Bedak Sang Nyai

Bedak Sang Nyai
Perhatian Tiara


__ADS_3

Eh, tangan kamu berdarah!" Tiara dengan cepat menarik tangan Alan, memperhatikan luka yang mulai mengeluarkan darah.


"Ah, ini cuma luka kecil kok nanti juga sembuh." Alan menarik garis lengkung di bibirnya, hatinya menghangat oleh perhatian kecil Tiara.


"Eh, nggak bisa gitu. Luka kecil nggak bisa dibiarin!" Tiara celingukan mencari tempat kosong di sekitar mereka.


"Yuk ikut aku dulu!" dengan cepat Tiara menarik tangan Alan tapi baru saja ia melangkah Alan mengaduh, "Aaw, pelan Ra sakit!"


Mata Tiara langsung tertuju pada kaki Alan. "Kaki kamu kenapa?"


"Sepertinya tadi terkena besi itu," Alan meringis dan menggulung ke atas celana jeans yang ia kenakan, benar saja ada memar merah kebiruan yang cukup besar di betis kanannya.


"Ya ampun, Alan! Kamu bisa jalan nggak?" Tiara menutup mulutnya yang ternganga melihat memar itu, mulai khawatir dan merasa bersalah pada Alan.


"Bisa sih tapi pelan ya," Alan meringis dan berjalan sedikit pincang.


"Aku antar kamu ke klinik, ini pasti bengkak nantinya!"


"Nggak perlu Ra! Besok juga baikan!"


Tiara membantu Alan berjalan ke bangku taman kosong tak jauh dari tempat kejadian. Hati Alan senang bukan kepalang ini yang disebut musibah membawa berkah untuknya. Sekian lama menyimpan rasa pada Tiara, baru kali ini akhirnya ia berkesempatan dekat dan berbicara dengan gadis pujaannya.


Tiara tak memperdulikan tatapan orang yang berlalu lalang memperhatikan dirinya dan Alan. Ia hanya ingin membalas Budi Alan yang sudah menolongnya. Luka ditangan Alan dibersihkan dengan air dari botol mineral yang ada di tas Tiara. Alan pun meringis kesakitan.


"Jangan rewel, kayak anak kecil aja sih!"


"Perih Ra!"


Tiara tersenyum, untungnya ada apotik 24 jam terdekat di seberang jalan. "Tunggu aku disini ok?!"


Alan mengangguk dan Tiara pun segera berlari. Dari kejauhan Alan memperhatikan Tiara, gadis itu sangat mengkhawatirkan dirinya. Bualan teman sejawatnya tentang Tiara sepertinya salah. Tiara bukan tipikal gadis sombong yang hanya memilih pria pria kaya saja. 


"Cantiknya paripurna kok, nggak salah kan aku jatuh hati sama dia?" ujarnya bermonolog dan meyakinkan hatinya.

__ADS_1


Tak lama kemudian Tiara muncul dengan sekantong obat-obatan. "Lama ya, antri dulu soalnya!"


Dengan cekatan Tiara membersihkan luka di tangan Alan dan menutupnya dengan perban. Ia juga mengompres area di sekitar memar Alan dengan es batu yang sengaja ia beli di pedagang kaki lima. 


"Nanti malam pasti baru kerasa ini sakitnya," kata Tiara seraya mengoleskan salep anti memar pada betis Alan.


"Kamu nggak usah repot-repot gini Ra, orang nggak apa-apa juga!" 


"Nggak apa-apa gimana, kamu luka karena aku lho! Anggap aja ini balas budi aku!" 


Alan kembali membuka gulungan celananya, lalu mencoba berjalan meski sedikit nyeri. Tiara pun berinisiatif untuk mengantarkan Alan ke rumah kontrakannya. Untungnya jarak antara rumah kontrakan Alan dan mall tidak terlalu jauh.


"Sori, berantakan. Maklum kontrakan cowok."


Tiara tersenyum dan membantu Alan untuk duduk. "Kamu tinggal sendirian?"


"Iya, tadinya sih bertiga tapi yang lain udah nikah jadi tinggal aku sendiri."


