibunda Miko berteriak dan mendorong tubuh Tiara dengan keras.
Tiara terhuyung hampir jatuh tapi Rendra berhasil menangkapnya. "Kita pergi," ucapnya lirih ditelinga Tiara.
"Jangan pernah menginjakkan kaki haram kalian dirumah ini lagi!"
Lagi lagi teriakan ibunda Miko mengiris hati Tiara. Tangisan dan teriakan kini bahkan terdengar hingga keluar rumah. Para pembantu dan pekerja dirumah Hendrawan Adhiwijaya hanya bisa menggeleng dan menundukkan kepala berpura pura tidak tahu.
Mata Tiara memanas, air matanya menggantung di pelupuk mata. Rendra melajukan mobil kembali ke apartemen. Sepanjang jalan Tiara tak henti menangis, ia merutuki nasib yang tak pernah berpihak baik padanya.
"Haram dia bilang? Kita anak haram Ren?"
Rendra diam tak menjawab, hanya helaan nafas berat yang terdengar.
"Aku nggak terima Ren, aku nggak terima!"
Tiara tak kuasa menahan rasa kecewanya. Ini kali pertama ia bertemu dan melihat wajah sang ayah. Pertemuan pertama yang seharusnya mengharukan justru menimbulkan luka dengan penolakan ayahnya. Luka lama kembali terbuka, kehilangan Tiara akan sosok ibu dan rasa kecewa pada sosok sang ayah kembali muncul. Kebencian itu berubah menjadi dendam.
"Hendrawan Adhiwijaya, akan kubuat dirimu menderita dengan kehilangan satu persatu orang-orang kesayanganmu!"
...🍀🍀🍀🍀🍀🍀...
...selamat siang, MET istirahat makan siang yaaa....di penghujung tahun semoga semua diberi kesehatan dan semangat tanpa kendor yaaa kejar anu dan itu 🤭🤭...
...berasa nulis adegan sinetron ikan terbang kali ini, semoga bisa menghibur istirahat siang kalian semua......
...terimakasih atas dukungannya🤗...
...after this event end saya slow up ya teman2 mau nyiapin materi buat th depan...petualangan fantasi yang masih berbalut horor, stay tune yaa......
...btw butuh masukan buat mitos2 horor seputar sejarah...silakan komen di kolom komentar yaa.....
...thanks a lot, have a nice day🥰...
...cium jauh ~ Lia❤️...
__ADS_1