Tiara membantu Alan untuk meluruskan kakinya. Ia juga tak segan membuatkan Alan minuman hangat, dan mengambilkan bantal untuk Alan bersandar. Semua itu dilakukannya dengan senang hati.


 "Pak Amrin? Ada apa ya?" gumamnya lirih.


Tiara yang baru keluar dari kamar mandi melihat ponselnya menyala. Ia pun mendekat dan berdecak kesal saat melihat nama pak Amrin. 


"Daritadi pak Amrin telpon lho, sori bukan maksud ngintip tapi karena ada di depanku ya …,"


"Nggak apa kok," jawab Tiara singkat, ia segera mengirim pesan singkat untuk mantan bosnya itu.


Perubahan wajah Tiara jelas menyiratkan sesuatu tengah terjadi diantara keduanya, tapi Alan tak berani bertanya lebih jauh.


"Nomor hp kamu berapa?" tiba-tiba saja Tiara bertanya membuat Alan yang sedang asik memperhatikan Tiara gelagapan.


"Eh, ehm … ini!" 

__ADS_1


Setelah mendapatkan nomor ponsel Alan, Tiara pun berpamitan. Ia berjanji akan datang menjenguk besok. Alan sebenarnya ingin mencegah Tiara tapi sepertinya ada hal mendesak yang harus Tiara lakukan.


"Sial, andai kakiku bisa digerakkan bebas udah aku anterin Tiara!" dengusnya kesal sesaat setelah Tiara berlalu.


...----------------...


Tiara melirik jam di tangannya, jarum jam menunjukkan pukul delapan malam. Ia bersiap menuju tempat yang disepakati, pak Amrin memintanya datang di salah satu kawasan elit di kota Semarang sebelum jam sembilan malam. 


"Jangan terlambat atau, Rendra harus membayar dengan nyawanya malam ini juga!" 


Begitu pesan pak Amrin ditelepon. Tiara menyeringai mengingat pesan pak Amrin sesaat setelah ia meninggalkan rumah Alan.


"Beraninya mengancam! Kita lihat siapa yang akan menyetorkan nyawa!"


Bayu hadir dalam wujud lelembutnya, bau tak sedap yang mengiringi kehadirannya mulai terbiasa dirasakan Tiara. Suara dengus kasarnya yang berat diikuti geraman membuat manusia normal pasti akan bergidik ketakutan.


"Bunuh dia malam ini juga, berikan siksaan kematian padanya!" 


Dalam penglihatan Tiara, Bayu mengangguk dan kemudian menghilang. Tanpa memberitahukan pada Rendra, Tiara pergi menemui pak Amrin. Ponselnya kembali berdering tapi Tiara tak peduli, pak Amrin terus menghubunginya.


"Dasar tua bangka, nyawa diujung tanduk masih juga nggak sabaran!"


Tak lama, Tiara pun tiba di sebuah rumah mewah. Pekerjaan kak Amrin rupanya hanya kamuflase saja, ia menyembunyikan bisnis haramnya dengan berpura pura menjadi karyawan biasa. Bisnis haram yang dijalankan bersama Toni membuat dirinya memiliki harta melimpah.


Beberapa centeng terlihat berjaga di depan rumah. Tiara yang baru turun dari taksi disambut oleh dua orang centeng yang mengenalnya, Robby dan Alex.


"Bos sudah nunggu di dalam!"


Tiara berjalan sembari menghitung jumlah centeng, ada sekitar lima orang di depan, dua berjaga di dalam dan dua lagi berjaga di depan pintu besar yang terdengar begitu ramai. Entah apa yang ada di dalam hingga suaranya terdengar sampai keluar.


"Lewat sini!" Robby menunjukkan jalan ke ruangan pak Amrin. 


Hanya ada satu ruangan di lantai tiga. Baru saja Tiara menginjakkan kaki di anak tangga paling atas, suara laknat dari dua anak manusia yang sedang memadu kasih terdengar dari balik pintu ruangan itu.

__ADS_1


"Dasar tua bangka gila!"


__ADS_2